Peran Ortu dalam Pemilihan Jodoh

DATING INSIGHT

 Need Your Parent’s Input

MAu denger YouTube Dating INSIGHT klik aja ini Dating INSIGHT

Setiap Senin malam, kami pergi ke Studio Maestro untuk membawakan acara Dating INSIGHT. Malam itu, anak-anak belum sempat menyelesaikan makan malamnya, tetapi kami sudah harus berangkat. Karena waktu sudah mepet dan kuatir macet, terpaksa kami harus meninggalkan anak-anak di rumah. Saya menitipkan pesan pada anak-anak, “Nak, nanti kalau sudah selesai makannya, cuci piring masing-masing ya. Ma pergi dulu.”

Sepulangnya bersiaran, rumah sudah rapi. Anak-anak bukan hanya membereskan piring masing-masing, tapi juga merapikan meja makannya. Kebayang kan betapa bahagianya saya! Mereka walaupun masih anak-anak, tapi sudah dapat memberikan lebih daripada yang saya tuntut.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

Hormatilah ayah dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting seperti yang nyata dari janji ini :

supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Efesus 6 : 1-3

Taatilah

Kata ”taat” dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani berarti “mendengar”

Kecakapan untuk taat adalah kemampuan mendengar instruksi dan melakukannya. Siapa yang berhak memberikan perintah/instruksi? Tentu orang tua.

Perintah dari orang tua pada anak adalah perintah yang paling dasar dan sangat penting untuk kehidupan. Ini adalah satu rahasia sukses. Jikalau firman Tuhan ini kita praktekkan semenjak muda, pasti akan menjadi bekal yang luar biasa untuk kehidupan di masa mendatang; seperti janji Firman, berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Setiap orang harus memiliki kecakapan mendengar. Waktu kecil, kita mendengar orang tua. Di sekolah, kita mendengar guru. Setelah bekerja, kita mendengar atasan. Sebagai atasan, kita mendengar keinginan pasar, juga aspirasi bawahan. Dalam pernikahan, kita mendengar pasangan.

Kemampuan mendengar adalah KUNCI SUKSES.

Ini juga sangat penting dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Pada saat Tuhan berfirman, kita mendengarkan, maka Tuhan akan menyertai, memimpin, dan memberkati. Waktu Firman berkata-kata, lalu kita abaikan, itulah mula kehancuran.

Kemampuan mendengar, tidak dibatasi usia, kedudukan, kekayaan, atau apapun, semua manusia tanpa kecuali harus memilikinya. Namun, khusus dalam ayat ini, rasul Paulus menekankan pada anak-anak. Efesus 6 : 1 mengatakan “Hai anak-anak”, jelas ini ditujukan untuk anak-anak. Bukan remaja, pemuda, maupun dewasa.

Amsal 29:17 menyatakan Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu dan mendatangkan sukacita kepadamu.

Anak-anak harus dilatih sejak kecil. Kala itu, mereka belum bisa memutuskan apapun dan belum dapat memikirkan dampak dari keputusan yang dia ambil. Mereka butuh orang dewasa untuk memberikan pengarahan dan cara pandang atas kehidupan ini. Disinilah, orang tua berperan sangat penting.

Ada 3 hal prinsip untuk menentukan keputusan yang harus diajarkan pada anak:

  1. Apa yang baik dan apa yang jahat.
  2. Apa yang benar dan apa yang salah menurut kebenaran firman Tuhan.
  3. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Jika kita sudah terlatih dari kecil mendengarkan orang tua dalam mempertimbangkan ke tiga prinsip tadi sebelum mengambil keputusan, niscaya saat menjalani sebuah hubungan, kitapun menjadi pribadi yang lebih bijak. Sebagai pasangannya, pasti berbahagia.

Bukankah remaja, pemuda atau dewasa juga anak yang memiliki orang tua dan harus mendengarkan mereka? Tentu saja, tapi kita harus mengerti fase perkembangan manusia. Parenting is not forever, ada masanya dan masa yang paling tepat untuk menanamkan kebenaran adalah sebelum anak berusia remaja.

Seorang anak, ketika memasuki usia remaja, lebih mandiri. Mereka mencoba melepaskan diri dari dependensi dengan orang tua, senang mencoba hal-hal baru, menguji batas-batas yang dibuat orang tua, memilih berkumpul dengan teman sebayanya, menggali informasi dari berbagai sumber. Orang tua sudah tidak lagi menjadi acuan satu-satunya dalam keputusan yang mereka ambil.

Ketika menjadi pemuda/i, fully, mereka sudah mandiri. Ketiadaan orangtuapun tidak menjadi masalah bagi mereka. Di sini, sebagai orang tua harus menyadari bahwa anaknya sudah dewasa. Mereka sanggup menyelesaikan masalah. Mampu menghadapi kehidupan. Peran orang tua berubah menjadi sahabat.

Ibu-ibu kalau pergi ke pasar membeli buah, buah yang dibeli tidak asal tapi dipilih yang bagus dengan kriteria yang ada dalam pengetahuannya. Seorang penjual buah, dia tahu membedakan mana buah yang baik, dan yang buruk dari pengalamannya. Tukang kelapa di jalan Ketapang Jakarta, dia selalu tepat dalam memilih kelapa yang paling enak hanya dengan mendengar suara ketika golok dipukulkan ke kelapa . Kalau saya tidak bisa, karena saya tidak punya pengetahuannya.

Bagaimana saya memiliki kemampuan memilih kelapa seperti penjual itu? Saya harus bertanya dan mendengar dari si tukang kelapa tentunya.

Jadi untuk memilih pasangan hidup, juga perlu pengetahuan dan pengalaman dari orang-orang yang pernah mengalami. Bertanyalah pada orang tua. Mereka menolong kita bisa memilih. Memilih artinya menguji untuk mendapatkan yang terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s