A3: Mengatasi Kesedihan Putus Cinta

After Break Up 3

Mengatasi Kesedihan

Siaran kami bisa disaksikan via Youtube juga lho… just klik this

Hua…hua…hiks…. Air mata terus bercucuran tanpa bisa dibendung ketika mengingat kembali bahwa kau bukan lagi milikku.

Itulah putus cinta. Broken heart. Hati terbelah berkeping-keping. Sakitnya di sini (sambil menunjuk ke dalam hati). Penyembuhannya membutuhkan waktu. Pecahan-pecahan hati yang tercecer, perlu disatukan kembali. Bagaimana menyatukannya?

Karena kami juga pernah mengalami yang namanya patah hati ini, sejujurnya kami mengerti 100% tambah 10% lagi deh kesedihan yang dialami.

Ibaratnya perangko sudah ditempel di amplop, pakai lem UHU. Lengketnya bukan main. Kalau dipaksa untuk dipisah, kebayang deh kerusakan yang dialami oleh perangko maupun amplopnya. Yah…kecuali kalo hanya dilem dengan dijilat aja, copotinnya tidak berbekas. Semakin kuat perekatnya, semakin parah kerusakannya akibat berpisah. Demikian juga dalam suatu hubungan; sakitnya tergantung seberapa dalam ke-melekatan kamu dengan pasangan. Pasangan yang sudah melakukan seks di luar nikah, mengalami kedalaman kepedihan yang jauh lebih dalam daripada pasangan yang belum. Orang yang dependen (lihat deadly D) pada pasangannya, mengalami kesedihan yang luar biasa dibanding orang umumnya.

mengatasi kesedihan Namun, yang namanya putus cinta, ya pastilah sedih. Mengapa?

 Kesedihan merupakan suatu reaksi emosi yang timbul karena kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidup seseorang.

Kategori penting bagi tiap orang berbeda. Sesuatu yang penting bisa berupa pekerjaan, kesehatan, uang, harapan, orang tua, iman, apapun yang mempengaruhi hidup, termasuk pasangan.

Kecuali, apabila pacarmu tidak penting, bahkan keberadaannya sangat menyebalkan… putus pacar menjadi sangat menyenangkan.

Kesedihan tidak selalu identik dengan mengeluarkan air mata. Tidak semua orang bisa menangis mengeluarkan air mata, kendati demikian bukan berarti tidak sedih.

Untuk mempertahankan diri, kita sering berusaha mengatasi kesedihan dengan me-repress perasaan sedih yang timbul. Men-sugesti pikiran, “Saya orang yang taft. Saya kuat hadapi semua ini. Saya tidak apa-apa koq.”

Berkata saya tidak sedih, merupakan penyangkalan terhadap situasi nyata., padahal salah satu cara efektif untuk memulai penyembuhan adalah dengan mengakui kesedihan dan menangislah.

Penyakit dalam dunia kedokteran yang sering kali salah dideteksi dan berakibat fatal adalah usus buntu. Disangkanya maag, flu perut, salah makan, infeksi usus. Makan obat-obatan yang tidak tepat hanya mengulur waktu dan memperparah masalah. Perhatikan gejala yang muncul, di-scan kalau perlu, dan lakukan tindakan yang tepat, walhasil usus buntu sembuh.

Sama seperti usus buntu, tidak dapat diobati dengan obat sakit maag; demikian juga kesedihan, tidak dapat disembuhkan dengan menyangkali realita kehilangan.

Apa kesamaan kesedihan dengan sakit usus buntu? Keduanya, berdampak buruk bagi kehidupan.

Mari kita perhatikan dampak kesedihan dalam hidup:

  1. Munculnya perasaan “ragu-ragu”

Terlihat seperti orang kebingungan. Jadi ling-lung. Tidak berani mengambil keputusan. Takut salah. Kinerja jadi buruk.

  1. Kehilangan kepercayaan diri

Tidak berani membina relasi baru khususnya yang berkaitan dengan lawan jenis. Suka merasa minder. Ada yang melarikan diri dari realita kesedihan dengan menenggelamkan diri sepenuhnya pada hal lain. Olah raga gila-gilaan, kerja terus-terusan jadi workaholic, namun semua yang dilakukan ini tidak menyentuh luka akibat putus cinta. Putusnya sudah bertahun-tahun yang lalu, but… it still hurts. Tidak berani melangkah, takut disakiti lagi. Sakitnya saja sampai sekarang masih terasa.

  1. Melemahnya vitalitas rohani

Kesedihan dapat membuat seseorang undur dalam imannya. Kecewa pada Tuhan. Kalau Tuhan sayang aku, mengapa Tuhan mengijinkan semua ini terjadi? Mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan dia? Mengapa Tuhan diam saja tidak menolong kami supaya tidak putus?”

Mengapa? Mengapa? Menjadi pertanyaan yang tidak ada jawaban. Akhirnya jadi malas berdoa, tidak mau membaca Firman Tuhan, lari dari Tuhan. Seorang yang tadinya terlihat rajin melayani dan beraktifitas dalam gereja, tiba-tiba mundur. Kesedihan yang tidak diobati, dapat merusak iman.

  1. Jiwa yang kosong

Sering bengong. Matanya tampak kosong. Wajahnya tidak berseri-seri. Tidak mau melakukan apapun. Pikirannya pendek. Merasa hidup tidak berarti lagi. Mulai mengamini setengah kebenaran kitab pengkhotbah, bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Ini kesedihan yang sangat mendalam, menutupi seluruh permukaan jiwanya hingga seakan tidak ada lagi jiwa, tiada lagi kehidupan.

Perlu diingat, Pengkhotbah tidak hanya berhenti pada pernyataan kesia-siaan. Pengkotbah membawa pembaca untuk memandang kepada Sang Khalik “Ingatlah penciptamu pada masa mudamu!”

Tuhanlah penciptamu. Dia, Tuhan yang peduli. Tuhan penuh kasih. Tuhan yang menciptakan dirimu dan memberikan kehidupan bagimu. Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Dalam segala situasi senang atau susah, percaya akan FirmanNYA .

Hadapi kesedihanmu bersama Tuhan. Dia akan mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihiNya.

Mengakui kesedihan, menerima realita tidaklah mudah. Ada beberapa fase dahulu yang harus dilewati. Dengan memahami dan menjalani fase ini, pelan-pelan tapi pasti, berhasil melewati lembah kesedihan. Sukacita kembali menjadi milikmu.

 

Fase 1 : Numbness (tumpul/baal/tidak rasa apa-apa)

Kita putus! Begitu mendengar kata itu terlontar dari mulut pasangan, seperti jatuh didorong dari tempat tinggi, rasanya kaget. Belum bisa merasakan sakitnya. Masih antara percaya dan tidak. “Beneran nih?” Apa bener kita udah putus? Apa bener kamu udah ga sayang ama aku? Abis kaget, lalu kesel dan marah, “ah masa sih dia tega putusin gue?”

Fase 2: Menolak Realita

Baru begitu sadar dari perasaan kaget, mulai merasa…wah-wah sakit juga ya diputusin. Biasanya jam segini, ada yang nelpon nanyain, udah makan? Makan apa? Makan dimana? Sama siapa? Hari ini koq HP ga bunyi… padahal ringer aktif.

Malam tiba, sudah dua malam, sepi juga, tidak ada yang ngajak keluar jalan-jalan… kemudian putar lagu, terngiang lagu sedih yang nge-hits di jamannya: “… di malam yang sesunyi ini, aku sendiri … tiada yang menemani…” mulailah air mata mengalir seperti bendungan bocor.

Duduk di kursi restoran favorit tapi sekarang tidak bersama dia.

Ini fase yang berat. Akankah kuat bertahan? Ingat, baca kembali daftar pengingat (After a break Up 1). Tulisanmu mengenai hasil evaluasi pacaranmu selama ini akan sangat berguna. Kuatkan hati melebihi keinginan untuk kembali bersamanya. Jangan menjadi pengemis cinta. Hidup harus terus maju. Kisah bangsa Israel berputar-putar di padang gurun karena tidak mau maju; seharusnya menjadi pelajaran berguna bagi kita. Tidak ada gunanya putus-sambung. Maju-mundur. Putus ya putus! Maju fase 3: Terima realita. Bersama Tuhan, ada janji masa depan yang penuh harapan!

Fase 3 : Mau menerima realita yang sesungguhnya terjadi

Tangisan, sudah biasa. Seperti kata Daud, sang Pemazmur: Air mataku membasahi temapt tidurku… Sedih…menangislah. Inilah realita kehidupan. Segala sesuatu ada masanya. Ada masa untuk berduka, ada masa untuk bersuka.

Banyak yang bisa dilakukan untuk mengurangi kepedihan dalam masa ini. Puji Tuhan, banyak teman menemani dalam fase pertama ketika baru aja putus. Masalahnya, memasuki fase ke tiga ini, teman-teman sudah merasa kita sudah aman. Tidak lagi bersedih. Justru sering kali tidaklah demikan. Kesepian menenggelamkan kita dalam genangan air mata di fase ini karena begitu kita menerima realita, saat itu pikiran dan emosi tersambung. “We are never ever ever getting back together…” demikianlah Taylor Swift bernyanyi-nyanyi dalam benak (lagunya bisa didengar dalam CD Dating INSIGHT seri After A Break Up) .

Fase 4 : Move On

Memantapkan diri dengan status baru, siap menjelang hari yang baru, membangun system kehidupan yang baru, semuanya baru! Sekarang waktunya move on. Merancang strategi kehidupan, tanpa ada si mantan didalamnya. Dulunya, kita pikir akan bersamanya membangun masa depan, sekarang di-delete. Bersama Tuhan, masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang!

Sedih….ndak lagi deh…

Yuk lanjutkan dengan After a break up 4: Mengatasi Kemarahan Akibat Putus Cinta

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s