R4: Keluar dari Jebakan Seks Pranikah

Respecting Your Date 4

Cinta Sejati vs Hawa Nafsu

Love vs Lust

Cinta vs Nafsu; Love vs Lust. Bagaimana sih membedakannya? Ada perbedaan mencolok sebenarnya, namun jika tidak peka, bisa-bisa kejebak.

Sejak kecil, sadar ga sadar, kita dibesarkan dengan pemikiran: Saya dicintai jika apa yang saya minta, diberikan. Sebaliknya, jika permintaan tidak dikabulkan berarti saya tidak dikasihi.  “Mama, bonekanya lucu, saya pengen beli!” seru seorang gadis kecil pada ibunya. “Kamu suka ya, nak? Yuk kita beli, mama mau berikan boneka itu buat kamu!” Jawab sang ibu dengan lembut. Sambil melompat-lompat kegirangan, sang gadis mencium ibunya dan  berkata, “Terima kasih mama! Aku sayang mama!”

Asumsi umum ini terbawa hingga dewasa. Baik pria maupun wanita, berpikir,”Jika kamu sungguh-sungguh mencintaiku, maka seharusnyalah kamu memberikan apa yang saya minta.”

Tapi hati-hati! Setelah dewasa dan masuk ke masa dating, kalau pacar meminta untuk berhubungan seks, ini justru bukan cinta sejati. Ini jelas cinta palsu!

Cinta sejati, tidak akan meminta sesuatu yang membuat pasangannya merasa tidak nyaman. Cinta sejati jelas bisa menunggu, cinta sejati menghormati pasangannya. Satu-satunya cara untuk menguji, apakah kamu dikuasai cinta sejati atau hawa nafsu belaka, adalah dengan berani menolak permintaan untuk berhubungan seksual di masa pacaran. Say “NO” to Premarital Sex!

1 Petrus 1: 14  Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.
Adanya ketertarikan seksual pada pasangan, normal-normal saja. Hal ini menimbulkan keinginan untuk selalu berdekatan. Jika di masa pacaran tidak ingin berdekatan, malah aneh. Namun, kita harus tajam membedakan keinginan dengan nafsu yang menguasai.

Nafsu, tidak dapat menunggu, ingin mendapatkan keinginannya sekarang juga, dengan cara apa pun. Nafsu, menuntut dipuaskan segera, memaksakan kehendaknya, merampas hak orang.  Jelas Tuhan melarang hal ini. Nafsu menguasai saat kita bodoh. Karenanya kita harus berhikmat, taatilah Firman, belajarlah menguasai diri.

Keinginan adalah sesuatu yang wajar. Setiap manusia pasti punya keinginan. Keinginan adalah natur yang ditanamkan Tuhan dalam diri manusia agar bisa hidup dan berkembang. Ingin makan, ingin berhasil, ingin berkreasi, ingin mengembangkan diri, dan keinginan lainya. Namun, sejak manusia jatuh dalam dosa, keinginan juga terdistorsi dosa. Misalnya, keinginan untuk bertambah penghasilan, jelas baik. Kenapa? Karena memotivasi kita untuk bekerja keras dan berusaha maksimal, serta menyalurkan berkat bagi banyak orang. Tetapi perhatikan juga Firman Tuhan dalam 1 Timotius 6: 9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Firman Tuhan mengingatkan, hati-hati, jangan sampai sebuah keinginan berubah menjadi nafsu. Nafsu yang mencelakakan dan menenggelamkan… sungguh mengerikan!

Hawa nafsu menjadi kaya, menghalalkan segala cara. Korupsi, bahkan sampai berani membunuh orang. Ketika sudah terjerat hawa nafsu, kita sudah tidak memperdulikan apa yang Tuhan mau. Hawa nafsu membutakan hati nurani manusia. Tidak lagi mengindahkan Firman Tuhan.

Tuhan menciptakan dunia dan isinya dengan sangat terencana. Tuhan menaruh hasrat dan gairah seksual dalam diri manusia untuk tujuan prokreasi: Disatukan dalam pernikahan kudus. Sebab itu seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kejadian 2: 24).

Mengapa harus dalam pernikahan kudus? Hubungan seksual menyatukan dua insan. Keduanya menjadi satu daging. Dalam pernikahan, ada integrasi, antara seks, cinta sejati, relasi seumur hidup, komitmen bersama selamanya. Tubuh, jiwa, pikiran bahkan roh menyatu. Sementara di masa pacaran, semua itu tidak ada. Belum ada komitmen seumur hidup. Belum ada relasi yang diikat oleh Tuhan dan direstui orang tua. Belum ada cinta yang teruji. Belum ada janji yang diucapkan. Karena itu, hubungan seks tidak boleh dilakukan di masa pacaran.

Ketika seks dilakukan di luar pernikahan, akibatnya jiwa terbelah (bukan penyatuan), kebingungan, kerusakan diri, karena batasan yang ditetapkan Tuhan dilanggar. Baca: R2 Say No to Premarital Sex: WHY

Jika betul cinta sejati, ingat! Tidak meminta pasangan berhubungan seksual dan berani mengatakan “tidak” terhadap seks di luar nikah.

Cinta sejati erat hubungannya dengan Tuhan.  Tuhan adalah cinta. Dialah yang memberikan perasaan cinta itu pada manusia ciptaan-Nya. Karenanya, jika kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, kita mampu merasakan dan memberikan cinta yang sejati,.

Dalam pembahasan mengenai True Love (T), telah dijelaskan bahwa cinta manusia adalah cinta yang natural. Cinta yang terdistorsi dosa. Kekuatan cinta kita terbatas pada kekuatan seorang manusia. Namun, ada cinta yang tidak terbatas: Cintanya Tuhan. Cinta Agape. Sejatinya disebut supranatural. Melebihi batas-batas natural. Melampaui keterbatasan manusia. Dalam Firman-Nya dituliskan, “…Walaupun gunung-gunung beranjak, dan bukit-bukit pun bergoyang, cintaku tidak akan beranjak darimu” Inilah cinta abadi, tak lekang oleh apapun, tak berubah karena apapun. Maukah kamu mengalami cinta yang demikian? Taatilah Firman-Nya dan berjalanlah dalam jalan-Nya.

Tanda-tanda cinta sejati:

  1. Bergumul untuk lebih taat pada Firman daripada keinginannya sendiri.

Hidup sehari-hari, pastilah banyak godaan. Andaikata kamu menemukan bahwa si dia ternyata seseorang yang mudah melabrak hukum Tuhan, saya jamin nantinya pasti kamu tidak akan merasa nyaman dan aman hidup bersamanya. Seseorang yang hidup dalam keinginan daging, fokus utamanya cuma diri sendiri. Pertimbangan/patokan/standar penilaian adalah cuma untung rugi buat dirinya: “Apakah saya happy?” Dia tidak akan memikirkan pasangannya. Yang penting “AKU!”

Pada saat Tuhan berkata jangan mencemari tempat tidur; jagalah kekudusan; jangan dikuasai oleh hawa nafsu. Cinta sejati memilih untuk mentaati Firman. Ketaatan pada perintah Tuhan  adalah ibadah dan penyembahan kita juga kepada Tuhan.

Dalam jangka pendek, maupun jangka panjang, pastinya kita lebih memilih untuk hidup dengan seseorang yang taat kepada Tuhan, dibanding dengan seseorang yang gampang menyerahkan diri mengikuti  hawa nafsu. Pikirkan, jika seseorang mengikuti hawa nafsu; apakah dia, seseorang yang dapat diandalkan? Apakah dia seseorang yang dapat dipercaya?

Seseorang yang takut akan Tuhan, dalam setiap pertimbangannya, akan bertanya,”Apa yang Tuhan ingin saya lakukan? Apakah Tuhan akan disenangkan dengan tindakan saya?” “What will Jesus do?” Fokusnya adalah Tuhan. Dalam hukum-hukum-Nya, Tuhan selalu merancangkan yang baik bagi manusia yang mengasihi-Nya. Demikian, orang yang mencari kehendak Tuhan, niscaya memikirkan apa yang terbaik bagi pasangan dan keluarga.

Seorang yang ingin menjaga kekudusan, bisa saja menghadapi banyak tantangan. Rony bercerita, “Saya tidak pernah minta untuk berhubungan seksual, tapi pacar saya yang mengajak. Dia bilang rela kok berikan ke saya.” Jika kamu dalam situasi Rony, apa yang akan kamu lakukan? Cinta sejati, erat hubungannya dengan Tuhan. Dalam setiap situasi, mari meningkatkan kepekaan, bahwa ini bukan antara kamu dengan kekasihmu. Namun, antara kamu dengan Tuhan.

Jika Tuhan bilang tidak, maka kita pun harus berkata tidak. Mencintai yang Tuhan cinta, membenci yang Tuhan benci. Dosen kami pernah berkata, “Ada 2 syarat untuk menentukan pasangan hidup: dia harus mencintai Tuhan dan dia harus mencintai kamu.”

  1. Cinta sejati mampu mengusai diri.

Di dunia banyak sekali yang menarik hati. Arusnya kuat, bisa bikin kita jauh dari Tuhan. Makanya, perlu penguasaan diri.

Penguasaan diri adalah kemampuan untuk menunda kepuasan, tidak memaksa segala keinginan untuk dipenuhi segera. Pernah lihat anak kecil dengan kue ultahnya yang banyak krim dan gula warna warni? Mereka tidak kuasa menahan jari kecilnya untuk tidak mencolek dan mencicipi kue itu. Meski mereka tahu, mamanya pasti akan bilang, “Jangan!!!” tapi tetap aja dilakukan.

Ketidakmampuan seseorang untuk menguasai diri, bisa jadi sumber konflik. Dia cenderung memaksa orang lain untuk mewujudkan keinginannya saat itu juga; Kalau berdiskusi, sering mau menang sendiri. Jika minta sesuatu, harus langsung diberikan. Tidak dapat menghargai pemikiran, pendapat, keinginan, dan iman pasangannya. Kita harus peka dengan orang semacam ini, bahaya sekali. Di masa pacaran, biasanya sudah kelihatan tanda-tandanya.

Tuntutan-tuntutan ini pun terjadi di area hidup lainnya, bukan hanya satu hal. Dia tidak memiliki keinginan untuk mendengarkan, mempertimbangkan, memperhatikan apa yang menjadi keinginan ataupun kerinduan pasangannya. Pada saat pasangannya ingin curhat, berbagi emosi, eh…dia malah menghindar, tidak terlalu mau ambil pusing, dia hanya mempedulikan keinginannya sendiri.

Seks, di luar rancangan Allah, hasilnya bukan mempersatukan atau menumbuhkan, sebaliknya malah menjadi penghalang keintiman. Keintiman meliputi fisik, intelektual, sosial, emosi, juga rohani.

Jika dalam hubungan pacaran, sudah melakukan hubungan seks, otomatis keinginan untuk membina intimacy, sirna. Sudah malas ngobrol, ga pingin bertukar cerita, kepikirnya cuma seks saja  setiap ketemuan.  Hal ini tidak sehat.

Bagaimana jika kita sudah terjebak dalam situasi yang demikian? Apakah masih ada harapan? Apakah masih ada pengampunan? Apakah masih ada solusi?

Kasus:

Saya dan pasangan sudah bertunangan dan akan menikah dalam waktu 3 bulan lagi. Namun perasaan bersalah terus menghantui hubungan kami. Kami terjebak, kami sudah tidak suci lagi. Sebagian karena kesalahan saya yang memaksanya untuk menuruti apa yang saya inginkan. kami tidak bisa kembali lagi! Kami telah berusaha untuk berhenti melakukannya, namun sia-sia, karena begitu sering kami gagal. Apa yang harus saya lakukan?

Kenapa selalu gagal? Melawan untuk tidak melakukan hubungan seksual, seperti melawan gaya gravitasi. Barang yang dilempar ke atas, pasti akan jatuh lagi ke bawah. Dalam relasi pria-wanita yang intens, hukum alam itu juga yang berlaku. Setiap kali bertemu ada intensitas seks yang cenderung meningkat. Jika sampai terjadi hubungan seksual, ini adalah point of no return. Begitu bertemu, ingin berhubungan seks, lalu menyesal, berdoa. Berjanji tidak lagi melakukan, eh…ketika bertemu lagi, keinginan itu muncul lagi, dosa terus berulang. Hukum alam ini sebenarnya anugrah Tuhan bagi pasangan suami istri, yang menjalani komitmen pernikahan seumur hidup. Namun berkat dapat menjadi kutuk, jika tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan Tuhan.

Jika sungguh-sungguh serius di hadapan Tuhan, maka perlu tekad kuat dari dua belah pihak untuk menghentikannya! Berjanji di hadapan-Nya untuk tidak melakukannya lagi. Janganlah berpikir,”Yah, sudah…namanya juga sudah kepalang basah. Ngapain ditahan-tahan, istilahnya nasi sudah menjadi bubur. Mau bagaimana lagi?” Ingat! Jika kita mengundang Tuhan, dan sungguh-sungguh mau taat, maka Tuhan bisa juga pakai nasi yang telah menjadi bubur tadi menjadi bubur ayam yang enak.

Sekarang juga, berjanjilah di hadapan Tuhan untuk memberikan kehidupan yang kudus. Memang tidak gampang. Namun saya percaya, hubungan dengan Tuhan adalah perkara yang maha penting. Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana menjalani hidup di dunia ini tanpa penyertaan Tuhan. Waktu kita berkomitmen di hadapan Tuhan, itu bukan hanya janji yang diucapkan di mulut, atau hanya sekedar keinginan hati saja. Harus ada langkah-langkah jelas untuk dilakukan. Jika seseorang mau melawan gaya gravitasi, maka ia memerlukan alat untuk membantunya, seperti pesawat terbang, parasut, dll.

Untuk Anda yang bertekad menghentikan premarital seks, inilah Tools atau pertolongan yang kamu perlukan:

  1. Cari pertolongan dari orang lain.

Cari Hamba Tuhan, Konselor, atau orang yang kamu anggap accountable. Orang ini dapat menjadi wakil Tuhan yang senantiasa menanyakan kondisi kamu, apakah membaik atau memburuk?

 

  1. Perbaiki hubunganmu seluruhnya.

Perlu ada perubahan yang radikal! Hindari pertemuan hanya berduaan saja. Cari kesempatan untuk menikmati kebersamaan di tengah-tengah keramaian, misal: aktivitas bersama teman-teman atau keluarga. Mengusahakan agar tubuh kita kembali direset pada “tuning” yang normal. Membiasakan diri lagi untuk bisa happy hanya dengan berpegangan tangan.

 

  1. Jangan nonton film-film yang romantis atau ada adegan “berbahaya.”

 

  1. Kalau sampai situasi begitu kritis, maka putuskan hubungan tersebut!

Andaikan waktu pernikahan masih jauh, lebih baik akhiri dulu hubungan itu. Jangan menjalin hubungan dengan siapa pun dulu. Jika waktu untuk menikah sudah dekat, segera realisasikan saja pernikahan tersebut.

 

Bonus bagi orang yang dapat menguasai diri, mereka akan menemukan “reason to love”.  Galilah banyak dimensi, aspek lain dari pasangan kita. Jangan terfokus hanya pada fisik saja. Menemukan banyak aspek dalam diri pasangan, yang berharga dan membuat kita mencintai pribadinya. I love you because Who She/He is.

 

Nikmati masa pacaran, temukan dirinya yang membuatmu mencintainya.

 

Salam Dating INSIGHT

 

Chang Khui Fa & Liana

 

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s