Archive | May 2014

Kematangan Emosi: Ekspresi Emosi yang Sehat

R3- Kematangan Emosi
Ini masih di dalam pembahasan huruf ke-3 “R”-Ready or not for dating.

Menyimak via YouTube silahkan KLIK di sini
Amsal 15: 13 “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. “

Apa sih pentingnya kematangan emosi?

Emosi memengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang, juga mendasari motivasinya. Misal: Alasan atau motivasi seseorang mencari pacar. Ada yang mencari pasangan hidup karena dilandasi perasaan takut. “Saya takut tidak dapat pasangan hidup, maka harus cepat-cepat mencari pacar.” Jelas, drivenya adalah “fear” (perasaan takut).

Sebuah survey yang ditujukan pada anak-anak SMP dan SMA mempertanyakan, “Kenapa kalian berpacaran?” Sebagian besar menjawab karena: “Kuatir di”cap” teman-temannya “tidak laku.”
Mengambil keputusan untuk pacaran dengan motivasi takut ga laku bukanlah alasan yang tepat, terlebih emosi remaja belumlah matang.
Nah, emosi seperti apa yang seharusnya ada saat seseorang ingin berpacaran? Apakah emosi yang menggebu-gebu? Panas dingin ga karuan? Apakah kalau emosi jatuh cinta muncul, itu pertanda seseorang boleh pacaran?
Emosi yang terbaik saat seseorang ingin memulai hubungan dengan lawan jenis adalah munculnya perasaan tenang dan bukan didominasi perasaan kuatir atau takut.
Tenang bahwa pada masanya nanti, saya pasti akan menemukan dan menjalin hubungan dengan orang yang benar. Pikiran yang jernih sangat erat kaitannya dengan perasaan tenang. Pikiran yang jernih akan memampukan kita mengambil keputusan lebih baik. Apalagi masalah calon suami/isteri yang akan menemani Anda seumur hidup! Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa mengajak menjalin hubungan yang serius pada saat kondisi emosinya sedang labil.

Mengapa untuk memulai hubungan yang serius perlu kematangan emosi?
1. Dapat meminimalisir pengambilan keputusan yang salah.

Seringkali kita bisa keliru mengambil keputusan. Membeli barang yang tidak sesuai, salah pilih tempat rekreasi, makan di resto yang tidak enak…Pilih pacar yang dampaknya seumur hidup, so pasti jangan sampai salah pilih dong! Kalau salah pilih bisa gawat, itu berarti penderitaan selama sisa hidup kita. Supaya dapat memilih dengan tepat dibutuhkan kematangan emosi yang cukup.

2. Saat memasuki relasi jangka panjang, membutuhkan kestabilan emosi dan rohani.

Stabil artinya ndak gampang berubah-ubah dan tidak emosional. Orang yang stabil emosinya, bisa menerima orang yang berbeda darinya.
Sebaliknya, orang yang emosinya kurang matang, menuntut orang lain untuk berpikir seperti dia; melakukan segala sesuatu sesuai caranya, jika lain sedikit langsung kesal dan marah ga karuan.

Kematangan emosi dapat menjembatani berbagai perbedaan. Kala dua insan memasuki pernikahan, pasti banyak bedanya: Cara berpikir, latar belakang keluarga, kebiasaan memakai uang, juga ketidaksamaan prinsip (penting bagi seseorang, belum tentu penting bagi yang lain).

Contoh yang pernah kami alami, dalam hal keuangan. Sebelum menikah, saya bekerja mendapatkan penghasilan. Jelas, uang itu hak saya pribadi. Rasanya bebas merdeka mau pakai uang itu untuk apa saja. Namun, saat menikah dengan Liana, dia mengharapkan saya untuk berdiskusi dulu dengannya jika berniat membeli sesuatu. Apalagi jika yang dibeli harganya mahal.

Dengan kematangan emosi yang cukup, perbedaan pendapat seperti ini dapat diselesaikan dengan lebih cepat, tidak perlu berlarut-larut.

Apa sih emosi itu? Emosi adalah tanggapan atau respon dari dalam diri terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi silih berganti. Masalah-masalah yang suka mampir dalam hidup, tidak bisa diatur dan seringkali di luar kendali.
Misal: Pagi hari, begitu mau pergi, ehhhh jalanan macet! Orang yang kurang matang, kemacetan akan bikin dia marah-marah dan ngomel sepanjang jalan, bahkan bikin dia bete sepanjang hari. Sebaliknya, orang yang stabil emosi, dapat bersikap tetap tenang, karena sadar mau ngamukpun macet tetap macet, toh pelan-pelan juga pasti sampai. Santai aja.
Sekarang, bagaimana mengukur kematangan emosi? Kematangan emosi diukur dari kecakapan menyampaikan emosi dengan sehat.

richness emotions

Continue reading

7 Kiat Menulis BUKU Best Seller

7 kiat Menulis Buku Best Seller REV 2

Makin Tua atau Tambah Dewasa? Kematangan Sosial

R2: Social Age / Kematangan Sosial

Nonton via YouTube KLIK di SINI

Pengkotbah 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Mazmur 144:4 Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.

 Apa nih artinya? Artinya…waktu cepat sekali berlalu, juga bermakna manusia akan lekas sekali lenyap. Betapa hidup manusia sangat fana. Mazmur 103: 15, dituliskan,”Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; (16) apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”

Dalam berjalannya waktu, adakah Anda semakin dewasa? Atau, waktu terus lewat, namun kita masih seperti yang dulu, mandeg dan tidak mengalami perkembangan. Mirip lagu ”Aku masih seperti yang dulu…..” Waktu berubah, jamanpun berganti, sekarang sudah tahun 2014, tetapi apakah Anda bertambah dewasa dan bertambah matang? Are you getting old atau growing up?

Bunga yang indah di padang, sekejap lenyap saat angin datang; demikian pula akhir kehidupan manusia jika dijalani tanpa pemahaman yang utuh atas hidup. Bisa tenggelam ditelan jaman. Kehidupan manusia akhirnya tidak pernah memberikan pengaruh, tiada jejak, bahkan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tak ada yang mengingat bahwa Anda pernah hadir di dunia ini. Apa yang harus Anda perbuat agar hidup berlalunya tidak sia-sia? Lakukanlah perbuatan yang berdampak kekal. Dalam setiap bagian hidup, pergunakan waktu yang ada dengan bijaksana. Segala sesuatu ada masanya, jangan sampai Anda dilibas waktu.

WASPADALAH! Ada masa di mana seseorang harus fokus pada prestasi akademik tanpa diganggu urusan pacaran. Namun, ada juga masa di mana harus mulai mencari pasangan hidup! Ada masanya juga setiap orang memasuki pernikahan dan berkeluarga. Sampai akhirnya tiba masa membesarkan anak-anak.

Bersiaplah menghadapi setiap masa dalam hidup. Bukankah manusia seperti bunga atau rumput yang segera lenyap ketika angin menerjangnya? Begitu periode dating datang, siapkah Anda? Dia akan melewati kita seperti angin yang melintas. Karenanya sebelum tiba, ada beberapa hal yang harus ditegakkan terlebih dahulu. Tenang saja tidak perlu buru-buru, yang penting persiapan diri. Masa pacaran pasti akan menjemput. Nah, Are you Ready or Not for dating?

Salah satu tanda ketidak siapan seseorang memasuki masa pacaran adalah seringnya putus-sambung-putus-sambung. Yang demikian, belum benar-benar mengenal diri, seperti pikiran, emosi, dan keinginannya. Juga belum mengenal diri pasangannya, tapi udah berani jadian. Akhirnya pecah konflik dan sama-sama teriak,“Sudah putus saja!”

Begitu putus, tahu-tahu bingung, “Kok hidup sepi sendiri?” Eh eh eh…ga lama,“Sambung lagi ahhh”. Pacaran jadi gak asyik, gak seru…yang ada hanya wajah muram durja penuh beban dengan perkara-perkara yang tak terselami. Demikian pula halnya dengan pasangan yang memasuki pernikahan tanpa kesiapan. Akhirnya, banyak dari mereka memilih untuk mengakhiri penikahan dengan berpikir pendek: Bercerai…

Di sisi lain, jangan pula terlambat! Seperti bunga yang walaupun indah tiada tara toh akhirnya menjadi layu. Di masa bunga mekar, merekah, sangat indah, siapkah Anda memilih kumbang yang datang meminang?

Anda yang berada dalam masa pacaran, harus ingat bahwa masa ini pun tidak selamanya. Masa itu harus berakhir. Berakhir karena putus, kalau memang alasannya jelas (lihat pembahasan Mr/Mrs Wrong next on GARAM) atau mengakhiri masa pacaran karena Anda memasuki masa pernikahan seumur hidup. Sungguh indah!

Masak pacaran terus tiada akhir? Saat ditanya kapan akan menikah? Jawabannya: “May… maybe Yes maybe Not…” Ngeri kan? Membuat pasangan dalam posisi terombang-ambing, tanpa kepastian. Yang paling rugi so pasti sang gadis. Wanita seperti bunga, ada masanya indah menawan. Kala masa itu lewat (ketika bunga sudah layu), eh… malah diputus, oh sungguh kejam! Jadi Pria harus Gentleman: Iya katakan ya, tidak katakan tidak. Yang tegas dan bertanggung jawab, jangan sembarangan. Wanita juga harus menjaga diri baik-baik, menolak dipermainkan dan diombang-ambingkan dalam ketidakpastian.

Inilah mengapa topik ini sangat penting, kami ingin Anda semua berhasil! Tidak sampai mengalami gagal di sana sini atau “GATOT” gagal total.

Anda harus memasuki pacaran dengan confidence, dan mengetahui bahwa ujungnya adalah pintu pernikahan. Dan ketika memasuki pernikahan, Anda dapat mempertahankan dan menikmati pernikahan seumur hidup.

“Wah saya sudah 17 tahun, berarti saya sudah siap pacaran!” Eits, belum tentu! Kesiapan pacaran tidak bisa ditentukan hanya oleh usia saja. Ada faktor kematangan lain yang perlu dipertimbangkan yang saat ini kita bahas adalah kematangan sosial.

Kematangan sosial ini berkaitan erat dengan orang-orang lain di sekitar kita. Bagaimana seseorang membina relasi dengan lingkungan sosialnya. Seorang psikolog, Erick Erickson mengatakan,”Seseorang memasuki fase intimacy vs. isolasi pada usia 17.” Di usia 17, seseorang mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Dulu-dulu lawan jenis mondar-mandir di depannya tidak ada”setrum.” Tapi sekarang aneh, tiba-tiba dia merasakanjantungnyaberdebar-debar, rupanya mulai naksir! Jatuh cinta yang berjuta rasanya.

Pada banyak orang walau umurnya 17 tahun atau lebih, namun tidak memiliki kecakapan untuk membina kedekatan. Contoh konkret yang dijumpa sehari-hari: Saat mencari pasangan – sulit memulai pembicaraan, di hadapan lawan jenis minderan, so bagaimana mampu membina relasi jangka panjang? Melakukan pendekatan saja gemetar!

Bagi yang sudah menikah, suami pulang kerja, ternyata tidak meluangkan waktu untuk mengobrol dengan istri atau menanyakan kabar,tapi langsung asyik melakukan apa yang disuka, misal: bermain game, nge-lap mobil, nonton TV. Seharusnya sang suami membangun intimacy, tetapi malah mengisolasi diri.

Ada pula suami-suami yang sama sekali tidak mau diganggu. “Saya mau nonton, sudah cape nih, jangan banyak ribut.” Mengisolasi diri, membuat pagaryang tinggi sehingga tidak ada yang dapat mendekati atau berelasi dengannya. Atau sebagai isteri, sibuk terus. Tidak pernah mengajak suami bicara heart to heart. Akhirnya pas anak-anak sudah besar, mau mengobrol apa? Jadi, seseorang bisa saja sudah berusia lebih dari 17 tahun, dewasa secara fisik, namun secara sosial, ternyata belum matang.

Kematangan sosial merupakan sebuah proses yang diajarkan dalam keluarga. Jika dalam keluarga tidak ditumbuhkan, maka seseorang tidak mungkin matang sendiri. Berita gembira untuk Anda: Tidak ada kata terlambat! Anda dapat menumbuhkan dan mengusahakan kemajuan umur sosial Anda.

Bagaimana caranya? Apa yang harus dilatih? Friendly-people Continue reading

Ruginya Pacaran di masa SMA

Ready or Not for Dating 1:

Ruginya Pacaran di Masa SMA

Monday, May 5, 2014

Nonton via YouTube just klik di sini

 

Kapan sih waktu yang tepat untuk dating?

Raja Salomo mengungkapkan dalamPengkhotbah 3:1

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”

 

Untuk segala sesuatu ada waktunya, termasuk pacaran. Kalau nge-jomblo jangan lama-lama, bisa-bisa ketinggalan kereta. Begitu pula dilarang memasuki masa dating di usia terlalu muda. Ada banyak kerugian dan masalah yang ditimbulkan.

no kids date

Jadi…kapan waktu terbaik? Continue reading

Perfect in God’s Design

Dating Insight A4

Perfect in God’s Design

28 April 2014

Dating INSIGHT Am I The Perfect Candidate bersama Ev. Chang Khui Fa dan isterinya Liana, dapat disaksikan klik di sini Youtube.

Kali ini,  kami hadirkan seorang pakar di bidang Counseling Keluarga, Bp. Ichwan Chahyadi. Beliau alumni Denver Seminary, USA dengan gelar Master of Counseling. Pak Ichwan juga adalah founder dan owner VISI Book Store. BTW, langsung saja kunjungi VISI atau VISI online sebagai resource pertumbuhan kerohanian dan kehidupan Anda.

Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini terambil dari Mazmur 139: 13-16

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

 

Manusia adalah ciptaan yang sempurna di mata Allah. Bayangkan! Tuhan sendiri yang membentuk buah pinggangnya, menenunnya dalam kandungan. Dalam pandangan Tuhan, manusia sungguh sempurna!

Tetapi, sayang sekali! Manusia telah jatuh ke dalam dosa.Dosa mendistorsi design sempurna yang telah Allah ciptakan.

Puji Tuhan! 2000 tahun yang lalu, Yesus telah lahir. Dia telah mati dan bangkit! Dia memungkinkan kita disempurnakan kembali.

 

Menurut pandangan Pak Ichwan, sempurna” dalam design Tuhan itu apa maksudnya?

Setiap orang diciptakan dashyat dan ajaib. Kesempurnaan itu bukan berarti tanpa cacat atau kelemahan, tetapi yang dimaksud adalah bagaimana seseorang dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan design yang sudah Allah tetapkan.

Ambil contoh: piring dan gelas. Masing-masing sempurna jika digunakan sesuai dengan fungsi designnya. Gelas berfungsi baik jika digunakan untuk minum, sedangkan piring sebagai wadah makanan. Seandainya digunakan terbalik, menjadi tidak sempurna. Jadi kesempurnaan lebih dilihat dari fungsi dan peran sesuai design kita masing-masing.

Kesempurnaan itu relatif karena setiap orang unik. Tiap-tiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang ekstrovert ada juga yang introvert. Ada yang thinking saat mengambil keputusan, ada juga yang feeling.

Seorang ekstrovert mendapat energi sebagai sumber kekuatannya dari luar yaitu dari orang-orang di sekitarnya; sebaliknya introvert, energinya dari dalam diri sendiri.

introvert-vs-extrovert

Bagaimana mendekteksi pribadi, apakah saya ekstrovert ataukah introvert?

Continue reading