R2: Say No to Premarital Sex, Why?

Respecting Your Date Say No to Premarital Sex: Why?

Dampak Seks Pranikah dalam kehidupan

Nonton Chang Khui Fa dan Liana, talkshow seru dalam dating INSIGHT. Klik aja

Masa-masa pacaran adalah masa yang tak terlupakan, penuh memori sukacita! Terbersit kenangan indah kala itu, membuat saya (Liana) sering senyam-senyum sendiri, adrenalin terpacu, semangat kembali mengalir. Perasaan kangen menyelimuti seluruh pikiran dan perasaan. Kalo saat itu lagi terpisah dengan Pak Khui Fa, langsung deh buru-buru angkat telepon. Mendengar suaranya saja, seperti meneguk segelas air segar, menghilangkan dahaga rindu yang mendera.

Bayangkan, andaikata dulu di masa-masa pacaran, ada batasan-batasan yang kami langgar, pastilah ternoda memori-memori indah itu. Apa batasan-batasan yang harus dijaga dalam masa pacaran agar memori indah itu tidak tercemar?

Inilah Firman Tuhan yang menjadi panduan: Ibrani 13:4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Salah satu tujuan pacaran adalah mendukung pasangan untuk bertumbuh. Bertumbuh kepribadian, juga kerohaniannya. Kerohanian erat hubungannya dengan Tuhan. Dari Firman-Nya, kita tahu bahwa Tuhan akan menghakimi orang-orang sundal dan pezinah. Pelanggaran terhadap Firman-Nya, bikin hati nurani menderita, serta malu berhadapan dengan Tuhan. Karenanya, janganlah karena tidak mampu menguasai diri dalam perkara seksual, akhirnya malah menjerat diri kita dan pasangan. Taat kepada Firman Tuhan, rindu menjaga kekudusan, memberikan yang terbaik bagi sang kekasih, harus ditempatkan lebih utama daripada keinginan pribadi untuk mendapatkan keuntungan dari hubungan di masa pacaran.

Banyak pria berkata pada kekasihnya, “Kalau kamu sungguh-sungguh mencintaiku, buktikan dong!” (buktikan dengan rela melakukan hubungan intim). Jangan tertipu dengan kata-kata semacam ini. BAHAYA! Pasti “Evil”. Jawab saja, “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan meminta hal yang merugikan saya!” Cinta berarti menghargai kekasih sebagai pribadi seutuhnya dengan turut menjaga kekudusannya.

Masa pacaran jelas adalah masa yang pendek. Mari berpikir jangka panjang. Toh jika relasi berlanjut, pasti akan meninggalkan zona pacaran dan masuk zona pernikahan buat seumur hidup. So, mengapa buru-buru mau intim emosi dan fisik?

Yang harus difokuskan bersama adalah: Bagaimana membina relasi ini menjadi relasi jangka panjang? Bukan cuma relasi yang bertahan tiga bulan atau setahun saja, yang bahkan berakhir meninggalkan luka di hati! Keseriusan sebuah hubungan pacaran salah satunya ditandai dengan kemampuan menguasai diri. Sampai akhirnya berhasil membawa pasangan masuk dalam pernikahan kudus. Oh Indahnya!

Jangan Sok Kuat, berpikir,”Pastilah saya bisa! Iman saya kuat! Saya tidak akan jatuh ke dalam dosa seksual!” Lebih baik berjaga-jaga… Ada surat dari seorang gadis, dia menuliskan: Dulu, sebelum mengalami jatuh cinta, dia sering menghina temannya yang tidak mampu menjaga kekudusan. Sekarang, setelah mengenal cinta, dia baru sadar dashyatnya kekuatan cinta (eros). Ternyata, berat sekali pergumulan menjaga kekudusan ditengah ketertarikan seksual yang sangat kuat!

Inilah mengapa tema ini kami angkat: Why Say No to Premarital Sex?

Seyogyanya, keinginan untuk berdekatan dan ketertarikan seksual, adalah hal yang tidak perlu dilawan. Ini terjadi sangat natural pada semua orang. Kalau tidak ada ketertarikan, malah aneh. So bagaimana memandang perkara ini dengan benar?

Alangkah baiknya, jujur akui, bahwa saya memiliki hasrat itu. Hasrat seksual adalah anugerah Tuhan. Tidak perlu disangkali (denial). Manusia dicipta Tuhan sebagai mahluk seksual (sexual being). Namun ingat, Tuhan sang Pencipta, mengatur yang terbaik. Hasrat seks tidak boleh dipuaskan di dalam masa pacaran; hanya boleh dirayakan di dalam ikatan pernikahan. Karenanya, pasangan harus dapat saling menjaga, saling mengingatkan. Jika hubungan mungkin sudah nyaris menyerempet batas, diskusikanlah secara terbuka. Katakan,”Saya merasa tergoda jika berduaan denganmu. Kita harus cari cara supaya tidak jatuh dalam dosa ini.” Apabila frekuensi pertemuan tinggi, cari solusinya, tentukan batasan yang harus disepakati bersama agar kekudusan tetap terjaga. Ini demi kebaikan keberlangsungan hubungan cinta jangka panjang kalian.

Nah, pertanyaannya tadi adalah “Kenapa?” “Why?”

Pertama, pastinya melukai hati Tuhan.

Karena yang Tuhan inginkan adalah kekudusan. I Tes 4:3-8 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. Seorang Kristen yang sudah percaya Tuhan, bukan berarti dia imun terhadap dosa. Dia tetap punya potensi jatuh dalam dosa. Dengan demikian, jika seseorang jatuh dalam dosa, berarti dia telah mendukacitakan Roh Kudus yang telah memeteraikannya menjelang hari penyelamatan. Tuhan tidak akan tinggal diam. Sebagai Bapa yang baik, Dia akan menghajar dan mendidik anak-anak-Nya agar tidak terus-menerus tenggelam dalam keberdosaan.

Kedua, melukai diri sendiri.

Relasi dengan diri sendiri pun menjadi rusak. Seks dalam naturnya memang diciptakan untuk mempersatukan dua insan. Mereka yang dipersatukan dalam pernikahan, menikmati seks sebagai sebuah anugerah yang luar biasa. Hubungan seks sangat indah, yang ingin terus diulang; tetapi jika terjadi di luar pernikahan, akibatnya, muncul perasaan-perasaan negatif dan menjebak. Perasaan yang menghantui, jika berhubungan seks di luar nikah:

1. Perasaan bersalah

Hidup dihantui perasaan bersalah…ihhh… ga enak banget. Walaupun terjadinya karena ‘cinta’, mau sama mau ataupun tidak, hasilnya sama, hati nurani akan merasa tertuduh. Hari-hari tidak ada damai sejahtera. Setiap kali bertemu pacar, selalu melakukan, intensitas kian bertambah. Ini mengerikan! Banyak yang mencoba menenangkan diri dan mematikan hati nurani, dengan berkata, “Ahhh, tidak apa-apa kok. Jaman sekarang, hal begini sudah biasa. Semua teman saya juga melakukan…”. Terlebih diperkuat dengan culture yang longgar, misal culture di barat, lama- kelamaan bisikan hati nurani pun akhirnya hilang. Puji Tuhan, kalau dalam diri masih ada perasaan bersalah. Lebih bersyukur lagi, jika masih ada tangan Tuhan yang tidak membiarkan kita semakin dalam tenggelam dalam dosa. Tapi hati-hati, perasaan bersalah yang terlalu lama, akan melumpuhkan fungsi kehidupan lainnya.

2. Perasaan kuatir

”Wah bakal hamil tidak ya?” Sangat mungkin sekali. Kehamilan di luar nikah, siapa yang merencanakannya? Tentu tidak ada yang mau. Namun kenyataannya, dari hasil survey yang dilakukan do something.org, di Amerika, 3 dari 10 remaja putri hamil sebelum berusia 20 tahun. Ditemukan juga bahwa 8 dari 10 remaja pria yang menghamili pacarnya, tidak mau menikah dengan pacarnya itu. Inilah bukti, seks di luar nikah bukanlah karena cinta, tapi nafsu yang tidak terkendali. Kalau ada cinta, tentu tidak ingin pasangannya dirundung perasaan kuatir.

3. Menghancurkan harga diri

Sebagai manusia, kita memiliki self-esteem. Kita sadar kalau kita adalah buatan Allah, dan kita sangat berharga bagi Allah. Setiap manusia sangatlah mahal harganya, bahkan Priceless. Tidak bisa dinilai dengan uang ataupun emas perak. Allah telah membeli kita dengan darah Anak-Nya yang tercurah di kayu salib. So, sewaktu kita melakukan pelanggaran terhadap Firman Allah, kita menjadi malu dan merasa rendah diri.

4. Perasaan takut

Bagaimana kalau hubungan itu berakhir. Putus. Siapa yang mau dengan saya? Saya sudah ternoda. Takut diputusin. Takut kalau sampai batal menikah dengan dia. Takut ditinggalkan. Akibatnya, makin posesif, makin mengikat. Hubungan yang seharusnya terjalin atas dasar percaya, jadi rusak. Sejatinya, Allah menciptakan dan memberikan seks dalam pernikahan adalah untuk semakin mengikat hubungan suami dan istri. Komplikasinya, masih pacaran, tapi sudah berhubungan seks, ikatan bahwa saya milik kamu dan kamu milik saya, terbangun; tapi belum disahkan oleh Tuhan dalam pemberkatan pernikahan. Masih mungkin dan sangat mungkin bisa putus.

5. Perasaan gelisah

Perasaan gelisah, cemas, curiga membayangi. Muncul pemikiran,”Kalau berduaan sama saya, dia tidak bisa menguasai diri, sangat mungkin dia melakukannya juga dengan orang lain.” Kepercayaan pada pasangan hilang. Padahal, untuk membangun hubungan jangka panjang, unsur ‘percaya’ adalah salah satu unsur terpenting. Baca lebih dalam di buku “GARAM & TERANG bagi Keluarga” Bab 6 “Trust Between Husband & Wife” karya Chang Khui Fa. Dengan breaking the law saat masa pacaran, menciptakan asumsi dalam benak, “Koq bisa-bisanya kamu melanggar Firman demi nafsu; pasti kamu tidak memiliki pengendalian diri.” “Jangan-jangan kamupun mau melakukannya dengan orang lain selain diriku!” Jikalau akhirnya menikah, tahu-tahu pasangan harus sering-sering tugas ke luar kota, terlepas dari pengawasan mata, pastilah perasaan dan pikiran tidak bisa tenang. Mau gelisah seumur hidup?

Orang yang terus diliputi emosi negatif, akan menjadi lumpuh. Produktifitas menurun, kesehatan melemah, pikiran tidak bisa konsentrasi, hati ndak mood, lama-kelamaan tidak ada lagi keceriaan, terbentuklah muka super suntuk. Dosa menghalangi manusia untuk menjadi berkat bagi orang lain, bagi bangsa, bahkan bagi dunia. Hangus sudah, tinggal arang. Karena itu berhati-hatilah, jangan bermain api! Jangan pernah mencoba melabrak batasan yang telah Tuhan tetapkan.

Ketiga, Dampak terhadap pasangan

Saya percaya, suatu hubungan yang baik, seharusnya membantu pertumbuhan tiap-tiap pribadi yang terlibat dalam hubungan tersebut. Keintiman fisik yang terlampau jauh, akan membuat dampak kebalikannya. Ini karena dosa sifatnya menjerat, merusak, menghancurkan. Tidak pernah ada yang baik muncul dari dosa. Ingat, dosa merupakan kejahatan. Berbuat dosa artinya melakukan perbuatan yang melanggar Firman Tuhan. Kalau ada cinta, tentu tidak akan mengajak pasangannya berbuat dosa. Baca deh tentang cinta sejati di dalam topik True Love. Fokus utama dalam masa berpacaran bukan untuk mengenal mendalam akan fisik; tapi untuk mengenal siapa dirinya.

Pertanyakan: Bisakah kami bersama semakin bertumbuh dalam menjalani hidup ini?

Seks di masa pacaran, membuat keengganan untuk melakukan pengenalan yang seharusnya. “Pacar saya selalu mengelak kalau saya ingin membicarakan hal-hal yang mengganjal di hati. Kalau saya mencoba menyampaikan ketidaksukaan saya pada sikapnya, malah bikin dia marah-marah. Dia juga tidak pernah mau mendengarkan cerita-cerita saya. Dia hanya tertarik pada hal-hal fisik, tubuh saya,” ujar seorang gadis yang sudah kebablasan dalam hubungannya dengan sang kekasih.

Keempat, Dampak terhadap orang lain (komunitas)

Orang-orang yang telah diselamatkan Kristus, seharusnya hidup di tengah komunitas orang percaya. Komunitas dimana dia bertumbuh dan melayani bersama. Komunitas ini juga dapat menjadi pilar-pilar hidup dan membantu menjaganya agar tetap berada dalam jalan yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Walhasil, keberadaan orang percaya di tengah komunitas, pastinya sangat berpengaruh bagi komunitas tersebut. Entah itu positif atau negatif. Bisa membanggakan ataupun memalukan.

Bagaimana kita hidup, mencerminkan apakah Kristus dimuliakan atau dipermalukan? Bila kita melakukan Firman-Nya, menjadi garam dan terang, pastinya komunitas dimana kita berada akan memuliakan Bapa yang di surga. Sebaliknya, jika kita hidup dalam dosa, pastilah menjadi batu sandungan. Lenyaplah kesempatan untuk bersaksi demi nama Tuhan.

Hidup hanya sementara, paling-paling 70 tahun, sungguh sedih jika dalam hidup yang begitu singkat, kita menorehkan sejarah yang buruk. Apalagi masa pacaran, begitu singkat, ada batasnya, hanya beberapa tahun saja. Setelah itu kan menikah.

Alangkah baiknya jika bisa mengendalikan diri, menunda keinginan dan hasrat seksual sampai waktunya tiba, diberkati Tuhan dalam pernikahan kudus. Alangkah baiknya pula jika masa pacaran tidak terlalu lama. Jika kelamaan, godaan itu akan semakin besar, ditambah ketidaktahuan harus bagaimana menjalani masa-masa pacaran tersebut.

Next: Strategi untuk menjaga kekudusan dalam masa pacaran.

Salam Dating INSIGHT,

Chang Khui Fa & Liana

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s