E3: Mutual Dependency

Equally-Yoked Relationship 3

Mutual Dependent: Saya + Kamu = KITA

Saksikan via YouTube klik sini @lianaDatingINSIGHT

Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.

Efesus 4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Ibrani 10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

I Yoh 3:11  Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;

Pada ke-empat ayat ini ada satu kata yang menjadi rhema, “saling”: saling membangun, saling membantu, saling mendorong dalam kasih, saling mendorong dalam pekerjaan baik dan saling mengasihi.

Bagaimana dua pasangan yang jatuh cinta bisa mencapai kesalingan? Jelas, ini sebuah proses yang panjang dan perlu perjuangan kedua insan. Tanpa pertolongan Tuhan, sesungguhnya banyak orang gagal mencapai kesalingan di dalam relasi mereka.

Perjalanan dimulai dari Romance => Power Struggles => Cooperation => Mutuality => Co-Creativity.

Perjalanan di atas adalah proses yang tidak gampang. Pada tulisan sebelumnya, kita sudah membahas sampai Cooperation, sekarang mari kita membahas: Mutuality yaitu kesalingan. Sebagai pasangan, jika sama-sama memahami makna kesalingan dan mempraktekkannya, maka perintah Allah “Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia” menjadi tidak terlampau sulit.

Bagaimana seseorang bisa bertumbuh menuju Mutuality? Dalam perkembangan kedewasaan, dimulai dari Tahapan Dependent (bergantung).

Dependent => Independent => Mutual Dependent

Setiap manusia, sewaktu dilahirkan adalah bayi mungil yang tidak berdaya. Segala perkara bergantung pada orang tuanya. Makan disuapin, mandi dimandiin, tidur dikelonin, sekolah dianterin, pulang dijemputin, mau beli sesuatu dicariin, wah total bergantung. Paradigmanya: “YOU take care of me!”

Seiring bertambahnya usia, anak kecil sedikit demi sedikit mempraktekkan kemandirian. Melepaskan ketergantungan setahap demi setahap. Makin dewasa. Jostein, putra pertama kami, sekarang sudah umur 13 tahun, kelas 2 SMP. Pulang sekolah sudah tidak perlu dijemput, bisa naik angkot sendiri. Mau beli sesuatu, sudah bisa eksekusi sendiri. Mengatur keuangannya sendiri. Tentu belum mandiri sepenuhnya, uangnya masih kami yang kasih.

Sewaktu kecil, anak-anak biasa bertanya, “Ma, ini boleh nggak?” “Pa, ini bagus tidak?” Dijawab, “Baik atau tidak, bagus atau jelek, boleh atau tidak…” Sebagai orang tua, harus memberikan jawaban beserta alasannya, supaya mereka dapat dilatih mengambil keputusan. Tuntun pemikiran anak untuk menimbang dari sudut pertimbangan orang dewasa. Orang tua harus mempersiapkan anak-anak untuk mempersiapkan diri, melepas tahapan dependent menuju tahap yang lebih tinggi yaitu tahapan independent.

Menjelang remaja, diharapkan mereka sudah mulai memutuskan dan menimbang sendiri berdasarkan pertimbangan yang bijaksana. Orang tua tidak lagi memegang kendali total atas anak mereka. Apa yang menjadi dasar pertimbangan anak-anak, jikalau semenjak kecil orang tua tidak pernah melatihnya?

Memasuki tahap kemandirian atau Independent, punya paradigma: “I can take care of myself!”

Kota Bandung, termasuk kota pelajar. Banyak anak-anak dari luar kota, kost di Bandung buat kuliah. Sering terjadi di awal masa-masa kuliah, para mahasiswa pendatang ini hidupnya keteteran, sampai-sampai jatuh sakit. Dulu di kota asal, kan ada ortu yang perhatian, segala sesuatu disiapkan. Makanan sehat selalu tersedia. Jam tidur diawasi supaya tidak kurang tidur. Sekarang, di kota yang baru, tidak ada orang tua. Terpaksa mandiri. Mau pergi kuliah pagi, ehhh telat bangun, buru-buru jadinya ga sempat makan. Udah jam 12, makan siang tahu-tahu kelewat. Pulang ke kost ga ada makanan, so makan ala kadarnya saja…mie instan lagi mie instan lagi.

Tidur tidak cukup karena mengerjakan tugas sampai larut malam. Belum lagi adaptasi dengan situasi yang berubah. Akhirnya, kuliah telat, ngantuk, tugas tidak dibuat, mulai sakit maag, pusing, masuk angin. Tapi, hidup toh beradaptasi. Pelan-pelan pasti berhasil mengatur ritme kehidupan dengan lebih baik. Belajar mengatur dirinya sendiri, dan akhirnya menemukan, ternyata,”Saya bisa! Hidup tanpa ortu” Mulailah dia menunjukkan siapa dirinya, mengembangkan independensi sebagai orang dewasa. Itulah proses belajar menuju kemandirian.

Banyak yang mengira, jika sudah bisa segala sesuatu sendiri berarti orang tersebut sudah matang. Belum! Independent bukan kedewasaan tertinggi dari manusia. Ada satu level yang lebih tinggi yaitu Mutual Dependent.

Mari kita telusuri.

Independent: Saya bisa melakukan semua sendiri. Saya memiliki disiplin. Saya punya target. Saya mampu mengurus diri sendiri. Saya bisa mengerjakan tugas ini. Saya orang yang bertanggung jawab atas hidup. Setiap orang harus mencapai independency-nya. Nah, Mutual Dependent adalah: Baik sekali saya bisa segala sesuatu sendiri, tapi walau begitu, saya yakin berdua denganmu, hasilnya akan lebih indah, lebih bagus, bahkan lebih sempurna. Mutual Dependent adalah saling bergantung antar dua insan.

Inilah yang Tuhan mau dalam Firman-Nya, saat Dia mengatakan,”Tidak baik manusia seorang diri saja.”

Tuhan rindu, setiap anak-anak-Nya dapat mencapai level: Mutual Dependent. Apa yang dimaksud dengan Mutual Depedent? Perhatikan kata “saling” dari firman Tuhan di atas: Saling membangun, saling membantu, saling mengasihi, saling mendorong dalam pekerjaan baik. “Saling” tidak bisa dilakukan sendiri, minimal perlu berdua.

Umpama saling cinta; cinta pada siapa? Masa ke tembok? Tidak bisa dong, to loved and to be loved. Harus berdua kan?

Demikian juga dengan saling tolong. Ada yang menerima pertolongan, ada yang memberi pertolongan.

Tuhan Yesus mengajarkan perihal berdoa. Dia memberikan contoh “Doa Bapa Kami”. Kenapa bukan “Doa Bapa Saya”? Ini bukti bahwa Tuhan mencintai anak-anak-Nya hidup dalam komunitas. Komunitas terkecil di dunia ini adalah berdua (sepasang suami-istri).

Dalam Mutual Dependent, paradigmanya menjadi “We” (kita), bukan lagi “Kamu” atau “Saya”.

“We can do it. We can cooperate. We can combine our talents. We can create something greater. We can achieve greater together.”

Jadi, bisa saja saya melakukan semua ini seorang diri. Namun, jika melakukannya berdua, saya percaya: Hasilnya pasti lebih baik. Bahkan, dapat mencapai banyak hal yang tidak dapat dicapai sendirian.

Secara fisik

Baru-baru ini, kami pindah rumah dan mencuci gordennya. Gorden yang sudah bertahun-tahun tidak dicuci, pas direndam, waduh airnya hitam persis air got. Saya bisa aja mencuci sendiri, namun ketika dikerjakan berdua, jauh lebih indah. Liana yang kucek, saya yang buang airnya, berganti-gantian kami menjadi tim cuci gorden. Pekerjaan berat jadi enteng karena dikeroyok berdua.

Secara Emosi

Dalam hal mencinta juga begitu. I love You, harus ada I and You. Dialah pasangan kita, sang kekasih hati. Jika tidak terjadi kesalingan, salah satu pihak terus memberi cinta, yang satu pihak menerima saja. Lama-kelamaan, stock kasih dari yang memberi bisa kering-kerontang. Yang menerima, take it for granted, merasa sudah seharusnya pasangannya mencintainya, terus-menerus menerima cinta pasangannya. So, makin menuntut tanpa berterima kasih. Jika memasuki level Mutual Dependent, seyogyanya ada kepekaan untuk memberi, dan menerima. Setiap pihak harus bisa memberi dan diberi.

Secara Pemikiran

Saya membutuhkan pemikiran terbaik dari orang lain untuk bergabung dengan pemikiran saya. Berpikir sendiri, bisa, namun jika ditambah dengan pemikiranmu, pasti bisa melihat dari dimensi yang lain. Pria dari sudut pandang rasional, wanita melengkapi dari sudut pandang emosi dan relasi yang kerap kali tidak terlihat oleh sang pria.

Tidak ada seorangpun yang sempurna. Makanya, keberadaan pria dan wanita sebagai sepasang suami-isteri pasti saling melengkapi.

Mutual Dependent tidak terjadi secara otomatis. Perlu banyak usaha dan pertolongan Tuhan. Tidak sedikit suami isteri yang sudah menikah bertahun-tahun, tapi ternyata belum masuk ke level Mutual Dependent. Masing-masing, suami maupun isteri sangat independent. Aku jalan ke sini; kamu jalan ke sana. Kita urus masalah sendiri-sendiri. Kamu urus rumah dan anak-anak. Aku kerja cari duit. Jangan ganggu aku dengan urusan anak ya! Bahkan ada juga yang menyerahkan anak-anaknya dibesarkan tanpa orang tua. Isteri berkarir di sini; suami di situ. Sama-sama sibuk. Hidup dalam dunianya masing-masing, tanpa interaksi kesalingan.

Padahal, anak adalah titipan yang Tuhan percayakan. Anak seperti panah yang dibidikkan ke satu sasaran. Supaya tepat sasaran jelas urusan orang tua, ayah dan ibu, berdua bekerjasama mendidik anak yang telah Tuhan anugerahkan. Menjadi tim work yang solid. Jika ayah dan ibu memahami arti kesalingan, anak pastilah besar dalam lingkungan yang kondusif.

Di masa dating, semua ini masih merupakan impian. Masa depan ditentukan mulai dari hari ini. Siapa pasangan yang kamu pilih? Apakah bersamanya, kamu akan menggapai sesuatu yang hebat (achieve greater things together)? Melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah. Efesus 2: 10.

dating the right one

Atau, setelah menikah ego malah bertambah tinggi, tidak bisa bekerja sama dan menjajah pasangan? Mari refleksi diri…Semoga Roh Kudus Allah menyatakan kebenaran dalam hati setiap kita, menurunkan ego dan mulai belajar arti kesalingan.

Mari kita lanjutkan ke tahap berikutnya setelah mutuality dalam Dating INSIGHT E4: Co-Creativity.

Chang Khui Fa & Liana.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s