A2: Proses Menuju Kesempurnaan

Am I The Perfect Candidate 2?

Proses Menuju Kesempurnaan.

 

Nonton Am I The Perfect Candidate 2? di Youtube Klik DISINI 

 

 

Perfect Candidate Self view A2

14 APRIL 2014

 

Minggu lalu kita sudah membahas What & How The Perfect Candidate. (Silahkan baca lengkapnya dalam Am I The Perfect Candidate 1)

 

Apa saja perfection itu?

 

Ada 4 dimensi yang harus Anda raih: Kesempurnaan dalam karakter, kekudusan dalam pola pikir, kematangan pribadi, dan cinta kasih yang bertahan seumur hidup.

 

Lantas bagaimana memulainya?

 

Kesempurnaan dimulai dari kesadaran bahwa: “Saya sungguh tidak sempurna! Saya membutuhkan Tuhan untuk menyempurnakan saya.”  So, langkah pertamanya adalah pertobatan. Bertobat berarti mengaku,”Saya berdosa dan tidak berdaya,” lalu datang kepada Yesus menyerahkan diri secara total kepada-Nya.

 

Inilah awal proses menuju kesempurnaan, seperti firman Tuhan dalam Yesaya 57: 15 berkata: Allah yang berada di tempat yang maha tinggi dan maha kudus juga mau berada di dalam diri orang yang remuk dan rendah hati. Allah yang sempurna mau menyempurnakan manusia yang tidak sempurna.

 

Nah, yang menjadi pertanyaan: Setelah seseorang bertobat menerima Kristus, mengapa ada orang yang bertahun-tahun tidak ada perubahan, bebal ya tetap bebal? Tapi ada juga orang-orang yang sepertinya dikebut Tuhan menuju kesempurnaan – baru berapa tahun sudah jadi berkat bagi banyak orang…

 

Background keluarga dimana seseorang dibesarkan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan itu. Sebagai illustrasi, saya mengambil contoh ada dua orang anak, katakanlah si A dan si B.

 

Si A dilahirkan dalam sebuah keluarga yang miskin perhatian. Ayahnya jarang di rumah dan hampir tidak pernah menyapanya. Eh…ibunya sibuk pula dengan berbagai aktifitas dan teman-temannya. Si A bertambah besar karena diberikan makanan jasmani, tetapi tidak ada makanan bagi jiwanya. Hatinya kosong, kesepian dan miskin kasih sayang…

 

Sebaliknya Si B, berasal dari keluarga yang hangat, ayah dan ibu suka ngobrol. Sang ayah bersahabat dengan semua anak-anaknya. Si B mendapatkan segala yang diperlukannya sesuai perkembangan umurnya, baik jasmani maupun rohani. Dia diperhatikan, dikasihi, ditegur, diarahkan dan mendapatkan penerimaan.

 

Katakanlah kedua-duanya di masa remaja bertobat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dengan hati yang remuk dan rendah hati. Nah, apakah hasilnya sama dalam proses menuju kesempurnaan? Kemungkinan sangat berbeda. Bagai langit dan bumi.

 

Misalnya, waktu firman Tuhan berkata: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,” ini diterima dengan respon yang sangat berlainan oleh dua orang tadi.

 

Berbeda apanya?

 

Dari segi kapasitas atau kemampuan. Si A yang tidak pernah merasa dikasihi, istilah kasih tentu sangat abstrak baginya. Mengasihi sesama? Mengasihi diri sendiri saja tidak tahu bagaimana caranya? Kalau dia berkata: “I Love You”  pastinya itu adalah love yang posesif dan self center (semua adalah untuk keuntungan diriku).

 

Aku akan mencintaimu, asal kamu bisa mengisi kekosongan hatiku, asal kamu masih menyenangkan buatku, asal kamu mau menuruti aku. Aku mencintaimu artinya: Kamu adalah milikku seorang bahkan kamupun tidak berhak atas dirimu.

Jelas ini bukan kasih yang Tuhan mau.

 

 

Sedangkan Si B tahu apa itu kasih karena memiliki pengalaman dikasihi orang tuanya. Jiwanya content. Karena pernah mengalami dikasihi, maka kasih berarti memberi. Diapun bisa lebih mudah melakukan bagi orang yang dia cintai.

 

Sewaktu berkata,” I love you,” dia benar-benar ingin memberikan seluruh dirinya untuk mengasihi. Kenapa? Karena dia telah melihat dan mengalami contoh kasih orang tuanya yang peduli; orang tua yang berjuang bagi dia. Sekarang giliran dia mau belajar berjuang buat orang yang dia kasihi.

 

Kembali pada si A, bagaimana pribadi seperti A yang berasal dari keluarga miskin kasih sayang dapat masuk dalam proses perfection?

 

Puji Syukur kepada Tuhan kita Yesus Kristus! Dalam Tuhan tidak ada kata terlambat! Siapapun, dari latar belakang apa saja, tidak ada yang mustahil bagi-NYA! Tuhan ahli memakai segala keadaan untuk menolong Anda masuk dalam proses kesempurnaan.

 

Inilah janji firman Tuhan:

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil  sesuai dengan rencana Allah.

Roma 8: 28

 

Percayakah Anda bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda yang mengasihi Dia? Proses menuju kesempurnaan harus dimulai dari trust (rasa percaya) Anda kepada Tuhan.

 

Trust seperti apa?

 

Percaya bahwa walau Dia yang meremukkan dan merendahkan manusia tetapi Dia pula yang berkuasa mengubah Anda menuju kesempurnaan berdasarkan KASIH-NYA YANG KEKAL. Menerima Tuhan Yesus sebagai Juru selamat pribadi berarti juga menerima semua janji-janji-Nya. FIRMAN-NYA AKAN MEMBAWA ANDA MENUJU KESEMPURNAAN!

 

Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji? Amos 3: 3

 

Tuhan sudah berjanji untuk mengasihi kita, berjanjikah kita kepada Tuhan untuk seumur hidup percaya kepada-Nya?

 

Jika Anda ingin berjalan bersama Tuhan dalam keseluruhan langkah-langkah hidup Anda, berjanjilah juga untuk mempercayai janji Tuhan sejak LANGKAH PERTAMA!

 

Cut OFF! Jangan terbelenggu masa lalu!  Percaya bahwa segala sesuatu termasuk masa lalu Anda ada dalam tangan Tuhan dan dapat dipakai-Nya untuk mendatangkan kebaikan bagimu. Tatap masa depan dan percaya bersama Tuhan, Anda pasti menuju masa depan nan cerah dan penuh harapan!

 

 

Setelah percaya pada-Nya, sekarang…bagaimana cara Tuhan memproses?

 

Yang pertama, melalui kehadiran teman-teman seiman.

 

Dalam kehidupan, kami (KF. Chang dan Liana) tidak sendirian. Ada orang-orang yang Tuhan ijinkan masuk dalam sejarah perjalanan hidup kami. Mereka adalah orang-orang yang Tuhan kirim untuk membentuk hidup kami supaya lebih sempurna.

 

Ada orang-orang yang lebih senior, banyak yang lebih bijak, beberapa lebih mengerti firman, ada pula yang kaya pengalaman pahit getirnya bersama Tuhan, tidak kurang yang lebih berhasil, juga lebih pintar bahkan acap kali lebih rohani dari kami.

 

Tuhan dapat memakai orang di sekitar untuk memproses kita menuju kesempurnaan! Di Amsal 12: 15, Raja Salomo berucap, “Jalan orang bodoh lurus dalam anggapan sendiri, tapi siapa mendengarkan nasehat, dia bijak.”

 

John Maxwell, seorang penulis buku Leadership mengatakan, “Lima tahun lagi kamu akan menjadi seperti apa, lihat teman-temanmu sekarang.”

 

 

Tiga fungsi teman dalam memproses kita menuju kesempurnaan:

 

  1. Sebagai cermin. Temanlah yang berkata apa adanya tentang kita. Waktu teman berkata,”Kamu murah hati ya… “ Kita langsung mencoba menggambarkan diri kita murah hati dan mulai mengembangkan gambar diri ini.

 

Jika tidak ada teman sebagai cermin, Anda hanya bisa menilai diri menurut apa yang Anda reka-reka dalam pikiran. Mungkin nilainya bisa kelebihan atau kekurangan sehingga menimbulkan jarak antara gambaran yang objektif dengan gambaran subjektif.

 

Anak kami Jostein, tiba-tiba mahir bermain basket dan rajin berlatih. Ternyata karena ada seorang couch yang berkata, “Kamu berbakat loh main basket, dari cara pegang bolanya kelihatan.” Ditambah lagi temannya memuji, “Wah, kamu cepat juga ya menguasai teknik yang kemarin saya ajarkan. Dulu saya lebih lama dari kamu sampai bisa begitu.”

 

  1. Menjadi penguji atau pendorong.

Sering kali temanlah yang membuat kita berani mencoba-coba. Mengembangkan talenta ke aspek-aspek lain yang belum tergali.

 

Liana dulu tidak berani melayani di gereja. Tapi pelan-pelan mencoba, mulai dari usher penyambutan sampai jadi koordinator panitia hiking, dan pernah juga jadi ketua panitia retret. Semua berani dicoba dan do the best supaya berhasil. Semua bisa terjadi karena ada teman-teman yang mendorong. Akhirnya, tambah percaya diri karena ada kemampuan yang bertambah dan makin mengenal diri baik kekuatan maupun kelemahan.

 

Penguji dan pendorong bisa juga negatif. Ini cerita CKF: di Jakarta, selagi di lampu merah, ada mobil kijang di sebelah mobil saya. Kaca mobilnya semua terbuka sedikit dan keluar asap dari dalam. Saya berusaha melihat menembus kaca.

Ehhh…di dalam kelihatan ada lima anak muda semuanya merokok. Mereka yang bergaul dengan perokok akan ikut merokok. Seorang yang ingin diterima peer group-nya pasti akan berusaha mengikuti style group tersebut. Maka, dengan siapa anda bergaul, berhati-hatilah. Bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, bergaul dengan orang bebal malanglah nasibmu.

 

  1. Menjadi pembanding, sebagai motivasi diri

Dengan adanya teman, kita menjadi semakin semangat untuk berusaha. Ingin menjadi lebih baik dalam hal akademik, kebugaran tubuh, dan banyak dimensi lainnya dalam hidup ini.

 

Semasa kuliah, saya (KF Chang) pernah dapat nilai ujian hanya 6 sampai 7 saja. Tadinya saya sudah puas…yahhh memang bisanya cuman segitu mau gimana lagi? Kemudian saya punya seorang teman yang selalu bisa dapat 8 atau 9. Dia teman main saya, ke mall sama-sama, pergi makan sama-sama, belajar juga sama-sama.

 

Saya berpikir, dia yang main sama saya kok dapat 9, sementara saya dapat 7? Akhirnya, saya memacu diri untuk bisa memperoleh setidaknya nilai yang sama atau bahkan melebihi teman saya. Jika tidak ada teman, tidak ada pembanding, tidak ada persaingan, tidak ada motivasi menjadi lebih baik.

 

 

Kehadiran teman-teman seiman sungguh menjadi berkat luar biasa dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan. Ada kalanya teman memberi masukan bagi kita. So, bagaimana respon kita saat mendengar masukannya?

 

Kedua, respon yang tepat saat mendengar masukan.

 

Ini cerita Liana:

 

Di awal-awal masa pacaran kami, Khui Fa sering bercerita ini dan itu, seru banget! Tahu-tahu waktu sudah malam dan cerita belum selesai. Besokannya Khui Fa datang lagi dan tentunya pengen melanjutkan percakapan kemarin. Saya bingung, karena sudah lupa kemarin itu ngobrolin apa ya? Beberapa kali terulang kejadian yang sama sampai kami sempat konflik karena Khui Fa menyampaikan rasa kecewanya. Percakapan saja lupa, gimana sih!!?

 

Saya pun heran: Kenapa sering kesulitan mengingat pembicaraan yang sudah lewat ataupun kronologi peristiwa yang sudah lalu? Di kemudian hari saya baru tahu bahwa ini adalah metode pertahanan diri (defense mechanism) yang dinamakan repression yaitu menekan memori ke alam bawah sadar dan melupakan.

 

Kenapa muncul defense mechanism ini? Karena banyak-banyak pengalaman dalam hidup saya yang tidak enak berusaha saya buang jauh-jauh supaya saya tidak gelisah. Karena dibiasakan, ternyata perlahan-lahan cara ini otomatis ter-setting dalam program otak saya untuk menghadapi situasi apapun supaya saya tetap eksis.

 

Saat itu saya diperhadapkan pada dua pilihan: Mau menerima masukan kekasihku yang meminta saya untuk berusaha mengingat atau kekeh: “Ya ini gue…suka ga suka, ya terima aja apa adanya!”

Sejujurnya, saya tidak suka pilihan ke-2, makanya saya pilih untuk berubah!

 

Metode yang saya pakai adalah menulis.

 

Sewaktu berhadapan dengan kertas dan pen di tangan, saya dipaksa untuk memikirkan apa yang akan saya tulis. Menilik kembali memory-memory sepanjang hari itu, dan mencoba menuliskan secara detail. Hal ini tidak gampang! Susah banget! Tapi saya mau berubah karena tahu kelemahan saya ini berpotensi merusak relasi kami. Saat itu Tuhan pun menolong dengan luar biasa!

 

Justru dengan berusaha menuliskan kembali, saya semakin mengerti dan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mencoba mengkristalisasi kehidupan sehingga hari lepas hari tidak berlalu begitu saja. Hubungan saya dengan Khui Fa pun menjadi lebih baik. Kami saling bertumbuh menuju KESEMPURNAAN!

 

Dengan menulis, kita dapat memahami kehidupan ini lebih utuh. Waktu membaca tulisan yang sudah lalu, sering kali kami melihat benang-benang merah bahwa ternyata benar Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.

 

Dalam tulisan-tulisan yang telah lampau bertahun-tahun yang lalu, saat kami baca sekarang: Kelihatan ada pilar-pilar tangan Tuhan, The Invinsible Hand of God yang berkarya membentuk kami untuk semakin indah di tangan-Nya.

 

 

Bagaimana dengan Anda?

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s