T1: Seperti Apa Cinta Sejati?

 True Love 1

Seperti Apa Cinta Sejati?

Simak Dating INSIGHT via YouTube KLIK di sini

“I Love you!” “Saya mencintaimu!” Kalimat ini rasanya sering banget kita dengar. Bahkan, meluncur dari mulut bibir kita dengan gampang. Namun, jika diminta menjelaskan, apa itu cinta? Apa kira-kira jawaban Anda? Mendefinisikannya susah-susah gampang.

Firman Tuhan berkata: Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. I Yohanes 4: 7-8

 

Allah adalah kasih. Dalam bahasa Inggrisnya, “God is Love”. Kasih berasal dari ALLAH. Sebagai anak-anak Allah, kitapun didorong untuk saling mengasihi.

Banyak hal di dunia ini terinspirasi cinta. Saat mencipta Lyric lagu, puisi, karya sastra, lukisan, novel fiksi, non fiksi, film, cinematografi, design, dan lain-lain.

Semua orang pasti pernah mengalami indahnya jatuh cinta, sedihnya putus cinta, termasuk jungkir baliknya hubungan cinta. Makanya, para novelis menuangkan cinta dalam kisah-kisah yang mengharu-biru. Tidak habis-habis!

Pembuat filmpun tahu, jika tidak ada unsur cinta, filmnya ga bakal laku. Hilang gregetnya. Garing. Lihat saja film action, pasti ada sang jagoan yang harus berjuang membebaskan orang yang dicintainya dari penjahat. Begitu bebas, happy end deh! Tanpa cinta, segalanya jadi ga asyik!

Cinta merupakan sesuatu yang sangat besar, terlalu dalam untuk dapat dipahami atau diukur, sehingga sulit dideskripsikan dalam kerangka kata-kata yang terbatas.

Kami akan mencoba mengupas bagian-bagiannya. Memberikan gambaran, agar kita dapat melihat kesejatian cinta. Cinta yang bukan sembarang cinta, tapi cinta sejati. Jangan terjebak dalam cinta palsu yang “katanya” cinta tapi “nyatanya” bukan!

Dua dimensi cinta: Natural Love & Supranatural Love.

unconditional love

Natural Love

Tuhan mencipta manusia, sesuai gambar dan rupa-Nya. Allah adalah kasih. Manusiapun memiliki cinta kasih. Sayangnya, pada saat manusia jatuh dalam dosa, seluruh keberadaannya tercemari dosa, termasuk cinta kasihnya.

Dosa mendistorsi motivasi manusia mencintai. Akhirnya, yang termanifestasi adalah cinta yang berpotensikan dosa. Kita harus menyadari, bahwa ternyata “love” yang kita pikir sejati, ternyata memiliki kecenderungan-kecenderungan merusak.

Cinta yang dikira cinta, ternyata dalam jangka panjang tidak membangun pasangan, dan tidak mendorong pertumbuhan buat diri kita juga.

Contoh natural Love:

Seorang ibu punya beberapa anak. Dia membesarkan mereka dengan penuh cinta kasih. Namun, seorang anaknya suka memberontak. Tidak taat dan sukar diberitahu. Sang ibu secara sadar tak sadar, akan muncul kecenderungan hati, yang biasa disebut “pilih kasih”. Tanpa sadar, hatinya lebih mengasihi anak-anak yang taat padanya.

Memang natural love sangat kondisional. Jika engkau menyenangkan hatiku, selamanya aku akan mencintai engkau. Sebaliknya, jika engkau mengecewakanku, aku pun akan berhenti mengasihimu.” Motivasi cinta manusia seringkali penuh kalkulasi. Apakah itu menguntungkan atau tidak bagiku?

Seorang pria, secara natural, pasti akan tertarik pada gadis yang menarik. Bagaimana dengan yang dianggap tidak menarik? Otomatis, tidak akan berusaha mendekati, apalagi berusaha mendapatkan hati sang gadis.

Itulah cinta natural. Cinta yang berdasar pada kekuatan manusia.

Selama saya kuat, saya akan mencintai kamu. Apa mau dikata, namanya juga manusia, pasti tidak punya kekuatan yang kekal. Lantas, bagaimana dengan perkataan Tuhan,”Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Bagaimana manusia yang kekuatannya terbatas, dapat mempertahankan cinta seumur hidup?

Derajat cinta natural memang berbeda-beda pada setiap orang. Ada orang yang mempunyai kemampuan mencintai sangat besar, tapi ada yang bahkan tidak punya skill mencintai.

Ada orang yang gampang dicintai, namun, ada pula yang sulit karena perangainya.

Karenanya, cinta bukan cuma perkataan. Harus ada perbuatan. Kita sebut “Tindakan cinta”

Percuma berkata “I love you”, tanpa disertai tindakan cinta yang nyata.

Tindakan cinta yang dipakai sebagai ukuran derajat cinta, seringkali dipengaruhi oleh beberapa hal:

1.     Personality sangat berpengaruh. Orang-orang ekstrovert akan terlihat lebih cakap untuk mengekspresikan perasaan cintanya. Saat sang kekasih ulang tahun, dia bisa membawakan balon, bunga, atau tulisan “ I Love you” yang besar-besar! Tidak malu mengekspresikan cinta di tengah keramaian sekalipun. Berbeda dengan yang introvert, walau cinta banget, mereka cenderung menyimpan dalam hati saja.

2.     Kemampuan mendengar adalah tindakan cinta yang penting. Mendengar keluhan pasangan dan isi hati kekasih. Jika seseorang tidak cukup baik mendengarkan, baik dari segi empati atau waktu yang disisihkan. Dengan mudah, orang menyimpulkan dia tidak perhatian alias tidak punya cinta.

3.      Kematangan pribadi sangat mempengaruhi besaran dan kualitas cinta yang dapat diberikan. Ada kematangan emosi, kematangan sosial, kematangan intelektual, kematangan spiritual. Semakin matang seseorang, semakin dia mampu mengekspresikan perasaan cinta dan mewujudkannya buat orang yang dikasihi.

4.      Timbul melalui pengalaman dikasihi oleh orang tua. Misalnya ada 2 anak. Si A dan si B, dua-duanya tumbuh dewasa. Bicara soal cinta, ternyata kemampuan A lebih baik dari B. Kenapa? Karena B dibesarkan dalam keluarga yang tidak memperhatikan kebutuhannya. Orang tua sibuk bekerja. B di rumah, tidak pernah diperhatikan. Dia besar dalam kesendirian. Hanya ditemani televisi, komputer, dan handphone.

Apakah B bisa responsif dan spontan memberi kasih kepada pasangannya? Apakah si B akan cukup peka sinyal kasih? Kemungkinan tidak. Tidak ada pengalaman dikasihi membuat dia lumpuh melakukan tindakan-tindakan cinta.

Inilah pentingnya mendidik anak-anak di dalam sebuah keluarga yang penuh cinta kasih, supaya saat anak-anak dewasa, Firman Tuhan yang memerintahkan untuk mencintai, dapat diterapkan dengan lebih mudah. Teladan kasih beserta seluruh pengalaman dikasihi, menjadi bekal kemampuannya mengasihi kelak.

5.      Sangat kondisional. Artinya, selama kamu dapat memenuhi tuntutanku, saya akan mencintai kamu; apabila tuntutanku tidak kamu berikan, maka saya ga janji mencintaimu. Padahal, selama hidup, ada saat-saat di mana pasangan tidak dapat selalu memenuhi permintaan dan harapan kita. Setiap manusia ada kelemahan…Konflik yang tidak teratasi, kekecewaan, harapan tidak terkabulkan, luka hati, akan kian memupus cinta. Cinta hanya ada, jika syarat dan ketentuan yang berlaku. Inilah cinta kondisional.

Kenyataannya, natural love itu dapat hilang. Hilang kemana? Gone with the wind.

 

Buktinya, perceraian kian meningkat. Kalau ditanya, “Mengapa bercerai?” Jawabnya, “Sudah tidak cinta!” “Tidak cocok lagi!” “Sekarang dia berubah, tidak seperti dulu!”Eits…alasan apapun tidak sahih untuk bercerai!

Mereka dulu sama-sama dilanda cinta. Melewati berbagai musim kehidupan. Pertanyaannya: Wahai cinta, dimanakah engkau sekarang?

Nah, kita butuh dimensi cinta yang ini.

 

Supranatural Love

Bagaimana mempertahankan cinta? Sejujurnya, dengan kekuatan manusia, tidak mungkin sanggup. Supranatural love adalah cinta yang tidak ada pada manusia. Ini berasal dari Tuhan. Bersumber dari Tuhan yang adalah Love itu sendiri. Dialah sumber cinta sejati.

Alkitab memberikan hint tentang Supranatural love. Cintanya Tuhan kepada manusia. Seperti apakah?

 

Yeremia 31:3 ….. Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.

Kasih yang kekal berarti untuk selama-lamanya. Kasih yang tidak pernah berkurang kadarnya. Kasih Tuhan kepada manusia, adalah kasih yang teramat indah, sangat luar biasa, melampaui pemikiran manusia, tiada batasnya.

 

Yesaya 54:10 Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.

 

Supranatural love diberikan unconditional. Tanpa syarat! Manusia sebenarnya tidak layak mendapatkan kasih Allah, tapi Tuhan tetap mencintai.

 

Manusia sementara dapat kasih yang kekal

Manusia terbatas diberi kasih tak terbatas

Manusia lemah dikuatkan dengan kasih yang sejati

Bagaimana agar kasih seperti ini menjadi bagian cinta kasih kita buat pasangan?

 

Terimalah kasih Allah terlebih dahulu dalam hidupmu. Dia memberikan, kita menerima. Hanya bersama Allah, ada kasih Allah dapat menguatkan natural love kita yang lemah. Terimalah Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat hidup kita. Jika Yesus hadir, apapun kesulitannya, pasti ada jalan keluar.

 

Dalam kehidupan pernikahan kami, tanpa Tuhan Yesus, rasanya kami pun collaps. Masing-masing punya ‘adat’. Liana berdosa, saya juga berdosa. Dua orang berdosa disatukan dalam satu rumah. Hanya cinta kasih Tuhan (karena kami sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruslamat kami), yang memampukan kami mempertahankan dan menikmati pernikahan yang saat ini telah berlangsung 14 tahun.

Kala natural love gagal, datanglah pada Tuhan, memohon kasih-Nya. Tuhan yang adalah sumber kasih, akan melimpahkan kasih-Nya buat setiap orang yang meminta sungguh-sungguh!

Dulu di tahun ke tiga pernikahan, kami pernah bertengkar hebat. Kesal banget. Cinta pun minggat, berganti kebencian. Di tengah keributan, saya pergi meninggalkan Liana. Saat itu, saya berkata-kata kepada-Nya,”Aduh, bagaimana ya Tuhan, rasanya kesal sekali! Namun, Tuhan toh sudah menempatkan dia sebagai istriku. Seharusnya saya dapat lebih sabar, hanya masalah ini rasanya sudah tidak bisa kutanggung!” Secara keinginan, natural love sudah di level “nol” bahkan “minus”.

Saya kemudian berseru pada Tuhan, “Tuhan berikanku kasih untuk dapat mengasihi isteriku, Liana. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.” Tahu-tahu, kuasa dari supranatural love turun menguasai. Saya merasakan, setelah berdoa, kebencian berubah menjadi rasa rindu. Kemarahan yang seperti bara api menyala, langsung reda seperti disiram air se-ember. Segera, saya kembali ke rumah dan mencari Liana.

Ternyata, dia juga sedang berdoa. Saya tunggu dia sampai selesai. Kamipun berbicara menyelesaikan masalah tadi, dan saling berkomitmen ulang.

Persoalan memang tidak langsung beres, perlu usaha dan kerja nyata. Tapi, kali ini dengan pertolongan Tuhan, kuasa supranatural lovenya membuat kami mampu memaafkan dan menumbuhkan cinta kembali.

 

Puji Tuhan! Dia mencurahkan supranatural love-Nya, bagi setiap kita yang berseru pada-Nya. Amin.

 

Chang Khui Fa & Liana.

Advertisements
1 Comment

One thought on “T1: Seperti Apa Cinta Sejati?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s