R3 Kematangan Emosi: Ekspresi Emosi yang Sehat

R3- Kematangan Emosi

 “R”-Ready or not for dating.

Menyimak via YouTube silahkan KLIK di sini

Amsal 15: 13 “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. “

Apa sih pentingnya kematangan emosi?

Emosi memengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang, juga mendasari motivasinya. Misal: Alasan atau motivasi seseorang mencari pacar. Ada yang mencari pasangan hidup karena dilandasi perasaan takut. “Saya takut tidak dapat pasangan hidup, maka harus cepat-cepat mencari pacar.” Jelas, drivenya adalah “fear” (perasaan takut).

Sebuah survey yang ditujukan pada anak-anak SMP dan SMA mempertanyakan, “Kenapa kalian berpacaran?” Sebagian besar menjawab karena: “Kuatir di”cap” teman-temannya “tidak laku.” Mengambil keputusan untuk pacaran dengan motivasi takut ga laku bukanlah alasan yang tepat, terlebih emosi remaja belumlah matang. Nah, emosi seperti apa yang seharusnya ada saat seseorang ingin berpacaran? Apakah emosi yang menggebu-gebu? Panas dingin ga karuan? Apakah kalau emosi jatuh cinta muncul, itu pertanda seseorang boleh pacaran? Emosi yang terbaik saat seseorang ingin memulai hubungan dengan lawan jenis adalah munculnya perasaan tenang dan bukan didominasi perasaan kuatir atau takut. Tenang bahwa pada masanya nanti, saya pasti akan menemukan dan menjalin hubungan dengan orang yang benar. Pikiran yang jernih sangat erat kaitannya dengan perasaan tenang. Pikiran yang jernih akan memampukan kita mengambil keputusan lebih baik. Apalagi masalah calon suami/isteri yang akan menemani Anda seumur hidup! Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa mengajak menjalin hubungan yang serius pada saat kondisi emosinya sedang labil.

Mengapa untuk memulai hubungan yang serius perlu kematangan emosi?

1. Dapat meminimalisir pengambilan keputusan yang salah.

Seringkali kita bisa keliru mengambil keputusan. Membeli barang yang tidak sesuai, salah pilih tempat rekreasi, makan di resto yang tidak enak…Pilih pacar yang dampaknya seumur hidup, so pasti jangan sampai salah pilih dong! Kalau salah pilih bisa gawat, itu berarti penderitaan selama sisa hidup kita. Supaya dapat memilih dengan tepat dibutuhkan kematangan emosi yang cukup.

2. Saat memasuki relasi jangka panjang, membutuhkan kestabilan emosi dan rohani.

Stabil artinya ndak gampang berubah-ubah dan tidak emosional. Orang yang stabil emosinya, bisa menerima orang yang berbeda darinya. Sebaliknya, orang yang emosinya kurang matang, menuntut orang lain untuk berpikir seperti dia; melakukan segala sesuatu sesuai caranya, jika lain sedikit langsung kesal dan marah ga karuan.

Kematangan emosi dapat menjembatani berbagai perbedaan. Kala dua insan memasuki pernikahan, pasti banyak bedanya: Cara berpikir, latar belakang keluarga, kebiasaan memakai uang, juga ketidaksamaan prinsip (penting bagi seseorang, belum tentu penting bagi yang lain).

Contoh yang pernah kami alami, dalam hal keuangan. Sebelum menikah, saya bekerja mendapatkan penghasilan. Jelas, uang itu hak saya pribadi. Rasanya bebas merdeka mau pakai uang itu untuk apa saja. Namun, saat menikah dengan Liana, dia mengharapkan saya untuk berdiskusi dulu dengannya jika berniat membeli sesuatu. Apalagi jika yang dibeli harganya mahal.

Dengan kematangan emosi yang cukup, perbedaan pendapat seperti ini dapat diselesaikan dengan lebih cepat, tidak perlu berlarut-larut.

Apa sih emosi itu? Emosi adalah tanggapan atau respon dari dalam diri terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi silih berganti. Masalah-masalah yang suka mampir dalam hidup, tidak bisa diatur dan seringkali di luar kendali. Misal: Pagi hari, begitu mau pergi, ehhhh jalanan macet! Orang yang kurang matang, kemacetan akan bikin dia marah-marah dan ngomel sepanjang jalan, bahkan bikin dia bete sepanjang hari. Sebaliknya, orang yang stabil emosi, dapat bersikap tetap tenang, karena sadar mau ngamukpun macet tetap macet, toh pelan-pelan juga pasti sampai. Santai aja. Sekarang, bagaimana mengukur kematangan emosi? Kematangan emosi diukur dari kecakapan menyampaikan emosi dengan sehat.

richness emotions

Ekspresi emosi yang sehat berkaitan dengan tiga hal, yaitu:

1. Kekayaan Emosi (Richness) Kemampuan/kecakapan mengekspresikan berbagai macam emosi. Emosi ada yang positif, ada yang negatif. Orang yang emosinya sehat, dapat mengekspresikan dengan baik emosi positif maupun negatif.

Orang yang tidak matang emosi dapat terlihat dari miskinnya emosi. Semua emosi hanya diekspresikan dengan satu emosi, misal: Ketika merasa kuatir, ekspresinya bukan gelisah melainkan marah-marah; saat takut, marah juga, bahkan saat ketiban rejekipun bahagianya tidak bertahan lama, besok-besok balik marah-marah lagi. Orang yang miskin emosi, tidak dapat mengenali emosi sendiri.

Sewaktu pengen sesuatu, dia tidak dapat menyampaikan dengan baik kepada pasangannya, dia akan minta dengan paksa. Kalau tidak dipenuhi responnya marah, pasangannya pun akhirnya jadi kesal. MOOD sangat menguasai sikap dan tindakannya. Kalau lagi bad mood, hal kecil saja bisa dibuat ribut besar. Anehnya, kalau lagi good mood, perkara besar pun tidak dipermasalahkan. Orang seperti ini unpredictable, sukar menduga apa keinginannya, ataupun responnya. Pastinya, dia akan mengalami kesulitan membina hubungan jangka panjang. Dalam pernikahan, berarti hidup serumah dengan pasangan, tidur seranjang, tiap hari bertemu, kestabilan emosi adalah sebuah keharusan yang harus diperjuangkan bersama. Seyogyanya, tidak boleh mendadak marah-marah tanpa sebab, hal ini bisa menimbulkan perasaan insecure pada pasangan.

Emosi positif maupun negatif itu ada bermacam macam. Kita bahas emosi negatif dulu, contohnya: Takut, sedih, malu, marah, kecewa, galau…

Marah itu boleh, asal jangan jadi pemarah. Apa bedanya? Pemarah itu kerjanya marah-marah tiap hari. Emosi marah jelas boleh, marah merupakan salah satu kekayaan emosi yang Tuhan beri. Waktu melihat ada sesuatu yang ndak benar, harus marah. Marah untuk menyatakan kebenaran, tapi hati-hati! Jangan berbuat dosa dengan merancangkan hal-hal yang jahat pada orang yang dimarahi. Kalau melihat sesuatu yang tidak benar, Anda tidak marah malah senyam-senyum, berarti sudah sakit emosi.

Jadi, emosi yang negatif tidak selamanya buruk, emosi-emosi ini harus ada untuk menjaga dan menjadi kekayaan emosi manusia.

Contoh lain: Perasaan takut. Seorang anak SMP sudah beberapa kali mendapatkan nilai yang buruk. Seharusnya emosi yang muncul dalam hati adalah perasaan takut. Takut dimarahi orang tua, takut tinggal kelas. Kalau reaksinya tetap tenang-tenang saja, justru bahaya! Dia tidak sense sedang menuju ke dalam kebahayaan. Emosi merupakan sinyal sehingga mempengaruhi pikiran dan tindakan seseorang supaya kehidupannya dapat terus berjalan dengan baik.

Tuhan Yesus pernah marah tidak? Alkitab menceritakan beberapa momen Tuhan Yesus marah. Salah satunya saat di Bait suci ketika Dia mengobrak-abrik dagangan yang ada di sana. Namun, saya ingin menyoroti kisah yang terdapat di Markus 10:14. Saat ada orang-orang dewasa menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Nya. Firman Tuhan mengatakan,”Ketika Dia melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku jangan menghalang-halangi mereka.”

Saat ketidakbenaran muncul, Tuhan tidak berdiam diri. Dia berani menegur dan mengkoreksi. Orang-orang dewasapun tetap masih bisa melakukan kesalahan, karena itu perlu ada yang dapat mengkoreksi mereka. Tuhan Yesus pun pernah merasa takut dan sedih. Inilah emosi negatif yang dicatat ketika Dia berada di Taman Getsemani, sebelum menghadapi penangkapan dan penyaliban. Mat 26:36-38 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa. Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Sebagai manusia seutuhnya, seyogyanya mengalami semua emosi ini. Kita boleh merasakan kesedihan, sehingga bisa berempati terhadap teman yang mengalami kesukaran hidup.

Emosi positif: Senang, damai, tenang, bangga, sukacita,…

Dalam Yohanes 15:11, ”Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

Tuhan Yesus 100% Allah dan 100% manusia. Sebagai manusia, Dia merasa sedih, takut, marah, tetapi Dia juga merasakan sukacita. Puji Tuhan, Dia memang teladan bagi kita semua!

Tahukah kamu, Tuhan Yesus juga pernah menyanyi. Matius 26:30, ”Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun”. Menyanyi itu adalah suatu puji-pujian yang disertai emosi penuh sukacita.

Emosi positif menyebabkan otak dapat berpikir tenang dan optimis.

Emosi positif juga mempengaruhi kesuksesan seseorang. Misalnya: Seorang guru yang mengajar dengan penuh sukacita dan semangat, akan membuat murid-murid lebih mudah menyerap pengajarannya. Sebaliknya, jika guru masuk kelas langsung marah-marah, murid-murid cenderung menolak mendengarkan apa yang diajarkan. Apa yang kita suka, tentu lebih mudah menyerapnya.

Ada pepatah: Anda bisa melakukan pekerjaan seperti apa yang diajarkan, tapi Anda bisa menjadi yang terbaik bila mengerjakan yang disukai. Dulu pelajaran yang paling saya suka adalah biologi. Setiap kali ulangan, mudah sekali buat saya untuk menghafalnya walau itu semua dalam Bahasa Latin. Bagi saya, ini pelajaran yang paling menyenangkan. Ketika menyenangi suatu mata pelajaran tertentu, Anda dengan gampangnya berprestasi. Perasaan senang dan sukacita akan menolong untuk menikmati proses belajarnya. Akhirnya, pelajaran itu akan lebih mudah dimengerti.

Amsal 17:22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Sebagai manusia yang utuh, seharusnya semua emosi ada di dalam diri, namun harus dapat diekspresikannya dengan ukuran yang tepat.

2. Kemampuan mengekspresikan emosi secara tepat sesuai situasi (Fit).

Kemampuan menyampaikan emosi positif maupun negatif yang pas. Seberapa besar tingkat kemarahan Anda jika pacar datang terlambat? (coba ukur dari 0 – 10). Kalau baru sekali telat, mungkin marahnya ada di level 4. Namun, jika telat berkali-kali, level kemarahan Anda secara natural pasti meningkat sampai level 10. Jadi, tepat sesuai dengan situasi. Artinya, kalau terlambat baru sekali ya ga usah marah di level 10 toh? Sebaliknya, jika pasangan telat terus dan terus telat, tapi level kemarahan tidak bertambah, malah akan membuat pacar menganggap enteng kemarahan Anda. Karena “Tidak masalah kan buat loe?” Marahnya standar…

Cerita lain lagi: Saat pacar kasih hadiah. Waktu terima pasti senang banget dong! Tapi begitu dibuka kadonya…langsung kesal karena keki lihat isinya yang rasanya ga cocok! Apakah Anda bisa menyampaikan kekesalan maupun kekecewaan dengan memberikan alasan yang jelas? Atau Anda mendiamkan pasangan berhari-hari tanpa dia tahu sebab musababnya?

Ada orang yang emosinya selalu berada ditingkat tinggi. Sedikit-sedikit marah, ngamuk, “dar-ting.” Ada juga orang yang dingin persis es batu. Apapun yang dia rasakan ekspresinya hanya satu “datar”. Lagi senang, lagi marah atau kesal, atau lagi sedih tetap hanya bermuka datar. Tidak menyingkapkan perasaannya. Kenapa bisa begini ya? Ada budaya tertentu yang menanamkan kepada anak lelaki untuk tidak boleh menangis. “Ssssst, kamu tidak boleh nangis, masa anak laki-laki nangis. Bikin malu!’ Hal ini terus ditanamkan. Saat besar, dia tidak dapat menangis untuk mengekspresikan perasaan sedihnya. Padahal menangis itu ada baiknya. Air mata memberi kelegaan pada orang yang sedang sedih atau tertekan. Dalam Mazmur 6: 6 Daud dalam kepedihan hati yang sangat dalam menuliskan, “…air mataku membanjiri ranjangku.” Pas diekspresikan dengan penderitaan yang amat berat. Emosi yang berlebihan tidak bagus, yang kurang juga tidak tepat. So harus pas!

Setiap masalah harus buru-buru dibereskan. Jangan dibiarkan tergantung berkepanjangan. Bisa mendatangkan pencobaan. Hubungan cinta kasih yang terjalin mesra akan gampang retak jika ada masalah yang ga beres-beres (unresolved) tapi dianggap selesai dan di-closed. Seorang gadis bercerita saat mengalami masalah dengan sang kekasih, dia berusaha menunjukkan bahwa dirinya matang secara emosi dengan selalu tenang. Dia kerap self-talk, ”Tenang, ini hanya masalah kecil, jangan dibesar-besarin. Semua orang juga pernah menghadapinya.” Sang gadis sebisa mungkin berusaha meng-eliminir atau meniadakan masalah tersebut, padahal telah melukai hatinya. Suatu waktu, dipicu sebuah kesalahan kecil sang pacar, dia meledak. Tidak lagi sanggup menanggung emosi yang dia rasakan. Pasangannya pun kaget, karena dipikir selama ini tidak masalah, koq kenapa tiba-tiba ngamuk? Kenapa tidak dari dulu dibicarakan? So jujurlah dengan emosi Anda sendiri.

FIT itu seperti apa? Ukur dan tentukan bersama seperti apa masalah kecil dan besar. Masalah kecil berarti benar-benar kecil. Sampai kapan pun memang tidak akan dipermasalahkan, tidak mengganggu. Jangan sampai Anda bilang: Masalah kecil dan dibiarkan, tapi ujung-ujungnya malah meledak.

3. Kemampuan mengontrol diri dan memilih emosi yang tepat untuk diekspresikan (control).

Ketika pergi ke rumah duka, bagaimana ekspresi emosimu?

Kontrol emosi artinya kecakapan memilih emosi yang benar dan mengekspresikan dengan pas. Apakah Anda ikut berduka? Atau biasa-biasa saja? OR malah ketawa-ketiwi? Saya pernah lihat di rumah duka, orang-orang sambil ngobrol, makan kacang, dan tertawa-tawa. Kita harus memiliki kepekaan emosi, tunjukkan empati. Kuasai diri, mengingat bahwa sedang ada teman/kerabat/keluarga yang berduka. Rumah duka bukanlah tempat yang pas bagi kita untuk bercanda dan tertawa-tawa.

Contoh lain: Ada teman kejedot pintu, pintunya pintu kaca. Benjol deh segede bakul. Nah emosi apa yang kamu ekspresikan? Tertawa terbahak-bahak? Atau… mendekat dan bertanya, ”Kamu gimana? Sakit ga?” Mengekspresikan empati. Orang yang sehat dapat memilah dan mengontrol emosi yang harus ditampilkan.

Seorang suami memberikan bunga pada istrinya saat ulang tahun. Tapi sang istri berpikir,” Buat apa kasih bunga? Penuh-penuhin rumah saja!” Saat suaminya bertanya,”Bunganya ditaruh dimana?” Sang isteri yang menguasai emosi, bisa mengekspresikan emosi dengan tepat. Dia dapat memberikan apresiasi untuk usaha suaminya. Baru kemudian mengutarakan dengan PAS emosi sebenarnya, ”Saya berterima kasih untuk hadiahnya, saya sih berharap kamu kasih aku yang lain (beritahukan harapanmu). Next time ya.”

Kalau tidak bisa mengontrol emosi maka yang dihadirkan langsung ekspresi emosi negatifnya saja: ”Saya tidak suka!” Maka langsung cemberut, kesal, dan mengeluh. Menunjukkan ketidak senangannya dengan menyerang suami, ”Kasih hadiah apa sih kamu? Kenapa kasih bunga? Buat apa?” Penting memilah emosi.

Emosi itu banyak, tunjukkan yang tepat sesuai situasi dengan porsi yang pas. Dalam hidup, berbagai peristiwa terjadi. Kadang menyenangkan, tapi sering kali hidup serasa tidak berpihak.

Alkitab mengatakan, ”Bersukacitalah senantiasa, sekali lagi kukatakan kepadamu, bersukacitalah!” Mampukah Anda bersuka cita saat keadaan sulit? Tentu tidak gampang, karena Life is series of problems. Bagaimana menyikapi Firman Tuhan ini?

Saya bertemu seseorang yang sakit cukup berat. Saat dibesuk, yang mengejutkan adalah ketenangan terlihat pada air wajahnya. Keberadaannya malah memberi kekuatan bagi kami yang berkunjung. Mungkin dia tidak bisa bersukacita karena sedang sakit, namun dia tetap tenang menghadapi penyakit yang dideritanya bahkan ucapan mulutnya tetap menyatakan iman yang kokoh. Kok bisa ya? Pasti emosinya sedemikian matang karena dikuasai oleh Firman Tuhan. Mungkin dia membaca Firman Tuhan yang berkata kepadanya untuk bersukacita senantiasa, dan untuk menyerahkan segala kekuatirannya kepada Tuhan. Ada juga seorang teman yang menghadapi masalah cukup berat dalam kehidupan rumah tangga. Namun, dia tetap dapat bersosialisasi dengan baik dengan teman-temannya. Dia tetap dapat mendengar keluh kesah temannya, bahkan memberikan penghiburan. Orang yang otaknya selalu penuh dengan masalah, biasanya terlihat dari bahasa tubuhnya. Dia begitu terbelenggu pada problemnya, sampai tidak dapat lagi berelasi.

Bagaimana cara melatih diri mengendalikan emosi? Begitu bangun langsung baca Alkitab dan berdoa. Alamilah bahwa Firman itu sungguh hidup dan berpengaruh memberi ketenangan kepada jiwa kita. Emosi di pagi hari biasanya juga mempengaruhi emosi sepanjang hari. Jadi be-relasilah dulu dengan Tuhan.

Makin matang emosi, makin terkendali. Dia bisa marah, kadang juga sedih, tergantung situasi yang dihadapi, tetapi semua undercontrol. Bukan meledak-ledak. Sesungguhnya, dialah yang menguasai emosi sehingga tindakannya dapat dipertanggung jawabkan. Next, bagaimana pengaruh spiritual age dalam keseluruhan kematangan manusia? To be continued…

Ev. Chang Khui Fa & Liana

 

Advertisements
1 Comment

One thought on “R3 Kematangan Emosi: Ekspresi Emosi yang Sehat

  1. Pingback: Komunikasi JITU buat ngajak si dia ngedate | Dating INSIGHT

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s