R2: Social Maturity Getting Old or Growing Up

R2: Social Age / Kematangan Sosial

Nonton Dating INSIGHT YouTube KLIK di sini

Friendly-people

Pengkotbah 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Mazmur 144:4 Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.

 Apa nih artinya? Artinya…waktu cepat sekali berlalu, juga bermakna manusia akan lekas sekali lenyap. Betapa hidup manusia sangat fana. Mazmur 103: 15, dituliskan,”Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; (16) apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”

Dalam berjalannya waktu, adakah Anda semakin dewasa? Atau, waktu terus lewat, namun kita masih seperti yang dulu, mandeg dan tidak mengalami perkembangan. Mirip lagu ”Aku masih seperti yang dulu…..” Waktu berubah, jamanpun berganti, sekarang sudah tahun 2014, tetapi apakah Anda bertambah dewasa dan bertambah matang? Are you getting old atau growing up?

Bunga yang indah di padang, sekejap lenyap saat angin datang; demikian pula akhir kehidupan manusia jika dijalani tanpa pemahaman yang utuh atas hidup. Bisa tenggelam ditelan jaman. Kehidupan manusia akhirnya tidak pernah memberikan pengaruh, tiada jejak, bahkan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tak ada yang mengingat bahwa Anda pernah hadir di dunia ini. Apa yang harus Anda perbuat agar hidup berlalunya tidak sia-sia? Lakukanlah perbuatan yang berdampak kekal. Dalam setiap bagian hidup, pergunakan waktu yang ada dengan bijaksana. Segala sesuatu ada masanya, jangan sampai Anda dilibas waktu.

WASPADALAH! Ada masa di mana seseorang harus fokus pada prestasi akademik tanpa diganggu urusan pacaran. Namun, ada juga masa di mana harus mulai mencari pasangan hidup! Ada masanya juga setiap orang memasuki pernikahan dan berkeluarga. Sampai akhirnya tiba masa membesarkan anak-anak.

Bersiaplah menghadapi setiap masa dalam hidup. Bukankah manusia seperti bunga atau rumput yang segera lenyap ketika angin menerjangnya? Begitu periode dating datang, siapkah Anda? Dia akan melewati kita seperti angin yang melintas. Karenanya sebelum tiba, ada beberapa hal yang harus ditegakkan terlebih dahulu. Tenang saja tidak perlu buru-buru, yang penting persiapan diri. Masa pacaran pasti akan menjemput. Nah, Are you Ready or Not for dating?

Salah satu tanda ketidak siapan seseorang memasuki masa pacaran adalah seringnya putus-sambung-putus-sambung. Yang demikian, belum benar-benar mengenal diri, seperti pikiran, emosi, dan keinginannya. Juga belum mengenal diri pasangannya, tapi udah berani jadian. Akhirnya pecah konflik dan sama-sama teriak,“Sudah putus saja!”

Begitu putus, tahu-tahu bingung, “Kok hidup sepi sendiri?” Eh eh eh…ga lama,“Sambung lagi ahhh”. Pacaran jadi gak asyik, gak seru…yang ada hanya wajah muram durja penuh beban dengan perkara-perkara yang tak terselami. Demikian pula halnya dengan pasangan yang memasuki pernikahan tanpa kesiapan. Akhirnya, banyak dari mereka memilih untuk mengakhiri penikahan dengan berpikir pendek: Bercerai…

Di sisi lain, jangan pula terlambat! Seperti bunga yang walaupun indah tiada tara toh akhirnya menjadi layu. Di masa bunga mekar, merekah, sangat indah, siapkah Anda memilih kumbang yang datang meminang?

Anda yang berada dalam masa pacaran, harus ingat bahwa masa ini pun tidak selamanya. Masa itu harus berakhir. Berakhir karena putus, kalau memang alasannya jelas (lihat pembahasan Mr/Mrs Wrong next on GARAM) atau mengakhiri masa pacaran karena Anda memasuki masa pernikahan seumur hidup. Sungguh indah!

Masak pacaran terus tiada akhir? Saat ditanya kapan akan menikah? Jawabannya: “May… maybe Yes maybe Not…” Ngeri kan? Membuat pasangan dalam posisi terombang-ambing, tanpa kepastian. Yang paling rugi so pasti sang gadis. Wanita seperti bunga, ada masanya indah menawan. Kala masa itu lewat (ketika bunga sudah layu), eh… malah diputus, oh sungguh kejam! Jadi Pria harus Gentleman: Iya katakan ya, tidak katakan tidak. Yang tegas dan bertanggung jawab, jangan sembarangan. Wanita juga harus menjaga diri baik-baik, menolak dipermainkan dan diombang-ambingkan dalam ketidakpastian.

Inilah mengapa topik ini sangat penting, kami ingin Anda semua berhasil! Tidak sampai mengalami gagal di sana sini atau “GATOT” gagal total.

Anda harus memasuki pacaran dengan confidence, dan mengetahui bahwa ujungnya adalah pintu pernikahan. Dan ketika memasuki pernikahan, Anda dapat mempertahankan dan menikmati pernikahan seumur hidup.

“Wah saya sudah 17 tahun, berarti saya sudah siap pacaran!” Eits, belum tentu! Kesiapan pacaran tidak bisa ditentukan hanya oleh usia saja. Ada faktor kematangan lain yang perlu dipertimbangkan yang saat ini kita bahas adalah kematangan sosial.

Kematangan sosial ini berkaitan erat dengan orang-orang lain di sekitar kita. Bagaimana seseorang membina relasi dengan lingkungan sosialnya. Seorang psikolog, Erick Erickson mengatakan,”Seseorang memasuki fase intimacy vs. isolasi pada usia 17.” Di usia 17, seseorang mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Dulu-dulu lawan jenis mondar-mandir di depannya tidak ada”setrum.” Tapi sekarang aneh, tiba-tiba dia merasakanjantungnyaberdebar-debar, rupanya mulai naksir! Jatuh cinta yang berjuta rasanya.

Pada banyak orang walau umurnya 17 tahun atau lebih, namun tidak memiliki kecakapan untuk membina kedekatan. Contoh konkret yang dijumpa sehari-hari: Saat mencari pasangan – sulit memulai pembicaraan, di hadapan lawan jenis minderan, so bagaimana mampu membina relasi jangka panjang? Melakukan pendekatan saja gemetar!

Bagi yang sudah menikah, suami pulang kerja, ternyata tidak meluangkan waktu untuk mengobrol dengan istri atau menanyakan kabar,tapi langsung asyik melakukan apa yang disuka, misal: bermain game, nge-lap mobil, nonton TV. Seharusnya sang suami membangun intimacy, tetapi malah mengisolasi diri.

Ada pula suami-suami yang sama sekali tidak mau diganggu. “Saya mau nonton, sudah cape nih, jangan banyak ribut.” Mengisolasi diri, membuat pagaryang tinggi sehingga tidak ada yang dapat mendekati atau berelasi dengannya. Atau sebagai isteri, sibuk terus. Tidak pernah mengajak suami bicara heart to heart. Akhirnya pas anak-anak sudah besar, mau mengobrol apa? Jadi, seseorang bisa saja sudah berusia lebih dari 17 tahun, dewasa secara fisik, namun secara sosial, ternyata belum matang.

Kematangan sosial merupakan sebuah proses yang diajarkan dalam keluarga. Jika dalam keluarga tidak ditumbuhkan, maka seseorang tidak mungkin matang sendiri. Berita gembira untuk Anda: Tidak ada kata terlambat! Anda dapat menumbuhkan dan mengusahakan kemajuan umur sosial Anda.

Bagaimana caranya? Apa yang harus dilatih?

Mari ketahui bahwa kematangan sosial/social age itu ditandai oleh 3 hal:

  1. Kapasitas/kemampuan/kepekaan untuk menduga dampak tindakan Anda bagi orang lain.Apapun yang Anda putuskan dan lakukan, pasti memiliki dampak pada orang lain, positif maupun negatif. Orang yang memiliki kematangan sosial, dapat menerka dengan tepat seperti apa dampaknya.Roma 15:2 “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita, demi kebaikannya untuk membangunnya.”

    Contoh sederhana, apa akibatnya kalau ujianmu gak lulus? Apakah dampaknya hanya buat kamu seorang? Bagi yang social age-nya rendah, pikirnya memang hanya untuk dia saja,“Yang ujian kan aku, jadi yang susah hati juga aku dong”

    Jika social age-nya matang, akan berpikir,“Bukan aku saja yang rugi, pasti orang tuaku juga kena, toh ada biaya ekstra yang perlu dikeluarkan lagi. Terlebih bukan cuma soal uang saja, tentunya mereka akan sedih dan kecewa.

    Semakin matang social age, semakin tepat menebak dampak yang dapat ditimbulkan bagi pihak lain. Makanya ada kerinduan untuk menyenangkan orang yang dikasihi. Ingin memberi dampak positif dan menabur kebaikan bagi sekitar. Motivasinya berlandaskan kasih. Karena saya cinta papa, saya ingin menyenangkan hati papa.

    Demikian juga buat sang kekasih, karenasaya cinta dia, saya ingin dia senang.So pas kekasih ulang tahun, kita mulai menduga-duga kira-kira hadiah apa yang paling tepat dan bikin hatinya senang. Semakin kamu mengenalnya, semakin tepat pemberianmu.

    Ini berbeda dengan ABS (Asal Bapak Senang) yang adalah motto seorang penjilat. Kalo ABS: “Ada Udang di balik Batu.” Karena saya sebenarnyatidak mau melakukan ini, tapi ada sesuatu yang saya harapkan dari dia, maka saya lakukan. Ada kepentingan saya disana, maka saya berusaha menyenangkan dia. Bukan tulus, tapi bulus. Tidak ada cinta, hanya manipulasi. Hati-hati dengan orang yang seperti ini.

    Orang yang matang secara sosial, ketika berpacaran akan berpikir: “Saya mengasihimu maka saya ingin engkau senang. Ketika engkau senang, maka aku pun ikut bahagia. Ketika segala sesuatu dilakukan dengan sukacita, kerelaan dan kesungguhan itulah yang Tuhan inginkan. Firman Tuhan mengatakan,”Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Tuhan ingin agar kita memberikan dampak positif dengan melakukan yang terbaik.

    Contoh lainnya: Kalau saya terus menerus SMS pacar saya, kira-kira akan berdampak baik atau buruk ya? “Kamu dimana? Sama siapa? Lagi ngapain?” Bentar-bentar HP bunyi lagi textnya,“Lagi ngapain, say?” Jangan pikir bahwa dia senang kalau sering-sering di SMS-in, bisa jadi malah terganggu dan kesal. “Say..say..sayur loe kira! Gue lagi ama temen-temen tau…having fun makan yogurt n nge-chat. Udah nanti aja sms-nya! Nge-ganggu amat sih loe…!” Cuma, supaya kamu gak sakit hati, maka dia selalu menjawabnya sopan.

    Nah…kamu tahu yang sebenarnya tidak? Seberapa kamu kenal dia?

    Kalau terjadi konflik, lalu kamu tinggalin si pacar biar kesal sendiri. Kira-kira apa dampaknya? “Ah cuek aja, saya sudah benar-benar kesal kok!” Atau adakah berpikir,”Lho koq saya main pergi saja ya, nanti dia sedih!”

    Bagaimana ketika pasangan mengetahui kamu sedang berasyik ria SMS-an or BBM-an atau berbincang mesra dengan lawan jenis, lalu menyatakan ketidak senangannya atas perbuatanmu? Orang yang tingkat sosialnya rendah, akan mempertahankan diri dan berkata,”Ahh, tidak apa koq, hanya teman. Kamu jangan cemburuan.” Dia tidak peka dampak perbuatannya pada pasangan. Tidak dapat menangkap kegusaran atau kesedihan hati kekasih karena rendahnya tingkat kematangan sosial.

    Ketika pacaran, Anda sudah tidak sendirian, ada seseorang yang ikut merasakan dampak tindakan dan keputusanmu. Dampak apa yang ingin anda berikan? Positif atau negatif? dampak yang membangun atau merusak? Sebagai Anak Tuhan, pilihlah perbuatan dan tindakan yang akan berdampak memuliakan-Nya.

     

warm welome

2.   Kapasitas untuk menciptakan hubungan yang hangat dengan orang sekitar.

Efesus 4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah satu dengan yang lain, penuh kasih mesra.

Roma 12: 10 pun menyatakan: Untuk saling mendahului dalam memberi hormat. Tidak pasif menunggu orang lain untuk menyapa/tersenyum. Jika Anda aktif, ini tanda kehangatan.

Saya menemukan banyak orang Kristen yang ngakunya sudah lahir baru namun gesture tubuhnya sangat kaku dan dingin sekali. Mungkin dipikirnya makin dingin, makin rohani. Tidak begitu seharusnya.

Firman Tuhan menyatakan bahwa kita harus berlaku ramah satu dengan yang lain. Walaupun introvert, ingat bahwa Anda adalah umat milik Tuhan, yang sudah ditebus oleh darah-Nya yang kudus. Kita harus berusaha melakukan apa yang Tuhan inginkan, tunjukkanlah kehangatanmu.

Aplikasinya dalam dating: Umpama berkunjung ke rumah pacar dan tidak bersikap hangat kepada keluarganya. Cuma mau ngobrol dengan pacar dan tidak pada keluarganya. Semua yang lewat, tidak disapa. Ngobrol aja ama pacar, kalau lagi ditinggal sendiri di ruang tamu juga main HP, gak mau lihat ada siapa saja di sana. Diajakin, “Ayo makan bareng!” “Gak, tante!” Datang gak manggil, pulang gak bilang. Nah loh…

Ada juga yang wakuncar, pas pacarnya datang hanya menunggu di mobil. “Tin…tin…!” Suara klakson kasih sinyal sudah di depan rumah. Sang pacar langsung masuk mobil dan langsung cabut tanpa silatuhrahmi denga keluarganya terlebih dahulu. Begitu juga pas balik, hanya men-drop depan pintu, “Aku gak masuk ya…Daaaa sampai besok!”

So, orang tuanya pun tidak pernah kenal bahkan tidak pernah lihat siapa orang yang pergi dengan anaknya. Inilah salah satu bentuk rendahnya kematangan sosial! Hanya ingin melakukan yang dimau, tanpa peduli dampaknya. Pokoke bersenang-senang dengan pacar tanpa ada keinginan untuk mengenal keluarganya.

Sampai terjadi beneran, ada orang tua yang meng-ultimatum, ”Mulai hari ini tidak boleh pergi lagi sama pacarmu itu! Anak tidak tahu sopan santun! Ga pernah turun ke sini! Me-nyapa papa mamamu saja tidak!”

Wah sedih sekali dong! Pacaran itu masa yang indah, berharap dapat menjalin hubungan yang panjang dengan pasangan, tapi belum apa-apa sudah di-ultimatum calon mertua. Jadi galau deh! Sama putrinya sudah jatuh cintrong, masa sama orang tua malah cuek bei beh!

Padahal kalau mau mengenal keluarga pasangan, jelas banyak untungnya. Kita dapat mengetahui pola interaksi anggota keluarganya. Kalau mama sama anak ndak ngobrol, pasti ada sesuatu! Bagaimana pasangan bersikap kepada orang tuanya dan saudara-saudaranya bisa menjadi cermin bagaimana nantisikapnya terhadap kamu.

Salah satu tanda seseorang sudah diselamatkan dapat dilihat dari bagaimana dia bersikap kepada anggota keluarganya. Ada sikap hormat kepada orang tua, ada kehangatan kasih dan kepedulian bagi saudara-saudaranya.

Apakah dia mengambil sikap tidak peduli pada keluarganya? Adakah kebencian dalam keluarga yang belum terselesaikan? Banyak hal bisa diamati pada saat masuk ke dalam keluarganya.

Apa yang terjadi saat ini di keluarganya mungkin sekali akan menjadi pola yang berulang pada saat dia membentuk keluarga denganmu.

 

  1. Orang yang memiliki kematangan sosial, mampu menunjukkan emotional security dan self acceptance. (Perasaaan tenang dan penerimaan diri)1 Petrus 4:7 “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa!”Orang yang tenang akan membuat senang orang yang bergaul dengannya, tetapi sebaliknya jika seseorang yang merasa gusar (insecure) tidak ada ketenangan dalam dirinya. Pastinya akan memberi atmosfir negatif pula pada lingkungan sekitar yang akhirnya membuat orang engganbergaul dengannya.

    Demikian pula dengan orang yang dapat menerima diri, akan lebih mudah menerima masukan dari orang lain. Tidak akan langsung bereaksi membela diri (defense) karena merasa diserang. Dia akan tetap tenang, aku kenal siapa diriku, pendapatmu dapat membuat saya belajar sesuatu, namun tidak membuatku gusar.

    Orang yang tidak dapat menerima diri, mudah frustasi, dan ketika dia hadir, lingkungan sekitarnya menjadi ikutan stress.

    “Insecurity is the devil’s works”, perasaan tidak aman jelas pekerjaan kuasa gelap. Tidak nyaman dengan diri, merasa diri kurang ini – kurang itu, tidak cakap melakukan apa-apa, semua self image yang buruk. Jika kita dekat dengan-Nya, yakin Tuhan menciptakan kita sangat baik. Dia menenun kita dengan tangan-Nya, maka timbul perasaan aman, dan tenang.

     

Ada pepatah, “Immature people attack people, Mature people attack problems”, Orang yang tidak matang akan menyerang orang, tetapi orang yang matang akan menyelesaikan masalah.

Ada basic social skill yang seharusnya kita tunjukkan untuk menciptakan kesan positif:

  1. Attitude/Behave infront of the peopleMenjaga sikap sopan di depan orang. Bukan berarti “JAIM” (Jaga Image), tetapi memang menunjukkan integritas diri (sama di dalam sama di luar) dan usaha untuk menjalin hubungan dengan orang yang di sekitar kita:
    • Ketika bersalaman, lihat mata teman bicara kita. Jangan malah lihat tangannya, atau lihat ke atas/ke bawah.
    • Murah senyumlah! Tapi gak perlu senyum terus, nanti malah orang salah ngerti. Maksudnya, kalau menyapa berikan juga senyuman, sehingga kehadiran kita membawa kehangatan.
    • Membiasakan sikap berdiri atau duduk yang baik; Misal: saat berdiri berbicara dengan orang yang lebih tua tidak terkesan malas-malasan; waktu duduk, kaki tidak diangkat ke atas meja atau ke bangku, kecuali sedang sendirian.
  1. Manner/ Etika
  • Dalam hal berpakaian, pilihlah yang sesuai dengan tempat dan sopan, memakai pakaian yang bersih, rapi.
  • Menggunakan bahasa yang baik dan sopan. Misal: biasakan memakai kata “Tolong” “Terima kasih” Atau saat mau pergi bilang “Permisi” Ada politeness dalam tata bahasa kita.
  • Menjaga kebersihan tubuh: mandi, sikat gigi supaya bersih, sehat dan segar.
  • Manner di meja makan: tidak lap mulut dengan ujung lengan pakaian. Biasakan memanggil yang lebih tua sebelum makan.

 

To be continued to Ready or Not for Dating 3.

 

Ev. Chang Khui Fa & Liana

2 Comments

2 thoughts on “R2: Social Maturity Getting Old or Growing Up

  1. Pingback: Asking Someone Out: Apa sih kesulitannya? | Dating INSIGHT

  2. Pingback: Komunikasi JITU buat ngajak si dia ngedate | Dating INSIGHT

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s