R4: Spiritual Maturity

Ready or Not for Dating

# Kapan waktu yang tepat buat nge-date? Jangan terlalu cepat atau terlambat!

Spiritual Age. Kematangan Rohani.

Nonton via YouTube silahkan KLIK di sini

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya,” ucap Raja Salomo (Pengkhotbah 3:1).

Kita sudah sampai di akhir pembahasan Ready or Not for Dating. Kapan waktu yang terbaik untuk memasuki masa pacaran? Sangat tergantung dari kematangan seseorang. Nah, penutup dari serial ini adalah pembahasan tentang spiritual age atau kematangan rohani.

Spiritual Age merupakan kematangan terpenting dan sangat memengaruhi ke-tiga kematangan sebelumnya: kematangan intelektual, kematangan sosial dan kematangan emosi. Sungguh indah jika Anda mendapatkan seorang kekasih yang sudah matang secara rohani! Atau sembari membaca artikel ini, mari kita merefleksikan hidup dihadapan Tuhan, apakah saya sudah matang secara rohani?

 

Bagaimana mengukur kematangan rohani seseorang?

Kematangan rohani diukur dari hubungannya dengan Tuhan. Dapat dikatakan sebagai Identitas Rohani (Spiritual ID).

Di mata Tuhan hanya ada dua jenis orang:

Pertama, orang yang tidak mengalami keselamatan dari Tuhan Yesus.

Kedua, orang yang mengalami penebusan Tuhan Yesus sehingga seluruh dirinya diperbaiki, diperbaharui dan dipulihkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Orang dunia yang tidak mengenal Kristus memiliki aturan dan nilai-nilai menurut dirinya sendiri saja. Mereka mengikuti keinginan daging. Dalam hatinya berkata: Okey banget punya satu pacar, dan sah-sah saja SATU lagi sebagai cadangan. Mobil aja ada ban serep, masa aku ga punya serep?” Yang lain berkata: ”Okey saja saya berselingkuh, asal ga ketahuan. Tidak apa-apa kok.”

Hanya orang yang telah ditebus Kristus yang memiliki Identitas Rohani yang baru. Ditandai dengan hadirnya Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus berkarya dan berdiam dalam diri orang yang menerima Kristus dan membersihkan hatinya dari dosa dan memperbaharui seluruh dimensi kehidupan. Cara berpikir, respon emosi dan cara berelasinya diurapi Tuhan, sehingga kehidupannya berbuah lebat dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Spiritual ID sangat menentukan bagaimana seseorang menghadapi realita kehidupan. Menentukan values (nilai–nilai) yang harus dipegang misalnya:

Apakah boleh melakukan hubungan seks di luar nikah? So pasti saya ga boleh melakukan karena Tuhan melarang dan memandangnya sebagai perzinahan.

Apakah boleh selingkuh sekali-sekali asal ga ketahuan? Walau ga ketahuan, saya tahu mata Tuhan memandang seluruh bumi, tidak ada satupun yang luput dari-Nya. Maka, saya tidak akan melakukan hal tersebut karena saya takut akan Tuhan.

Jelas, orang yang telah menerima keselamatan seyogyanya mengikuti apa yang Tuhan mau, menuruti aturan dan nilai-nilai yang Tuhan tetapkan. Perjuangan anak-anak Tuhan sepanjang umurnya adalah dengan terus hidup di bawah kehendak Tuhan yang mulia. Karena, apa yang Tuhan rancang adalah yang terbaik bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

Apa saja ciri Kematangan Rohani?

Seorang dapat dikatakan matang rohani, jika mempunyai tiga ciri:

1.) Teachable Spirit. Roh yang dapat diajar oleh kebenaran.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 TIM 3: 16)

Seorang yang memiliki teachable spirit adalah orang yang gampang dikasih tahu. Tidak bebal.

Saya pernah bertemu dengan orang yang mulutnya kasar. Nah, janganlah sampai tertipu oleh penampilan yang kelihatannya feminin dan lembut. Ternyata…pas ngomong, lidahnya setajam pisau yang menyayat hati! Eh, waktu diberitahu soal kekasarannya ini, malah tambah galak dan ga bisa diberitahu.

Teachable spirit artinya ada keinginan untuk belajar dan diajar. Tahu apa yang benar dan ingin menuju ke yang baik.

Setelah dikasih tahu, mau berubah, tapi selalu gagal. So bagaimana dong? Justru karena sulit, maka kita harus berseru kepada Tuhan untuk memampukan kita! Shout to the Lord! Perubahan yang permanen tidak bisa diusahakan darah dan daging. Hanya bisa melalui kuasa Roh Kudus dan penebusan Kristus.

Kalo diri sudah sempurna ndak perlu teachable spirit; kan udah sempurna, mau belajar apa lagi? Justru karena kita banyak kelemahan, maka mulailah hari ini berjuang menuju kesempurnaan dengan bersandar pada-Nya. Tuhan Yesus pernah berkata,” Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa…” Yoh 15: 5.

Dalam bahasan Am I the Perfect Candidate, saya mengatakan, ”Tuhan dapat memakai beragam cara untuk membentuk seseorang. Salah satunya melalui orang sekitar, seperti: orang tua, saudara, teman seiman, pasangan, hamba Tuhan di gereja…”

Ambil contoh, pada saat orang tua berkata pada anaknya yang masih hijau, ”Kamu belum waktunya pacaran, jangan pacaran dulu!” Bagaimana sang anak yang masih duduk di bangku SMP tersebut seharusnya berespon? Apakah langsung menolak? Ditambah ngambek berhari-hari? Seharusnya tidak.

Orang yang memiliki teachable spirit akan melakukan self reflection dan berdoa, ”Oh Tuhan…Kenapa ya aku belum boleh pacaran, padahal aku suka banget ama dia? Kalo aku ndak jadiin ntar diambil orang lagi…(hik hik hik). Tapi, sebagai seorang anak Tuhan, seharusnya aku mentaati nasihat orang tua, dan memang aku masih kecil sih. Tuhan, tolonglah aku supaya bisa menguasai diri dan ndak pacaran dulu. Aku percaya segala sesuatu ada waktunya. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik nanti. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”

Lihatlah dan nantikanlah Tuhan! Roh-nya yang kudus pasti akan menolongmu secara luar biasa! Tuhan akan menganugerahkan perubahan-perubahan yang positif dan menghadirkan perkara-perkara yang tidak mungkin!

Saya percaya hal ini bisa terjadi. Kami sudah berkali-kali mengalaminya…

2. ) Meninggalkan sikap kanak–kanak.

1 Kor 13: 11 ”Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Perhatikan kata: meninggalkan! Orang yang sudah besar tetapi sifatnya kekanak-kanakan, pasti bikin orang lain susah. Bicaranya mau menang sendiri dan tidak mikirin perasaan orang. Maunya hanya melakukan yang disenangi saja; kalo ndak senang, ga mau berusaha melakukan. Orang dewasa seperti ini namanya Childish, pusatnya diri sendiri dan memaksa orang lain untuk mengikuti kemauannya.

Melanjutkan kasus si anak yang tidak boleh pacaran, maka Mr. Childish akan berespon melawan dengan tetap melakukan. Dia akan backstreet (pacaran dibelakang ortu), jika ketahuan…ndak mau ngaku dan mati-matian membela diri. Mr. Childish seringkali berespon ngambek, menarik diri dan marah pada orang tuanya. Gak mau lagi diajak jalan-jalan bareng, ogah bicara, nilai ujian dibiarkan nge-drop, di sekolah cari masalah. Apapun akan dilakukan demi tercapai keinginannya.

Meninggalkan sikap kenak-kanakan berarti stop acting like a child. Grow up! Apa karakter seorang yang dewasa?

Seorang yang dewasa berani mengambil tanggung jawab. Tidak lagi melihat dunia hanya dari kaca mata pribadi, tapi tahu menempatkan diri dan melihat lebih objektif.

Yang berani pacaran, berani ndak mengambil tanggung jawab? Tanggung jawabnya adalah membawa sang pacar menuju pernikahan. Pacaran toh bukan cuma buat have fun and senang senang sendiri.

Pacaran jelas bukan hanya soal jatuh cinta. Jatuh cinta adalah emosi. Modal emosi saja, tidak dapat melandasi sebuah pernikahan seumur hidup. Love yang sejati mengandung komitment. Komitmen di dalamnya ada tanggung jawab. Tanggung jawab untuk memelihara hubungan dan memperjuangkan masa depan yang baik.

Tinggalkanlah sifat kanak-kanak itu dan beranilah mengambil tanggung jawab.

Kapan saya boleh pacaran?

3.) Dapat membedakan baik dan jahat.

Membedakan baik dan jahat berdasarkan standar Firman Tuhan yang adalah kebenaran sejati. Firman Tuhan ini datang dari mana? Jika Anda masih belia, maka Tuhan memercayakan firman Tuhan kepada orang tua. Jika Anda sudah dewasa, Tuhan dapat menitipkan kebenaran-nya kepada saudara seiman yang berani menegur. Banyak cara firman itu mampir dalam kehidupan kita. Sayangnya seringkali kita tidak sadar.

Termasuk sewaktu Orang tua menyatakan, ”Kamu tidak boleh pacaran, masih kecil!” Suara orang tua dapat menjadi suara Tuhan. Karena orang tua yang beriman adalah wakil Tuhan bagi kita.

Nah, walau seseorang masih kecil namun memiliki identitas rohani, mampu menguasai emosi dengan pikiran yang telah dikuasai Firman. So, dapat membedakan tindakannya: Mau taat pada ortu atau melawan? Mau melakukan yang baik atau yang tidak benar?

Firman Tuhan menyatakan, ”Hormatilah orang tuamu!” Kalau saya keukeuh pacaran, berarti saya sedang melawan mereka. Tentunya saya akan membuat orang tua kecewa dan sedih. Yang terbaik adalah: ”Saya mau mencoba menaati perkataan mereka sambil memahami alasannya. Hari ini saya mungkin ndak mengerti, tapi pastilah kehendak orang tua adalah kehendak yang terbaik buatku.”

Orang yang rohaninya matang dapat membedakan mana yang baik, mana yang jahat. Luar biasa Roh Kudus membimbing hidup kita. Jikalau betul matang, kita sangat peka terhadap kehadiran Tuhan. Kesadaran akan dosa dianugerahi-Nya. Ketika mau berbuat hal-hal yang tidak baik, kita merasa dalam hati, ”Ini salah, ini tidak benar!”

Hiduplah dalam Roh bukan dalam keinginan daging. ”Maksudku adalah hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Baca Galatia 5:16-26)

Sebagai penutup dari serial Ready or Not for Dating, mari kita menyimpulkan: Kapankah waktu pacaran yang tepat? Dapatkah kita menentukan dengan berdasarkan hanya satu komponen saja? Oh umurnya sudah 17, berarti boleh. Jawaban yang simplisistik seperti ini bisa menyesatkan orang.

Ambil contoh: Mau beli rumah, Anda percaya ndak, “Pak, pokoknya cari yang di pinggir jalan besar pasti bagus.” Jika percaya kalimat tersebut, maka jelas sangat kekurangan pertimbangan. Keputusan yang diambil akhirnya hanya memakai satu komponen berpikir saja. Sebagai orang dewasa, tidak boleh memutuskan hanya berdasarkan satu komponen.

Untuk membeli rumah, toh banyak kriteria yang digunakan untuk memutuskan. Kita harus membuat listing apa saja kriteria yang dibutuhkan. Lokasinya dimana? Benar di pinggir jalan besar, tapi posisi di pinggir kota yang agak terpencil. Apakah mau beli?

Tambah lagi, butuh 3 kamar tidur. Bagaimana kalau rumah tersebut cuma ada 2 kamar? Tentu tidak masuk perhitungan.

Tambah lagi, berapa harganya? Apakah sesuai dengan mutu (kualitas) finishing rumah tersebut?

Jika semuanya udah cocok, tapi harganya selangit. Bagaimana?

Jelas, tidak boleh mensimplified atau terlalu menyederhanakan jawaban untuk pertanyaan ini.

Balik ke masalah dating. Seorang anak bertanya, “Pa, saya sudah boleh pacaran belum? Boleh ya. Kan sudah 17 tahun, sudah dapat KTP, sudah ikut pemilu 2 kali, sudah punya SIM.”

KESIMPULANNYA: Tidak bisa hanya berdasarkan umur, untuk menjawab: Boleh tidaknya.

Lalu, bagaimana menjawab pertanyaan tersebut? Harus menambahkan dimensi-dimensi lain dari kehidupannya.

Misalnya jawaban ke anak cowok, “ Kalau kamu bisa mempertahankan IPK minimal 3.00 selama 5 semester berturut-turut. Kamu baru boleh pacaran.” Atau lebih ketat lagi, “Papa ingin kamu sudah memiliki penghasilan baru boleh pacaran.”

Kepada anak gadis, “Papa lihat kamar kamu aja masih berantakan. Tiap hari masih diberesin pembantu. Kapan kamu beresin kamar sendiri? Masa udah mau pacaran?” “Sewaktu Mama sibuk di dapur, apakah kamu membantu atau cuek aja?” “Bangun tidur kalau liburan siang melulu. Bagaimana mau pacaran?”

Karenanya, percakapan orang tua dengan anak yang menuntut pacaran bisa diubah dengan memberikan kesempatan bagi si anak untuk terlebih dulu mengubah kebiasaan dan sikapnya sehari-hari.

Di sinilah, peran Orang tua sangat menentukan. Jangan sampai kelak tingkah laku anak kita malu-maluin saat bertandang ke rumah calon mertuanya.

Jadi, alasan boleh tidaknya pacaran, berkaitan dengan tanggung jawab dan kematangan seseorang. Jangan belum dewasa berani pacaran, kan bisa bikin susah keluarga orang.

Seseorang boleh memasuki masa pacaran jika sudah matang. Matang secara intelektual, sosial, emosi dan rohani. Berbagai dimensi kematangan inilah yang akan menjadi dasar dari pacaran yang sehat dan pernikahan yang kokoh seumur hidup.

Next: ASKING SOMEONE OUT! YESSSSSSSSS

 

Ev. Chang Khui Fa dan Liana

 

 

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s