M2: Tidak Seiman dan Penganiaya

Mr./Ms. Wrong 2: Tidak Seiman dan Abusive

Yuk nonton Dating INSIGHT di YouTube, KLIK aja di sini.

Bagaimana mendeteksi si dia Mr./Ms. Wrong atau bukan?

Gawat! Kalo ternyata dia WRONG …bisa-bisa SENGSARA seumur hidup.

Mari deteksi sejak dini, sebelum hati terpincut. Bagaimana? Ada loh tanda-tandanya…

Ibarat lampu lalu lintas: ada merah, kuning dan hijau. Kalo lampunya hijau berarti aman, jalan terus; tapi bagaimana jika lampu beralih dari kuning menuju merah? Itu pertanda untuk berhati-hati dan siap-siap STOP! Jangan malahan nge-gas dong. Begitupun kalo si dia udah menunjukkan tanda-tanda Mr./Ms Wrong, siap-siap berhentikan saja hubungan itu.

Seperti apa tanda Mr./Ms. Wrong?

 

mr wrong 2: Tidak seiman dan Penganiaya

Seandainya ada orang ngajak kamu nge-date, pas lagi sama-sama dia, sontak muncul perasaan… kayaknya ni orang Wrong banget. But, yang namanya perasaan…kan sangat subjektif, apa bisa diandelin? Contoh, lagi dinner berdua di resto… tiba-tiba dia ketawa kuenceng buanget … sampai-sampai semua mata mengarah ke kamu berdua. Wadow bikin malu! Nah, apa dia itu Mr./Ms. Wrong?

Atau dia tuh kalau janji selalu ga tepat! Janji jam 10, datang jam 12… telat mulu! Terus janji mau nonton eh…batal, karena inilah…itulah… sering banget melanggarnya. Apakah berarti dia Mr./Ms. Wrong?

Memang tidak ada orang yang sempurna, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Di sisi lain, apa kalau kita bisa menerima kekurangan dirinya, berarti tidak masalah buat melanjutkan hubungan?

Perlu sekali kita mencermati lebih tajam. Masalah Mr./Ms. Wrong, sebenarnya bukan pada apa kita bisa menerima kekurangan atau tidak, tapi lebih kepada perkara yang prinsipil.

Jangan sampai hal-hal yang prinsip, malah dianggap ndak penting, atau sebaliknya.

Saya pernah bertemu anak muda yang berhubungan dengan orang yang tidak tepat. Kenapa? Karena saya melihat ada beberapa prinsip yang dilanggar. Namun, bagi pemuda itu tidak masalah, dia rasa fine-fine saja. Ketika saya berbicara dengan kedua orang tuanya, eh…merekapun merasa kuatir akan hubungan tersebut.

Namanya anak muda, belum pernah merasakan pahitnya hidup, dia pikir semua resiko, bisa ditanggung. Namanya juga jatuh cinta…Kata orang, “Love is blind”; kata saya,”Love must open your eyes! Open lebar-lebar, jangan sampai masuk jurang…”

Apa saja yang disebut prinsip? Jelas dan pasti dia Mr./Ms.Wrong, kalau:

  1. Di hadapan Tuhan, relasi tersebut tidak benar.
  2. Merusak hidup dan membuat kita tidak berfungsi maksimal.

 

Type-type Mr./Ms. Wrong:

# 1. Tidak Seiman

Jika pasangan tidak seiman, pastilah Mr./Ms. WRONG.

Siapa yang termasuk seiman? Penjelasan seiman pernah lengkap dibahas, silahkan baca dalam “God’s Will in Dating.”

Mengapa tidak seiman berarti “wrong”? Padahal, orangnya baik lho… dia sayang sama saya. Saya pun tulus mengasihi dia.

Bicara iman, mungkin rasanya abstrak sekali. Iman bukan bicara soal agama, tetapi tentang hal yang lebih mendasar yaitu relasi dengan Tuhan. Hubungan dengan pasangan juga diikat di dalam iman. Kedua-duanya bergantung kepada Tuhan. Ketika kita makin dekat dengan Tuhan, maka hubungan dengan pasanganpun semakin erat. Seperti segitiga sama kaki: jika sama-sama naik makin dekat dengan Tuhan, maka jarak kamu dan dia juga semakin nempel.

pasangan seiman

Mari kita perhatikan sebuah ayat yang sangat menarik dan berkuasa.

Matius 18: 19-20, Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Mengapa Firman Tuhan mengatakan, “Jika dua orang…” Siapa dua orang ini? Saya percaya ini adalah suami dan isteri, karena firman Tuhan pertama kalinya dinyatakan kepada Adam dan Hawa di Taman Eden.

Suami isteri harus sepakat. Selamanya. Meminta bersama-sama dengan sepakat, hanya dapat dilakukan oleh dua orang, yang memiliki persamaan iman kepada Tuhan. Kenapa ini penting? Karena hidup terdiri dari ribuan masalah, sendiri saja sudah banyak problem, apalagi berdua? Hidup makin kompleks. Dulu sendiri, sekarang berdua…semua hal harus disepakati bersama.

Sederhananya begini: Mau makan apa? Ayam goreng yuk…di KFC. Ndak ah…aku lagi pengen McD… lho jadinya kita mau ke mana nih? Kalau ga ada kesepakatan, bingungkan? Ini sih hal sederhana…

Bagaimana dengan masalah lainnya yang lebih kompleks? Misalnya: Nanti isteri kerja atau di rumah? Isteri pinginnya di rumah bisa mengurus rumah tangga, tapi keuangan ternyata ga memadai. Suami mau kerja dekat rumah supaya ada banyak waktu bersama keluarga, tapi tahu-tahu ditempatkan jauh di luar pulau. Bagaimana menghadapi dan menyikapi masalah ini?

Jika memiliki fondasi iman yang sama, ketika beban-beban seperti itu datang dalam kehidupan, pastinya dapat didiskusikan berdua, mengungkapkan perasaan dan pendapat, berbagi cerita dan beban, bertukar pikiran, sehingga dapat menyepakati sebuah keputusan yang diinginkan berdua.

Lalu, seperti yang Firman ajarkan, berdua sepakat meminta kepada Bapa di Surga. Dan lihatlah! Kita adalah umat pemenang penyembah Allah yang hidup! Dia akan menganugerahkan kepada kita perkara-perkara yang tidak mungkin! Akhirnya, suami istri mengalami kemenangan, semua pengalaman rohani menjadikan mereka bertambah akrab, pastinya imanpun akan bertumbuh luar biasa! Sungguh indah boleh bersama-sama mengundang Tuhan, untuk menghadirkan kemenangan demi kemenangan dalam menghadapi tantangan kehidupan ini.

Coba kalau tidak seiman, pada saat menghadapi masalah, diajak doa, eh…malah dijawab, ”Kamu aja doa sendiri! Emang kalo berdoa masalah bisa beres?” Kan pusing, malah mempertanyakan apa perlunya berdoa. Sudah stress dengan masalah, tidak inget lagi kepada Tuhan.

Kami terus mempraktekkan, ketika saya merasa kesulitan menerpa, saya ajak Liana untuk berdoa bersama-sama. Liana jadi tahu pergumulan apa yang saya hadapi, demikian sebaliknya. Kami bersepakat meminta pertolongan Tuhan. Berulang-ulang kali, Tuhan membuktikan janji-Nya. Kami melihat, sungguh Dia adalah Tuhan yang hidup! Janji-Nya bisa dipercaya. Pertolongan-Nya selalu terbukti. Walau terkadang tidak terpahami…namun kami mengimani Dia selalu merancang dan memberikan yang terbaik.

Sepakat selain meminta kepada Bapa di Surga, sepakat juga dalam melayani. Di Alkitab ada sepasang suami istri, Akwilla & Priscilla. Paulus berulang kali menyebutkan nama mereka berdua, dan memuji mereka dalam kitab Roma, Korintus dan Surat kepada Timotius. Dia memuji bagaimana pasangan ini melayani bersama, bahkan rela berkorban untuk Rasul Paulus demi Injil yang diberitakan. Mereka menjadi role-model bagi pasangan suami isteri. Seiman dan SEPAKAT bersama-sama melayani Tuhan.

Kami pun…dalam pelayanan Dating INSIGHT, sebagai suami isteri, kami terinspirasi oleh Akwila dan Priskila, kami sepakat berdoa agar pelayanan kami sebagai sepasang suami isteri, boleh menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kamu mau kan, melayani Tuhan berdua pasangan?

 

# 2. Abusive

Berelasi dengan orang abusive (penganiaya), sangat berpotensi merusak hidup. Semakin lama berelasi, semakin banyak duka, ketakutan dan penyesalan. Kualitas hidup menurun, luka di sana-sini, kerohanian pun pasti ambruk!

He or She is Mr./Ms. Wrong pasti, jika dia adalah seseorang yang suka melakukan kekerasan atau meng-abuse pasangannya. Si penganiaya ini berpotensi besar menghancurkan relationship. Yang aneh, kalau sudah tahu dia penganiaya, kok tetap mau melanjutkan hubungan?

Menurut survey, persentasi KDRT (yang dilakukan pria terhadap wanita) dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, tahun 2012 terdaftar 8.315 kasus, pada tahun 2013 meningkat menjadi 11.719 kasus. Hanya dalam tempo 1 tahun, sudah terjadi peningkatan kasus sangat besar! Ini karena masyarakat sudah mulai sadar dan berani melapor. Bagaimana dengan yang tidak berani mengadu? Pasti lebih banyak, biasanya karena malu.

Jika ada tanda-tanda si dia suka melakukan kekerasan, ini adalah lampu kuning menuju merah. Siap-siap STOP! Peringatan penting, jangan melanjutkan hubungan!

Abuse dapat dimanifestasi dalam berbagai macam bentuk:

* Kekerasan fisik berupa tamparan, jambakan, pukulan, bahkan sampai kepada tendangan terhadap pasangan atau anggota keluarga.

* Kekerasan verbal. Kekerasan yang dilakukan melalui ucapan / kata-kata, berupa hinaan, cemooh, ancaman, sehingga menimbulkan kecemasan, ketakutan, sakit hati bagi pasangannya.

* Kekerasan emosional. Berupa tidak melakukan apapun seperti pembiaran. Keberadaan pasangan dianggap tidak ada. Tidak diladeni atau diajak bicara, apalagi digubris. Perang dingin! Ini merupakan bentuk penyampaian kemarahan dan ketidak puasan secara pasif.

Jika dibiarkan terus, hubungan akan membeku, layu dan mati. Termasuk juga dalam hal mendengar masukan. Contoh: Kamu minta agar pacarmu jangan gampang marah-marah, eh malah dia tambah marah dan ga mau bicara lagi. Permintaanmu tidak digubris, besok-besoknya lanjut aja dengan kebiasaannya. Kalau dibilangin…malah tambah galak dan mengelak.

Yakobus 4: 17, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

* Kekerasan Seksual, berupa pemaksaan hubungan seksual, baik di masa pacaran maupun dalam pernikahan. Ini tentu sangat berbahaya.

Apapun jenis kekerasan yang dilakukan, tidak dapat ditolerir! Ini perkara yang sangat prinsipil!

Seyogyanya, kalau sudah menemukan pasangannya abusive, maka…hubungan itu PASTI salah dan harus segera diakhiri. Namun, sering terjadi kasus, di mana seseorang dianiaya pasangannya….eh tetap aja pacaran jalan terus. Kok bisa gitu ya?

Karena mempunyai keyakinan, bahwa pasangannya pasti akan berubah. Kelakuan abusive hanya dianggap sementara dan tidak prinsipil. Mereka beralasan:

  • Toh si dia selalu menyesali bahkan berjanji akan berubah.

But, jika dia terus melakukannya sampai menjadi kebiasaan, apakah kamu tetap yakin dia akan berubah?

  • Saya salah juga sih. Saya yang bikin dia sampai marah. Saya memang layak diperlakukan demikian. Ada anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang penuh kekerasan dan selalu disalah-salahin, so saat dewasa diperlakukan begitu jadi tidak peka lagi.

Siapapun, bagaimanapun, kita adalah ciptaan Tuhan, tidak boleh diperlakukan tidak manusiawi.

  • Tindakan kekerasan adalah ekspresi cintanya padaku. Bukti cinta dan perhatiannya sangatlah besar. Karena cinta, dia tegas kepadaku supaya aku berubah.

Lah…ini bukan cinta! Ini pemaksaan kehendak! Jangan salah mengartikan cinta. Cinta sejati berkorban diri bukan mengorbankan pasangan. Temukan arti cinta sejati dalam bahasan Dating INSIGHT dengan tema True LOVE! Kami akan bahas di Season 2.

  • Walau dia orangnya abusive, saya mencintainya. Hanya saya yang bisa menolongnya berubah. Bersama saya, dia pasti akan menjadi lebih baik.

Pertanyaannya: Kamu rela diperlakukan begitu sampai kapan? Bagaimana kalau dia tidak berhasil kamu ubah? Bagaimana dengan ortu yang mengasihimu dan melihatmu babak belur? Ini disebut “Savior Syndrome.” Gejala ingin menjadi juru selamat. Memang tidak berarti kelemahan pasangan selalu menjadi alasan bagi kita untuk memutuskan hubungan. Namun jika ternyata kelemahannya terlalu berat dibanding kemampuanmu menanggung, pasti akan merugikan keduabelah pihak.

 

Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk yang dapat berpikir. Pertimbangkan sekali lagi hubungan tersebut, apakah seharusnya stay atau keluar. Balancing your head and heart! Pergumulan yang luar biasa kala hati begitu cinta, namun jika secara logika salah, jangan meresikokan hidup. Hidup hanya satu kali, pikirkan matang-matang.

Next… Seperti apa Mr./Ms. Wrong? Addiction dan Infidelity. Stay tune in Dating INSIGHT!

 

Love in Christ,

 

Ev. Chang Khui Fa & Liana

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s