A4: Marah tapi Tidak Berdosa

Dating INSIGHT A4

Marah Diputusin Pacar (tapi tidak berdosa)

Dating Insight time. Saatnya kita belajar prinsip-prinsip pacaran dalam kebenaran Kristen. Saksikan juga via Youtubenya Klik ini ya

After a Break Up, topik yang tidak enak tapi tetap harus dibahas supaya akhirnya jadi enak, karena banyak juga yang mengalami hal ini.

Kita sudah bahas After a Break Up dari step 1-5. Dalam step ke-5, menghadapi semua perasaan yang muncul dengan jujur. Perasaan apa sih? Minggu lalu, kesedihan yang yang terlalu dalam sehingga membuat hidup tidak berfungsi. Kali ini, kemarahan. Diputus pacar apalagi sepihak, pasti pengen ngamuk. Kita harus tahu cara meng-handle perasaan marah dengan tepat.

Dalam Kitab Suci, ada beberapa kisah perihal kemarahan. Misalnya, kemarahan Tuhan ketika Ia melihat kejahatan umatNya. Saat ada ketidakadilan dan ketidakbenaran yang dilakukan umat Israel, Tuhan murka dan menjatuhkan penghukuman. Kemarahan ini positif dan sangat baik karena bertujuan untuk menghentikan kejahatan. Manusia tidak boleh mengulangi lagi perbuatan tersebut. Lantas, bagaimana dengan manusia?

Manusia diciptakan serupa gambar dan rupa Allah. Jadi, wajar aja kalau ada kejahatan dan ketidakadilan, juga muncul perasaan marah dalam diri. Bedanya, manusia telah jatuh dalam dosa, sehingga waktu marah, bisa kebablasan sampai-sampai menyakiti diri sendiri, orang lain, bahkan berani menghina Tuhan.

Firman Tuhan dalam Mazmur 4:4 mengatakan, “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu, tetapi tetaplah diam.”

Rasul Paulus dalam Efesus 4:26, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”

Marah adalah salah satu bagian dari emosi natural. Firman Tuhan tidak mengatakan, jangan kamu marah, melainkan biarlah kamu marah… apabila kamu marah…Sebagai manusia utuh, terimalah bahwa marah bukan dosa. Namun, marah dapat membawa kita berbuat dosa, karenanya, Rasul Paulus memberikan batasan waktu yang jelas. Makin lama kemarahan disimpan, makin pasti kita akan berdosa. Hal ini berarti, kita harus belajar untuk menemukan sumber masalah pembuat marah dan menyelesaikan itu secepatnya.

After a break up Dating INSIGHT

 Menemukan sumber masalah pembuat marah

Dalam Kitab Suci ada cerita mengenai nabi Tuhan yang marah. Tercatat, Yunus dua kali marah dalam Yunus pasal 4. Ayat ke-1, Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Ayat ke-9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus:”Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?’ Jawabnya:”Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

Waktu kita mengalami ketidakadilan, perlakuan yang semena-mena, ditunding sembarangan, disalahmengerti, termasuk: pasangan tidak setia, diputuskan sepihak tanpa alasan yang jelas, tidak diterima keluarga dengan alasan yang irrational, ditinggalkan kekasih karena kematian, dan peristiwa menyakitkan lainnya; pertanyaannya juga sama juga diajukan setiap kita, “Layakkah engkau marah?”

Sebenarnya, apa sih yang memancing emosi marah?

  •  Adanya ketidakadilan.

Tidak salah ditunding bersalah. Berusaha menjaga kesetiaan, eh pasangan berselingkuh. Katanya cinta, tapi lebih memperhatikan dan mengutamakan teman-temannya.

  • Frustasi atau heplessness.

Tidak berdaya melakukan apapun untuk menyatukan cinta kembali seperti dulu. Segala impian bersamanya lenyap; semua kenangan manis nan indah, sekarang menyakitkan. Rindu rasanya hati ini ingin ketemu, tapi tidak bisa. Perasaan tidak berdaya, membuat marah.

  • Merasa disakiti

Kalo merasa disakiti, tentu temannya marah. Rasa sakit hati dan kemarahan itu udah temenan sejak lama. Kalau saya disakiti, maka saya marah. Reaksi marah adalah salah satu reaksi mekanisme pertahanan diri. Jikalau saya diperlakukan sembarangan, bikin sakit hati, maka saya marah. Saya marah, supaya tidak terus diperlakukan sembarangan. “Sakitnya di sini” sambil menunjuk ke hati.

Andaikata kamu pacaran dengan seorang yang semau-maunya, otomatis kamu diperlakukan semau-maunya dia. Hal ini membuat kamu marah dan marah lagi. Akhirnya kamu disebut pemarah.

Nah, karenanya Firman Tuhan berkata, siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. Cari pacar harus bijaksana, temukan dan jadilah pasangan yang tepat.

Seperti apa kriterianya yang tepat? Seperti apa yang salah? Baca dan simak CD Dating Insight season 1: GARAM. (e-book dating insight ada di sini http://visichristianstore.com)

Trus… kalo marah, bagaimana mengekspresikannya?

1.Withdrawal

artinya menarik diri. Tidak mau menghadapi realita.

Saya (Liana) senang banget dengan cara ini. Kalau lagi marah, saya lebih memilih untuk kabur. Tidak mau mengkonfrontir sampai beres. Cara ini tidak baik. Masalah tidak selesai. Saya tidak menarik hikmat dari situasi tersebut. Problem yang sama bisa terulang lagi.

2.Menyimpan Kemarahan.

Anger towards self, itu istilah kerennya yang sama artinya dengan ‘makan dalem’. Marah ditekan paksa masuk dalam hati. Akibatnya hati jadi penuh sampah. Jangan sangka orang ini tidak marah, karena dari luarnya dia berusaha setenang mungkin. Muncul-munculnya dalam berbagai bentuk penyakit dalam psikis, seperti sakit kepala, maag, gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi, serangan jantung, kolelsterol dll. Juga pada jiwa, jadi kuatir, gelisah, pikiran buntu, stress, cemas, bahkan bisa sampai depresi.

Saya pernah bertemu orang seperti ini. Dia bilang, “Aku ini sudah pisah dari dia sekian tahun yang lalu, tapi sampai hari ini, setiap keingat dia, aku masih marah!”

3.Mencari kambing hitam / blowing up

Setiap ada masalah, selalu menyalahkan orang lain. Anger towards other. Bawaannya marahin orang mulu, kalo ditanya, “Kenapa sih kamu marah-marah?” Jawabnya,”Lagi kesel, kemarin abis berantem dengan pasangan.” Walah…yang kena semprot, semua orang yang dekat dengannya.

4.Menyelesaikan dengan caranya sendiri.

Karena kita telah jatuh di dalam dosa, segala cara yang terpikir untuk menyelesaikan masalah sudah tercemar dosa. Keinginan menghukum, merancang-rancangkan sesuatu yang jahat, memakai kekerasan, fokusnya adalah pembalasan. Pastinya, ini bukan cara anak Tuhan mengekspresikan kemarahan.

5.Mencari Pertolongan

Sebagai anak Tuhan, putus cinta tentu adalah pengalaman pahit, tapi cara kita beda. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Dia melihat sampai ke lubuk hati kita yang terdalam. Dia mengerti. Makin mendekatlah pada Tuhan. Curahkanlah seluruh isi hatimu kepadaNya. Mintalah kekuatan. Mintalah pertolongan padaNya.

Biarlah kamu marah, tapi jangan berbuat dosa.

Salam Dating INSIGHT,

Khui Fa & Liana

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s