A4: Perfect in God’s Design

Dating Insight

Perfect in God’s Design

28 April 2014

Dating INSIGHT Am I The Perfect Candidate bersama Ev. Chang Khui Fa dan isterinya Liana, dapat disaksikan klik di sini Youtube.

 

Kali ini, bersama kami hadir seorang pakar di bidang Counseling Keluarga,Bp. Ichwan Chahyadi. Beliau alumni Denver Seminary, USA dengan gelar Master of Counseling. Pak Ichwan juga adalah founder dan owner VISI Book Store. BTW, langsung saja kunjungi VISI atau VISI online sebagai resource pertumbuhan kerohanian dan kehidupan Anda.

Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini terambil dari Mazmur 139: 13-16

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

 

Manusia adalah ciptaan yang sempurna di mata Allah. Bayangkan! Tuhan sendiri yang membentuk buah pinggangnya, menenunnya dalam kandungan. Dalam pandangan Tuhan, manusia sungguh sempurna!

Tetapi, sayang sekali! Manusia telah jatuh ke dalam dosa.Dosa mendistorsi design sempurna yang telah Allah ciptakan.

Puji Tuhan! 2000 tahun yang lalu, Yesus telah lahir. Dia telah mati dan bangkit! Dia memungkinkan kita disempurnakan kembali.

Menurut pandangan Pak Ichwan, sempurna” dalam design Tuhan itu apa maksudnya?

Setiap orang diciptakan dashyat dan ajaib. Kesempurnaan itu bukan berarti tanpa cacat atau kelemahan, tetapi yang dimaksud adalah bagaimana seseorang dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan design yang sudah Allah tetapkan.

Ambil contoh: piring dan gelas. Masing-masing sempurna jika digunakan sesuai dengan fungsi designnya. Gelas berfungsi baik jika digunakan untuk minum, sedangkan piring sebagai wadah makanan. Seandainya digunakan terbalik, menjadi tidak sempurna. Jadi kesempurnaan lebih dilihat dari fungsi dan peran sesuai design kita masing-masing.

Kesempurnaan itu relatif karena setiap orang unik. Tiap-tiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang ekstrovert ada juga yang introvert. Ada yang thinking saat mengambil keputusan, ada juga yang feeling.

introvert-vs-extrovert

Seorang ekstrovert mendapat energi sebagai sumber kekuatannya dari luar yaitu dari orang-orang di sekitarnya; sebaliknya introvert, energinya dari dalam diri sendiri.

 

Bagaimana mendekteksi pribadi, apakah saya ekstrovert ataukah introvert?

 

Ini dapat terlihat dari bagaimana dia mendapatkan kekuatannya kembali saat down atau stress. Orang ekstrovert tidak bisa berdiam diri di kamar, dia harus mencari teman untuk bicara. Melalui bertemu orang, pelan-pelan stressnya hilang.

 

Sebaliknya, bagi pribadi introvert, pada saat stress, justru membutuhkan kesendirian, private time. Saat sendiri, kekuatannya bahkan sebetulnya dipulihkan.

 

Walaupun berbeda, namun keduanya sempurna, dapat berfungsi seperti yang Tuhan inginkan.

 

Ada juga tipe Thinking and Feeling. Seperti apa?

 

Pada prinsipnya, sebenarnya setiap orang menggunakan baik thinking maupun feeling, namun pasti salah satunya lebih dominan.

Pada type Thinking, saat membuat keputusan, dia lebih mengutamakan: logika, cara berpikir, dan aturan-aturan yang jelas menurut pikirannya.

Kalau hal tersebut masuk akal, maka dia akan ambil, jika tidak – pasti ditolak.

Sedangkan orang yang dominan Feeling, lebih mengutamakan bagaimana perasaan orang lain.Dia berusaha agar keputusan yang diambil tidak membuat tersinggung. Fokusnya adalah menjaga relasi.

Misalnya… Saya pakai baju biru, ceritanya baru beli kemarin nih. Lalu saya tanya, ”Bagaimana penampilan saya dengan baju biru, baru lho?” “Cocok atau tidak?”

Orang type Thinking akan menganalisa menurut pikirannya. Jika kebetulan dia tidak suka warna biru, maka dengan terus terang dia akan mengatakan apa adanya.

Yang Feeling, akan menjawab, ”Lumayan” Karena dia tidak mau mengungkapkan yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Jadi, yang bertanyapun sulit menentukan apakah arti jawabannya itu lumayan baik atau lumayan buruk…

Jadi apakah orang thinking lebih jujur?

Sebetulnya dua-dua jujur. Hanya yang Thinking lebih lugas saat penyampaiannya, sedangkan si Feeling lebih menjaga perasaan lawan bicaranya. Melalui kata-kata yang halus, ada pesan tersembunyi. Keduanya baik dan sempurna.

Sekarang yang jadi pertanyaan: “Apa yang akan terjadi, jika dua kepribadian yang berbeda ini saling tertarik dan berencana bersatu?” Apalagi konsep pernikahan dalam kekristenan adalah pernikahan seumur hidup, sampai maut memisahkan.  Apakah malah tidak terjadi konflik?

Justru biasanya kita tertarik kepada orang yang berbeda dengan kita. Seperti Pak Chang Khui Fa dan Bu Liana, yang satu ekstrovert yang lainnya introvert. Orang ekstrovert tertarik dengan yang introvert karena terasa saling melengkapi satu sama lain.

Orang ekstrovert sangat mudah bergaul, keberadaannya membuat ramai suasana dan seru. Lain halnya dengan introvert yang begitu tenang. Walau tenang pengamatannya tajam, dia dapat menganalisa situasi dengan seksama.

Perbedaan ini sesungguhnya saling melengkapi, dan menutupi kelemahan yang lain.

 

Ketika hubungan semakin lama, mengenal semakin dalam, sering kali perbedaan justru malah menjadi sumber konflik.

Perbedaan-perbedaan yang dulu membuat tertarik, sekarang bisa bikin masalah.

Mengapa?

Ketika kita sedang jatuh cinta, “ego” seolah-olah rontok. I Love You, You love me. Wo ai Ni, Ni ai Wo. Ego boundaries pun lenyap. Ego itu adalah si aku. Ketika sedang dilanda cinta, si aku hilang, yang ada hanya kamu. Kamu saja yang ada dalam pikiranku, hatiku, mimpiku, dan hidupku. Semuanya tentang kamu, karena Aku Cinta Kamu! Namun, dengan berjalannya waktu, biasanya ego balik lagi, dan seolah-olah seperti tersadar. Akhirnya, mulai memberikan tuntutan terhadap pasangan.

Yang ekstrovert menuntut pasangannya bisa ikut bersosialisasi dan rame seperti dia, sebaliknya yang introvert menuntut agar pasangannya jangan pergi melulu, tapi di rumah saja tenang-tenang.

Inilah yang membuat pertikaian jadi besar. Pada awalnya ada keinginan yang besar untuk memberi dan melengkapi pasangan, namun perlahan-lahan keinginan melengkapi itu berubah menjadi tuntutan. So pemicu konflik bukanlah perbedaan, namun adanya tuntutanlah yang menyebabkannya.

Selama masih hidup di dunia, konflik pasti ada, karena masalah tidak habis-habis. Life is the series of problem. Namun, bagaimana respon Anda ketika konflik terjadi, inilah penentu kelanggengan dan keharmonisan pernikahan.

Penting diingat, bahwa setiap kepribadian memiliki kelebihannya masing-masing.

Waktu konflik, orang biasanya hanya bisa melihat kekurangan-kekurangan saja. Seyogyanya haruslah belajar mengingat hal-hal positif juga yang dimiliki pasangan.

Sering kali, si introvert menilai pasangannya yang ekstrovert seperti plin-plan. Banyak bicara dan tidak pasti. Sering mengubah-ubah keputusan. Bicaranya tidak melalui Otak. Padahal sebenarnya itulah bedanya. Si ekstrovert berpikir sambil bicara. Sedangkan introvert berpikir dalam keheningan. Kalau ditanya, responnya tidak segera menjawab. Maka dari itu introvert sering dipandang telmi (telat mikir), so slow…

Jika melihatnya positif, dan mau beradaptasi dengan perbedaan; hal seperti ini tidak akan menjadi masalah.

Seperti cerita Pak Ichwan, “Kebetulan saya juga ekstrovert dan istri introvert. Tapi hal ini tidak bisa menjadi rumus bahwa orang ekstrovert harus menikah dengan yang introvert, karena ada juga yang menikah introvert dengan introvert, ekstrovert dengan ekstrovert.”

“Sebagai orang ekstrovert sewaktu merasa lelah, tertekan, inginnya pergi keluar, mencari suasana yang baru. Sebaliknya isteri saya yang introvert, dia lebih ingin stay at home. Itulah yang kami berdua harus beradaptasi.” “Dulu kami melihat dari sisi negatifnya saja. Istri berpikir bahwa saya lebih senang keluar ketemu teman-teman, dibanding di rumah. Sebaliknya saya berpikir kalau dia kurang gaul,” lanjutnya.

“Jadi kami berdua belajar adaptasi, saya mulai membatasi sosialisasi, sedangkan isteri mulai belajar bergaul lebih luas, berkomunikasi dan bertemu dengan banyak orang. Bahkan sekarang suka terbalik, malah istri saya yang mengajak untuk pergi keluar,” ujarnya seraya tertawa.

“Dalam hal pengambilan keputusan, saya akan memberikan waktu baginya untuk berpikir, tidak mendesak dia untuk segera menjawab, misalnya: Nanti liburan mau ke mana?” “Coba kamu pikirkan, besok atau lusa, baru beri jawaban pada saya,” tambahnya.

Sebaliknya sang isteri, saat menunggu jawaban Pak Ichwan, karena tahu bicara sambil mikir, maka menanti hingga yang terakhir dan kemudian meng-confirm kembali.

So, setiap pasangan harus menyepakati strategi dan pendekatan yang berbeda untuk tiap pribadi yang beda.

 

Begitu juga dengan kami (CKF & Liana). Di awal-awal pernikahan, setiap ada masalah,sering kali saya mendesak Nana untuk berdiskusi saat itu juga. Saya tidak paham kalau Liana introvert, soalnya sehari-hari kelihatan bawel.

Dia tidak bisa langsung mengungkapkan pendapat sewaktu masalah dikemukakan. Setelah menyadari hal ini, saya suka bilang pada diri sendiri,”Sabar…sabar…toh masih ada hari esok.” “Tapi kadangsemalaman jadi tidak bisa tidur.” Namun, kami toh sudah 14 tahun menikah, so terus-menerus mencari formulasi, beradaptasi, dan berusaha menemukan strategi yang works untuk kami.

Saya belajar positifnya untuk memberikan waktu dan ruang bagi Liana berpikir. Demikian juga Liana melihat positifnya agar mempercepat pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah. Kami seperti bertemu di tengah.

Belajar beradaptasi dan fleksibel dapat dibaca lebih lanjut dalam buku GARAM & TERANG bagi Keluarga karya Ev.Chang Khui Fa (halaman 290-298) tentang menjaga keseimbangan untuk membangun keharmonisan keluarga.

“Don’t look the right person, but being the right person!” Ini adalah satu prinsip yang baik sekali, apalagi untuk pernikahan. Jika selalu mencari orang yang tepat, tanpa menjadi orang yang tepat, maka belum tentu hubungan itu akan harmonis.

Pada saat Anda mau berusaha menjadi orang yang tepat, yang baik, yang cocok bagi pasangan, barulah hubungan itu dapat terjalin. Karena kita tidak dapat mengubah orang lain, namun Anda bisa mengubah diri sendiri.

Jadi sasarannya bukan mencari pasangan yang tepat, tetapi bagaimana Anda berusaha menjadi orang yang tepat bagi pasangan Anda.

Tujuan utama pernikahan adalah bertumbuh makin serupa Kristus.

Sejak pacaran, masing-masing belajar memenuhi kebutuhan pasangannya. Tuhan tidak ingin kita beralasan, “Ya, ini kan gue, kalo gue emang begini!” Dia ingin kita terus belajar dan senantiasa bertumbuh. Orang yang ekstrovert mengerti kelebihan dan kekurangan orang introvert, begitupun sebaliknya. Bukannya berubah kepribadian, namun belajar bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Seperti Piring dan gelas dapat berperan maksimal untuk melayani tuannya.

Demikan juga kita dengan perbedaan personality, dapat bersama berfungsi maksimal saling melengkapi untuk melayani sang Master yaitu Allah Sang Pencipta.

 

Am I The Perfect Candidate? Surely, in His Perfect Hands!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
1 Comment

One thought on “A4: Perfect in God’s Design

  1. Pingback: Alasan dia naksir sama kamu | Dating INSIGHT

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s