M3: Addiction & Infidelity

Mr./Ms. WRONG 3

Kecanduan & Tidak Setia

Nonton via Youtube, silahkan KLIK di sini.

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Roma 8: 5-8

Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Roma 8: 13-14

 

Firman Tuhan sudah sangat jelas mencatat tentang mereka yang hidup menuruti keinginan daging, tidaklah mungkin berkenan kepada Allah!

Seperti apakah hidup menurut daging? Kali ini kami bahas dua jenis: Orang yang Kecanduan dan Tidak setia.

Mr./Ms. Kecanduan dan Mr./Ms. Tidak Setia termasuk rumpun Mr./Ms. WRONG.

Orang-orang seperti ini berpotensi negatif, merusak diri dan orang di dekatnya. Mereka real dan ada di sekitar kita.

mr wrong 3

Inilah type Mr./Ms. Wrong lanjutan dari minggu yang lalu (Mr./Ms. WRONG 2):

# 3. Addiction / Kecanduan

Kecanduan itu mahluk apa sih?

Kecanduan adalah keterikatan total kepada sesuatu di luar diri. Keterikatan yang bikin hidup seseorang kehilangan fokus. Keterikatan ini membelenggu, dan mematikan jiwa. Hidup menjadi tidak efektif dan tidak produktif. Semakin besar kebergantungannya, hidup bertambah hancur, so relasi dengan orang terdekatpun terancam.

Ngomong soal keterikatan ada yang berbeda rupa. Misalnya: keterikatan antar suami dan isteri, istilahnya ikatan pernikahan; atau keterikatan total manusia kepada Allah, suatu kesadaran bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Keterikatan ini positif, tidak membelenggu dan membatasi, melainkan membebaskan dan menghidupkan. Hidup makin terarah, berkembang, dan tentunya berdampak positif bagi sekitar.

Umumnya, setiap orang bisa mengalami keterikatan pada sesuatu. Karena itu, saya mengkategorikan kecanduan ada yang ringan, dan berat:

Ringan, seperti: kecanduan kopi, kecanduan game, kecanduan terhadap pekerjaan, kecanduan hobi (kecanduan terhadap hewan peliharaan, kecanduan aksesoris kendaraan bermotor, atau olah raga dll).

Walau begitu, ngopi harus ada batasnya, mengkonsumsi terlalu banyak pasti berdampak negatif bagi kesehatan.

Gamer…bisa bikin kerjaan terbengkalai, terus-menerus main game jadi mengisolasi diri, lama-lama bisa terpisah dari kehidupan nyata karena terbuai dunia game yang dibuat sendiri.

Workaholic atau kecanduan kerja … menggali kebahagiaan dari bekerja, bekerja dan bekerja terus, sampai lupa istirahat…

Hobi yang mengikat sampai mengabaikan relasi keluarga juga termasuk kecanduan. Kecanduan lainnya seperti gila shoping…belanja mulu. Kecanduan nge-BBM…sampai lupa dengan lingkungan sosial di mana dia berada, ortu, pacar, teman…semua dicuekin.

Kategori ringan karena semua yang disebut diatas is OK jika ada dalam batasan normal. Alangkah baiknya kalau semua itu ada, namun harus seimbang jangan sampai merusak relasi. Pastinya, melalui kesukaan, malah relasi dan pergaulan bisa semakin akrab dan luas.

Kecanduan berat, disebut berat karena mengandung unsur yang merusak:

  • Unsur evil (kejahatan).
  • Unsur zat addictive, menimbulkan reaksi kimiawi dalam tubuh, sehingga merusak fungsi otak, saraf, emosi, orientasi, maupun tubuh.

Selain itu, masyarakat umumnya memandang itu buruk dan merusak karena akibat-akibat langsung maupun tidak langsung.

Apa saja kecanduan berat? Kecanduan terhadap alkohol, narkoba, berjudi, pornografi, kecanduan seks.

Data dari situs Reneweveryday.com di Amerika, pada tahun 2008, tercatat 23 juta orang di atas usia 12 tahun menderita kecanduan alkohol dan obat-obat terlarang.

Indonesia, tercatat sebagai negara dengan perokok (pria) kedua terbanyak di dunia. Di perkirakan pada tahun 2012, sudah ada 52 juta orang pecandu rokok. Lebih parahnya lagi di Indonesia ada “baby smoker” (perokok aktif di bawah usia 10 tahun) yang menurut catatan KOMNAS Perlindungan Anak, jumlahnya 239.000 anak. KOMNAS juga mencatat perokok usia 10 – 14 tahun mencapai 1,2 juta anak. Parah kan?

Kecanduan ringan saja sudah tidak asik, apalagi kalau pecandu berat. Pasti Wrong banget!

Kenapa?

Ketika berhubungan dengan pecandu, sadari bahwa kamu tidak akan pernah menjadi prioritas dalam hidupnya. Dia membutuhkan candunya lebih dari pada dirimu. Waktu yang diberikan, pengorbanan yang dilakukan, semua lebih besar untuk candunya itu. Candu adalah segala-galanya.

Cerita tentang kecanduan ringan tapi tetap bikin rusak relasi:

Seorang pria baru saja putus dengan pacarnya. Dia bercerita, “Aku ga sanggup bersaing dengan HP pacarku. Sebentar-bentar, liat HP. Trus telpon maminya, lalu up-date status di socmed, kemudian BBM ama temannya si A, udah gitu ama si B… dari A sampai Z, mana ada waktu buat kami ngobrol?” “Sudahlah cukup! Saya ngalah saja…biar dia pacaran ama HP-nya saja.”

Sekarang, true story kecanduan berat yang merusak relasi dan hidup:

Ini cerita dari seorang wanita, dia sudah menikah sekarang. Sering kali dia menyesali pilihannya dulu. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, dia yakin: perceraian bukan jalan keluar. Sebab itu, sampai hari ini dia masih berjuang supaya sang suami bisa berubah.

Dia gadis yang cantik. Dibesarkan dalam keluarga yang ketat peraturan, namun tiada kedekatan. Waktu remaja, dia ingin sekali merasakan kebebasan. Lepas dari keterikatan peraturan ketat keluarganya. Banyak pria mendekati, tapi pilihannya jatuh pada seorang pria yang hidupnya tanpa aturan.

Menerawang masa-masa pacarannya, dia sangat senang saat bersama pria itu. Mencicipi dunia tanpa batas, bisa bebas mau jadi apa saja, no rules! Sayangnya, pria yang dicintai ini suka berjudi, peminum alkohol, perokok. Teman-teman pergaulannyapun sami mawon, bahkan mencoba candu dan obat-obat terlarang.

Tahu-tahu pacarannya kebablasan, hamil di luar nikah. Akhirnya buru-buru menikah. Mulanya seperti tidak ada masalah, semua bisa diselesaikan dengan perjanjian. Namun apa daya, namanya pergaulan buruk dan dosa yang mengikat, tidak dapat dilepaskan hanya karena cinta, apalagi perjanjian. No rules tetap no rules! Dulu janji ga akan merokok dalam rumah, sekarang merokok di mana saja bahkan di kamar tidur walau ada bayi sekalipun.

Dulu janji akan menjadi ayah yang baik, sekarang, selalu pulang larut malam, kadang pagi. Kalau ditanya kemana…tidak mau menjawab. Jika dipaksa jawab, malah marah atau mengarang cerita bohong.

Harta pun habis. Suaminya tidak bisa dipercaya! Uang yang dikumpulkan dengan susah payah, bukan untuk berusaha, malah dihabiskan bersama teman-temannya. Bangkrut! Sungguh hidup yang seyogyanya penuh sukacita menjadi dukacita derai airmata yang tidak habis-habisnya. Kalau sudah begini, jalan keluarnya ada di mana?

Dari true story ini, saya ingin membagikan kepada muda-mudi untuk berpikir panjang. Sebelum masuk dalam hubungan yang lebih serius, jangan anggap enteng sesuatu yang prinsipil.

Mari berhati-hati, jika berhubungan dengan orang yang kecanduan, karena bikin BT (Bad Temper) dan ESMOSI (lebih parah dari EMOSI, karena susah banget-banget dan tidak tahu harus bagaimana lagi, udah jadi es batu, dingin dan apatis menghadapinya).

Apa saja karakter-karakter pecandu yang bikin orang sekitarnya esmosi?

  1. Denial, Pecandu itu suka denial, tidak mau mengakui apapun perbuatannya.
  2. Ketidaksediaan emosi. Padahal, dalam menjalin hubungan perlu membangun kedekatan emosi. Kita ingin merasa hangat bersamanya, bersukacita dan pengalaman emosi positif lainnya. Orang yang kecanduan baal, perasaannya tumpul (Numb), tidak mampu merasakan. Bagaimana bisa empathy, kalo diajak bicara saja ndak nyambung.
  3. Sukar ditebak. Sangat unpredictable. Berubah-ubah dengan cepat.
  4. Inconsistent. Tidak berpendirian. Hari ini ngomong apa, besok beda lagi.
  5. Tidak bertanggung jawab.
  6. Suka menyalahkan orang.
  7. Suka berbohong untuk menutupi kelakuan dan kecanduannya itu.

Semua karakter ini sebenarnya cara dia untuk menutupi kecanduannya.

Pas pulang, ditanya,”Kamu habis dari rumah temanmu, berjudi lagi ya?” Dia langsung denial, “Tidak!”

“Ini ya, uang untuk bayar cicilan motor!” “OK, nanti saya bayarkan.” Ternyata uangnya dihabiskan untuk biayai kecanduannya. Cicilan motornya? Sudah nunggak 3 bulan.

“Kamu dari mana?” “Habis keliling sekitar rumah.” Padahal baru saja merokok/ngedrug di rumah temannya.”

Kamu ngerti ngga sih tidak boleh begitu?” “Ngerti” Tapi ga ngerti karena ga mau berubah.

Bikin ESMOSI kan? So bagaimana dong?

1. Jika berhubungan dengan pecandu seperti ini, pertama-tama harus dikonfrontasi supaya berubah. “Kalau sungguh-sungguh tetap mau pacaran sama aku, kamu harus benar-benar berubah, karena saya tidak bisa hidup dengan orang seperti kamu.”

2. Jika dia mengaku bahwa dia bermasalah, harus secepatnya dicarikan pertolongan: Konselor profesional maupun pusat rehabilitasi. Karena yang dibutuhkan sebenarnya adalah konselor-konselor ahli, dan bukan kamu.

3. Lihat dan perhatikan apakah ada perubahan yang positif.

Jika tidak ada perubahan, sebagai hamba Tuhan saya tegaskan: Akhiri segera hubungan tersebut! Jangan terus mempertahankan hubunganmu dengan Mr./Ms. Wrong!

 

# 4. Infidelity / Ketidaksetiaan

Amsal 19:22 Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.

 

Kesetiaan jelas sifat yang sangat penting. Hidup dengan seorang yang tidak setia adalah kesengsaraan luar biasa. Karena itu pikirkan 1000X buat melanjutkan hubungan, jika menemukan pasanganmu tidak setia.

Bagi Anda yang mau menikah, silahkan membaca buku “GARAM & TERANG bagi Keluarga” karya Chang Khui Fa. Dalam Bab 6, “Trust between Husband & Wife” disingkapkan jurus-jurus membangun trust (rasa percaya).

Membangun trust seperti membangun rumah. Membangunnya bata demi bata. Orang yang tidak setia, selalu menghancurkan bata-bata yang kita susun. Rumah seperti apa kalau batanya tidak ada?

Membangun trust bukan hanya pada saat menikah, namun sudah dimulai sejak awal memasuki masa pacaran. Buka mata lebar-lebar, apakah dia orang yang dapat dipercaya dan setia?

Ada sebuah kisah yang aneh tapi nyata. Si Budi (nama samaran) merasa dongkol banget. Setelah pacaran dua tahun, eh tiba-tiba pacarnya memutuskan sepihak. Merasa diperlakukan tidak adil, dia pun melapor kepada hamba Tuhan di gerejanya. “…masak main putusin hubungan begitu saja? Sudah dua tahun membina relasi kok dia begitu?” ungkapnya meluap-luap dalam kekesalan.

Setelah ditanya ini-itu, eh si Budi ngaku, “…saya sih memang pernah 2 kali suka dan jadian ama cewek lain semasa masih pacaran ama dia…Tapi kan akhirnya sudah saya putusin, saya juga tetap pilih dia kok. Mengapa sekarang saya yang diputusin? Ga fair kan?”

Pertanyaan saya: Apa yang seharusnya dia sesali? Diputusin sepihak atau dirinya yang bermasalah dengan kesetiaan?

Bagi saya, tepat sekali keputusan sang gadis. Bayangkan, baru dua tahun pacaran saja udah dua kali jadian dengan wanita lain alias “cheating”. Berani menikah dengan pria model begini? Apa yakin, kalau sudah menikah, nantinya dia tidak akan berbuat lagi? Siapa yang bisa jamin?

Liana juga punya kisah tentang infidelity di masa lalu. Kisah ini sambungan dari Dating INSIGHT serial “Ready or Not for Dating: Kerugian Pacaran Dini.” Saya dengan pacar semasa SMA satu sekolah. Di masa itu, kami sering banget konflik, so pacarannya putus-nyambung terus (sebenarnya ini tanda-tanda ketidakcocokan hubungan).

Lulus SMA, masuk universitas yang sama tapi lain fakultas, makanya gedungnya juga beda. Memasuki tahun ke-4 pacaran, karena pisah tempat kuliah dan jam kuliah, maka mulailah kelihatan sikap yang berbeda darinya.

Selama ini saya tahunya dia orang yang posesif dan controling freak. Selalu saja ikut kemanapun saya pergi. Telepon bisa tiap menit, untung dulu belum ada BBM 🙂 kalau saya pergi dengan teman-teman wanita, dia juga ikut. Mau ke mana-mana kudu lapor dan ijin dulu: Boleh atau ndak.

Sampai suatu ketika, saya merasakan dia berubah. Mulai ga ketat controlling-nya, bahkan cenderung menarik diri untuk ketemuan. Mulanya saya bingung, rada kehilangan perhatiannya, … tapi ga masalah sih…lega juga rasanya. Dia jadi sering bilang, “Hari ini ga bisa ke kampusmu ada kuliah tambahan… ga ke rumahmu ya, ada banyak tugas…” Teleponan juga mulai hilang.

Ndak lama kemudian, laporan mulai masuk dari teman-teman saya, “Li, kayaknya cowok loe sudah punya cewe yang lain ya. Saya lihat dia gandengan tangan lho.” Ada juga yang bertanya, “Kamu udah putus ya ama dia? Dia kok udah pacaran lagi?”

Nah…mulai deh saya investigasi. Bertanya langsung tentu bukan jalan yang tepat, karena dia selalu mengelak dan mengatakan tidak. Jadi, saya harus konfrontasi langsung dengan bukti.

Singkat cerita, saya sidak ke kampusnya…eh beneran, saya mendapati dia lagi duduk-duduk dengan pacar barunya itu. Tidak percaya dengan apa yang saya lihat dan dengar, maka saya langsung tanya pacar barunya itu. Saya minta pengakuan merek. Akhirnya, dia ngaku juga.

Sudah deh… akhirnya hubungan saya akhiri. Puji Tuhan! Lebih baik ketahuan selingkuhnya waktu pacaran, kalau tahunya pas sudah menikah, bisa hancur mina hidupku. Infidelity, jelas adalah Mr./Ms. Wrong.

Saya berhasil melewati masa sedih beberapa saat lamanya… nanti akan saya ceritakan dalam serial Dating INSIGHT: After A Break Up, bagaimana saya melaluinya…

Addiction dan Infidelity, berhati-hatilah jika bertemu kedua mahluk ini. Pikir lebih panjang dan minta advis dari teman-teman dekat. Bersandarlah pada-Nya.

Ikuti terus Dating INSIGHT!

Next… on Dating INSIGHT Mr./Ms. Wrong 4: Irresponsibility & Immature

 

Salam tiga jari,

 

 

Ev. Chang Khui Fa & Liana

 

 

 

 

 

1 Comment

One thought on “M3: Addiction & Infidelity

  1. Pingback: Pasangan Tidak Sepadan | Dating INSIGHT

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s