Tag Archive | pernikahan

Menjadi Sepadan dengan Pasangan

Equally Yokes Relationship 5

Kiat  Nyambung dengan Pasangan

Nasum: Bp. Ichwan Chahyadi

Saksikan dating INSIGHT di YouTube Klik di sini

Puji Tuhan jika bisa merasakan jatuh cinta! But, tidak mesti orang yang bikin kamu jatuh cinta itu jadi pacar kamu! Tuhan memberikan panduan yaitu harus yang seiman dan sepadan. Sebaiknya, carilah yang bisa nyambung atau corresponding to himself (tersambung dalam berbagai aspek). Misalnya: ngobrolnya asyik, latar belakangnya tidak terlalu berbeda jauh, kebiasaan-kebiasaan yang mirip, tingkat ekonomi setara, selevel dalam pendidikan… idealnya begitu.

Masalahnya, walau sudah mencari yang tidak beda jauh, toh yang namanya perbedaan di sana-sini masih ada. Kembar sekalipun pasti berlainan. Apalagi dua pribadi dari keluarga yang tidak saling kenal, pastinya menghadapi kesulitan-kesulitan buat nyambung. Ada power struggles yang harus dihadapi supaya pria dan wanita akhirnya konek satu sama lain.

Dalam proses mencari pasangan, anehnya, perbedaan seringkali justru menjadi daya tarik. Kita tertarik dengan seseorang, bukan karena hal-hal yang mirip saja, tapi karena  perbedaannya. Bagaikan dua kutub magnet yang berlawanan, saling tarik-menarik.

Berbeda, mulanya menarik; namun jika kekuatan cinta romantis mulai pudar, perbedaan bisa jadi konflik. “Cara dia membereskan masalah wah…BEDA banget sama saya! Mestinya yang benar, dia ikuti cara saya!” ungkap seorang pria pada satu sesi konseling. Langsung dibantah sang kekasih, ”Itu kan caraku. Aku sudah biasa begini. Apanya yang salah? Kan ga harus melulu ikut cara kamu!” Inilah yang disebut power struggles.

Padahal, masing-masing mempunyai keunikan. Berbicara mengenai perbedaan, bukan soal salah atau benar. Masa-masa power struggles adalah masa krisis yang harus dilewati. Jika berhasil lewat, maka hubungan akan tersambung dengan baik (co-operation). Sebaliknya, jika tidak di-manage, perbedaan-perbedaan akan berakibat pada perpisahan (separation). Sayang kan?!

Seyogyanya, perbedaan jangan sampai memisahkan, tetapi menyatukan. Saling memperlengkapi dan saling memperkaya satu dengan yang lain. Apa yang perlu kita perhatikan, agar proses ini berjalan dengan baik?

Firman Tuhan mengatakan: Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh dipisahkan manusia. Bagaimana kita memandang perbedaan-perbedaan yang ada? Bagaimana mengelola respon kita terhadap perbedaan tersebut? Bagaimana jika seorang isteri berkata, “Waduh! Saya dengan suami mah sudah kayak langit dan bumi! Sudah ga bisa nyambung lagi rasanya!”

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang rindu menaati Firman Tuhan. Dalam konteks dating atau pacaran, jika perbedaan terlampau jauh, ada baiknya meninjau ulang hubungan itu. Hubungan dua insan seyogyanya menumbuhkan dan bukan membebani. Jika terlalu beda, kamu akan banyak bergulat untuk perkara-perkara yang tidak seharusnya ada. Bukankah lebih baik memilih seseorang yang bersamanya, kamu bisa menjadi rekan sekerja Allah di dunia? Cari tahu, apakah dia merupakan kehendak Allah untukmu. Silahkan baca lebih jelasnya dalam serial God’s Will in Dating.

Jika sudah menikah, pastinya tidak ada lagi tinjauan ulang! Yang harus dilakukan bersama adalah berjuang mempertahankan pernikahan seumur hidup. Demi cinta kita pada Tuhan, terus berusaha mentaati perintah-Nya. Tidak ada jalan lain. Nah…kiat-kiat apa saja supaya sepasang kekasih senantiasa nyambung?

Melihat Positifnya

Pada umumnya, perbedaan menjadi keributan karena ada pihak yang merasa dirinya benar; otomatis pihak lainnya jadi pihak yang salah, jadinya memandang negatif orang-orang yang berbeda dengannya.

Misalkan ada pasangan dengan dua kepribadian yang berbeda. Yang cewek, senang di rumah berinteraksi dengan keluarga; sedang cowoknya begitu energik, senang ketemu orang, suka berpetualang, sosialisasinya tinggi.

Si Cowok jika melihatnya negatif, maka dia akan mencap pasangannya sebagai orang yang tidak gaul, ”Ah, kamu mah kuper, maunya di rumah terus.” Di sisi lain, ceweknya dengan kesal berkata,”Apa? Kamu tuh orangnya tidak pedulian, maunya main terus, jalan-jalan, sama teman mulu.”

Sebenarnya, tidak perlu dicari siapa yang salah, siapa yang benar. Ini adalah perbedaan personality.

Untuk mengatasi perbedaan, kita harus mencoba melihat sisi positif dari tiap personality.

Orang yang senang di rumah, positifnya memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga dan memperhatikan anggota keluarga. Orang yang senang di luar, memiliki pandangan/ wawasan yang luas juga kemampuan adaptasi yang tinggi.

Pak Ichwan sudah berkeluarga selama 18 tahun. Isterinya seseorang yang sangat terorganisir. Jika menyimpan baju dalam lemari, ditata sedemikian hingga tiap barisnya rapi sekali. Sebaliknya, Pak Ichwan orang yang sangat fleksibel, boleh dikata cenderung berantakan.

Pada awal pernikahan, hal ini selalu jadi masalah. Kalau melihat dari sisi negatif, maka sang isteri akan memandang Pak Ichwan, suaminya adalah orang yang berantakan, sembrono.  Sedangkan, Pak Ichwan melihat isterinya sebagai seseorang yang kaku dan terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil.

Namun, seiring lewatnya tahun-tahun pernikahan, masing-masing belajar melihat perbedaan secara lebih positif.  “Oh, ternyata orang yang berantakan itu orang yang fleksible, mudah beradaptasi, juga gampang gaul” demikian sang isteri memahami dan menerima suaminya. Pak Ichwan pun di sisi lain belajar untuk menghargai pribadi isteri dengan mencoba menyimpan lebih rapi dan terstruktur.

Dalam buku GARAM & TERANG bagi Keluarga, ada satu bab khusus yang membahas “Adaptability dan Flexibility”.  Kenapa saya (Chang Khui Fa) menuliskan bab ini?

Ketika pacaran, tahun demi tahun yang dilalui, tidak terlalu terasa beda. Lain dengan  pernikahan. Tahun demi tahun, perbedaan terasa signifikan. Hidup kian kompleks. Tahun pertama berusaha mengadaptasikan diri dengan pasangan, lingkungan dan situasi. Belum juga nyaman, tahu-tahu anak lahir di tahun kedua. Memasuki tahun ketiga, anak ke dua hadir. Belum lagi ditambah konteks karir yang meningkat, pekerjaan makin banyak, kebutuhan keuangan bertambah dan lain-lain. Butuh sekali keahlian beradaptasi dan fleksibel, supaya hidup kita tidak mudah patah atau hancur. Hanya orang-orang yang memiliki daya adaptasi, yang dapat memenangkan perjalanan hidup ini.

Tuhan Allah sangat adil. Tidak mungkin Dia menciptakan seseorang yang semuanya baik, dan yang lain semuanya buruk.  Setiap orang mempunyai kekuatan dan kelemahan. Yang lemah yang dimiliki pasangan, harus dipandang positif. Kelemahannya, ditopang dengan kekuatan kita. Sungguh indah jika dua insan yang saling mencinta terus mengkombinasikan kekuatan dan saling melengkapi.

Kita harus belajar mengenali dan mengerti seperti apa kepribadian kita, juga pasangan. Apa kelebihan dan kekurangan diri, dan pasangan. Tuntutan yang melampaui kemampuan, akan membuat hubungan menjadi teramat berat untuk diteruskan.

Mari kita lihat contoh lain: Robbie, orangnya sangat berhati-hati dalam bicara. Dia merasa perlu menjaga perasaan lawan bicara. Ketika ditanya,”Bagaimana penampilanku, bagus atau tidak?” Robbie akan menjawab,”Lumayan!” Jawabannya tidak menyakiti hati, tapi membuat kita lumayan bingung pula untuk mengerti apa maksudnya.

Ada lagi Lisa. Dia tipe orang yang blak-blakan. Ceplas-ceplos. Cablak istilahnya. Kalau jelek, langsung aja, komentarnya, “Ih…jelek amat. Asli gua nggak suka!”

Ketika dua orang dengan kepribadian yang berbeda seperti ini bersatu, pasti akan timbul konflik. Robbie, sebagai orang yang halus, merasa hatinya terus teriris dengan perkataan pasangannya yang dinilai terlalu kasar, terlalu gamblang, tidak mikirin perasaan orang. Sementara Lisa, sulit sekali mengerti keinginan pasangannya. “Robbie bicaranya ga jelas apa maunya, dan gampang tersinggung.” Lisa bingung bagaimana cara berkomunikasi yang tidak menyakitkan pasangannya.

Bagaimana melihat positifnya pasangan?

Mengubah paradigma negatif menjadi positif. Kelebihan orang dengan tipe seperti Robbie adalah lebih mudah menjaga hubungan baik/ relasi dengan sesamanya. Tipe Lisa, adalah orang yang apa adanya. Mudah dikenali karena jelas, apa keinginannya, seperti apa maunya, apa yang dia suka atau tidak: jujur, terus-terang, tidak bermuka dua dan terbuka.

Dalam suatu hubungan, kita harus bijak. Ada kalanya, harus bicara terang-terangan; namun juga kadang kala perlu menjaga perasaan seseorang.

Pasangan yang dapat menghargai dan menerima keberadaannya masing-masing, berpotensi menjadi partner yang kuat. Orang yang pandai bicaranya, menjalin dan membina relasi; yang ceplas-ceplos, sangat baik jika harus membuat suatu keputusan dengan cepat.

Kebudayaan atau culture di mana seseorang tinggal pun akan mempengaruhi gaya bicara seseorang. Orang Jakarta biasanya kalau bicara lebih ceplas-ceplos/ jebrat-jebret (straight to the point), sementara orang Bandung biasa saat bicara lebih menjaga perasan, lebih santun. Jadi, jika kita berelasi dengan seseorang yang kebudayaannya berbeda jauh, pasti usaha-usaha adaptasi yang harus diperjuangkan semakin besar.

Langkah-langkah Nyambung dengan Pasangan:

  1. To Know (Mengetahui) Saat kami hendak memasuki penikahan, saya dan Liana menyempatkan diri ikut konseling. Kami menemui konselor penikahan yang ahli dan dapat dipercaya, memiliki kerohanian dan pandangan teologis yang benar. Beliau dapat mengungkapkan hal-hal yang kami tidak lihat, menyingkapkan potensi-potensi konflik yang mungkin timbul dalam pernikahan kami. Lalu bertanya, apakah kami siap menghadapinya?  Namanya cinta, ya…siap saja! Apapun bisa kami hadapi! Konseling membukakan kami banyak hal, supaya kami memasuki menikah tidak dengan mata tertutup. Kami mengerti bahwa pernikahan bukan seperti film-film dongeng yang always happy ending! Pernikahan is the beginning to the very hard process. Makanya ada yang bilang: Marriage is a never ending school. Mengetahui bahwa kita berlainan. Mengenali apa saja perbedaannya. Kita perlu melihat perbedaan, bukan sebagai salah atau benar. Belajar menggali hal positif dari perbedaan yang dimiliki masing-masing pribadi.
  2. To Understand (Mengerti)Tujuan dari mengerti adalah dapat menerimanya dengan sepenuh hati. Seringkali proses ini dilewati (di-skip)  dari tahap “to know”,  langsung “to accept. Inilah penyebab terjadinya “helplessness” atau ketidak berdayaan dalam pernikahan. Seorang ibu berkata, ”Dia bebal, ngak akan pernah bisa berubah. Udah dari sononya seperti itu. Capek aku. Udah dikasih tau berkali-kali, selalu gagal. Ya sudahlah!”  Pernikahan jadi berat sekali, karena kita terus berusaha menerima, tanpa mengerti dan berusaha memahami.Tidak cukup berhenti hanya tahu saja: Owh, saya tahu: Saya dan kamu beda. Saya begini, Kamu begitu. Tidak berhenti di sana, kita harus belajar untuk mengerti. Mengapa dia berpikir, berlaku, berbicara, merespon seperti itu? Mencoba memahami pasangan jelas proses yang cukup lama, dan memerlukan keterbukaan dari kedua pasangan.
  3. To Accept (Menerima) Setelah mengerti, barulah menerima. Mencoba menerima dirinya seutuhnya, termasuk kelemahannya. Cinta sejati menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
  4. To Appreciate (Menghargai) Setelah tahapan ke satu sampai ke tiga dijalani, barulah bisa memasuki tahapan ke empat. Saling menghargai. Tidak meremehkan ataupun menghina akan perbedaan-perbedaan yang hadir.
  5. To Celebrate (Merayakan) Merayakan perbedaan-perbedaan yang ada. Jika sudah tahap ini, pastilah perjalanan dua insan menjadi sangat menyenangkan! Ku tak bisa hidup tanpamu! Ada mutuality, kesalingan yang tak terpisahkan.

Nyambung dengan pasangan merupakan hal yang sangat menyenangkan. Pernikahan hanya sekali seumur hidup. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia (Pengkotbah 9: 9)

Ev. Chang Khui Fa & Liana

Jatuh Cinta, Keintiman, Komitmen

True Love 2
Jatuh Cinta, Keintiman, dan Komitmen

Nonton Dating INSIGHT via YouTube Klik di sini ya

Cinta mempunyai tiga unsur. Biasanya disebut The Triangle of Love. Bentuknya segitiga sama sisi. Sisi kanan adalah Passion, sisi kiri Intimacy, sisi bawah yang mendatar adalah Commitment.

PASSION
Apa sih Passion? Passion adalah perasaan yang sangat kuat. Perasaan kuat seperti apa?

Dalam arti umum, misalnya: Seseorang yang mencintai lukisan, maka perasaan yang kuat itu akan mendorongnya untuk mencari dan mengejar lukisan kemana pun. Jika uangnya banyak, pasti lukisan itu dibeli. Dipajang di rumah, supaya dapat ditatap setiap hari.
Passion lainnya, passion menolong sesama. Banyak orang mendirikan lembaga supaya lembaga tersebut dapat bergerak untuk menyalurkan passionnya itu. Lembaga untuk lingkungan hidup, lembaga menolong orang-orang yang marginal, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, lembaga bantuan hukum dll.
Saya pribadi punya passion: Memberikan edukasi, mengadakan ceramah, melakukan bimbingan kepada banyak orang, supaya mereka dapat mempertahankan dan menikmati pernikahan seumur hidup.
Pernikahan yang kuat dimulai dari pemilihan pasangan yang tepat dan kemampuan membina relasi. Dibentuknya sejak masa pacaran. Karena itu, saya dan isteri tercinta, Liana, secara khusus mendalami topik-topik penting dalam dating. Passion kami, Siaran Dating INSIGHT menjadi referensi jawaban buat pergumulan muda-mudi di masa pacaran dan pranikah.
Secara khusus, passion berarti perasaan yang kuat terhadap lawan jenis. Bahasa Yunaninya “Eros”. Maksudnya, seksual desire/ketertarikan seksual. Ada ketertarikan fisikal. Waktu melihat seseorang, tiba-tiba muncul getaran dalam hati. Dag dig dug dueeer! Telapak tangan jadi dingin, ada debaran jantung yang tak beraturan karena adrenalin yang berpacu. Seperti lagu jadulnya Titik Puspa “Jatuh Cinta…. berjuta rasanya….!” (silahkan nyanyi rame-rame)

Alkitab menuliskan dalam Kidung Agung 8:6b-7a,“Karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.”
Passion ini sangat menggebu-gebu, boombastis, dahsyat, hebat, dan kuat! Namun, walau perasaannya begitu dahsyat, belum berarti cinta sejati. Ko gitu? Ya Iyalah…yang namanya perasaan kan gampang berubah dan sifatnya sebentar saja.

Seorang cowok yang jatuh cinta banget pada seorang gadis. Saking cintanya, dia mau melakukan apapun demi menyenangkan sang kekasih hati. Demikian pula sebaliknya. Tapi, seiring berjalannya waktu, perasaan kan pasti jadi biasa-biasa saja. Masak ketemu kekasih girang selalu? Setelah sekian lamanya melayang di awan, ada waktunya kembali berpijak di bumi!
Saat berpijak di bumi, getaran-getaran dalam hati mulai stabil, hormon adrenalinpun tidak terpicu seperti semula, ga ada kegirangan yang melonjak-lonjak. Saat perasaan cinta hilang, cinta yang sejati sesungguhnya baru dimulai…jatuhcinta Continue reading

Mr./Ms. Wrong: Tidak Seiman dan Abusive

Mr./Ms. Wrong 2: Tidak Seiman dan Abusive

Yuk nonton Dating INSIGHT di YouTube, KLIK aja di sini.

Bagaimana mendeteksi si dia Mr./Ms. Wrong atau bukan?

Gawat! Kalo ternyata dia WRONG …bisa-bisa SENGSARA seumur hidup.

Mari deteksi sejak dini, sebelum hati terpincut. Bagaimana? Ada loh tanda-tandanya…

Ibarat lampu lalu lintas: ada merah, kuning dan hijau. Kalo lampunya hijau berarti aman, jalan terus; tapi bagaimana jika lampu beralih dari kuning menuju merah? Itu pertanda untuk berhati-hati dan siap-siap STOP! Jangan malahan nge-gas dong. Begitupun kalo si dia udah menunjukkan tanda-tanda Mr./Ms Wrong, siap-siap berhentikan saja hubungan itu.

Seperti apa tanda Mr./Ms. Wrong?

 

mr wrong 2: Tidak seiman dan Penganiaya Continue reading

Dating Me Out

Dating Insight

Asking Someone Out 4 – Dating Me Out

23 Juni 2014

Nonton Dating Insight via Youtube yuk, KLIK aja di sini

Efesus 2: 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Bicara asking someone out, biasanya secara aktif dilakukan para pria. Bagaimana jika seorang wanita yang bergumul tentang tema ini? Pastinya, ada tahapan-tahapan di mana Tuhan ikut campur tangan di dalamnya.

Kali ini, Ibu Ev. Lily Efferin membagikan kisahnya. Sampai saat ini, beliau telah 29 tahun mengarungi mahligai pernikahan. Sudah melewati pernikahan perak. Bersama suaminya Bapak Pdt. Henry Efferin, mereka dipakai Tuhan luar biasa melayani dan memberkati banyak orang dan keluarga. Tentunya hal yang dinikmati hari ini tidak lepas dari pergumulan masa lalu. Bagaimana menemukan orang yang tepat dan menjadi pasangan yang sepadan? Yuk kita ikuti kisah Ibu gembala dalam pergumulannya menemukan “si dia.”

Begini kisahnya:

Seperti yang ditulis dalam Efesus 2:10, saya percaya dan memiliki kesadaran bahwa tangan Tuhan ikut bekerja menyiapkan pekerjaan baik dalam hidup saya. Tuhan mau kita hidup di dalamnya, termasuk perjalanan mencari dan menentukan pasangan hidup. Sejak muda, saya sudah merasakan begitu besar kasih dan anugrah Tuhan. Saya dapat mendengar kebenaran Firman Tuhan dan mengenal Tuhan. Saya yakin Tuhan memiliki rancangan indah atas hidup saya.

Sebagai wanita, saya percaya Tuhan menciptakan saya untuk seseorang. Walau demikian saya harus menyimpannya dalam hati. Kenapa? Karena setelah lulus SMA, saya masuk sekolah Alkitab. Saya masih ingat Pendeta berpesan, ”Ingat ya, kamu harus fokus pada sekolah, tidak boleh pacaran!” Dalam sekolah seminari, peraturan sangat ketat. Apalagi kalau ketahuan pacaran, pasti langsung dilayangkan Surat Peringatan (SP) 1, SP 2, terakhir SP 3, dan langsung dikeluarkan dari sekolah. Tiap kali liburan dan pulang ke rumah, orang tua suka bertanya, ”Sudah punya pacar belum?” Sebaliknya, pendeta terus mengingatkan, ”Tidak pacaran kan?”

my one

Dalam perjalanan itu, saya menyadari beberapa hal penting yang berkaitan dengan dating. Saya singkat jadi 5 K:

Continue reading

Cara ngobrol Asyik dengan si dia

Dating INSIGHT: Asking Someone Out 3

Komunikasi Jitu Buat Ngajak Si ‘Dia’ Nge-Date

 

Nonton YouTube Dating INSIGHT silahkan KLIK di sini

Wow si dia membuatku jatuh cinta! Tapi…bagaimana cara memberitahu dia?

Komunikasi sangat penting, seperti nafas dalam hidup. Tidak berkomunikasi, pelan-pelan pasti menuju kematian relasi. Demikian pula cara bicara yang tidak tepat,bukan membuat tambah dekat,malah bikin hubungan jadi renggang. Bayangkan kalau bernafas dalam gas beracun, alih-alih makin sehat malah membunuh. Setiap kali ngomong, langsung melukai.

Dalam masa pendekatan, jangan sampai komunikasi berhasil hanya satu kali. Lain waktu ngajak dia jalan lagi, eh eh eh…langsung ditolak. Ga mau begitu kan?

Nah, seperti apa komunikasi yang jitu dan pastinya membuat dia tambah lekat?

Mari renungkan dulu Firman Tuhan dari Kidung Agung 2: 11-14

Kekasihku mulai berbicara kepadaku: “Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!”

So romantic

Apa sih yang dibicarakan oleh sang kekasih?

“Marilah…Lihatlah…” Kata mari dan lihat merupakan ajakan. Melihat bersama-sama, berdua menikmati keindahan sekitar. Mereka membicarakan objek dalam konteks jaman itu: memandang ladang dengan bunga warna-warni, mendengarkan keceriaan kicauan burung, menghirup wewangian buah demi membangkitkan semua indra dalam tubuh untuk bersuka cita bersama.

Dalam kata-katanya tersirat perhatian. Dia memberikan pujian. “manisku…jelitaku …merdu suaramu dan elok wajahmu!”

Jaman telah berubah, tapi emosi cinta yang dirasakan penulis Kidung Agung masih dapat dirasakan oleh kita yang hidup pada zaman ini. Objek keindahannya saja yang berubah.

Bagaimana supaya komunikasi yang dilancarkan memiliki kuasa mengikat dua insan? Mari kita kupas bersama.

Ada tiga pola komunikasi yang sering dipakai. Dua yang pertama tidak bagus. Jika Anda menggunakannya, hati-hati! Dapat merusak relasi. Cepatlah sadar dan mengubah pola yang buruk…

heart to heart

1. Pola pertama: I and I (percakapan saya dengan saya)

Continue reading

Asking Someone Out: Apa sih kesulitannya?

Dating INSIGHT A2

Asking Someone Out: Apa Kesulitannya?

Nonton dan Subscribe Dating INSIGHT Channel via YouTube Silahkan KLIK di sini.

Amsal 30: 18-19 Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.

Amsal 30

Apa yang membuat penulis Amsal heran? Jalan rajawali di udara. Aneh, mengapa rajawali tidak mengepakkan sayapnya sewaktu terbang di udara? Berbeda dengan burung-burung lain yang harus terus mengepakkan sayapnya supaya bisa terbang.

Bagaimana ular dapat berjalan di atas cadas tanpa kaki? Kadal saja mempunyai kaki untuk mencengkram kuat cadas tersebut.

Lalu, coba lihatlah kapal di tengah-tengah laut! Pada masa itu belum ada mesin untuk menggerakkan kapal. Bagaimana kapal bisa tiba di tempat tujuan? Angin bertiup dengan arah yang berubah-ubah. Saat angin tidak berpihak, kok tetap kapal itu dapat bergerak ke arah yang diinginkan?

Dari semua yang mengherankan itu, ada satu lagi. Bahkan dituliskan “tidak kumengerti” yaitu jalannya seorang laki-laki dengan seorang gadis.

Bayangkan seorang anak laki-laki kecil. Dia bermain dengan gadis-gadis cilik di lingkungan rumahnya. Semasa sekolah bertemu dan bergaul dengan banyak teman wanita. Tidak ada perasaan apa-apa. Tetapi kenapa…setelah dewasa, di antara sekian banyak wanita yang ditemui, tiba-tiba timbul perasaan suka hanya untuk seorang gadis saja? Bahkan perasaan itu bisa berkembang menjadi komitmen seumur hidup, untuk mencintai dan setia hanya pada seorang itu saja. Memang ini adalah misteri.

Bagaimana jika hal ini terjadi pada diri Anda? Wah, rasanya aku jatuh cinta! Ingin sekali berdua saja bersamanya, tapi gimana ngajaknya?

Asking someone out sangat berbeda dengan asking friends out.

Someone berarti si dia satu-satunya (the one and only), sedangkan friends ya rame-rame. Di masa pemuda, kami sering pergi bersama teman-teman. Kala pergantian tahun, pernah ada sebuah gereja mengadakan kebaktian tahun baru jam 8 pagi. Saya mengajak teman-teman, “Yuk kita datang kebaktian ke situ!” Beberapa teman yang diajak bilang, ”Waduh! Aku gak bisa bangun!” Karena memang semalaman kami begadang merayakan pergantian tahun.

Tapi walau ada satu atau dua orang teman yang menolak, saya tetap semangat. Karena beberapa teman confirm mau ikutan. Kami tag-in deh bangku buat teman-teman, sampai akhirnya sebaris penuh semua.

Kalau asking friends out dan ditolak pasti tidak masalah. Toh, masih segudang teman lainnya.

Asking someone out sangat berbeda. Kenapa? Takut ditolak! Kalau sampai ditolak…Acara batal! Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan dirinya. Sedihnya…bisa sampai gigit jari dan menyesal 7 turunan!

Continue reading

Jadi…kapan saya boleh pacaran?

Ready or Not for Dating

# Kapan waktu yang tepat buat nge-date? Jangan terlalu cepat atau terlambat!

Spiritual Age. Kematangan Rohani.

Nonton via YouTube silahkan KLIK di sini 🙂

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya,” ucap Raja Salomo (Pengkhotbah 3:1).

Kita sudah sampai di akhir pembahasan Ready or Not for Dating. Kapan waktu yang terbaik untuk memasuki masa pacaran? Sangat tergantung dari kematangan seseorang. Nah, penutup dari serial ini adalah pembahasan tentang spiritual age atau kematangan rohani.

Spiritual Age merupakan kematangan terpenting dan sangat memengaruhi ke-tiga kematangan sebelumnya: kematangan intelektual, kematangan sosial dan kematangan emosi. Sungguh indah jika Anda mendapatkan seorang kekasih yang sudah matang secara rohani! Atau sembari membaca artikel ini, mari kita merefleksikan hidup dihadapan Tuhan, apakah saya sudah matang secara rohani?

 

Bagaimana mengukur kematangan rohani seseorang?

Kematangan rohani diukur dari hubungannya dengan Tuhan. Dapat dikatakan sebagai Identitas Rohani (Spiritual ID).

Di mata Tuhan hanya ada dua jenis orang:

Pertama, orang yang tidak mengalami keselamatan dari Tuhan Yesus.

Kedua, orang yang mengalami penebusan Tuhan Yesus sehingga seluruh dirinya diperbaiki, diperbaharui dan dipulihkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Orang dunia yang tidak mengenal Kristus memiliki aturan dan nilai-nilai menurut dirinya sendiri saja. Mereka mengikuti keinginan daging. Dalam hatinya berkata: Okey banget punya satu pacar, dan sah-sah saja SATU lagi sebagai cadangan. Mobil aja ada ban serep, masa aku ga punya serep?” Yang lain berkata: ”Okey saja saya berselingkuh, asal ga ketahuan. Tidak apa-apa kok.”

Hanya orang yang telah ditebus Kristus yang memiliki Identitas Rohani yang baru. Ditandai dengan hadirnya Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus berkarya dan berdiam dalam diri orang yang menerima Kristus dan membersihkan hatinya dari dosa dan memperbaharui seluruh dimensi kehidupan. Cara berpikir, respon emosi dan cara berelasinya diurapi Tuhan, sehingga kehidupannya berbuah lebat dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Spiritual ID sangat menentukan bagaimana seseorang menghadapi realita kehidupan. Menentukan values (nilai–nilai) yang harus dipegang misalnya:

Apakah boleh melakukan hubungan seks di luar nikah? So pasti saya ga boleh melakukan karena Tuhan melarang dan memandangnya sebagai perzinahan.

Apakah boleh selingkuh sekali-sekali asal ga ketahuan? Walau ga ketahuan, saya tahu mata Tuhan memandang seluruh bumi, tidak ada satupun yang luput dari-Nya. Maka, saya tidak akan melakukan hal tersebut karena saya takut akan Tuhan.

Jelas, orang yang telah menerima keselamatan seyogyanya mengikuti apa yang Tuhan mau, menuruti aturan dan nilai-nilai yang Tuhan tetapkan. Perjuangan anak-anak Tuhan sepanjang umurnya adalah dengan terus hidup di bawah kehendak Tuhan yang mulia. Karena, apa yang Tuhan rancang adalah yang terbaik bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

Apa saja ciri Kematangan Rohani? Continue reading