Tag Archive | pacaran kristen

R2: Say No To Premarital Sex, Why?

Respecting Your Date Say No to Premarital Sex: Why?

Dampak Seks Pranikah dalam kehidupan

Masa-masa pacaran adalah masa yang tak terlupakan, penuh memori sukacita! Terbersit kenangan indah kala itu, membuat saya (Liana) sering senyam-senyum sendiri, adrenalin terpacu, semangat kembali mengalir. Perasaan kangen menyelimuti seluruh pikiran dan perasaan. Kalo saat itu lagi terpisah dengan Pak Khui Fa, langsung deh buru-buru angkat telepon. Mendengar suaranya saja, seperti meneguk segelas air segar, menghilangkan dahaga rindu yang mendera.

Bayangkan, andaikata dulu di masa-masa pacaran, ada batasan-batasan yang kami langgar, pastilah ternoda memori-memori indah itu. Apa batasan-batasan yang harus dijaga dalam masa pacaran agar memori indah itu tidak tercemar?

Inilah Firman Tuhan yang menjadi panduan: Ibrani 13:4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Salah satu tujuan pacaran adalah mendukung pasangan untuk bertumbuh. Bertumbuh kepribadian, juga kerohaniannya. Kerohanian erat hubungannya dengan Tuhan. Dari Firman-Nya, kita tahu bahwa Tuhan akan menghakimi orang-orang sundal dan pezinah. Pelanggaran terhadap Firman-Nya, bikin hati nurani menderita, serta malu berhadapan dengan Tuhan. Karenanya, janganlah karena tidak mampu menguasai diri dalam perkara seksual, akhirnya malah menjerat diri kita dan pasangan. Taat kepada Firman Tuhan, rindu menjaga kekudusan, memberikan yang terbaik bagi sang kekasih, harus ditempatkan lebih utama daripada keinginan pribadi untuk mendapatkan keuntungan dari hubungan di masa pacaran.

Banyak pria berkata pada kekasihnya, “Kalau kamu sungguh-sungguh mencintaiku, buktikan dong!” (buktikan dengan rela melakukan hubungan intim). Jangan tertipu dengan kata-kata semacam ini. BAHAYA! Pasti “Evil”. Jawab saja, “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan meminta hal yang merugikan saya!” Cinta berarti menghargai kekasih sebagai pribadi seutuhnya dengan turut menjaga kekudusannya. Continue reading

Respecting Your Date: Arah ketertarikan Seksual

Respecting Your Date 1

Friendship – Dating – Married

Dating INSIGHT Live @YouTube. Kilk link ini ya

Ibrani 13:4  Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Bagaimana sih proses sebuah hubungan itu terjalin?

Zaman dahulu kala, hubungan dua insan terjalin karena hasil penjodohan orang tua. Cowok- cewek, ga pernah kenal, tahu-tahu disuruh kawin oleh papa mamanya. Boro-boro pacaran, temenan aja ga pernah, eh sontak mesti nikah. Terpaksa deh menerima.

Sekarang, sudah bebas, tidak lagi seperti jaman dulu. Di masa kini, pria dan wanita mengikat hubungan karena saling tertarik. Mulanya biasa saja. Lama-lama kenal, eh jatuh cinta. Cinta yang  romantis dan bikin panas dingin.

Setiap manusia berhak jatuh cinta, boleh memilih dan menentukan pasangannya sendiri. Mereka akan bersama-sama mengarungi kehidupan yang panjang di dunia. Sungguh anugrah besar! Kita patut bersyukur. Saya sendiri (Liana) membayangkan betapa menakutkan rasanya, jika harus menjalani pernikahan seumur hidup dengan orang yang saya tidak sukai.

Bicara soal cinta, pasti kebayang yang indah-indah. Seru. Asyik. WOW gitu… namun waspada deh, karena nyatanya banyak juga yang kecewa karena cinta. Bukan kecewa aja lho, tapi ada juga yang hidupnya hancur berantakan karena cinta.

Dalam buku “GARAM & TERANG for Youth” ada satu bab khusus mengupas akan cinta. Bab 3 “Romance in Fire!”  Baca deh bukunya.

Jatuh cinta adalah karunia Tuhan. Berbahagialah jika dapat merasakan jatuh cinta; apalagi kalau cintanya bersambut. Kan perlu dua orang untuk saling mencintai. Cinta itu sesuatu yang  teramat indah, agung dan mulia. Kalau udah cinta, tidak akan ada yang bisa memisahkan. Ada keinginan untuk selalu bersama, saling berkorban, saling membela, ada kesalingan. Kekuatannya sangat dahsyat. Cinta kuat seperti maut. Ditambah Firman Tuhan menyatakan, “Apa yang dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Jelas, ini adalah meterai yang Tuhan berikan untuk jaminan cinta. Cinta diikat seumur hidup.

Senang banget lho, mengetahui bahwa Tuhan sendiri yang menggariskan dan meneguhkan hal ini. Bayangkan, dia yang kucinta dan mencintaiku akan menemaniku seumur hidup. Ciee… asyik kan! Dalam hidup yang sementara ini, kita diijinkan mencicipi kebersatuan, sampai maut memisahkan! Bersamanya, berkarya, melayani Tuhan sang pencipta, memberkati dunia ini. Sungguh luar biasa, Amazing rancangan Tuhan bagi manusia.

Kalo cinta begitu amazing, lantas apa yang perlu diwaspadai?

Dalam Kidung Agung 8:6, melukiskan cinta seperti nyala api, bahkan seperti nyala api Tuhan! Anak muda harus pandai-pandai mengendalikan api cinta yang membara itu. Jika tidak bisa menguasainya, sangat berbahaya! Api, jika terkendali, amat bermanfaat; tapi jika tidak bisa menguasainya, api kecil lama-lama jadi bahaya besar! Bikin kebakaran! Pohon-pohon yang indah di hutan, semua dilalap. Binatang-binatang yang berteduh kabur semua.  Asap pekatnya masuk ke rumah-rumah penduduk, membawa racun dalam gas, menjadi biang kerok ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Jangan bermain api! Jangan mencemarkan tempat tidur! Sudah terlalu banyak kasus MBA (Married By Accident). Walhasil, buru-buru menikah karena hamil di luar nikah.

Tidak boleh berasumsi, asal udah Kristen pasti aman, ga bakalan deh jatuh dalam dosa seksual, apalagi melakukan hubungan seks di luar nikah. Nyatanya, ndak tuh… banyak anak muda yang ga kuat imannya.

Menurut data yang diambil tahun 2011 di USA dari CNN Believe Article, 80% orang Kristen yang berumur 18 sampai 29 tahun (usia pemuda-pemudi), mengatakan bahwa mereka telah melakukan pre-marital seksual.

Data lainnya, di tahun 2012: Mereka yang melakukan aborsi ternyata 30% nya orang-orang Kristen. Ada lagi 56% yang mengaku Kristen berkata, “Tidak apa-apa tinggal bersama, jika sudah berpacaran lebih dari 6 bulan.” Semua ini jelas melanggar firman Tuhan. Kita patut merasa sedih, prihatin dan seyogyanya tidak ikut-ikutan.

Jadi, bagaimana? Garis batas yang tegas sesuai firman Tuhan haruslah tetap ditegakkan, jika kita meminta Tuhan memberkati masa-masa pacaran, tapi melanggar firman-Nya…mana mungkin kita mengalami penyertaan-Nya?

Karena itu, mari kita mencoba memahami lebih utuh akan arah ketertarikan seksual, supaya di masa-masa pacaran tidak sampai jatuh dalam dosa seksual.

Manusia diciptakan sebagai sexual being. Ada gender cowok; ada cewek. Sangat normal, jika seorang pria tertarik kepada wanita, demikian sebaliknya. Dalam ketertarikan itu, pastinya ada unsur seksual.

Perhatikan ada tiga (3) Zone dalam arah ketertarikan seksual:

  1. Zone Persahabatan

Anak-anak muda biasanya senang sekali ngumpul bareng teman-teman sebayanya. Mereka punya grup. Nonton bareng-bareng, minum kopi di cafe rame-rame, ketemu just buat ngobrol-ngobrol, kongkow-kongkow ga bertujuan. Pokoknya, asal bisa ngumpul sudah senang banget. Semuanya teman biasa. Teman se-grup. Masih dalam Friendzone.

Dari teman biasa, jika ditambahkan rasa percaya pasti jadi sahabat (teman dekat). Kalau timbul rasa percaya, setiap ingin bicara perkara penting, pasti nyarinya dia terus buat teman curhat. Kita percaya, kalau dia bisa mengerti pergumulan kita dan tidak akan menceritakannya pada orang lain.

Sahabat boleh sama-sama cowok atau sama-sama cewek. Berbeda jenis kelamin juga boleh. Tapi perhatikan, jika beda gender, kedekatan ini mudah sekali ditunggangi perasaan tertarik. Biasanya, tidak ada tuh persahabatan antara pria-wanita untuk selamanya.

Dalam relasi pria-wanita yang saling tertarik, pasti akan masuk unsur fisik. Unsur fisik misalnya keinginan menggandeng tangannya, membelai rambutnya, merangkul, sampai memeluk. Kalau unsur fisik masuk, inilah tandanya persahabatan sudah berubah menjadi hubungan cinta.

Ada seorang gadis bernama Nita. Dia punya seorang sahabat pria yang sudah dekat sekali. Walau dekat, tetap ga jelas statusnya: Apakah pacar atau bukan? Karena si pria tidak pernah menyatakan cinta…Nita bingung, rasa-rasanya mungkin sudah jadian karena cowok ini sangat perhatian. Nita juga sudah digandeng kalo lagi pergi jalan-jalan, pernah dibelai, dan Nita mau saja. Walhasil, Nita merasa “jatuh cinta” pada sahabatnya ini.

Tiba-tiba, suatu hari, si cowok curhat bahwa ada seorang gadis namanya Dewi yang dia lagi taksir. Menanyakan, apa yang harus diperbuat supaya bisa mendapatkan Dewi. Tinggal sekarang, Nita kebingungan akan perasaannya. Serba salah! Cowok itu sahabatnya, tapi sudah memperlakukannya seperti pacar,…eh malah mau jadian sama cewek lain. So, harus bagaimana? Kalo ngomong jujur, takut dibilang ke “G-R an.” Kalo diam, tambah sakit hati. Berlagak tulus membantu si cowok dapatin cewek lain, tidak sanggup. Aduh sakitnya! Sakitnya itu disini! (sambil nunjuk dada)

Maka, sebelum terjadi seperti kasus Nita, pahami batasannya. Jika persahabatan sudah ditambahkan unsur rasa tertarik dan keinginan fisik, seharusnyalah stop tahap sahabat dan berani move on ke tahapan berikutnya.

Bagi wanita, jangan mau digandeng, dibelai, dirangkul oleh pria yang bukan pacar. Tidak ada komitmen. Pacar bukan, suami bukan. Sorry ya. Sebagai wanita, harus ada pride, harga diri.

Bagi para pria, jika berani menggandeng tangan seorang wanita, jelas harus punya keberanian untuk berkomitmen. Kalo cinta, nyatakan cinta! Jangan asal pegang, gandeng, terus se-enaknya berkata, “Dia cuma teman biasa saja kok.” Emangnya truk gandeng!

  1. Zona Pacaran

Inilah zone Dating INSIGHT: Memberikan prinsip pacaran Kristiani yang insightful. Dengarkan Dating INSIGHT ya. Diskusikan dengan pacarmu: Poin-poin penting yang kami sampaikan.

Kalo masuk Zona Pacaran, udah beda banget dengan Zona Temanan. Zona pacaran lebih eksklusif. Dulu kan kalo pergi selalu beramai-ramai, sekarang pengennya pergi berdua saja.  Sebelumnya, tidak terlalu perduli, sekarang…mau tahu banyak tentang dirinya. Biasanya ketemuan di tempat-tempat umum, sekarang mau ke rumahnya.

Kala itu, tidak pernah ada perasaan rindu, sekarang sulit menahan rindu ini. Kepingin ketemu terus, maunya dekatan mulu.  Kalau satu kota, mungkin setiap hari disatronin kayak satpam. Kalau beda kota, misalnya satu di Bandung, satu di Jakarta, masih bisa ketemu seminggu sekali; yang rasanya sooo long (lama banget) untuk bisa ketemuan melepas rasa kangen.

Nah, saat kangen-kangenan ini, apalagi ditambah keinginan fisik, maka harus full control. Keinginan mau keberduaan pasti ada. Perlu strategi yang tepat supaya tidak meluncur, bablas dan jatuh dalam dosa.

Respecting Your Date. Tema ini sangat penting. Kekudusan seks paling sering dilanggar sewaktu pacaran. Mengganggap pacar sebagai milik atau hak pribadi. Hati-hati! Kalau belum nikah ya…belum menjadi milik dong! Ketertarikan seksual tanpa kendali, mendatangkan kesedihan yang sangat mendalam. Kita perlu pemahaman yang tepat untuk dapat mengendalikan nafsu/keinginan daging. Langkah-langkah apa sajakah yang perlu dilakukan untuk menjaga kekudusanmu dan kekasihmu, perlu dibicarakan dan disepakati.

Dalam masa persahabatan, tentu seks tidak menjadi masalah. Dalam persahabatan, tidak eksklusif. Pergi aja masih rame-rame. Happy-happy bersama-sama. Lain halnya kalau udah pacaran. Sudah terikat komitmen untuk mau lebih intim dengan dia seorang. Kenapa sih  mau dengan rela mengikatkan diri kepada seseorang? Pastilah karena sudah  naksir berat sama si”dia”.

Komitmen untuk lebih intim, ditanggapi berbeda antara pria dan wanita. Bagi pria, keintiman fisik mendahului keterlibatan emosi; sedang buat wanita, terlibat emosi dulu baru mau intim secara fisik.

Nah, pria mengungkapkan cintanya, secara fisikal. Mulai dengan memegang tangan, lalu meningkat dengan membelai rambut, tambah mengecup pipi, kemudian merangkul pinggang, eh… makin-makin banyak maunya. Di sini, pria harus mengendalikan keinginannya akan keintiman fisik. Seks itu ibarat orang yang terjun payung. Ada gaya gravitasi bumi yang membuatnya jatuh ke bawah. Jika terjun bebas tanpa bantuan, pasti jatuh dengan cepat dan hasilnya hancur belur ketika berjumpa daratan. Karenanya, perlu pake parasut. Parasut akan memperlambat jatuhnya dan hasilnya pasti selamat. Saat turun memakai parasut, pasti berbahagia karena banyak yang dapat dinikmati selama di udara. Sampai tiba waktunya, dia menyentuh tanah dengan sukacita. Ada perasaan puas!

Demikian pula halnya sewaktu pacaran, perlengkapi diri agar dapat menikmati masa pacaran dan siap mendarat menapak tanah. Kenali si dia dalam banyak hal.  Bisakah dia setia? Mampukah dia dipercaya? Apakah dia orangnya kasar atau halus? Bagaimanakah dia berespon terhadap kesulitan? Apakah saya bisa hidup dengan orang model gini?

Wanita, mengungkapkan cinta melalui keterlibatan emosi. Seringkali wanita terjebak dalam ikatan emosi yang belum seharusnya. Sulit bagi wanita untuk recover kalo diputusin, jika sudah terikat kuat emosinya. Seperti apa keterikatan emosi? Emosi itu menyangkut perasaan terdalam, mempengaruhi mood, dan tindakan. Belum apa-apa…udah merasa kamu milikku. Ingin mengontrol. Mau tahu segala hal. Dia akan menuntut si pria selalu menunjukkan cintanya dengan perhatian, rayuan, pujian. Banyak mengkhayalkan masa depan bersama. Nanti kalo menikah, mau dimana; mau pesan baju model apa, siapa aja yang mau diundang, lalu punya anak berapa, rumah di mana… sampai-sampai cowoknya pusing.  Wanita harus mengendalikan keinginannya akan keintiman emosi. Jangan memberi komitmen emosi terlalu banyak dalam masa pacaran.

Sampai tiba waktunya untuk menikah. Rayakanlah kebahagiaan itu.

Ada waktunya untuk pacaran, ada waktunya untuk menikah. Pacaran kelamaan, tidak menikah-menikah, ini tidak sehat. Jadi kalau udah pacaran sampai jangka waktu tertentu, tentukan kapan menikah!

  1. Zona Pernikahan

Saat si wanita ingin mengikatkan diri secara emosional, sedangkan pria tertarik secara fisik. Di manakah ujungnya? Muaranya mesti ke mana? Misal: pria dan wanita sudah menjalin hubungan pacaran selama 2 tahun, ketika si wanita bertanya,”Kapan mau menikah?” Si pria harus bisa menjawab! Seperti saat sedang terbang dari Bandung ke Bali, kita punya estimasi waktu sekitar 1,5 jam. Jika dalam waktu 5 jam, ternyata belum sampai-sampai juga ke Bali dan cuma berputar-putar saja di udara! Jelas gawat sekali!

Keterikatan emosi dan keterlibatan fisik, muaranya ini di mana? Inilah yang kita harus berhati-hati karena ujungnya/muaranya adalah hubungan seks.

Ini sudah masuk ke dalam tahap ketiga, yaitu tahapan pernikahan.

Boleh tidak pria dan wanita berhubungan seks? Tentu saja boleh, namun setelah terlebih dahulu mengikatkan diri dalam pernikahan. Yang menjadi tantangan adalah dalam intensitas hubungan yang terjadi, bisakah menjaga kekudusan itu sampai  hari pernikahan? Jangan sampai terjadi hubungan seks di luar nikah.

Nah, bagaimana mengaturnya?

  • Jangan terlalu sering hanya berduaan.
  • Carilah konteks untuk dapat melakukan suatu kegiatan bersama-sama dalam suatu komunitas (ikut grup panjat tebing, grup fotografi, dll)
  • Jangan terlalu eksklusif, tetap terbuka dengan pergaulan dengan teman-teman yang lain.

Bagaimana menjaga intensitas itu?

  • Harus ada kejujuran

Si pria jujur bahwa saya tertarik secara seksual dengan kamu. Tolong doakan agar kita berdua tidak jatuh dalam dosa seksual. Jangan anggap diri kuat, bahwa kita tidak akan jatuh dalam dosa seksual.

  • Konteks kehidupan harus banyak

Ada pelayanan, ada fitness, nonton, dll. Jangan hanya di rumah bahkan di kamar saja berduaan.

Jika intensitas arah ketertarikan seksual dijaga dengan baik, niscaya akan masuk pernikahan kudus dengan sukses dan berhasil. Puji Tuhan!

Ikuti terus kelanjutannya dalam Dating INSIGHT!

Mazmur 119: 9 Dengan apakah seorang muda menjaga kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai firman-Mu.

Chang Khui Fa & Liana.

GOOD NEWS! Teman-teman, buku Dating INSIGHT season 1 akan dilaunching minggu ini. You are invited! Launching akan diadakan di TB VISI Istana Plaza lantai 3. Hari Minggu 9 Nov 2014. Mulai jam 11.00- 15.00. Kami (Chang Khui Fa dan Liana) akan hadir juga. Yuk ketemuan. Bisa foto bareng dan tanda tangan buku juga CDnya… Cu there my friends. God Bless you.

Menjadi Sepadan dengan Pasangan

Equally Yokes Relationship 5

Kiat  Nyambung dengan Pasangan

Nasum: Bp. Ichwan Chahyadi

Saksikan dating INSIGHT di YouTube Klik di sini

Puji Tuhan jika bisa merasakan jatuh cinta! But, tidak mesti orang yang bikin kamu jatuh cinta itu jadi pacar kamu! Tuhan memberikan panduan yaitu harus yang seiman dan sepadan. Sebaiknya, carilah yang bisa nyambung atau corresponding to himself (tersambung dalam berbagai aspek). Misalnya: ngobrolnya asyik, latar belakangnya tidak terlalu berbeda jauh, kebiasaan-kebiasaan yang mirip, tingkat ekonomi setara, selevel dalam pendidikan… idealnya begitu.

Masalahnya, walau sudah mencari yang tidak beda jauh, toh yang namanya perbedaan di sana-sini masih ada. Kembar sekalipun pasti berlainan. Apalagi dua pribadi dari keluarga yang tidak saling kenal, pastinya menghadapi kesulitan-kesulitan buat nyambung. Ada power struggles yang harus dihadapi supaya pria dan wanita akhirnya konek satu sama lain.

Dalam proses mencari pasangan, anehnya, perbedaan seringkali justru menjadi daya tarik. Kita tertarik dengan seseorang, bukan karena hal-hal yang mirip saja, tapi karena  perbedaannya. Bagaikan dua kutub magnet yang berlawanan, saling tarik-menarik.

Berbeda, mulanya menarik; namun jika kekuatan cinta romantis mulai pudar, perbedaan bisa jadi konflik. “Cara dia membereskan masalah wah…BEDA banget sama saya! Mestinya yang benar, dia ikuti cara saya!” ungkap seorang pria pada satu sesi konseling. Langsung dibantah sang kekasih, ”Itu kan caraku. Aku sudah biasa begini. Apanya yang salah? Kan ga harus melulu ikut cara kamu!” Inilah yang disebut power struggles.

Padahal, masing-masing mempunyai keunikan. Berbicara mengenai perbedaan, bukan soal salah atau benar. Masa-masa power struggles adalah masa krisis yang harus dilewati. Jika berhasil lewat, maka hubungan akan tersambung dengan baik (co-operation). Sebaliknya, jika tidak di-manage, perbedaan-perbedaan akan berakibat pada perpisahan (separation). Sayang kan?!

Seyogyanya, perbedaan jangan sampai memisahkan, tetapi menyatukan. Saling memperlengkapi dan saling memperkaya satu dengan yang lain. Apa yang perlu kita perhatikan, agar proses ini berjalan dengan baik?

Firman Tuhan mengatakan: Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh dipisahkan manusia. Bagaimana kita memandang perbedaan-perbedaan yang ada? Bagaimana mengelola respon kita terhadap perbedaan tersebut? Bagaimana jika seorang isteri berkata, “Waduh! Saya dengan suami mah sudah kayak langit dan bumi! Sudah ga bisa nyambung lagi rasanya!”

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang rindu menaati Firman Tuhan. Dalam konteks dating atau pacaran, jika perbedaan terlampau jauh, ada baiknya meninjau ulang hubungan itu. Hubungan dua insan seyogyanya menumbuhkan dan bukan membebani. Jika terlalu beda, kamu akan banyak bergulat untuk perkara-perkara yang tidak seharusnya ada. Bukankah lebih baik memilih seseorang yang bersamanya, kamu bisa menjadi rekan sekerja Allah di dunia? Cari tahu, apakah dia merupakan kehendak Allah untukmu. Silahkan baca lebih jelasnya dalam serial God’s Will in Dating.

Jika sudah menikah, pastinya tidak ada lagi tinjauan ulang! Yang harus dilakukan bersama adalah berjuang mempertahankan pernikahan seumur hidup. Demi cinta kita pada Tuhan, terus berusaha mentaati perintah-Nya. Tidak ada jalan lain. Nah…kiat-kiat apa saja supaya sepasang kekasih senantiasa nyambung?

Melihat Positifnya

Pada umumnya, perbedaan menjadi keributan karena ada pihak yang merasa dirinya benar; otomatis pihak lainnya jadi pihak yang salah, jadinya memandang negatif orang-orang yang berbeda dengannya.

Misalkan ada pasangan dengan dua kepribadian yang berbeda. Yang cewek, senang di rumah berinteraksi dengan keluarga; sedang cowoknya begitu energik, senang ketemu orang, suka berpetualang, sosialisasinya tinggi.

Si Cowok jika melihatnya negatif, maka dia akan mencap pasangannya sebagai orang yang tidak gaul, ”Ah, kamu mah kuper, maunya di rumah terus.” Di sisi lain, ceweknya dengan kesal berkata,”Apa? Kamu tuh orangnya tidak pedulian, maunya main terus, jalan-jalan, sama teman mulu.”

Sebenarnya, tidak perlu dicari siapa yang salah, siapa yang benar. Ini adalah perbedaan personality.

Untuk mengatasi perbedaan, kita harus mencoba melihat sisi positif dari tiap personality.

Orang yang senang di rumah, positifnya memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga dan memperhatikan anggota keluarga. Orang yang senang di luar, memiliki pandangan/ wawasan yang luas juga kemampuan adaptasi yang tinggi.

Pak Ichwan sudah berkeluarga selama 18 tahun. Isterinya seseorang yang sangat terorganisir. Jika menyimpan baju dalam lemari, ditata sedemikian hingga tiap barisnya rapi sekali. Sebaliknya, Pak Ichwan orang yang sangat fleksibel, boleh dikata cenderung berantakan.

Pada awal pernikahan, hal ini selalu jadi masalah. Kalau melihat dari sisi negatif, maka sang isteri akan memandang Pak Ichwan, suaminya adalah orang yang berantakan, sembrono.  Sedangkan, Pak Ichwan melihat isterinya sebagai seseorang yang kaku dan terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil.

Namun, seiring lewatnya tahun-tahun pernikahan, masing-masing belajar melihat perbedaan secara lebih positif.  “Oh, ternyata orang yang berantakan itu orang yang fleksible, mudah beradaptasi, juga gampang gaul” demikian sang isteri memahami dan menerima suaminya. Pak Ichwan pun di sisi lain belajar untuk menghargai pribadi isteri dengan mencoba menyimpan lebih rapi dan terstruktur.

Dalam buku GARAM & TERANG bagi Keluarga, ada satu bab khusus yang membahas “Adaptability dan Flexibility”.  Kenapa saya (Chang Khui Fa) menuliskan bab ini?

Ketika pacaran, tahun demi tahun yang dilalui, tidak terlalu terasa beda. Lain dengan  pernikahan. Tahun demi tahun, perbedaan terasa signifikan. Hidup kian kompleks. Tahun pertama berusaha mengadaptasikan diri dengan pasangan, lingkungan dan situasi. Belum juga nyaman, tahu-tahu anak lahir di tahun kedua. Memasuki tahun ketiga, anak ke dua hadir. Belum lagi ditambah konteks karir yang meningkat, pekerjaan makin banyak, kebutuhan keuangan bertambah dan lain-lain. Butuh sekali keahlian beradaptasi dan fleksibel, supaya hidup kita tidak mudah patah atau hancur. Hanya orang-orang yang memiliki daya adaptasi, yang dapat memenangkan perjalanan hidup ini.

Tuhan Allah sangat adil. Tidak mungkin Dia menciptakan seseorang yang semuanya baik, dan yang lain semuanya buruk.  Setiap orang mempunyai kekuatan dan kelemahan. Yang lemah yang dimiliki pasangan, harus dipandang positif. Kelemahannya, ditopang dengan kekuatan kita. Sungguh indah jika dua insan yang saling mencinta terus mengkombinasikan kekuatan dan saling melengkapi.

Kita harus belajar mengenali dan mengerti seperti apa kepribadian kita, juga pasangan. Apa kelebihan dan kekurangan diri, dan pasangan. Tuntutan yang melampaui kemampuan, akan membuat hubungan menjadi teramat berat untuk diteruskan.

Mari kita lihat contoh lain: Robbie, orangnya sangat berhati-hati dalam bicara. Dia merasa perlu menjaga perasaan lawan bicara. Ketika ditanya,”Bagaimana penampilanku, bagus atau tidak?” Robbie akan menjawab,”Lumayan!” Jawabannya tidak menyakiti hati, tapi membuat kita lumayan bingung pula untuk mengerti apa maksudnya.

Ada lagi Lisa. Dia tipe orang yang blak-blakan. Ceplas-ceplos. Cablak istilahnya. Kalau jelek, langsung aja, komentarnya, “Ih…jelek amat. Asli gua nggak suka!”

Ketika dua orang dengan kepribadian yang berbeda seperti ini bersatu, pasti akan timbul konflik. Robbie, sebagai orang yang halus, merasa hatinya terus teriris dengan perkataan pasangannya yang dinilai terlalu kasar, terlalu gamblang, tidak mikirin perasaan orang. Sementara Lisa, sulit sekali mengerti keinginan pasangannya. “Robbie bicaranya ga jelas apa maunya, dan gampang tersinggung.” Lisa bingung bagaimana cara berkomunikasi yang tidak menyakitkan pasangannya.

Bagaimana melihat positifnya pasangan?

Mengubah paradigma negatif menjadi positif. Kelebihan orang dengan tipe seperti Robbie adalah lebih mudah menjaga hubungan baik/ relasi dengan sesamanya. Tipe Lisa, adalah orang yang apa adanya. Mudah dikenali karena jelas, apa keinginannya, seperti apa maunya, apa yang dia suka atau tidak: jujur, terus-terang, tidak bermuka dua dan terbuka.

Dalam suatu hubungan, kita harus bijak. Ada kalanya, harus bicara terang-terangan; namun juga kadang kala perlu menjaga perasaan seseorang.

Pasangan yang dapat menghargai dan menerima keberadaannya masing-masing, berpotensi menjadi partner yang kuat. Orang yang pandai bicaranya, menjalin dan membina relasi; yang ceplas-ceplos, sangat baik jika harus membuat suatu keputusan dengan cepat.

Kebudayaan atau culture di mana seseorang tinggal pun akan mempengaruhi gaya bicara seseorang. Orang Jakarta biasanya kalau bicara lebih ceplas-ceplos/ jebrat-jebret (straight to the point), sementara orang Bandung biasa saat bicara lebih menjaga perasan, lebih santun. Jadi, jika kita berelasi dengan seseorang yang kebudayaannya berbeda jauh, pasti usaha-usaha adaptasi yang harus diperjuangkan semakin besar.

Langkah-langkah Nyambung dengan Pasangan:

  1. To Know (Mengetahui) Saat kami hendak memasuki penikahan, saya dan Liana menyempatkan diri ikut konseling. Kami menemui konselor penikahan yang ahli dan dapat dipercaya, memiliki kerohanian dan pandangan teologis yang benar. Beliau dapat mengungkapkan hal-hal yang kami tidak lihat, menyingkapkan potensi-potensi konflik yang mungkin timbul dalam pernikahan kami. Lalu bertanya, apakah kami siap menghadapinya?  Namanya cinta, ya…siap saja! Apapun bisa kami hadapi! Konseling membukakan kami banyak hal, supaya kami memasuki menikah tidak dengan mata tertutup. Kami mengerti bahwa pernikahan bukan seperti film-film dongeng yang always happy ending! Pernikahan is the beginning to the very hard process. Makanya ada yang bilang: Marriage is a never ending school. Mengetahui bahwa kita berlainan. Mengenali apa saja perbedaannya. Kita perlu melihat perbedaan, bukan sebagai salah atau benar. Belajar menggali hal positif dari perbedaan yang dimiliki masing-masing pribadi.
  2. To Understand (Mengerti)Tujuan dari mengerti adalah dapat menerimanya dengan sepenuh hati. Seringkali proses ini dilewati (di-skip)  dari tahap “to know”,  langsung “to accept. Inilah penyebab terjadinya “helplessness” atau ketidak berdayaan dalam pernikahan. Seorang ibu berkata, ”Dia bebal, ngak akan pernah bisa berubah. Udah dari sononya seperti itu. Capek aku. Udah dikasih tau berkali-kali, selalu gagal. Ya sudahlah!”  Pernikahan jadi berat sekali, karena kita terus berusaha menerima, tanpa mengerti dan berusaha memahami.Tidak cukup berhenti hanya tahu saja: Owh, saya tahu: Saya dan kamu beda. Saya begini, Kamu begitu. Tidak berhenti di sana, kita harus belajar untuk mengerti. Mengapa dia berpikir, berlaku, berbicara, merespon seperti itu? Mencoba memahami pasangan jelas proses yang cukup lama, dan memerlukan keterbukaan dari kedua pasangan.
  3. To Accept (Menerima) Setelah mengerti, barulah menerima. Mencoba menerima dirinya seutuhnya, termasuk kelemahannya. Cinta sejati menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
  4. To Appreciate (Menghargai) Setelah tahapan ke satu sampai ke tiga dijalani, barulah bisa memasuki tahapan ke empat. Saling menghargai. Tidak meremehkan ataupun menghina akan perbedaan-perbedaan yang hadir.
  5. To Celebrate (Merayakan) Merayakan perbedaan-perbedaan yang ada. Jika sudah tahap ini, pastilah perjalanan dua insan menjadi sangat menyenangkan! Ku tak bisa hidup tanpamu! Ada mutuality, kesalingan yang tak terpisahkan.

Nyambung dengan pasangan merupakan hal yang sangat menyenangkan. Pernikahan hanya sekali seumur hidup. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia (Pengkotbah 9: 9)

Ev. Chang Khui Fa & Liana

Pasangan Sepadan

Equally Yokes Relationship 4

Co-Creativity: Pasangan Sepadan

Mau lihat Dating INSIGHT di YouTube, silahkan klik ini aja.

Apa arti sepadan? Sepadan artinya corresponding to himself (nyambung satu dengan yang lain).

Kenapa Tuhan menghendaki kita sepadan? Tuhan ingin kita dapat menjadi partner-Nya (Co-creativity) untuk memberkati banyak orang. Pernikahan yang sepadan pasti menjadi inspirasi cinta yang indah.

So, jangan berpacaran; kalo cuma buat mencari kesenangan semata, menghilangkan kesepian, mendapatkan keuntungan, ikut-ikutan teman, atau motivasi ngawur lainnya. Apalagi untuk menikah. Harus jelas, kenapa kamu memilih menikah? Mengapa dengan dia?

Jawabannya adalah karena we can achieve greater things together. Berdua pasangan, bersama-sama melayani Tuhan. Dengan dia, melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Tuhan bagi kamu berdua.

Ada sepasang suami isteri yang telah menjadi sumber inspirasi. Nama mereka tidak pernah dipisahkan, Alkitab selalu menuliskan nama mereka berdua. Pasangan ini, dipakai luar biasa oleh Tuhan. Cinta mereka menjadi berkat bagi banyak orang, bahkan buat kita sekarang ini. Siapakah pasangan ini?

Mereka adalah Akwila dan Priscilla.

Demikian kisah mereka yang tercatat dalam Firman Tuhan:

Kisah Para Rasul 18:1-3

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah.

Kisah Para Rasul 18:18-19

Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. Lalu sampailah mereka di Efesus. Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan berbicara dengan orang-orang Yahudi.

Siapakah Priskila dan Akwila ini?

Mereka adalah pasangan suami istri biasa. Mereka pergi ke Korintus karena ada perintah dari kaisar, agar semua orang Yahudi pergi meninggalkan Roma. Di Korintus, mereka mencoba peruntungan, menjadi pembuat dan pedagang kemah.

Kemah, pada zaman dulu jelas kebutuhan primer. Orang-orang yang akan pergi dari satu kota ke kota lain, harus membawa kemah. Jaman sekarang, kalau pergi dari Bandung ke Surabaya, mudah dan cepat. Naik kereta, sehari sampai. Naik pesawat terbang, satu jam langsung mendarat di Surabaya. Jaman itu, belum ada kereta, apalagi pesawat. Paling cepat naik kuda. Perjalanan dari satu kota ke kota lain, butuh waktu berhari-hari. Di tengah jalan, jika hari keburu gelap, belum tentu ada motel untuk menginap, terpaksalah memasang kemah untuk bermalam, beristirahat. Jadi, usaha yang dikerjakan Akwila dan Priskila, adalah pekerjaan yang sangat dibutuhkan.

Setiap hari, dari pagi sampai malam, seperti umumnya para pedagang, mereka bekerja. Merancang kemah, mengatur pekerja, mengecek Quality Control dari produk yang dihasilkan, bertemu customer, melakukan perdagangan. Begitulah rutinitas day by day.

Sampai suatu ketika, hidup mereka berubah. Menjadi luar biasa. Mengapa? Karena pertemuan dengan Rasul Paulus.

Pada saat Paulus tiba di Korintus, dia mencari pekerjaan. Karena keahlian Paulus membuat kemah, maka bertemulah dia dengan Priskila dan Akwila, pedagang kemah terkenal di Korintus. Paulus bekerja dengan mereka dan menetap di rumahnya. Namun, pekerjaan Paulus yang utama tetap sebagai penginjil. Paulus sering pindah dari satu kota ke kota lain untuk mengabarkan Tuhan Yesus. Setiap kali tiba di suatu kota, dia pasti akan segera mencari sinagoge, beribadah di sana sekaligus memberitakan Kabar Sukacita.

Saya yakin, merekapun tidak luput dari pemberitaan yang Paulus sampaikan. Paulus menceritakan pada Akwila dan Priskila: Siapakah Allah Yahweh? Allah yang orang Yahudi sembah. Dia adalah Allah yang bukan hanya menerima penyembahan, tapi juga Allah yang ingin terlibat dalam kehidupan manusia. Dia bukan ALLAH yang berdiam diri, tapi rela lahir menjadi manusia. Dialah Yesus Kristus! Mati di kayu salib untuk menebus manusia berdosa. Tidak sampai di situ, Kristus juga bangkit dari kematian pada hari yang ke-3. Barangsiapa percaya kepada-Nya akan beroleh hidup yang kekal. Maukah kamu percaya kepada-Nya?

Kemudian, setelah beberapa lama tinggal bersama Akwila dan Priskilla di Korintus, Paulus hendak melanjutkan perjalanannya ke Efesus. Alkitab menuliskan bahwa Priskila dan Akwila menyertai dia. Menarik sekali!

Coba bayangkan kalau Priskila dan Akwila tidak nyambung. Mungkin Akwila berkata, “Yuk kita ikut Paulus mengabarkan Injil!” Mungkin Priskilla marah, “Apa? Mana bisa? Bisnis kemah kita bagaimana? Kan baru jalan! Lagian kita kan baru memulai hidup di kota ini, masak mau pergi lagi? Kamu ajalah, aku tidak mau.”

Tapi…Kenyataannya, luar biasa! Sepasang suami isteri ini sungguh kompak. Kedua-duanya sepakat pergi bersama Rasul Paulus. Melayani Tuhan bersama, tidak terpisahkan.

Sungguh indah jika setiap gereja memberikan peluang pelayanan bagi pasangan suami-isteri untuk melayani bersama.

Priskila dan Akwila memiliki suatu pelayanan yang sama. Mereka menjadi rekan sekerja Rasul Paulus. Bagaimana dengan bisnis kemahnya? Saya yakin orang Yahudi pintar berdagang. Bisnisnya pasti tetap berjalan karena mereka mendelegasikan pekerjaan kepada orang yang kompeten dan dapat dipercaya.

Apa yang terjadi setelah mereka tiba di Efesus? Sangat menarik.

Priskila dan Akwila bertemu dengan seseorang bernama Apolos. Alkitab menceritakan Apolos sebagai orang yang fasih berbicara. Mungkin ketika dia berkhotbah, lebih hebat dari Rasul Paulus. Dia juga mahir dalam Taurat. Ketika Priskila dan Akwila mendengar dia berkhotbah, mereka merasakan ada sesuatu yang kurang dalam berita yang disampaikan oleh Apolos. Dia hanya mengenal dan memberitakan baptisan Yohanes. Tentang baptisan Tuhan Yesus, Apolos tidak tahu. Apa bedanya baptisan Yohanes dengan baptisan Tuhan Yesus?

Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan. “Apakah kamu mau dibaptis? jika mau, kamu harus berjanji di hadapan Tuhan, bahwa kamu tidak akan melakukan hal yang jahat/berdosa lagi!”

Baptisan Tuhan Yesus mengandung baptisan pertobatan tapi juga dilanjutkan dengan sebuah pengakuan akan karya Tuhan Yesus, untuk menerima keselamatan dari Sang Juru Selamat.

Akhirnya, Priskila dan Akwila dengan bijaksana mengundang Apolos ke rumah mereka agar dapat berdiskusi. Mereka menyampaikan kepada Apolos akan kebenaran yang sebelumnya mereka dengar dari Rasul Paulus. Mereka menceritakan tentang Yesus yang lahir, mati, bangkit pada hari yang ketiga dan bertahta di Sorga. Alkitab menulis, sejak saat itu, Apolos menjadi paham, dan dia memberitakan tentang Kristus ke mana-mana.

Di sekitar kita begitu banyak orang yang perlu mendengar kebenaran Firman, namun belum pernah mendengarnya. Jika kita sungguh-sungguh bertekun dalam menggali kebenaran Firman Tuhan. Tuhan akan kirimkan orang-orang itu pada kita, dan membukakan kesempatan bagi kita untuk menyampaikan kebenaran-Nya.

Nama Priskila dan Akwila tidak hanya tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul saja. Paling tidak ada tiga bagian lain dalam Perjanjian Baru yang menuliskannya. Memberikan gambaran lebih utuh mengenai sepak terjang sepasang kekasih ini.

Roma 16:3-5a

Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka.

Korintus 16:19

Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu.

II Timotius 4:19

Salam kepada Priska dan Akwila dan kepada keluarga Onesiforus. (artinya hubungan mereka dengan Timotius juga cukup dekat)

Ada 4 hal yang menarik dari ayat-ayat ini:

  1. Lihatlah, nama mereka selalu dicatat berdampingan. Tidak pernah ditulis Priskila saja atau Akwila saja. Sungguh indah bukan?
  2. Paulus seorang hamba Tuhan, dia mengakui bahwa pasangan suami isteri ini adalah rekan sekerjanya dalam Kristus Yesus.
  3. Mereka memberi sumbangsih yang besar dalam pelayanan Paulus: bahkan rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk Rasul Paulus.
  4. Mereka memberitakan Injil dengan giat, sampai terkumpul cukup banyak orang. Orang-orang bukan Yahudi menjadi jemaat, berkumpul, dan beribadah di rumah mereka. Mereka membuka rumahnya untuk dipakai dalam pelayanan.

Inilah sepasang kekasih yang hidupnya sangat berarti. Mereka mentaati panggilan Tuhan. Mereka melayani Tuhan bersama. Sungguh sangat indah.

Ingat, jatuh cinta merupakan perasaan yang indah, tak terkatakan. Itu diberikan Tuhan untuk dinikmati manusia. Namun saat menjalaninya, carilah yang seiman dan sepadan. Seseorang yang kita cintai plus dengannya juga nyambung. Bersamanya, bisa menjadi partnernya Tuhan. Co-creativity sebagai tujuan cinta kita. Selamat menemukan si dia! Pasti bersyukur setiap hari! Puji Tuhan!

Ev. Chang Khui Fa & Liana

Pasangan Sepadan menuju Mutuality

Equally Yokes Relationship 2

Kerjasama dalam Kesepadanan

Pasangan sepadan seperti apa sih? Nonton via Youtube KLik aja di sini.

Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Sepadan adalah Corresponding to Himself atau simplenya kita sebut aja ‘nyambung’. Hawa tersambung pada Adam, toh Hawa berasal dari tulang rusuk Adam. Apa tujuan yang direncanakan Tuhan buat sejoli ini? Kala manusia pertama diciptakan, Allah berfirman: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala bintang yang merayap di bumi.”

Mandat yang diberikan Allah ini, jelas tidak bisa dilakukan seorang diri oleh manusia. Allah tahu, karenanya Tuhan Allah berkata, “Tidak baik manusia itu seorang diri saja…”, dan Dia bertindak! Diciptakan-Nya penolong yang sepadan, Hawa. “Ini baru PAS! COCOK! Sepadan! Nyambung!” seru Adam saat dia bertemu Hawa. Sebelumnya, Adam hanya ditemani binatang hutan, ternak, burung… ndak ada yang cocok. Ga equall. Ga nyambung. Adam ngomong apa, di situ nyahutnya cuit cuit, aum-aum, mooo….

‘Nyambung’ buat apa? Buat bekerja sama untuk mengerjakan tugas yang telah dirancangkan Allah. Menjadi Partner-nya sang Pencipta.

Sebelum jatuh dalam dosa, nyambungnya mudah. Langsung Adam berkata kepada Hawa, “Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku”. Namun, tatkala mereka sudah jatuh dalam dosa, langsung terpisah. Dosa memisahkan. Pertama, memisahkan hubungan manusia dengan Allah (Penciptanya). Kedua, memisahkan manusia dengan sesama. Ketiga, memisahkan manusia dengan ciptaan lainnya. Adam Hawa yang tadinya love-love-an, sekarang jadi salah-salahan. Tuding-tudingan. Sudah tidak nyambung. (Lihat Kej 3).

Dosa membuat keterpisahan. Mementingkan diri sendiri. Maunya menang sendiri. “Aku yang berkuasa. Aku harus menang.” Satu orang aja yang bicara seperti ini, dunia udah pusing. Apalagi kalau ada dua dan keduanya berebutan mau menang sendiri.

Jadi, ketersambungan antara pria dan wanita bukan perkara gampang. Ini harus diusahakan dan diusahakan bersama. Butuh kerja sama. Cooperation. Jika ada pria dan wanita, diikat oleh Tuhan dalam mahligai pernikahan, nyambung, lalu bersama-sama melayani Tuhan. W.O.W! Ini Luar Biasa! Ini adalah pekerjaan Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat membentuk sejoli ini melalui pernikahan mereka, menjadi co-Partner-nya Tuhan Allah. Sejatinya, ini bukan proses yang gampang. Kami sudah mengalami hal itu. Saya dan Liana, dulunya juga pernah jatuh bangun. Berusaha nyambung, tapi ndak nyambung. Konflik. Berdoa. Selesaikan masalah. Jalin kembali sambungan yang retak. Bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil.  Tuhan telah memimpin kami berdua untuk nyambung dan sekarang bisa bersama-sama bersiaran Dating INSIGHT, menjadi saluratn berkat bagi banyak muda-mudi.

Prosesnya mulai dari mana?

Continue reading

Pasangan Tidak Sepadan

Equally Yokes Relationship 1

Pasangan Tidak Sepadan

Saksikan Dating INSIGHT live on Maestro via YouTube Klik di sini.

Kej 2: 18 “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Apa arti sepadan?

I will make a helper that suitable for him. (NIV)

I will make companion for him, who corresponds to him. (New English Translations)

Dalam Bahasa Ibrani, sepadan berarti corresponding to himself.

Corresponding, di-Indonesiakan artinya sang wanita nyambung dengan sang pria.

Nyambung dalam hal apa?

Pertama-tama, harus tersambung dalam hal iman. Mereka terkoneksi dalam iman yang sama, kedua-duanya tersambung pada Tuhan.

Level pendidikan juga menentukan. Pendidikan membentuk pola pikir. Seorang yang telah lulus kuliah mempunyai sistem berpikir yang berbeda dengan yang tidak kuliah.

Background Keluarga. Setiap keluarga mempunyai tradisi, peraturan, dan kebiasaan yang unik. Ada keluarga, ayah yang memotong buah-buahan sebelum makan malam. Di banyak keluarga, umumnya ibu yang memasak. Namun, ada loh! Yang masak malah sang ayah. Nah, walaupun kelihatannya simple, jika meninggikan ego, perbedaan-perbedaan ini bisa memicu konflik nantinya.

Kelas Sosial, jangan terlalu timpang. Seperti sinetron televisi aja…pangeran tampan nan kaya raya jatuh cinta dengan perempuan desa yang tidak punya apa-apa. Terjadilah pertikaian internal dalam keluarga pangeran perihal wanita pilihannya ini.

Jika sang pria dan wanita nyambung, tapi tiada cinta. Apakah hubungan dapat berlanjut? Bagaimana jika dibalik? Aku cinta banget sama dia, tapi banyak ga nyambungnya sih…

Mari kita urai satu persatu.

Begini, saya ilustrasikan seperti men-charge Hand Phone (HP). Kan harus ada kabel charging. Kabel charging-nya dicolok ke terminal listrik. Sip! Sekarang bisa dong nge-charge. Eh! Ternyata konektornya ndak cocok dengan HP-nya! Charger-nya Samsung, HPnya i-Phone. Repot deh, mana bisa nge-charge (baca: nyambung).

Cari-cari chargernya i-Phone. Bongkar laci, bongkar lemari. Dapat tuh charger ngumpet di balik tumpukan baju. Sekarang charger iPhone to HP iPhone. Sip! Nyambung! Ehhh! Tahu-tahu mati lampu! Walah…ga ada listrik! Sami mawon alias sama aja ndak bisa nge-charge.

Nah, apa maksudnya? Listrik itu cintanya; konektor yang se-tipe itu kesepadanannya. Buat HP On harus ada listrik dan konektor charger yang nyambung. Ilustrasi Sang Pria HP-nya, charger adalah wanita yang menjadi penolong. Dua-duanya penting. Tanpa wanita, sang pria tak mungkin hidup! Pun harus ada listrik yang adalah cinta supaya Sang Pria berfungsi maksimal!

Jadi, cinta dan nyambung itu harus ada dua-duanya! HandPhone setelah di-charge, tujuannya supaya ON dan bisa dipakai buat nelpon.

Perpaduan pria dan wanita jika nyambung dan sudah ’ON’ (disatukan dalam pernikahan), apa tujuannya? Pernikahan Kristen memiliki tujuan yang berasal dari Sang Pencipta yang menghendaki Pria dan Wanita bersatu.

Tujuannya bukan ‘yang penting hepi.’ Yang penting nyaman, senang, atau tidak repot.

Ultimate goal/tujuan sejati dari Tuhan adalah menjadikan kita sebagai co-partner Allah. Bersama-sama melayani Allah. Pria dan wanita yang bersatu, menjadi partner Allah, untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Ini merupakan suatu proses perjalanan yang panjang. Happiness hanya bonusnya saja.

Perjalanan ini digambarkan dalam proses seperti ini gambar di bawah ini:

Tujuan Pernikahan Kristen

Perjalanan untuk nyambung dan melayani Tuhan dimulai dari mana? Mari kita mulai: Continue reading

Rahasia Mencintai Wanita

True Love 3

Rahasia Mencintai Wanita

Saksikan Dating INSIGHT melalui YouTube  KLIK di sini

“I love you” ucap seorang pria kepada sang gadis kekasihnya.

Bicara ya… gampang. Buktikan dong! Hmm…Apa ya…bukti cinta yang sejati?

Mari kita lihat dulu, apa kata Firman Tuhan tentang “cinta”:

1 Korintus 13:4-7

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Cinta sejati tidak sama dengan jatuh cinta. Jatuh cinta jelas perasaan; cinta sejati bukan cuma perasaan. Maksudnya apa?

Jatuh cinta menghadirkan euphoria, tidak riil. Cinta yang sejati baru bisa muncul, ketika euphoria pergi.  Waktu jatuh cinta, rasanya seperti terbang ke angkasa, terbang melayang-layang melintasi lapisan-lapisan awan, menuju langit ke tujuh. Toh tidak selamanya terbang, pelan-pelan, turun kembali ke daratan. Di darat, baru sadar, berhubungan dengan orang lain ternyata tidak selalu manis. Melihat kelemahan kekasih, berbeda pendapat dengannya, ditambah ribut besar, baekan, kesel lagi, sebel lagi, baekan lagi… justru di sinilah, benih cinta bertumbuh.

 love seeds benih cinta

Menanam pohon, perlu usaha. Mulanya sebuah bibit, disiram, dipupuk, disinari matahari. Beberapa waktu kemudian, terlihat tunas mungil, lalu muncul daun-daun muda. Demikian pula cinta, saat benih itu tumbuh, ada tindakan yang tampak dan bisa dirasakan.

Continue reading