Tag Archive | kematangan emosi

Cara ngobrol Asyik dengan si dia

Dating INSIGHT: Asking Someone Out 3

Komunikasi Jitu Buat Ngajak Si ‘Dia’ Nge-Date

 

Nonton YouTube Dating INSIGHT silahkan KLIK di sini

Wow si dia membuatku jatuh cinta! Tapi…bagaimana cara memberitahu dia?

Komunikasi sangat penting, seperti nafas dalam hidup. Tidak berkomunikasi, pelan-pelan pasti menuju kematian relasi. Demikian pula cara bicara yang tidak tepat,bukan membuat tambah dekat,malah bikin hubungan jadi renggang. Bayangkan kalau bernafas dalam gas beracun, alih-alih makin sehat malah membunuh. Setiap kali ngomong, langsung melukai.

Dalam masa pendekatan, jangan sampai komunikasi berhasil hanya satu kali. Lain waktu ngajak dia jalan lagi, eh eh eh…langsung ditolak. Ga mau begitu kan?

Nah, seperti apa komunikasi yang jitu dan pastinya membuat dia tambah lekat?

Mari renungkan dulu Firman Tuhan dari Kidung Agung 2: 11-14

Kekasihku mulai berbicara kepadaku: “Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!”

So romantic

Apa sih yang dibicarakan oleh sang kekasih?

“Marilah…Lihatlah…” Kata mari dan lihat merupakan ajakan. Melihat bersama-sama, berdua menikmati keindahan sekitar. Mereka membicarakan objek dalam konteks jaman itu: memandang ladang dengan bunga warna-warni, mendengarkan keceriaan kicauan burung, menghirup wewangian buah demi membangkitkan semua indra dalam tubuh untuk bersuka cita bersama.

Dalam kata-katanya tersirat perhatian. Dia memberikan pujian. “manisku…jelitaku …merdu suaramu dan elok wajahmu!”

Jaman telah berubah, tapi emosi cinta yang dirasakan penulis Kidung Agung masih dapat dirasakan oleh kita yang hidup pada zaman ini. Objek keindahannya saja yang berubah.

Bagaimana supaya komunikasi yang dilancarkan memiliki kuasa mengikat dua insan? Mari kita kupas bersama.

Ada tiga pola komunikasi yang sering dipakai. Dua yang pertama tidak bagus. Jika Anda menggunakannya, hati-hati! Dapat merusak relasi. Cepatlah sadar dan mengubah pola yang buruk…

heart to heart

1. Pola pertama: I and I (percakapan saya dengan saya)

Continue reading

Jadi…kapan saya boleh pacaran?

Ready or Not for Dating

# Kapan waktu yang tepat buat nge-date? Jangan terlalu cepat atau terlambat!

Spiritual Age. Kematangan Rohani.

Nonton via YouTube silahkan KLIK di sini 🙂

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya,” ucap Raja Salomo (Pengkhotbah 3:1).

Kita sudah sampai di akhir pembahasan Ready or Not for Dating. Kapan waktu yang terbaik untuk memasuki masa pacaran? Sangat tergantung dari kematangan seseorang. Nah, penutup dari serial ini adalah pembahasan tentang spiritual age atau kematangan rohani.

Spiritual Age merupakan kematangan terpenting dan sangat memengaruhi ke-tiga kematangan sebelumnya: kematangan intelektual, kematangan sosial dan kematangan emosi. Sungguh indah jika Anda mendapatkan seorang kekasih yang sudah matang secara rohani! Atau sembari membaca artikel ini, mari kita merefleksikan hidup dihadapan Tuhan, apakah saya sudah matang secara rohani?

 

Bagaimana mengukur kematangan rohani seseorang?

Kematangan rohani diukur dari hubungannya dengan Tuhan. Dapat dikatakan sebagai Identitas Rohani (Spiritual ID).

Di mata Tuhan hanya ada dua jenis orang:

Pertama, orang yang tidak mengalami keselamatan dari Tuhan Yesus.

Kedua, orang yang mengalami penebusan Tuhan Yesus sehingga seluruh dirinya diperbaiki, diperbaharui dan dipulihkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Orang dunia yang tidak mengenal Kristus memiliki aturan dan nilai-nilai menurut dirinya sendiri saja. Mereka mengikuti keinginan daging. Dalam hatinya berkata: Okey banget punya satu pacar, dan sah-sah saja SATU lagi sebagai cadangan. Mobil aja ada ban serep, masa aku ga punya serep?” Yang lain berkata: ”Okey saja saya berselingkuh, asal ga ketahuan. Tidak apa-apa kok.”

Hanya orang yang telah ditebus Kristus yang memiliki Identitas Rohani yang baru. Ditandai dengan hadirnya Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus berkarya dan berdiam dalam diri orang yang menerima Kristus dan membersihkan hatinya dari dosa dan memperbaharui seluruh dimensi kehidupan. Cara berpikir, respon emosi dan cara berelasinya diurapi Tuhan, sehingga kehidupannya berbuah lebat dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Spiritual ID sangat menentukan bagaimana seseorang menghadapi realita kehidupan. Menentukan values (nilai–nilai) yang harus dipegang misalnya:

Apakah boleh melakukan hubungan seks di luar nikah? So pasti saya ga boleh melakukan karena Tuhan melarang dan memandangnya sebagai perzinahan.

Apakah boleh selingkuh sekali-sekali asal ga ketahuan? Walau ga ketahuan, saya tahu mata Tuhan memandang seluruh bumi, tidak ada satupun yang luput dari-Nya. Maka, saya tidak akan melakukan hal tersebut karena saya takut akan Tuhan.

Jelas, orang yang telah menerima keselamatan seyogyanya mengikuti apa yang Tuhan mau, menuruti aturan dan nilai-nilai yang Tuhan tetapkan. Perjuangan anak-anak Tuhan sepanjang umurnya adalah dengan terus hidup di bawah kehendak Tuhan yang mulia. Karena, apa yang Tuhan rancang adalah yang terbaik bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

Apa saja ciri Kematangan Rohani? Continue reading

Kematangan Emosi: Ekspresi Emosi yang Sehat

R3- Kematangan Emosi
Ini masih di dalam pembahasan huruf ke-3 “R”-Ready or not for dating.

Menyimak via YouTube silahkan KLIK di sini
Amsal 15: 13 “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. “

Apa sih pentingnya kematangan emosi?

Emosi memengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang, juga mendasari motivasinya. Misal: Alasan atau motivasi seseorang mencari pacar. Ada yang mencari pasangan hidup karena dilandasi perasaan takut. “Saya takut tidak dapat pasangan hidup, maka harus cepat-cepat mencari pacar.” Jelas, drivenya adalah “fear” (perasaan takut).

Sebuah survey yang ditujukan pada anak-anak SMP dan SMA mempertanyakan, “Kenapa kalian berpacaran?” Sebagian besar menjawab karena: “Kuatir di”cap” teman-temannya “tidak laku.”
Mengambil keputusan untuk pacaran dengan motivasi takut ga laku bukanlah alasan yang tepat, terlebih emosi remaja belumlah matang.
Nah, emosi seperti apa yang seharusnya ada saat seseorang ingin berpacaran? Apakah emosi yang menggebu-gebu? Panas dingin ga karuan? Apakah kalau emosi jatuh cinta muncul, itu pertanda seseorang boleh pacaran?
Emosi yang terbaik saat seseorang ingin memulai hubungan dengan lawan jenis adalah munculnya perasaan tenang dan bukan didominasi perasaan kuatir atau takut.
Tenang bahwa pada masanya nanti, saya pasti akan menemukan dan menjalin hubungan dengan orang yang benar. Pikiran yang jernih sangat erat kaitannya dengan perasaan tenang. Pikiran yang jernih akan memampukan kita mengambil keputusan lebih baik. Apalagi masalah calon suami/isteri yang akan menemani Anda seumur hidup! Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa mengajak menjalin hubungan yang serius pada saat kondisi emosinya sedang labil.

Mengapa untuk memulai hubungan yang serius perlu kematangan emosi?
1. Dapat meminimalisir pengambilan keputusan yang salah.

Seringkali kita bisa keliru mengambil keputusan. Membeli barang yang tidak sesuai, salah pilih tempat rekreasi, makan di resto yang tidak enak…Pilih pacar yang dampaknya seumur hidup, so pasti jangan sampai salah pilih dong! Kalau salah pilih bisa gawat, itu berarti penderitaan selama sisa hidup kita. Supaya dapat memilih dengan tepat dibutuhkan kematangan emosi yang cukup.

2. Saat memasuki relasi jangka panjang, membutuhkan kestabilan emosi dan rohani.

Stabil artinya ndak gampang berubah-ubah dan tidak emosional. Orang yang stabil emosinya, bisa menerima orang yang berbeda darinya.
Sebaliknya, orang yang emosinya kurang matang, menuntut orang lain untuk berpikir seperti dia; melakukan segala sesuatu sesuai caranya, jika lain sedikit langsung kesal dan marah ga karuan.

Kematangan emosi dapat menjembatani berbagai perbedaan. Kala dua insan memasuki pernikahan, pasti banyak bedanya: Cara berpikir, latar belakang keluarga, kebiasaan memakai uang, juga ketidaksamaan prinsip (penting bagi seseorang, belum tentu penting bagi yang lain).

Contoh yang pernah kami alami, dalam hal keuangan. Sebelum menikah, saya bekerja mendapatkan penghasilan. Jelas, uang itu hak saya pribadi. Rasanya bebas merdeka mau pakai uang itu untuk apa saja. Namun, saat menikah dengan Liana, dia mengharapkan saya untuk berdiskusi dulu dengannya jika berniat membeli sesuatu. Apalagi jika yang dibeli harganya mahal.

Dengan kematangan emosi yang cukup, perbedaan pendapat seperti ini dapat diselesaikan dengan lebih cepat, tidak perlu berlarut-larut.

Apa sih emosi itu? Emosi adalah tanggapan atau respon dari dalam diri terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi silih berganti. Masalah-masalah yang suka mampir dalam hidup, tidak bisa diatur dan seringkali di luar kendali.
Misal: Pagi hari, begitu mau pergi, ehhhh jalanan macet! Orang yang kurang matang, kemacetan akan bikin dia marah-marah dan ngomel sepanjang jalan, bahkan bikin dia bete sepanjang hari. Sebaliknya, orang yang stabil emosi, dapat bersikap tetap tenang, karena sadar mau ngamukpun macet tetap macet, toh pelan-pelan juga pasti sampai. Santai aja.
Sekarang, bagaimana mengukur kematangan emosi? Kematangan emosi diukur dari kecakapan menyampaikan emosi dengan sehat.

richness emotions

Continue reading

GARAM & TERANG bagi Keluarga

Telah Terbit Buku GARAM & TERANG bagi Keluarga cetakan ke-4 dilengkapi dengan Study Guide.

 

Now plus STUDY GUIDE

Now plus STUDY GUIDE

 

Menyingkapkan Rahasia Penting Pernikahan yang dibagi menjadi 11 Bab mengikuti akronim

G A R A M  &  T E R A N G:

 

  1. God as The Foundation of Marriage.
  2. Able to Communicate.
  3. Resolving Conflict.
  4. Adventure of Living.
  5. Merciful Heart.
  6. Trust Between Husband & Wife.
  7. Emotional Maturity.
  8. Romance in Marriage.
  9. Adaptability& Flexibility.
  10. Not Egocentric.
  11. Growing Personally.

 

 

Buku ini ditulis dengan bahasa RENYAH sehingga ENAK DIBACA & MUDAH DICERNA, serta dijamin tidak membosankan!

Pdt. Paul Gunadi Ph.D.

 

 

Dapatkan di Toko Buku VISI HP 081 321 00 7070 atau BB 2228A50A

Atau pemesanan melalui penulis mendapatkan harga spesial plus autograph di 0812 2099 7939.

 Nah ini Penulisnya,  CLICK aja  Ev. Chang Khui Fa

Now plus STUDY GUIDE

Now plus STUDY GUIDE

 

Kata Pengantar GARAM & TERANG bagi Keluarga Oleh Chang Khui Fa

Puji Tuhan! Lima tahun telah berlalu sejak diterbitkannya Buku GARAM & TERANG bagi Keluarga. Banyak suka dan duka yang saya alami seiring terbitnya buku ini. Apakah suka duka tersebut sebanding? Sulit untuk mendefinisikannya karena hidup masih terus berjalan bahkan berlari menempuh asa, yang jika dipandang dari sudut kekekalan, saya percaya semua mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8: 28)

Ada pepatah: Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Saya sangat setuju dengan pendapat ini. Mengapa untuk keabadian? Mencoba memahami apa yang Tuhan Yesus kerjakan dalam hidup setiap orang tebusannya adalah untuk bertumbuh makin menyerupai Kristus – maka melalui menulis, saya secara pribadi mengalami pertumbuhan kerohanian untuk semakin dan semakin lagi bergantung kepada Tuhan, pertumbuhan konsep berpikir agar semakin komprehensif dan tidak cupet, pertumbuhan pengekpresian emosi dengan lebih sehat, pertumbuhan relasi persahabatan dengan orang-orang seiman yang Tuhan pertemukan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak lekang oleh zaman dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sungguh menulis adalah bekerja untuk keabadian!

Bahkan melalui menulis buku, bukan hidup saya saja yang berubah…saya mencatat banyak orang yang mengalami perubahan setelah membaca tulisan ini. Sebagai alat keabadian, saya melihat buku ini sudah menjalankan perannya yaitu menjadi alat yang Tuhan pakai untuk mendatangkan kemuliaan bagi-Nya. Kabar datang dari sana-sini tentang orang-orang yang mengalami perubahan konsep tentang pernikahan. Ada pemuda yang mau menikah dan merasa sangat dipersiapkan menuju mahligai pernikahan setelah bersama calon pasangannya bersama-sama membaca buku ini. Ada juga yang mau bercerai, tapi mengurungkan niatnya setelah membaca buku ini. Ada pula hamba-hamba Tuhan yang menggunakan buku ini sebagai panduan untuk bimbingan pranikah di gereja.

Lebih luas lagi, buku ini telah dijadikan panduan untuk pemuridan pasutri di beberapa gereja lokal, yang akhirnya mendorong saya untuk memulai sebuah pelayanan baru yaitu Couple Discipleship Assistance (CDA). Melalui pelayanan ini, saya meng-assistansi pemuridan pasutri di gereja-gereja lokal. Para pasutri di gereja lokal dikelompokkan berdasarkan usia pernikahan mereka. Setiap kelompok hanya lima pasang dan setiap bulan bertemu untuk membahas tema-tema yang diambil dari Buku GARAM & TERANG bagi Keluarga. Melalui diskusi dalam kelompok yang solid, kristalisasi firman Tuhan dan penerapannya pastilah terjadi dalam hidup setiap pasutri.

Akhir kata, doa saya agar buku inipun menjadi alat Tuhan yang mengubahkan kehidupan pernikahan Anda untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya. Undanglah Roh Kudus untuk berbicara ke dalam hati sanubari Anda. Jujur, terbuka dan tulus untuk diperiksa oleh-Nya.
Doakan: Tuhan, tolong aku yang lemah ini untuk berubah menjadi makin seperti-Mu. Amin.
Selamat Membaca!

Ev. Chang Khui Fa