Tag Archive | kehendak Tuhan

Pribadi Tidak Bertanggung Jawab dan kekanak-kanakan

Mr./Ms .Wrong 4

Pribadi Tidak Bertanggung jawab dan Kekanak-kanakan

Mau menyimak Siaran Dating INSIGHT di YouTube, KLIK aja di sini

5 tipe dari Mr./Ms. Wrong:

  1. Tidak seiman, karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
  2. Abusive (suka menganiaya)
  3. Addictive (kecanduan)
  4. Infidelity (tidak setia)
  5. Irresponsibility dan Immature (Tidak bertanggung jawab dan kekanak-kanakan)

Tipe ke 1 sampai 4, silahkan baca dalam bahasan Mr./Ms.Wrong sebelumnya.

tidak bertanggungjawab dan kekanak-kanakan

Seperti apakah pribadi Irresponsibility dan Immature?

Bicara soal pribadi yang irresponsible dan immature, fenomenanya ini bukan cuma sekali-sekali. Yang kami maksud adalah sebuah pola (pattern) atau kebiasaannya (habits) sehari-hari. Bukan temporer, tapi satu keadaan di mana seseorang benar-benar merasa nyaman dengan childish-nya. Orang dewasa tapi kekanak-kanakan, sudah punya tanggung jawab tapi senang mengelak, sukanya main-main terus.

Contohnya Riko, dia mencari pacar yang lebih tua usianya. Dia betah dengan sikap kekanak-kanakannya. Secara langsung atau tidak, kala bicara, ada message yang ingin disampaikan, “Aku ingin begini terus, kamu urusin aku ya…” “Aku suka dengan cewek yang bisa ngemong…” “Kamu aja yang tentuin, aku ikut aja…,”sering Riko berkata begitu ke pacarnya. Sebagai perempuan, tentunya mengharapkan seorang pria yang berperan memimpin keluarga, dan sigap mengambil keputusan. Jika kekanak-kanakan, bagaimana bisa direspect?

Untuk mendeteksinya, ada beberapa karakteristik seorang yang irresponsibility dan immature:

  1. Tidak punya arah/target/goal dalam hidup.
  • Tidak punya arah karena ga ada target. Ketika ditanya, “Apa rencanamu sehabis ini?” ”Yah, kita lihat saja nanti” jawabnya. Sebenernya sih, dia ga tau mau ngapain…Normally, orang kuliah menargetkan lulus dalam jangka waktu tertentu. Kuliah harus lulus dalam waktu 4 tahun. Jika tidak punya target, bisa jadi tidak lulus-lulus, terus saja menikmati statusnya sebagai mahasiswa. Gelarnya MA (Mahasiswa Abadi) atau DO (Drop Out).
  • Tidak punya tujuan hidup. Sayang loh, waktu terus berjalan. Teman-teman yang dulu bersama-sama, mungkin sudah berhasil. Si Boy teman sebangku di SMA, sukses lulus S-2. Si Fei teman SD dulu, sudah menikah. Si Bobi yang kocak sekarang udah berkeluarga dan punya dua anak. Win, yang selalu dapat A di kuliah sekarang telah jadi direktur. Teman baik si Ocha sudah jadi pengusaha seperti yang dia dulu impikan. Sebagai orang normal, melihat teman-teman sudah berhasil dibanding diri yang belum mencapai ini dan itu, pastilah stress berat!!! But, yang namanya immature people, tidak ambil pusing. “Santai aja… itukan mereka. Kalo aku, yang penting hepi…,” jawabnya setiap kali ditanya.
  • Tidak dapat membuat keputusan dalam banyak aspek, so menimbulkan banyak ketidakpastian. Yang sederhana, pacarnya nanya, “Kita mau makan dimana nih?” Dijawab, “Terserah aja…sembaranglah.”
  • Tidak punya pendirian, tidak tau apa yang diinginkannya, tidak bisa mengambil keputusan, tidak berani mengemban tanggung jawab karena takut perubahan. Takut menjadi dewasa.

2. Last minute Person.

Waduh besok harus kumpul tugas nih… tapi ini film bagus banget. Nonton aja lah ga apa-apa. Ntar malem begadangan ngerjain tugas. Masih ada waktu kok,” pikirnya. Orientasinya adalah mengerjakan yang disuka atau yang ingin dilakukan saja. Akhirnya, hasil kurang maksimal, apa yang dikerjakan tidak pernah memuaskan dosen atau atasannya (jika sudah bekerja).

Jaman dulu ada istilah SKS (Sistem Kebut Semalam). Mengerjakan apa saja di menit-menit terakhir. Buat tugas cepat-cepat, pokoknya beres… selesainya asal-asalan. “

3. Dia selalu terlambat bahkan lupa untuk jadwal yang penting sekalipun. Bahkan ultah pacarnya juga terlupakan. “O Iya….Kamu ultah ya….” Ini terjadi karena hidupnya unscheduled (tidak terencana).

4. Tidak punya inisiatif. Selalu menunggu. Kenalan aja tidak bisa duluan, mesti ada yang mengenalkan. Apa-apa mesti disuruh-suruh dan diminta-minta.

5. Sulit mempertahankan pekerjaan untuk jangka waktu yang lama. Berpindah pekerjaan untuk kemajuan karir tentu OK, tetapi kalau berhenti sebelum dapat yang lebih baik? Pribadi immature biasanya keluar karena merasa tugasnya terlalu berat, adanya tuntutan atasan yang tidak mau diperjuangkan, bosan… Langsung saja berhenti kerja, walau belum ada yang baru. Memang dia hidup dalam dunianya sendiri. Segala sesuatu ditimbang berdasarkan apakah itu asyik apa ndak buat dia. Susah dibilangin karena dia punya pendapat sendiri yang selalu benar menurut dirinya.

6. Ketidakmampuan memanage keuangan.

Dia punya kebiasaan buruk dalam keuangan. Sering berhutang. Pengeluaran selalu lebih besar dari penerimaan. Hal ini bahaya sekali, terlebih dalam pernikahan. Jika memiliki pasangan yang spending money-nya itu tidak terkontrol, bisa-bisa kelibas hutang.

Jika lagi mau, biar mahal akan dibayar; bahkan bila perlu berhutang. Bagaimana bayarnya? Sanggup ndak mencicilnya? Tidak pusing! Yang penting “Kudapat yang kumau SEKARANG!” Persis anak kecil yang maksa ibunya membelikan mainan sampai nangis-nangis, ngambek, teriak-teriak…Makanya, anak dari kecil sudah harus dididik supaya tidak terjebak pola: “Harus selalu dapat yang diinginkan”.

7. Kamarnya selalu berantakan. Jika sedang wakuncar (waktu berkunjung ke rumah pacar), liat-liat kamarnya. Kamar yang berantakan adalah tanda bahwa hidupnya tidak terorganisir dengan baik.

 

Kenapa seringkali kita tidak memperhatikan tanda-tanda Mr./Ms. Wrong?

  1. Familiar. Apa maksudnya? Sungguh aneh, ini riset di Amerika. Seorang anak gadis yang memiliki ayah alcoholic, ternyata sadar tidak sadar akan memilih untuk menikah dengan pria alcoholic juga. Seorang gadis yang ayahnya abusive, cenderung bisa menerima perlakuan abusive terhadap dirinya. Ujung-ujungnya, dia OK saja dengan pria yang abusive.Seorang gadis yang dibesarkan ayah tidak bertanggung jawab, anehnya akan jatuh juga ke pelukan seorang pria yang sami mawon.Kok bisa begitu? Ini yang disebut familiar, jadinya tidak peka terhadap seseorang yang Wrong. Sungguh harus ada seseorang yang berteriak di kupingnya,”Kamu bakal WRONG kalau pacaran sama orang WRONG! Sadar ga sih?!!!”
  2. Saya merasa tidak layak mendapat yang terbaik. Saya juga elek kok. Dari familiar, muncullah perasaan ini: “Saya jelek, mana boleh saya dapat yang bagus?”
  3. Mendingan lah daripada ga ada. Padahal mendingan ga ada daripada ada tapi Wrong. Jika tidak ada, toh bisa berseru pada Tuhan untuk membuka lembaran baru, bisa memperluas pergaulan dengan bebas merdeka, ketimbang ada tapi Wrong, pastinya akan jauh lebih pusing, tujuh keliling, makin lama makin ribet.
  4. Have same problem. Kita ada dalam suatu masyarakat yang rasanya tabu, malu menceritakan masalah atau keburukan keluarga kita. Akhirnya kita hanya dapat menyembunyikan menjadi rahasia keluarga. Kalau sampai cerita, adalah kepada orang yang kita yakin ada mirip-mirip masalahnya dengan kita. Karena sering cerita, akhirnya berlayarlah bersamanya dalam masalah yang makin menenggelamkan hidup.

Padahal jika itu sebuah fakta yang gelap, adakah satu keinginan untuk keluar? Atau kita mengulangi lagi sejarah yang buruk? Mengulangi lagi kisah orang tua ke dalam hidup kita? Kenapa tidak mau mencari konselor? Kenapa tidak mau mendiskusikan masalah dengan orang yang berkompeten?

Mari mengundang intervensi Tuhan, untuk menghadirkan yang baru, karena yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang!

5. Takut breaking up. Kalo putus…siapa yang mau sama saya?

 

Mari kita perhatikan firman di bawah ini.

(Rom 12:2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Roma 12 menyatakan bahwa Tuhan menghendaki kita mengalami pembaharuan budi. Tandanya, kita semakin cermat dan teliti sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah. Pastilah kehendak-NYA adalah yang terbaik dan sempurna.

Dating INSIGHT dengan seluruh programnya bertujuan mengedukasi muda-mudi. Mengungkapkan pemahaman yang jelas dan utuh mengenai pacaran. Akhirnya, anda dapat menilai, pacaran seperti apa sih yang baik? Pasanganku ini sudah tepat atau belum? Bagaimana membina relasi yang langgeng seumur hidup? Saya sedang dalam relasi yang baik atau buruk?

Sering kali masalah timbul karena kurang paham saja. Hal sepele dibesar-besarkan, yang primer malah diabaikan. Hati-hati! Bisa jadi saat pacaran, segala kekurangan pasangan dimaklumi, “Ah ga pa-pa lah…dia emang orangnya begitu, yang pentingkan saling cinta.”

Dating INSIGHT melalui serial Mr./Ms. Wrong sudah memberikan informasi: Yang kayak begini berpeluang merusak relasi bahkan kehidupan pribadi. Ini bukan masalah kecil, so tidak boleh dianggap sepele. Masalah tetap masalah, entah disadari atau tidak, bahkan bisa menjadi potensi yang dapat “merobek-robek” kehidupan.

Pembaharuan budi didapat dari sumber-sumber yang tepat, bukan sumber sembarangan, tidak kompeten, atau menyesatkan. Firman Tuhan seharusnya menjadi sumber paling komprehensif dan terpercaya.

Apa bedanya orang bodoh dan pintar? Orang pintar dapat menggali informasi-informasi yang diperlukan agar dapat membuat keputusan yang tepat; yang bodoh, tidak memiliki akses terhadap informasi-informasi yang benar, bahkan seringkali tidak ingin mencari tahu. Jangan menjadi bodoh, tapi carilah hikmat Allah, mumpung segalanya belum terlambat!

Melalui kebenaran-kebenaran yang diungkapkan dalam Dating INSIGHT, saya berharap insan muda semakin cerdas dalam memilih, tambah mengenal apa maunya Tuhan. Akhirnya, apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna menjadi bagian dalam kehidupanmu. Terlebih, hikmat Tuhan, kebenaran-kebenaran yang disingkapkan, haruslah dilaksanakan dengan penuh keberanian!

Setelah memahami kebenaran, umpama ternyata Tuhan membukakan bahwa pasanganmu termasuk salah satu tipe Mr./Ms. Wrong. Nah, bagaimana langkah selanjutnya?

1. Konfrontasikan dengan pasangan. Bukan ajakin berantem, tapi sama-sama menyimak Dating INSIGHT (bisa via youtube, compact disc atau membaca web ini) dan kemudian diskusikan, ”Koq sepertinya permasalahan kita sama dengan yang dibicarakan? Bagaimana kita harus menyikapinya?” Harap-harap Roh Kudus memberikan kesadaran baru. Apa tahapan berikutnya?

2. Mencari pertolongan, bisa ke konselor atau hamba Tuhan untuk memberikan pandangan dan masukan-masukan. Jika ingin berkonsultasi dengan kami, silahkan buat appointment melalui BBM/ SMS/ WA. 0812 2099 7939/ BBM: 759246 BB.

3. Sambil melakukan semua itu, sembari berseru meminta campur tangan Tuhan. Lihatlah! Allah kita hidup, Dia bukan Allah yang mati! Dia akan mengintervensi hidupmu, dan memberikan pertolongan.

4. Setelah semua tahap dicoba, bagaimana kalau hubungan tetap tidak membaik? Langkah terakhir adalah segera akhiri hubungan tersebut! Sebelum terlanjur masuk dalam komitmen pernikahan kudus seumur hidup. Putus memang sakit, namun hanya sebentar kok, daripada seumur hidup bercucuran air mata.

Setiap insan muda yang mendengar siaran ini, harus tertantang untuk grow up! Karena hidup bukan hanya bagi diri sendiri saja. Suatu saat anda pasti akan berkeluarga.

keluarga bahagia

Ayo GROW UP!

God Bless You,

Ev. Chang Khui Fa & Liana

 

Mr./Ms. Wrong 1: Tau dari mana?

Dating INSIGHT

Mr or Ms. Wrong 1: Tahu dari mana?

Simak pembahasan kami via YouTube KLIK di sini

Huruf “M” adalah huruf terakhir dari kata G A R A M.

  1. God’s Will in Dating
  2. Am I The Perfect Candidate?
  3. Ready or Not for Dating?
  4. Asking Someone Out
  5. Mr. or Ms. Wrong

Nantikan buku Dating INSIGHT Season 1 yang akan segera terbit.

Mr. or Ms. Wrong. Jika kita menemukan bahwa si “dia” bukanlah pasangan yang tepat sejak awal, sungguh melegakan! Jangan sampai tinggal selangkah menuju pelaminan, eh… baru sadar si dia bukanlah orang yang tepat (gawat sekali).

Yesaya 32:17, Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

wrong

Continue reading

Dating Me Out

Dating Insight

Asking Someone Out 4 – Dating Me Out

23 Juni 2014

Nonton Dating Insight via Youtube yuk, KLIK aja di sini

Efesus 2: 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Bicara asking someone out, biasanya secara aktif dilakukan para pria. Bagaimana jika seorang wanita yang bergumul tentang tema ini? Pastinya, ada tahapan-tahapan di mana Tuhan ikut campur tangan di dalamnya.

Kali ini, Ibu Ev. Lily Efferin membagikan kisahnya. Sampai saat ini, beliau telah 29 tahun mengarungi mahligai pernikahan. Sudah melewati pernikahan perak. Bersama suaminya Bapak Pdt. Henry Efferin, mereka dipakai Tuhan luar biasa melayani dan memberkati banyak orang dan keluarga. Tentunya hal yang dinikmati hari ini tidak lepas dari pergumulan masa lalu. Bagaimana menemukan orang yang tepat dan menjadi pasangan yang sepadan? Yuk kita ikuti kisah Ibu gembala dalam pergumulannya menemukan “si dia.”

Begini kisahnya:

Seperti yang ditulis dalam Efesus 2:10, saya percaya dan memiliki kesadaran bahwa tangan Tuhan ikut bekerja menyiapkan pekerjaan baik dalam hidup saya. Tuhan mau kita hidup di dalamnya, termasuk perjalanan mencari dan menentukan pasangan hidup. Sejak muda, saya sudah merasakan begitu besar kasih dan anugrah Tuhan. Saya dapat mendengar kebenaran Firman Tuhan dan mengenal Tuhan. Saya yakin Tuhan memiliki rancangan indah atas hidup saya.

Sebagai wanita, saya percaya Tuhan menciptakan saya untuk seseorang. Walau demikian saya harus menyimpannya dalam hati. Kenapa? Karena setelah lulus SMA, saya masuk sekolah Alkitab. Saya masih ingat Pendeta berpesan, ”Ingat ya, kamu harus fokus pada sekolah, tidak boleh pacaran!” Dalam sekolah seminari, peraturan sangat ketat. Apalagi kalau ketahuan pacaran, pasti langsung dilayangkan Surat Peringatan (SP) 1, SP 2, terakhir SP 3, dan langsung dikeluarkan dari sekolah. Tiap kali liburan dan pulang ke rumah, orang tua suka bertanya, ”Sudah punya pacar belum?” Sebaliknya, pendeta terus mengingatkan, ”Tidak pacaran kan?”

my one

Dalam perjalanan itu, saya menyadari beberapa hal penting yang berkaitan dengan dating. Saya singkat jadi 5 K:

Continue reading

Cara ngobrol Asyik dengan si dia

Dating INSIGHT: Asking Someone Out 3

Komunikasi Jitu Buat Ngajak Si ‘Dia’ Nge-Date

 

Nonton YouTube Dating INSIGHT silahkan KLIK di sini

Wow si dia membuatku jatuh cinta! Tapi…bagaimana cara memberitahu dia?

Komunikasi sangat penting, seperti nafas dalam hidup. Tidak berkomunikasi, pelan-pelan pasti menuju kematian relasi. Demikian pula cara bicara yang tidak tepat,bukan membuat tambah dekat,malah bikin hubungan jadi renggang. Bayangkan kalau bernafas dalam gas beracun, alih-alih makin sehat malah membunuh. Setiap kali ngomong, langsung melukai.

Dalam masa pendekatan, jangan sampai komunikasi berhasil hanya satu kali. Lain waktu ngajak dia jalan lagi, eh eh eh…langsung ditolak. Ga mau begitu kan?

Nah, seperti apa komunikasi yang jitu dan pastinya membuat dia tambah lekat?

Mari renungkan dulu Firman Tuhan dari Kidung Agung 2: 11-14

Kekasihku mulai berbicara kepadaku: “Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!”

So romantic

Apa sih yang dibicarakan oleh sang kekasih?

“Marilah…Lihatlah…” Kata mari dan lihat merupakan ajakan. Melihat bersama-sama, berdua menikmati keindahan sekitar. Mereka membicarakan objek dalam konteks jaman itu: memandang ladang dengan bunga warna-warni, mendengarkan keceriaan kicauan burung, menghirup wewangian buah demi membangkitkan semua indra dalam tubuh untuk bersuka cita bersama.

Dalam kata-katanya tersirat perhatian. Dia memberikan pujian. “manisku…jelitaku …merdu suaramu dan elok wajahmu!”

Jaman telah berubah, tapi emosi cinta yang dirasakan penulis Kidung Agung masih dapat dirasakan oleh kita yang hidup pada zaman ini. Objek keindahannya saja yang berubah.

Bagaimana supaya komunikasi yang dilancarkan memiliki kuasa mengikat dua insan? Mari kita kupas bersama.

Ada tiga pola komunikasi yang sering dipakai. Dua yang pertama tidak bagus. Jika Anda menggunakannya, hati-hati! Dapat merusak relasi. Cepatlah sadar dan mengubah pola yang buruk…

heart to heart

1. Pola pertama: I and I (percakapan saya dengan saya)

Continue reading

Asking Someone Out: Apa sih kesulitannya?

Dating INSIGHT A2

Asking Someone Out: Apa Kesulitannya?

Nonton dan Subscribe Dating INSIGHT Channel via YouTube Silahkan KLIK di sini.

Amsal 30: 18-19 Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.

Amsal 30

Apa yang membuat penulis Amsal heran? Jalan rajawali di udara. Aneh, mengapa rajawali tidak mengepakkan sayapnya sewaktu terbang di udara? Berbeda dengan burung-burung lain yang harus terus mengepakkan sayapnya supaya bisa terbang.

Bagaimana ular dapat berjalan di atas cadas tanpa kaki? Kadal saja mempunyai kaki untuk mencengkram kuat cadas tersebut.

Lalu, coba lihatlah kapal di tengah-tengah laut! Pada masa itu belum ada mesin untuk menggerakkan kapal. Bagaimana kapal bisa tiba di tempat tujuan? Angin bertiup dengan arah yang berubah-ubah. Saat angin tidak berpihak, kok tetap kapal itu dapat bergerak ke arah yang diinginkan?

Dari semua yang mengherankan itu, ada satu lagi. Bahkan dituliskan “tidak kumengerti” yaitu jalannya seorang laki-laki dengan seorang gadis.

Bayangkan seorang anak laki-laki kecil. Dia bermain dengan gadis-gadis cilik di lingkungan rumahnya. Semasa sekolah bertemu dan bergaul dengan banyak teman wanita. Tidak ada perasaan apa-apa. Tetapi kenapa…setelah dewasa, di antara sekian banyak wanita yang ditemui, tiba-tiba timbul perasaan suka hanya untuk seorang gadis saja? Bahkan perasaan itu bisa berkembang menjadi komitmen seumur hidup, untuk mencintai dan setia hanya pada seorang itu saja. Memang ini adalah misteri.

Bagaimana jika hal ini terjadi pada diri Anda? Wah, rasanya aku jatuh cinta! Ingin sekali berdua saja bersamanya, tapi gimana ngajaknya?

Asking someone out sangat berbeda dengan asking friends out.

Someone berarti si dia satu-satunya (the one and only), sedangkan friends ya rame-rame. Di masa pemuda, kami sering pergi bersama teman-teman. Kala pergantian tahun, pernah ada sebuah gereja mengadakan kebaktian tahun baru jam 8 pagi. Saya mengajak teman-teman, “Yuk kita datang kebaktian ke situ!” Beberapa teman yang diajak bilang, ”Waduh! Aku gak bisa bangun!” Karena memang semalaman kami begadang merayakan pergantian tahun.

Tapi walau ada satu atau dua orang teman yang menolak, saya tetap semangat. Karena beberapa teman confirm mau ikutan. Kami tag-in deh bangku buat teman-teman, sampai akhirnya sebaris penuh semua.

Kalau asking friends out dan ditolak pasti tidak masalah. Toh, masih segudang teman lainnya.

Asking someone out sangat berbeda. Kenapa? Takut ditolak! Kalau sampai ditolak…Acara batal! Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan dirinya. Sedihnya…bisa sampai gigit jari dan menyesal 7 turunan!

Continue reading

Kematangan Emosi: Ekspresi Emosi yang Sehat

R3- Kematangan Emosi
Ini masih di dalam pembahasan huruf ke-3 “R”-Ready or not for dating.

Menyimak via YouTube silahkan KLIK di sini
Amsal 15: 13 “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. “

Apa sih pentingnya kematangan emosi?

Emosi memengaruhi pikiran dan tingkah laku seseorang, juga mendasari motivasinya. Misal: Alasan atau motivasi seseorang mencari pacar. Ada yang mencari pasangan hidup karena dilandasi perasaan takut. “Saya takut tidak dapat pasangan hidup, maka harus cepat-cepat mencari pacar.” Jelas, drivenya adalah “fear” (perasaan takut).

Sebuah survey yang ditujukan pada anak-anak SMP dan SMA mempertanyakan, “Kenapa kalian berpacaran?” Sebagian besar menjawab karena: “Kuatir di”cap” teman-temannya “tidak laku.”
Mengambil keputusan untuk pacaran dengan motivasi takut ga laku bukanlah alasan yang tepat, terlebih emosi remaja belumlah matang.
Nah, emosi seperti apa yang seharusnya ada saat seseorang ingin berpacaran? Apakah emosi yang menggebu-gebu? Panas dingin ga karuan? Apakah kalau emosi jatuh cinta muncul, itu pertanda seseorang boleh pacaran?
Emosi yang terbaik saat seseorang ingin memulai hubungan dengan lawan jenis adalah munculnya perasaan tenang dan bukan didominasi perasaan kuatir atau takut.
Tenang bahwa pada masanya nanti, saya pasti akan menemukan dan menjalin hubungan dengan orang yang benar. Pikiran yang jernih sangat erat kaitannya dengan perasaan tenang. Pikiran yang jernih akan memampukan kita mengambil keputusan lebih baik. Apalagi masalah calon suami/isteri yang akan menemani Anda seumur hidup! Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa mengajak menjalin hubungan yang serius pada saat kondisi emosinya sedang labil.

Mengapa untuk memulai hubungan yang serius perlu kematangan emosi?
1. Dapat meminimalisir pengambilan keputusan yang salah.

Seringkali kita bisa keliru mengambil keputusan. Membeli barang yang tidak sesuai, salah pilih tempat rekreasi, makan di resto yang tidak enak…Pilih pacar yang dampaknya seumur hidup, so pasti jangan sampai salah pilih dong! Kalau salah pilih bisa gawat, itu berarti penderitaan selama sisa hidup kita. Supaya dapat memilih dengan tepat dibutuhkan kematangan emosi yang cukup.

2. Saat memasuki relasi jangka panjang, membutuhkan kestabilan emosi dan rohani.

Stabil artinya ndak gampang berubah-ubah dan tidak emosional. Orang yang stabil emosinya, bisa menerima orang yang berbeda darinya.
Sebaliknya, orang yang emosinya kurang matang, menuntut orang lain untuk berpikir seperti dia; melakukan segala sesuatu sesuai caranya, jika lain sedikit langsung kesal dan marah ga karuan.

Kematangan emosi dapat menjembatani berbagai perbedaan. Kala dua insan memasuki pernikahan, pasti banyak bedanya: Cara berpikir, latar belakang keluarga, kebiasaan memakai uang, juga ketidaksamaan prinsip (penting bagi seseorang, belum tentu penting bagi yang lain).

Contoh yang pernah kami alami, dalam hal keuangan. Sebelum menikah, saya bekerja mendapatkan penghasilan. Jelas, uang itu hak saya pribadi. Rasanya bebas merdeka mau pakai uang itu untuk apa saja. Namun, saat menikah dengan Liana, dia mengharapkan saya untuk berdiskusi dulu dengannya jika berniat membeli sesuatu. Apalagi jika yang dibeli harganya mahal.

Dengan kematangan emosi yang cukup, perbedaan pendapat seperti ini dapat diselesaikan dengan lebih cepat, tidak perlu berlarut-larut.

Apa sih emosi itu? Emosi adalah tanggapan atau respon dari dalam diri terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi silih berganti. Masalah-masalah yang suka mampir dalam hidup, tidak bisa diatur dan seringkali di luar kendali.
Misal: Pagi hari, begitu mau pergi, ehhhh jalanan macet! Orang yang kurang matang, kemacetan akan bikin dia marah-marah dan ngomel sepanjang jalan, bahkan bikin dia bete sepanjang hari. Sebaliknya, orang yang stabil emosi, dapat bersikap tetap tenang, karena sadar mau ngamukpun macet tetap macet, toh pelan-pelan juga pasti sampai. Santai aja.
Sekarang, bagaimana mengukur kematangan emosi? Kematangan emosi diukur dari kecakapan menyampaikan emosi dengan sehat.

richness emotions

Continue reading

Makin Tua atau Tambah Dewasa? Kematangan Sosial

R2: Social Age / Kematangan Sosial

Nonton via YouTube KLIK di SINI

Pengkotbah 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Mazmur 144:4 Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.

 Apa nih artinya? Artinya…waktu cepat sekali berlalu, juga bermakna manusia akan lekas sekali lenyap. Betapa hidup manusia sangat fana. Mazmur 103: 15, dituliskan,”Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; (16) apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”

Dalam berjalannya waktu, adakah Anda semakin dewasa? Atau, waktu terus lewat, namun kita masih seperti yang dulu, mandeg dan tidak mengalami perkembangan. Mirip lagu ”Aku masih seperti yang dulu…..” Waktu berubah, jamanpun berganti, sekarang sudah tahun 2014, tetapi apakah Anda bertambah dewasa dan bertambah matang? Are you getting old atau growing up?

Bunga yang indah di padang, sekejap lenyap saat angin datang; demikian pula akhir kehidupan manusia jika dijalani tanpa pemahaman yang utuh atas hidup. Bisa tenggelam ditelan jaman. Kehidupan manusia akhirnya tidak pernah memberikan pengaruh, tiada jejak, bahkan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tak ada yang mengingat bahwa Anda pernah hadir di dunia ini. Apa yang harus Anda perbuat agar hidup berlalunya tidak sia-sia? Lakukanlah perbuatan yang berdampak kekal. Dalam setiap bagian hidup, pergunakan waktu yang ada dengan bijaksana. Segala sesuatu ada masanya, jangan sampai Anda dilibas waktu.

WASPADALAH! Ada masa di mana seseorang harus fokus pada prestasi akademik tanpa diganggu urusan pacaran. Namun, ada juga masa di mana harus mulai mencari pasangan hidup! Ada masanya juga setiap orang memasuki pernikahan dan berkeluarga. Sampai akhirnya tiba masa membesarkan anak-anak.

Bersiaplah menghadapi setiap masa dalam hidup. Bukankah manusia seperti bunga atau rumput yang segera lenyap ketika angin menerjangnya? Begitu periode dating datang, siapkah Anda? Dia akan melewati kita seperti angin yang melintas. Karenanya sebelum tiba, ada beberapa hal yang harus ditegakkan terlebih dahulu. Tenang saja tidak perlu buru-buru, yang penting persiapan diri. Masa pacaran pasti akan menjemput. Nah, Are you Ready or Not for dating?

Salah satu tanda ketidak siapan seseorang memasuki masa pacaran adalah seringnya putus-sambung-putus-sambung. Yang demikian, belum benar-benar mengenal diri, seperti pikiran, emosi, dan keinginannya. Juga belum mengenal diri pasangannya, tapi udah berani jadian. Akhirnya pecah konflik dan sama-sama teriak,“Sudah putus saja!”

Begitu putus, tahu-tahu bingung, “Kok hidup sepi sendiri?” Eh eh eh…ga lama,“Sambung lagi ahhh”. Pacaran jadi gak asyik, gak seru…yang ada hanya wajah muram durja penuh beban dengan perkara-perkara yang tak terselami. Demikian pula halnya dengan pasangan yang memasuki pernikahan tanpa kesiapan. Akhirnya, banyak dari mereka memilih untuk mengakhiri penikahan dengan berpikir pendek: Bercerai…

Di sisi lain, jangan pula terlambat! Seperti bunga yang walaupun indah tiada tara toh akhirnya menjadi layu. Di masa bunga mekar, merekah, sangat indah, siapkah Anda memilih kumbang yang datang meminang?

Anda yang berada dalam masa pacaran, harus ingat bahwa masa ini pun tidak selamanya. Masa itu harus berakhir. Berakhir karena putus, kalau memang alasannya jelas (lihat pembahasan Mr/Mrs Wrong next on GARAM) atau mengakhiri masa pacaran karena Anda memasuki masa pernikahan seumur hidup. Sungguh indah!

Masak pacaran terus tiada akhir? Saat ditanya kapan akan menikah? Jawabannya: “May… maybe Yes maybe Not…” Ngeri kan? Membuat pasangan dalam posisi terombang-ambing, tanpa kepastian. Yang paling rugi so pasti sang gadis. Wanita seperti bunga, ada masanya indah menawan. Kala masa itu lewat (ketika bunga sudah layu), eh… malah diputus, oh sungguh kejam! Jadi Pria harus Gentleman: Iya katakan ya, tidak katakan tidak. Yang tegas dan bertanggung jawab, jangan sembarangan. Wanita juga harus menjaga diri baik-baik, menolak dipermainkan dan diombang-ambingkan dalam ketidakpastian.

Inilah mengapa topik ini sangat penting, kami ingin Anda semua berhasil! Tidak sampai mengalami gagal di sana sini atau “GATOT” gagal total.

Anda harus memasuki pacaran dengan confidence, dan mengetahui bahwa ujungnya adalah pintu pernikahan. Dan ketika memasuki pernikahan, Anda dapat mempertahankan dan menikmati pernikahan seumur hidup.

“Wah saya sudah 17 tahun, berarti saya sudah siap pacaran!” Eits, belum tentu! Kesiapan pacaran tidak bisa ditentukan hanya oleh usia saja. Ada faktor kematangan lain yang perlu dipertimbangkan yang saat ini kita bahas adalah kematangan sosial.

Kematangan sosial ini berkaitan erat dengan orang-orang lain di sekitar kita. Bagaimana seseorang membina relasi dengan lingkungan sosialnya. Seorang psikolog, Erick Erickson mengatakan,”Seseorang memasuki fase intimacy vs. isolasi pada usia 17.” Di usia 17, seseorang mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Dulu-dulu lawan jenis mondar-mandir di depannya tidak ada”setrum.” Tapi sekarang aneh, tiba-tiba dia merasakanjantungnyaberdebar-debar, rupanya mulai naksir! Jatuh cinta yang berjuta rasanya.

Pada banyak orang walau umurnya 17 tahun atau lebih, namun tidak memiliki kecakapan untuk membina kedekatan. Contoh konkret yang dijumpa sehari-hari: Saat mencari pasangan – sulit memulai pembicaraan, di hadapan lawan jenis minderan, so bagaimana mampu membina relasi jangka panjang? Melakukan pendekatan saja gemetar!

Bagi yang sudah menikah, suami pulang kerja, ternyata tidak meluangkan waktu untuk mengobrol dengan istri atau menanyakan kabar,tapi langsung asyik melakukan apa yang disuka, misal: bermain game, nge-lap mobil, nonton TV. Seharusnya sang suami membangun intimacy, tetapi malah mengisolasi diri.

Ada pula suami-suami yang sama sekali tidak mau diganggu. “Saya mau nonton, sudah cape nih, jangan banyak ribut.” Mengisolasi diri, membuat pagaryang tinggi sehingga tidak ada yang dapat mendekati atau berelasi dengannya. Atau sebagai isteri, sibuk terus. Tidak pernah mengajak suami bicara heart to heart. Akhirnya pas anak-anak sudah besar, mau mengobrol apa? Jadi, seseorang bisa saja sudah berusia lebih dari 17 tahun, dewasa secara fisik, namun secara sosial, ternyata belum matang.

Kematangan sosial merupakan sebuah proses yang diajarkan dalam keluarga. Jika dalam keluarga tidak ditumbuhkan, maka seseorang tidak mungkin matang sendiri. Berita gembira untuk Anda: Tidak ada kata terlambat! Anda dapat menumbuhkan dan mengusahakan kemajuan umur sosial Anda.

Bagaimana caranya? Apa yang harus dilatih? Friendly-people Continue reading