Tag Archive | growing up

Respecting Your Date: Arah ketertarikan Seksual

Respecting Your Date 1

Friendship – Dating – Married

Dating INSIGHT Live @YouTube. Kilk link ini ya

Ibrani 13:4  Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Bagaimana sih proses sebuah hubungan itu terjalin?

Zaman dahulu kala, hubungan dua insan terjalin karena hasil penjodohan orang tua. Cowok- cewek, ga pernah kenal, tahu-tahu disuruh kawin oleh papa mamanya. Boro-boro pacaran, temenan aja ga pernah, eh sontak mesti nikah. Terpaksa deh menerima.

Sekarang, sudah bebas, tidak lagi seperti jaman dulu. Di masa kini, pria dan wanita mengikat hubungan karena saling tertarik. Mulanya biasa saja. Lama-lama kenal, eh jatuh cinta. Cinta yang  romantis dan bikin panas dingin.

Setiap manusia berhak jatuh cinta, boleh memilih dan menentukan pasangannya sendiri. Mereka akan bersama-sama mengarungi kehidupan yang panjang di dunia. Sungguh anugrah besar! Kita patut bersyukur. Saya sendiri (Liana) membayangkan betapa menakutkan rasanya, jika harus menjalani pernikahan seumur hidup dengan orang yang saya tidak sukai.

Bicara soal cinta, pasti kebayang yang indah-indah. Seru. Asyik. WOW gitu… namun waspada deh, karena nyatanya banyak juga yang kecewa karena cinta. Bukan kecewa aja lho, tapi ada juga yang hidupnya hancur berantakan karena cinta.

Dalam buku “GARAM & TERANG for Youth” ada satu bab khusus mengupas akan cinta. Bab 3 “Romance in Fire!”  Baca deh bukunya.

Jatuh cinta adalah karunia Tuhan. Berbahagialah jika dapat merasakan jatuh cinta; apalagi kalau cintanya bersambut. Kan perlu dua orang untuk saling mencintai. Cinta itu sesuatu yang  teramat indah, agung dan mulia. Kalau udah cinta, tidak akan ada yang bisa memisahkan. Ada keinginan untuk selalu bersama, saling berkorban, saling membela, ada kesalingan. Kekuatannya sangat dahsyat. Cinta kuat seperti maut. Ditambah Firman Tuhan menyatakan, “Apa yang dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Jelas, ini adalah meterai yang Tuhan berikan untuk jaminan cinta. Cinta diikat seumur hidup.

Senang banget lho, mengetahui bahwa Tuhan sendiri yang menggariskan dan meneguhkan hal ini. Bayangkan, dia yang kucinta dan mencintaiku akan menemaniku seumur hidup. Ciee… asyik kan! Dalam hidup yang sementara ini, kita diijinkan mencicipi kebersatuan, sampai maut memisahkan! Bersamanya, berkarya, melayani Tuhan sang pencipta, memberkati dunia ini. Sungguh luar biasa, Amazing rancangan Tuhan bagi manusia.

Kalo cinta begitu amazing, lantas apa yang perlu diwaspadai?

Dalam Kidung Agung 8:6, melukiskan cinta seperti nyala api, bahkan seperti nyala api Tuhan! Anak muda harus pandai-pandai mengendalikan api cinta yang membara itu. Jika tidak bisa menguasainya, sangat berbahaya! Api, jika terkendali, amat bermanfaat; tapi jika tidak bisa menguasainya, api kecil lama-lama jadi bahaya besar! Bikin kebakaran! Pohon-pohon yang indah di hutan, semua dilalap. Binatang-binatang yang berteduh kabur semua.  Asap pekatnya masuk ke rumah-rumah penduduk, membawa racun dalam gas, menjadi biang kerok ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Jangan bermain api! Jangan mencemarkan tempat tidur! Sudah terlalu banyak kasus MBA (Married By Accident). Walhasil, buru-buru menikah karena hamil di luar nikah.

Tidak boleh berasumsi, asal udah Kristen pasti aman, ga bakalan deh jatuh dalam dosa seksual, apalagi melakukan hubungan seks di luar nikah. Nyatanya, ndak tuh… banyak anak muda yang ga kuat imannya.

Menurut data yang diambil tahun 2011 di USA dari CNN Believe Article, 80% orang Kristen yang berumur 18 sampai 29 tahun (usia pemuda-pemudi), mengatakan bahwa mereka telah melakukan pre-marital seksual.

Data lainnya, di tahun 2012: Mereka yang melakukan aborsi ternyata 30% nya orang-orang Kristen. Ada lagi 56% yang mengaku Kristen berkata, “Tidak apa-apa tinggal bersama, jika sudah berpacaran lebih dari 6 bulan.” Semua ini jelas melanggar firman Tuhan. Kita patut merasa sedih, prihatin dan seyogyanya tidak ikut-ikutan.

Jadi, bagaimana? Garis batas yang tegas sesuai firman Tuhan haruslah tetap ditegakkan, jika kita meminta Tuhan memberkati masa-masa pacaran, tapi melanggar firman-Nya…mana mungkin kita mengalami penyertaan-Nya?

Karena itu, mari kita mencoba memahami lebih utuh akan arah ketertarikan seksual, supaya di masa-masa pacaran tidak sampai jatuh dalam dosa seksual.

Manusia diciptakan sebagai sexual being. Ada gender cowok; ada cewek. Sangat normal, jika seorang pria tertarik kepada wanita, demikian sebaliknya. Dalam ketertarikan itu, pastinya ada unsur seksual.

Perhatikan ada tiga (3) Zone dalam arah ketertarikan seksual:

  1. Zone Persahabatan

Anak-anak muda biasanya senang sekali ngumpul bareng teman-teman sebayanya. Mereka punya grup. Nonton bareng-bareng, minum kopi di cafe rame-rame, ketemu just buat ngobrol-ngobrol, kongkow-kongkow ga bertujuan. Pokoknya, asal bisa ngumpul sudah senang banget. Semuanya teman biasa. Teman se-grup. Masih dalam Friendzone.

Dari teman biasa, jika ditambahkan rasa percaya pasti jadi sahabat (teman dekat). Kalau timbul rasa percaya, setiap ingin bicara perkara penting, pasti nyarinya dia terus buat teman curhat. Kita percaya, kalau dia bisa mengerti pergumulan kita dan tidak akan menceritakannya pada orang lain.

Sahabat boleh sama-sama cowok atau sama-sama cewek. Berbeda jenis kelamin juga boleh. Tapi perhatikan, jika beda gender, kedekatan ini mudah sekali ditunggangi perasaan tertarik. Biasanya, tidak ada tuh persahabatan antara pria-wanita untuk selamanya.

Dalam relasi pria-wanita yang saling tertarik, pasti akan masuk unsur fisik. Unsur fisik misalnya keinginan menggandeng tangannya, membelai rambutnya, merangkul, sampai memeluk. Kalau unsur fisik masuk, inilah tandanya persahabatan sudah berubah menjadi hubungan cinta.

Ada seorang gadis bernama Nita. Dia punya seorang sahabat pria yang sudah dekat sekali. Walau dekat, tetap ga jelas statusnya: Apakah pacar atau bukan? Karena si pria tidak pernah menyatakan cinta…Nita bingung, rasa-rasanya mungkin sudah jadian karena cowok ini sangat perhatian. Nita juga sudah digandeng kalo lagi pergi jalan-jalan, pernah dibelai, dan Nita mau saja. Walhasil, Nita merasa “jatuh cinta” pada sahabatnya ini.

Tiba-tiba, suatu hari, si cowok curhat bahwa ada seorang gadis namanya Dewi yang dia lagi taksir. Menanyakan, apa yang harus diperbuat supaya bisa mendapatkan Dewi. Tinggal sekarang, Nita kebingungan akan perasaannya. Serba salah! Cowok itu sahabatnya, tapi sudah memperlakukannya seperti pacar,…eh malah mau jadian sama cewek lain. So, harus bagaimana? Kalo ngomong jujur, takut dibilang ke “G-R an.” Kalo diam, tambah sakit hati. Berlagak tulus membantu si cowok dapatin cewek lain, tidak sanggup. Aduh sakitnya! Sakitnya itu disini! (sambil nunjuk dada)

Maka, sebelum terjadi seperti kasus Nita, pahami batasannya. Jika persahabatan sudah ditambahkan unsur rasa tertarik dan keinginan fisik, seharusnyalah stop tahap sahabat dan berani move on ke tahapan berikutnya.

Bagi wanita, jangan mau digandeng, dibelai, dirangkul oleh pria yang bukan pacar. Tidak ada komitmen. Pacar bukan, suami bukan. Sorry ya. Sebagai wanita, harus ada pride, harga diri.

Bagi para pria, jika berani menggandeng tangan seorang wanita, jelas harus punya keberanian untuk berkomitmen. Kalo cinta, nyatakan cinta! Jangan asal pegang, gandeng, terus se-enaknya berkata, “Dia cuma teman biasa saja kok.” Emangnya truk gandeng!

  1. Zona Pacaran

Inilah zone Dating INSIGHT: Memberikan prinsip pacaran Kristiani yang insightful. Dengarkan Dating INSIGHT ya. Diskusikan dengan pacarmu: Poin-poin penting yang kami sampaikan.

Kalo masuk Zona Pacaran, udah beda banget dengan Zona Temanan. Zona pacaran lebih eksklusif. Dulu kan kalo pergi selalu beramai-ramai, sekarang pengennya pergi berdua saja.  Sebelumnya, tidak terlalu perduli, sekarang…mau tahu banyak tentang dirinya. Biasanya ketemuan di tempat-tempat umum, sekarang mau ke rumahnya.

Kala itu, tidak pernah ada perasaan rindu, sekarang sulit menahan rindu ini. Kepingin ketemu terus, maunya dekatan mulu.  Kalau satu kota, mungkin setiap hari disatronin kayak satpam. Kalau beda kota, misalnya satu di Bandung, satu di Jakarta, masih bisa ketemu seminggu sekali; yang rasanya sooo long (lama banget) untuk bisa ketemuan melepas rasa kangen.

Nah, saat kangen-kangenan ini, apalagi ditambah keinginan fisik, maka harus full control. Keinginan mau keberduaan pasti ada. Perlu strategi yang tepat supaya tidak meluncur, bablas dan jatuh dalam dosa.

Respecting Your Date. Tema ini sangat penting. Kekudusan seks paling sering dilanggar sewaktu pacaran. Mengganggap pacar sebagai milik atau hak pribadi. Hati-hati! Kalau belum nikah ya…belum menjadi milik dong! Ketertarikan seksual tanpa kendali, mendatangkan kesedihan yang sangat mendalam. Kita perlu pemahaman yang tepat untuk dapat mengendalikan nafsu/keinginan daging. Langkah-langkah apa sajakah yang perlu dilakukan untuk menjaga kekudusanmu dan kekasihmu, perlu dibicarakan dan disepakati.

Dalam masa persahabatan, tentu seks tidak menjadi masalah. Dalam persahabatan, tidak eksklusif. Pergi aja masih rame-rame. Happy-happy bersama-sama. Lain halnya kalau udah pacaran. Sudah terikat komitmen untuk mau lebih intim dengan dia seorang. Kenapa sih  mau dengan rela mengikatkan diri kepada seseorang? Pastilah karena sudah  naksir berat sama si”dia”.

Komitmen untuk lebih intim, ditanggapi berbeda antara pria dan wanita. Bagi pria, keintiman fisik mendahului keterlibatan emosi; sedang buat wanita, terlibat emosi dulu baru mau intim secara fisik.

Nah, pria mengungkapkan cintanya, secara fisikal. Mulai dengan memegang tangan, lalu meningkat dengan membelai rambut, tambah mengecup pipi, kemudian merangkul pinggang, eh… makin-makin banyak maunya. Di sini, pria harus mengendalikan keinginannya akan keintiman fisik. Seks itu ibarat orang yang terjun payung. Ada gaya gravitasi bumi yang membuatnya jatuh ke bawah. Jika terjun bebas tanpa bantuan, pasti jatuh dengan cepat dan hasilnya hancur belur ketika berjumpa daratan. Karenanya, perlu pake parasut. Parasut akan memperlambat jatuhnya dan hasilnya pasti selamat. Saat turun memakai parasut, pasti berbahagia karena banyak yang dapat dinikmati selama di udara. Sampai tiba waktunya, dia menyentuh tanah dengan sukacita. Ada perasaan puas!

Demikian pula halnya sewaktu pacaran, perlengkapi diri agar dapat menikmati masa pacaran dan siap mendarat menapak tanah. Kenali si dia dalam banyak hal.  Bisakah dia setia? Mampukah dia dipercaya? Apakah dia orangnya kasar atau halus? Bagaimanakah dia berespon terhadap kesulitan? Apakah saya bisa hidup dengan orang model gini?

Wanita, mengungkapkan cinta melalui keterlibatan emosi. Seringkali wanita terjebak dalam ikatan emosi yang belum seharusnya. Sulit bagi wanita untuk recover kalo diputusin, jika sudah terikat kuat emosinya. Seperti apa keterikatan emosi? Emosi itu menyangkut perasaan terdalam, mempengaruhi mood, dan tindakan. Belum apa-apa…udah merasa kamu milikku. Ingin mengontrol. Mau tahu segala hal. Dia akan menuntut si pria selalu menunjukkan cintanya dengan perhatian, rayuan, pujian. Banyak mengkhayalkan masa depan bersama. Nanti kalo menikah, mau dimana; mau pesan baju model apa, siapa aja yang mau diundang, lalu punya anak berapa, rumah di mana… sampai-sampai cowoknya pusing.  Wanita harus mengendalikan keinginannya akan keintiman emosi. Jangan memberi komitmen emosi terlalu banyak dalam masa pacaran.

Sampai tiba waktunya untuk menikah. Rayakanlah kebahagiaan itu.

Ada waktunya untuk pacaran, ada waktunya untuk menikah. Pacaran kelamaan, tidak menikah-menikah, ini tidak sehat. Jadi kalau udah pacaran sampai jangka waktu tertentu, tentukan kapan menikah!

  1. Zona Pernikahan

Saat si wanita ingin mengikatkan diri secara emosional, sedangkan pria tertarik secara fisik. Di manakah ujungnya? Muaranya mesti ke mana? Misal: pria dan wanita sudah menjalin hubungan pacaran selama 2 tahun, ketika si wanita bertanya,”Kapan mau menikah?” Si pria harus bisa menjawab! Seperti saat sedang terbang dari Bandung ke Bali, kita punya estimasi waktu sekitar 1,5 jam. Jika dalam waktu 5 jam, ternyata belum sampai-sampai juga ke Bali dan cuma berputar-putar saja di udara! Jelas gawat sekali!

Keterikatan emosi dan keterlibatan fisik, muaranya ini di mana? Inilah yang kita harus berhati-hati karena ujungnya/muaranya adalah hubungan seks.

Ini sudah masuk ke dalam tahap ketiga, yaitu tahapan pernikahan.

Boleh tidak pria dan wanita berhubungan seks? Tentu saja boleh, namun setelah terlebih dahulu mengikatkan diri dalam pernikahan. Yang menjadi tantangan adalah dalam intensitas hubungan yang terjadi, bisakah menjaga kekudusan itu sampai  hari pernikahan? Jangan sampai terjadi hubungan seks di luar nikah.

Nah, bagaimana mengaturnya?

  • Jangan terlalu sering hanya berduaan.
  • Carilah konteks untuk dapat melakukan suatu kegiatan bersama-sama dalam suatu komunitas (ikut grup panjat tebing, grup fotografi, dll)
  • Jangan terlalu eksklusif, tetap terbuka dengan pergaulan dengan teman-teman yang lain.

Bagaimana menjaga intensitas itu?

  • Harus ada kejujuran

Si pria jujur bahwa saya tertarik secara seksual dengan kamu. Tolong doakan agar kita berdua tidak jatuh dalam dosa seksual. Jangan anggap diri kuat, bahwa kita tidak akan jatuh dalam dosa seksual.

  • Konteks kehidupan harus banyak

Ada pelayanan, ada fitness, nonton, dll. Jangan hanya di rumah bahkan di kamar saja berduaan.

Jika intensitas arah ketertarikan seksual dijaga dengan baik, niscaya akan masuk pernikahan kudus dengan sukses dan berhasil. Puji Tuhan!

Ikuti terus kelanjutannya dalam Dating INSIGHT!

Mazmur 119: 9 Dengan apakah seorang muda menjaga kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai firman-Mu.

Chang Khui Fa & Liana.

GOOD NEWS! Teman-teman, buku Dating INSIGHT season 1 akan dilaunching minggu ini. You are invited! Launching akan diadakan di TB VISI Istana Plaza lantai 3. Hari Minggu 9 Nov 2014. Mulai jam 11.00- 15.00. Kami (Chang Khui Fa dan Liana) akan hadir juga. Yuk ketemuan. Bisa foto bareng dan tanda tangan buku juga CDnya… Cu there my friends. God Bless you.

Jadi…kapan saya boleh pacaran?

Ready or Not for Dating

# Kapan waktu yang tepat buat nge-date? Jangan terlalu cepat atau terlambat!

Spiritual Age. Kematangan Rohani.

Nonton via YouTube silahkan KLIK di sini 🙂

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya,” ucap Raja Salomo (Pengkhotbah 3:1).

Kita sudah sampai di akhir pembahasan Ready or Not for Dating. Kapan waktu yang terbaik untuk memasuki masa pacaran? Sangat tergantung dari kematangan seseorang. Nah, penutup dari serial ini adalah pembahasan tentang spiritual age atau kematangan rohani.

Spiritual Age merupakan kematangan terpenting dan sangat memengaruhi ke-tiga kematangan sebelumnya: kematangan intelektual, kematangan sosial dan kematangan emosi. Sungguh indah jika Anda mendapatkan seorang kekasih yang sudah matang secara rohani! Atau sembari membaca artikel ini, mari kita merefleksikan hidup dihadapan Tuhan, apakah saya sudah matang secara rohani?

 

Bagaimana mengukur kematangan rohani seseorang?

Kematangan rohani diukur dari hubungannya dengan Tuhan. Dapat dikatakan sebagai Identitas Rohani (Spiritual ID).

Di mata Tuhan hanya ada dua jenis orang:

Pertama, orang yang tidak mengalami keselamatan dari Tuhan Yesus.

Kedua, orang yang mengalami penebusan Tuhan Yesus sehingga seluruh dirinya diperbaiki, diperbaharui dan dipulihkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Orang dunia yang tidak mengenal Kristus memiliki aturan dan nilai-nilai menurut dirinya sendiri saja. Mereka mengikuti keinginan daging. Dalam hatinya berkata: Okey banget punya satu pacar, dan sah-sah saja SATU lagi sebagai cadangan. Mobil aja ada ban serep, masa aku ga punya serep?” Yang lain berkata: ”Okey saja saya berselingkuh, asal ga ketahuan. Tidak apa-apa kok.”

Hanya orang yang telah ditebus Kristus yang memiliki Identitas Rohani yang baru. Ditandai dengan hadirnya Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus berkarya dan berdiam dalam diri orang yang menerima Kristus dan membersihkan hatinya dari dosa dan memperbaharui seluruh dimensi kehidupan. Cara berpikir, respon emosi dan cara berelasinya diurapi Tuhan, sehingga kehidupannya berbuah lebat dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Spiritual ID sangat menentukan bagaimana seseorang menghadapi realita kehidupan. Menentukan values (nilai–nilai) yang harus dipegang misalnya:

Apakah boleh melakukan hubungan seks di luar nikah? So pasti saya ga boleh melakukan karena Tuhan melarang dan memandangnya sebagai perzinahan.

Apakah boleh selingkuh sekali-sekali asal ga ketahuan? Walau ga ketahuan, saya tahu mata Tuhan memandang seluruh bumi, tidak ada satupun yang luput dari-Nya. Maka, saya tidak akan melakukan hal tersebut karena saya takut akan Tuhan.

Jelas, orang yang telah menerima keselamatan seyogyanya mengikuti apa yang Tuhan mau, menuruti aturan dan nilai-nilai yang Tuhan tetapkan. Perjuangan anak-anak Tuhan sepanjang umurnya adalah dengan terus hidup di bawah kehendak Tuhan yang mulia. Karena, apa yang Tuhan rancang adalah yang terbaik bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

Apa saja ciri Kematangan Rohani? Continue reading

Makin Tua atau Tambah Dewasa? Kematangan Sosial

R2: Social Age / Kematangan Sosial

Nonton via YouTube KLIK di SINI

Pengkotbah 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Mazmur 144:4 Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.

 Apa nih artinya? Artinya…waktu cepat sekali berlalu, juga bermakna manusia akan lekas sekali lenyap. Betapa hidup manusia sangat fana. Mazmur 103: 15, dituliskan,”Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; (16) apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”

Dalam berjalannya waktu, adakah Anda semakin dewasa? Atau, waktu terus lewat, namun kita masih seperti yang dulu, mandeg dan tidak mengalami perkembangan. Mirip lagu ”Aku masih seperti yang dulu…..” Waktu berubah, jamanpun berganti, sekarang sudah tahun 2014, tetapi apakah Anda bertambah dewasa dan bertambah matang? Are you getting old atau growing up?

Bunga yang indah di padang, sekejap lenyap saat angin datang; demikian pula akhir kehidupan manusia jika dijalani tanpa pemahaman yang utuh atas hidup. Bisa tenggelam ditelan jaman. Kehidupan manusia akhirnya tidak pernah memberikan pengaruh, tiada jejak, bahkan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tak ada yang mengingat bahwa Anda pernah hadir di dunia ini. Apa yang harus Anda perbuat agar hidup berlalunya tidak sia-sia? Lakukanlah perbuatan yang berdampak kekal. Dalam setiap bagian hidup, pergunakan waktu yang ada dengan bijaksana. Segala sesuatu ada masanya, jangan sampai Anda dilibas waktu.

WASPADALAH! Ada masa di mana seseorang harus fokus pada prestasi akademik tanpa diganggu urusan pacaran. Namun, ada juga masa di mana harus mulai mencari pasangan hidup! Ada masanya juga setiap orang memasuki pernikahan dan berkeluarga. Sampai akhirnya tiba masa membesarkan anak-anak.

Bersiaplah menghadapi setiap masa dalam hidup. Bukankah manusia seperti bunga atau rumput yang segera lenyap ketika angin menerjangnya? Begitu periode dating datang, siapkah Anda? Dia akan melewati kita seperti angin yang melintas. Karenanya sebelum tiba, ada beberapa hal yang harus ditegakkan terlebih dahulu. Tenang saja tidak perlu buru-buru, yang penting persiapan diri. Masa pacaran pasti akan menjemput. Nah, Are you Ready or Not for dating?

Salah satu tanda ketidak siapan seseorang memasuki masa pacaran adalah seringnya putus-sambung-putus-sambung. Yang demikian, belum benar-benar mengenal diri, seperti pikiran, emosi, dan keinginannya. Juga belum mengenal diri pasangannya, tapi udah berani jadian. Akhirnya pecah konflik dan sama-sama teriak,“Sudah putus saja!”

Begitu putus, tahu-tahu bingung, “Kok hidup sepi sendiri?” Eh eh eh…ga lama,“Sambung lagi ahhh”. Pacaran jadi gak asyik, gak seru…yang ada hanya wajah muram durja penuh beban dengan perkara-perkara yang tak terselami. Demikian pula halnya dengan pasangan yang memasuki pernikahan tanpa kesiapan. Akhirnya, banyak dari mereka memilih untuk mengakhiri penikahan dengan berpikir pendek: Bercerai…

Di sisi lain, jangan pula terlambat! Seperti bunga yang walaupun indah tiada tara toh akhirnya menjadi layu. Di masa bunga mekar, merekah, sangat indah, siapkah Anda memilih kumbang yang datang meminang?

Anda yang berada dalam masa pacaran, harus ingat bahwa masa ini pun tidak selamanya. Masa itu harus berakhir. Berakhir karena putus, kalau memang alasannya jelas (lihat pembahasan Mr/Mrs Wrong next on GARAM) atau mengakhiri masa pacaran karena Anda memasuki masa pernikahan seumur hidup. Sungguh indah!

Masak pacaran terus tiada akhir? Saat ditanya kapan akan menikah? Jawabannya: “May… maybe Yes maybe Not…” Ngeri kan? Membuat pasangan dalam posisi terombang-ambing, tanpa kepastian. Yang paling rugi so pasti sang gadis. Wanita seperti bunga, ada masanya indah menawan. Kala masa itu lewat (ketika bunga sudah layu), eh… malah diputus, oh sungguh kejam! Jadi Pria harus Gentleman: Iya katakan ya, tidak katakan tidak. Yang tegas dan bertanggung jawab, jangan sembarangan. Wanita juga harus menjaga diri baik-baik, menolak dipermainkan dan diombang-ambingkan dalam ketidakpastian.

Inilah mengapa topik ini sangat penting, kami ingin Anda semua berhasil! Tidak sampai mengalami gagal di sana sini atau “GATOT” gagal total.

Anda harus memasuki pacaran dengan confidence, dan mengetahui bahwa ujungnya adalah pintu pernikahan. Dan ketika memasuki pernikahan, Anda dapat mempertahankan dan menikmati pernikahan seumur hidup.

“Wah saya sudah 17 tahun, berarti saya sudah siap pacaran!” Eits, belum tentu! Kesiapan pacaran tidak bisa ditentukan hanya oleh usia saja. Ada faktor kematangan lain yang perlu dipertimbangkan yang saat ini kita bahas adalah kematangan sosial.

Kematangan sosial ini berkaitan erat dengan orang-orang lain di sekitar kita. Bagaimana seseorang membina relasi dengan lingkungan sosialnya. Seorang psikolog, Erick Erickson mengatakan,”Seseorang memasuki fase intimacy vs. isolasi pada usia 17.” Di usia 17, seseorang mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Dulu-dulu lawan jenis mondar-mandir di depannya tidak ada”setrum.” Tapi sekarang aneh, tiba-tiba dia merasakanjantungnyaberdebar-debar, rupanya mulai naksir! Jatuh cinta yang berjuta rasanya.

Pada banyak orang walau umurnya 17 tahun atau lebih, namun tidak memiliki kecakapan untuk membina kedekatan. Contoh konkret yang dijumpa sehari-hari: Saat mencari pasangan – sulit memulai pembicaraan, di hadapan lawan jenis minderan, so bagaimana mampu membina relasi jangka panjang? Melakukan pendekatan saja gemetar!

Bagi yang sudah menikah, suami pulang kerja, ternyata tidak meluangkan waktu untuk mengobrol dengan istri atau menanyakan kabar,tapi langsung asyik melakukan apa yang disuka, misal: bermain game, nge-lap mobil, nonton TV. Seharusnya sang suami membangun intimacy, tetapi malah mengisolasi diri.

Ada pula suami-suami yang sama sekali tidak mau diganggu. “Saya mau nonton, sudah cape nih, jangan banyak ribut.” Mengisolasi diri, membuat pagaryang tinggi sehingga tidak ada yang dapat mendekati atau berelasi dengannya. Atau sebagai isteri, sibuk terus. Tidak pernah mengajak suami bicara heart to heart. Akhirnya pas anak-anak sudah besar, mau mengobrol apa? Jadi, seseorang bisa saja sudah berusia lebih dari 17 tahun, dewasa secara fisik, namun secara sosial, ternyata belum matang.

Kematangan sosial merupakan sebuah proses yang diajarkan dalam keluarga. Jika dalam keluarga tidak ditumbuhkan, maka seseorang tidak mungkin matang sendiri. Berita gembira untuk Anda: Tidak ada kata terlambat! Anda dapat menumbuhkan dan mengusahakan kemajuan umur sosial Anda.

Bagaimana caranya? Apa yang harus dilatih? Friendly-people Continue reading

Ruginya Pacaran di masa SMA

Ready or Not for Dating 1:

Ruginya Pacaran di Masa SMA

Monday, May 5, 2014

Nonton via YouTube just klik di sini

 

Kapan sih waktu yang tepat untuk dating?

Raja Salomo mengungkapkan dalamPengkhotbah 3:1

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”

 

Untuk segala sesuatu ada waktunya, termasuk pacaran. Kalau nge-jomblo jangan lama-lama, bisa-bisa ketinggalan kereta. Begitu pula dilarang memasuki masa dating di usia terlalu muda. Ada banyak kerugian dan masalah yang ditimbulkan.

no kids date

Jadi…kapan waktu terbaik? Continue reading

Sempurnalah Kamu seperti Bapa Sempurna, dalam hal apa?

Am I the Perfect Candidate?

7 April 2014

Silahkan nonton Youtubenya disini

Kita telah membahas Dating dari sudut pandang Allah dalam God’s Will in Dating:

God’s Will in Dating 1: Apa sih kehendak Allah dalam masa pacaran?

G2: Apakah tujuan pacaran Kristen?

G3: Seperti apa pacar yang sesuai dengan kehendak Allah? Apa kriteria seiman?

G4: Mengapa tidak baik manusia seorang diri saja?

Nah, sekarang saya mengajak Anda mencoba menilai diri. Kita harus dapat mengukur diri dengan ukuran yang tepat. Tema-nya: Am I The Perfect Candidate? Sudahkah saya menjadi calon pasangan yang sempurna?

Bahasan ini penting bagi Anda yang belum memiliki pasangan hidup ataupun bagi Anda yang sudah menikah karena akan menjadi modal untuk membangun hubungan jangka panjang.

Mari kita mulai…Based of Timeless Word of GOD,  inilah Firman Tuhan yang mendasari tema kita: 2 Korintus 13: 11,”Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! “

Alkitab NIV: “Finally brothers, good by. Aim for perfection, listen to my appeal, be of one mind, live in peace and God of love and peace will be with you.”

Kata Aim berarti: membidik, menargetkan, memfokuskan. Nah, apa yang kita aim? Kesempurnaan (perfection).

aim perfection

Tuhan Yesus menegaskan pula dalam Matius 5:48, “Karena itu haruslah kamu sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Be Perfect, therefore as your heavenly Father is perfect.)

Perfect? Sempurna?

Continue reading