Tag Archive | bukti cinta

Stop dari Seks Pranikah; bisakah?

Respecting Your Date 4

Cinta Sejati vs Hawa Nafsu

Love vs Lust

Cinta vs Nafsu; Love vs Lust. Bagaimana sih membedakannya? Ada perbedaan mencolok sebenarnya, namun jika tidak peka, bisa-bisa kejebak.

Sejak kecil, sadar ga sadar, kita dibesarkan dengan pemikiran: Saya dicintai jika apa yang saya minta, diberikan. Sebaliknya, jika permintaan tidak dikabulkan berarti saya tidak dikasihi.  “Mama, bonekanya lucu, saya pengen beli!” seru seorang gadis kecil pada ibunya. “Kamu suka ya, nak? Yuk kita beli, mama mau berikan boneka itu buat kamu!” Jawab sang ibu dengan lembut. Sambil melompat-lompat kegirangan, sang gadis mencium ibunya dan  berkata, “Terima kasih mama! Aku sayang mama!”

Asumsi umum ini terbawa hingga dewasa. Baik pria maupun wanita, berpikir,”Jika kamu sungguh-sungguh mencintaiku, maka seharusnyalah kamu memberikan apa yang saya minta.”

Tapi hati-hati! Setelah dewasa dan masuk ke masa dating, kalau pacar meminta untuk berhubungan seks, ini justru bukan cinta sejati. Ini jelas cinta palsu!

Cinta sejati, tidak akan meminta sesuatu yang membuat pasangannya merasa tidak nyaman. Cinta sejati jelas bisa menunggu, cinta sejati menghormati pasangannya. Satu-satunya cara untuk menguji, apakah kamu dikuasai cinta sejati atau hawa nafsu belaka, adalah dengan berani menolak permintaan untuk berhubungan seksual di masa pacaran. Say “NO” to Premarital Sex!

1 Petrus 1: 14  Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.

Continue reading

Strategi Menjaga Kekudusan Seksual Di Masa Pacaran

Respecting Your Date 3

Say No to Premarital Sex: How?

Strategi Menjaga Kekudusan Seksual Di Masa Pacaran

“Saya baru saja bertunangan dengan seorang pemuda yang menyenangkan. Dia meminta saya untuk menikah dengannya, karena dia mencintai saya. Senang sekali rasanya mengalami cinta, ingin rasanya selalu berdekatan dengan dia. Makin lama, kami semakin dekat secara seksual, lebih dari apa yang pernah kami bayangkan. Kami mulai bercumbu, tidak sering hanya sekali-sekali saja. Akhir-akhir ini, saya ingin melakukannya lebih jauh, dia pun demikian. Tidak seorangpun dari kami yang merasa tertekan. Kadang-kadang, saya tertarik untuk melakukan hubungan seks dengannya karena saya merasa senang bersamanya. Saya tahu dia pun demikian. Dia tidak pernah menjebak saya dengan perasaan bersalah, sewaktu saya memintanya untuk berhenti. Namun terkadang saya pun tidak ingin memintanya untuk berhenti. Pertanyaannya: Apakah perasaan ketertarikan ini salah? Apa yang harus saya lakukan ketika perasaan ini muncul?”

Pernyataan yang jujur dan terbuka di atas, datang dari seorang gadis. Masalah yang diungkap, mewakili pergumulan banyak insan muda yang sedang berpacaran.

Firman Tuhan mengatakan dalam Mazmur 119: 9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

Firman Tuhan mendorong anak-anak muda untuk mempertahankan kelakuan yang bersih. Dengan apa? Dengan menjaga sesuai firman Tuhan.

Memang masa-masa berpacaran adalah masa yang sangat menyenangkan. Segala hal dirasa sungguh sangat baik.  Ada kobaran api yang membara dalam seluruh sanubari. Apa yang biasanya dirasa tidak mungkin, menjadi mungkin. Bersama sang kekasih, saya mampu melampaui segala rintangan! Kenapa begitu? Ya…Semua karena cinta! Ada apa dengan cinta? Cinta memang kuat seperti maut! Karenanya mesti ekstra hati-hati!

Dalam urusan cinta mencintai, pasti ada perasaan tertarik secara seksual. Muncul keinginan untuk selalu berdekatan fisik. Apakah perasaan tertarik untuk berhubungan seks, itu salah?

Continue reading

R2: Say No To Premarital Sex, Why?

Respecting Your Date Say No to Premarital Sex: Why?

Dampak Seks Pranikah dalam kehidupan

Masa-masa pacaran adalah masa yang tak terlupakan, penuh memori sukacita! Terbersit kenangan indah kala itu, membuat saya (Liana) sering senyam-senyum sendiri, adrenalin terpacu, semangat kembali mengalir. Perasaan kangen menyelimuti seluruh pikiran dan perasaan. Kalo saat itu lagi terpisah dengan Pak Khui Fa, langsung deh buru-buru angkat telepon. Mendengar suaranya saja, seperti meneguk segelas air segar, menghilangkan dahaga rindu yang mendera.

Bayangkan, andaikata dulu di masa-masa pacaran, ada batasan-batasan yang kami langgar, pastilah ternoda memori-memori indah itu. Apa batasan-batasan yang harus dijaga dalam masa pacaran agar memori indah itu tidak tercemar?

Inilah Firman Tuhan yang menjadi panduan: Ibrani 13:4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Salah satu tujuan pacaran adalah mendukung pasangan untuk bertumbuh. Bertumbuh kepribadian, juga kerohaniannya. Kerohanian erat hubungannya dengan Tuhan. Dari Firman-Nya, kita tahu bahwa Tuhan akan menghakimi orang-orang sundal dan pezinah. Pelanggaran terhadap Firman-Nya, bikin hati nurani menderita, serta malu berhadapan dengan Tuhan. Karenanya, janganlah karena tidak mampu menguasai diri dalam perkara seksual, akhirnya malah menjerat diri kita dan pasangan. Taat kepada Firman Tuhan, rindu menjaga kekudusan, memberikan yang terbaik bagi sang kekasih, harus ditempatkan lebih utama daripada keinginan pribadi untuk mendapatkan keuntungan dari hubungan di masa pacaran.

Banyak pria berkata pada kekasihnya, “Kalau kamu sungguh-sungguh mencintaiku, buktikan dong!” (buktikan dengan rela melakukan hubungan intim). Jangan tertipu dengan kata-kata semacam ini. BAHAYA! Pasti “Evil”. Jawab saja, “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan meminta hal yang merugikan saya!” Cinta berarti menghargai kekasih sebagai pribadi seutuhnya dengan turut menjaga kekudusannya. Continue reading

Respecting Your Date: Arah ketertarikan Seksual

Respecting Your Date 1

Friendship – Dating – Married

Dating INSIGHT Live @YouTube. Kilk link ini ya

Ibrani 13:4  Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Bagaimana sih proses sebuah hubungan itu terjalin?

Zaman dahulu kala, hubungan dua insan terjalin karena hasil penjodohan orang tua. Cowok- cewek, ga pernah kenal, tahu-tahu disuruh kawin oleh papa mamanya. Boro-boro pacaran, temenan aja ga pernah, eh sontak mesti nikah. Terpaksa deh menerima.

Sekarang, sudah bebas, tidak lagi seperti jaman dulu. Di masa kini, pria dan wanita mengikat hubungan karena saling tertarik. Mulanya biasa saja. Lama-lama kenal, eh jatuh cinta. Cinta yang  romantis dan bikin panas dingin.

Setiap manusia berhak jatuh cinta, boleh memilih dan menentukan pasangannya sendiri. Mereka akan bersama-sama mengarungi kehidupan yang panjang di dunia. Sungguh anugrah besar! Kita patut bersyukur. Saya sendiri (Liana) membayangkan betapa menakutkan rasanya, jika harus menjalani pernikahan seumur hidup dengan orang yang saya tidak sukai.

Bicara soal cinta, pasti kebayang yang indah-indah. Seru. Asyik. WOW gitu… namun waspada deh, karena nyatanya banyak juga yang kecewa karena cinta. Bukan kecewa aja lho, tapi ada juga yang hidupnya hancur berantakan karena cinta.

Dalam buku “GARAM & TERANG for Youth” ada satu bab khusus mengupas akan cinta. Bab 3 “Romance in Fire!”  Baca deh bukunya.

Jatuh cinta adalah karunia Tuhan. Berbahagialah jika dapat merasakan jatuh cinta; apalagi kalau cintanya bersambut. Kan perlu dua orang untuk saling mencintai. Cinta itu sesuatu yang  teramat indah, agung dan mulia. Kalau udah cinta, tidak akan ada yang bisa memisahkan. Ada keinginan untuk selalu bersama, saling berkorban, saling membela, ada kesalingan. Kekuatannya sangat dahsyat. Cinta kuat seperti maut. Ditambah Firman Tuhan menyatakan, “Apa yang dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Jelas, ini adalah meterai yang Tuhan berikan untuk jaminan cinta. Cinta diikat seumur hidup.

Senang banget lho, mengetahui bahwa Tuhan sendiri yang menggariskan dan meneguhkan hal ini. Bayangkan, dia yang kucinta dan mencintaiku akan menemaniku seumur hidup. Ciee… asyik kan! Dalam hidup yang sementara ini, kita diijinkan mencicipi kebersatuan, sampai maut memisahkan! Bersamanya, berkarya, melayani Tuhan sang pencipta, memberkati dunia ini. Sungguh luar biasa, Amazing rancangan Tuhan bagi manusia.

Kalo cinta begitu amazing, lantas apa yang perlu diwaspadai?

Dalam Kidung Agung 8:6, melukiskan cinta seperti nyala api, bahkan seperti nyala api Tuhan! Anak muda harus pandai-pandai mengendalikan api cinta yang membara itu. Jika tidak bisa menguasainya, sangat berbahaya! Api, jika terkendali, amat bermanfaat; tapi jika tidak bisa menguasainya, api kecil lama-lama jadi bahaya besar! Bikin kebakaran! Pohon-pohon yang indah di hutan, semua dilalap. Binatang-binatang yang berteduh kabur semua.  Asap pekatnya masuk ke rumah-rumah penduduk, membawa racun dalam gas, menjadi biang kerok ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Jangan bermain api! Jangan mencemarkan tempat tidur! Sudah terlalu banyak kasus MBA (Married By Accident). Walhasil, buru-buru menikah karena hamil di luar nikah.

Tidak boleh berasumsi, asal udah Kristen pasti aman, ga bakalan deh jatuh dalam dosa seksual, apalagi melakukan hubungan seks di luar nikah. Nyatanya, ndak tuh… banyak anak muda yang ga kuat imannya.

Menurut data yang diambil tahun 2011 di USA dari CNN Believe Article, 80% orang Kristen yang berumur 18 sampai 29 tahun (usia pemuda-pemudi), mengatakan bahwa mereka telah melakukan pre-marital seksual.

Data lainnya, di tahun 2012: Mereka yang melakukan aborsi ternyata 30% nya orang-orang Kristen. Ada lagi 56% yang mengaku Kristen berkata, “Tidak apa-apa tinggal bersama, jika sudah berpacaran lebih dari 6 bulan.” Semua ini jelas melanggar firman Tuhan. Kita patut merasa sedih, prihatin dan seyogyanya tidak ikut-ikutan.

Jadi, bagaimana? Garis batas yang tegas sesuai firman Tuhan haruslah tetap ditegakkan, jika kita meminta Tuhan memberkati masa-masa pacaran, tapi melanggar firman-Nya…mana mungkin kita mengalami penyertaan-Nya?

Karena itu, mari kita mencoba memahami lebih utuh akan arah ketertarikan seksual, supaya di masa-masa pacaran tidak sampai jatuh dalam dosa seksual.

Manusia diciptakan sebagai sexual being. Ada gender cowok; ada cewek. Sangat normal, jika seorang pria tertarik kepada wanita, demikian sebaliknya. Dalam ketertarikan itu, pastinya ada unsur seksual.

Perhatikan ada tiga (3) Zone dalam arah ketertarikan seksual:

  1. Zone Persahabatan

Anak-anak muda biasanya senang sekali ngumpul bareng teman-teman sebayanya. Mereka punya grup. Nonton bareng-bareng, minum kopi di cafe rame-rame, ketemu just buat ngobrol-ngobrol, kongkow-kongkow ga bertujuan. Pokoknya, asal bisa ngumpul sudah senang banget. Semuanya teman biasa. Teman se-grup. Masih dalam Friendzone.

Dari teman biasa, jika ditambahkan rasa percaya pasti jadi sahabat (teman dekat). Kalau timbul rasa percaya, setiap ingin bicara perkara penting, pasti nyarinya dia terus buat teman curhat. Kita percaya, kalau dia bisa mengerti pergumulan kita dan tidak akan menceritakannya pada orang lain.

Sahabat boleh sama-sama cowok atau sama-sama cewek. Berbeda jenis kelamin juga boleh. Tapi perhatikan, jika beda gender, kedekatan ini mudah sekali ditunggangi perasaan tertarik. Biasanya, tidak ada tuh persahabatan antara pria-wanita untuk selamanya.

Dalam relasi pria-wanita yang saling tertarik, pasti akan masuk unsur fisik. Unsur fisik misalnya keinginan menggandeng tangannya, membelai rambutnya, merangkul, sampai memeluk. Kalau unsur fisik masuk, inilah tandanya persahabatan sudah berubah menjadi hubungan cinta.

Ada seorang gadis bernama Nita. Dia punya seorang sahabat pria yang sudah dekat sekali. Walau dekat, tetap ga jelas statusnya: Apakah pacar atau bukan? Karena si pria tidak pernah menyatakan cinta…Nita bingung, rasa-rasanya mungkin sudah jadian karena cowok ini sangat perhatian. Nita juga sudah digandeng kalo lagi pergi jalan-jalan, pernah dibelai, dan Nita mau saja. Walhasil, Nita merasa “jatuh cinta” pada sahabatnya ini.

Tiba-tiba, suatu hari, si cowok curhat bahwa ada seorang gadis namanya Dewi yang dia lagi taksir. Menanyakan, apa yang harus diperbuat supaya bisa mendapatkan Dewi. Tinggal sekarang, Nita kebingungan akan perasaannya. Serba salah! Cowok itu sahabatnya, tapi sudah memperlakukannya seperti pacar,…eh malah mau jadian sama cewek lain. So, harus bagaimana? Kalo ngomong jujur, takut dibilang ke “G-R an.” Kalo diam, tambah sakit hati. Berlagak tulus membantu si cowok dapatin cewek lain, tidak sanggup. Aduh sakitnya! Sakitnya itu disini! (sambil nunjuk dada)

Maka, sebelum terjadi seperti kasus Nita, pahami batasannya. Jika persahabatan sudah ditambahkan unsur rasa tertarik dan keinginan fisik, seharusnyalah stop tahap sahabat dan berani move on ke tahapan berikutnya.

Bagi wanita, jangan mau digandeng, dibelai, dirangkul oleh pria yang bukan pacar. Tidak ada komitmen. Pacar bukan, suami bukan. Sorry ya. Sebagai wanita, harus ada pride, harga diri.

Bagi para pria, jika berani menggandeng tangan seorang wanita, jelas harus punya keberanian untuk berkomitmen. Kalo cinta, nyatakan cinta! Jangan asal pegang, gandeng, terus se-enaknya berkata, “Dia cuma teman biasa saja kok.” Emangnya truk gandeng!

  1. Zona Pacaran

Inilah zone Dating INSIGHT: Memberikan prinsip pacaran Kristiani yang insightful. Dengarkan Dating INSIGHT ya. Diskusikan dengan pacarmu: Poin-poin penting yang kami sampaikan.

Kalo masuk Zona Pacaran, udah beda banget dengan Zona Temanan. Zona pacaran lebih eksklusif. Dulu kan kalo pergi selalu beramai-ramai, sekarang pengennya pergi berdua saja.  Sebelumnya, tidak terlalu perduli, sekarang…mau tahu banyak tentang dirinya. Biasanya ketemuan di tempat-tempat umum, sekarang mau ke rumahnya.

Kala itu, tidak pernah ada perasaan rindu, sekarang sulit menahan rindu ini. Kepingin ketemu terus, maunya dekatan mulu.  Kalau satu kota, mungkin setiap hari disatronin kayak satpam. Kalau beda kota, misalnya satu di Bandung, satu di Jakarta, masih bisa ketemu seminggu sekali; yang rasanya sooo long (lama banget) untuk bisa ketemuan melepas rasa kangen.

Nah, saat kangen-kangenan ini, apalagi ditambah keinginan fisik, maka harus full control. Keinginan mau keberduaan pasti ada. Perlu strategi yang tepat supaya tidak meluncur, bablas dan jatuh dalam dosa.

Respecting Your Date. Tema ini sangat penting. Kekudusan seks paling sering dilanggar sewaktu pacaran. Mengganggap pacar sebagai milik atau hak pribadi. Hati-hati! Kalau belum nikah ya…belum menjadi milik dong! Ketertarikan seksual tanpa kendali, mendatangkan kesedihan yang sangat mendalam. Kita perlu pemahaman yang tepat untuk dapat mengendalikan nafsu/keinginan daging. Langkah-langkah apa sajakah yang perlu dilakukan untuk menjaga kekudusanmu dan kekasihmu, perlu dibicarakan dan disepakati.

Dalam masa persahabatan, tentu seks tidak menjadi masalah. Dalam persahabatan, tidak eksklusif. Pergi aja masih rame-rame. Happy-happy bersama-sama. Lain halnya kalau udah pacaran. Sudah terikat komitmen untuk mau lebih intim dengan dia seorang. Kenapa sih  mau dengan rela mengikatkan diri kepada seseorang? Pastilah karena sudah  naksir berat sama si”dia”.

Komitmen untuk lebih intim, ditanggapi berbeda antara pria dan wanita. Bagi pria, keintiman fisik mendahului keterlibatan emosi; sedang buat wanita, terlibat emosi dulu baru mau intim secara fisik.

Nah, pria mengungkapkan cintanya, secara fisikal. Mulai dengan memegang tangan, lalu meningkat dengan membelai rambut, tambah mengecup pipi, kemudian merangkul pinggang, eh… makin-makin banyak maunya. Di sini, pria harus mengendalikan keinginannya akan keintiman fisik. Seks itu ibarat orang yang terjun payung. Ada gaya gravitasi bumi yang membuatnya jatuh ke bawah. Jika terjun bebas tanpa bantuan, pasti jatuh dengan cepat dan hasilnya hancur belur ketika berjumpa daratan. Karenanya, perlu pake parasut. Parasut akan memperlambat jatuhnya dan hasilnya pasti selamat. Saat turun memakai parasut, pasti berbahagia karena banyak yang dapat dinikmati selama di udara. Sampai tiba waktunya, dia menyentuh tanah dengan sukacita. Ada perasaan puas!

Demikian pula halnya sewaktu pacaran, perlengkapi diri agar dapat menikmati masa pacaran dan siap mendarat menapak tanah. Kenali si dia dalam banyak hal.  Bisakah dia setia? Mampukah dia dipercaya? Apakah dia orangnya kasar atau halus? Bagaimanakah dia berespon terhadap kesulitan? Apakah saya bisa hidup dengan orang model gini?

Wanita, mengungkapkan cinta melalui keterlibatan emosi. Seringkali wanita terjebak dalam ikatan emosi yang belum seharusnya. Sulit bagi wanita untuk recover kalo diputusin, jika sudah terikat kuat emosinya. Seperti apa keterikatan emosi? Emosi itu menyangkut perasaan terdalam, mempengaruhi mood, dan tindakan. Belum apa-apa…udah merasa kamu milikku. Ingin mengontrol. Mau tahu segala hal. Dia akan menuntut si pria selalu menunjukkan cintanya dengan perhatian, rayuan, pujian. Banyak mengkhayalkan masa depan bersama. Nanti kalo menikah, mau dimana; mau pesan baju model apa, siapa aja yang mau diundang, lalu punya anak berapa, rumah di mana… sampai-sampai cowoknya pusing.  Wanita harus mengendalikan keinginannya akan keintiman emosi. Jangan memberi komitmen emosi terlalu banyak dalam masa pacaran.

Sampai tiba waktunya untuk menikah. Rayakanlah kebahagiaan itu.

Ada waktunya untuk pacaran, ada waktunya untuk menikah. Pacaran kelamaan, tidak menikah-menikah, ini tidak sehat. Jadi kalau udah pacaran sampai jangka waktu tertentu, tentukan kapan menikah!

  1. Zona Pernikahan

Saat si wanita ingin mengikatkan diri secara emosional, sedangkan pria tertarik secara fisik. Di manakah ujungnya? Muaranya mesti ke mana? Misal: pria dan wanita sudah menjalin hubungan pacaran selama 2 tahun, ketika si wanita bertanya,”Kapan mau menikah?” Si pria harus bisa menjawab! Seperti saat sedang terbang dari Bandung ke Bali, kita punya estimasi waktu sekitar 1,5 jam. Jika dalam waktu 5 jam, ternyata belum sampai-sampai juga ke Bali dan cuma berputar-putar saja di udara! Jelas gawat sekali!

Keterikatan emosi dan keterlibatan fisik, muaranya ini di mana? Inilah yang kita harus berhati-hati karena ujungnya/muaranya adalah hubungan seks.

Ini sudah masuk ke dalam tahap ketiga, yaitu tahapan pernikahan.

Boleh tidak pria dan wanita berhubungan seks? Tentu saja boleh, namun setelah terlebih dahulu mengikatkan diri dalam pernikahan. Yang menjadi tantangan adalah dalam intensitas hubungan yang terjadi, bisakah menjaga kekudusan itu sampai  hari pernikahan? Jangan sampai terjadi hubungan seks di luar nikah.

Nah, bagaimana mengaturnya?

  • Jangan terlalu sering hanya berduaan.
  • Carilah konteks untuk dapat melakukan suatu kegiatan bersama-sama dalam suatu komunitas (ikut grup panjat tebing, grup fotografi, dll)
  • Jangan terlalu eksklusif, tetap terbuka dengan pergaulan dengan teman-teman yang lain.

Bagaimana menjaga intensitas itu?

  • Harus ada kejujuran

Si pria jujur bahwa saya tertarik secara seksual dengan kamu. Tolong doakan agar kita berdua tidak jatuh dalam dosa seksual. Jangan anggap diri kuat, bahwa kita tidak akan jatuh dalam dosa seksual.

  • Konteks kehidupan harus banyak

Ada pelayanan, ada fitness, nonton, dll. Jangan hanya di rumah bahkan di kamar saja berduaan.

Jika intensitas arah ketertarikan seksual dijaga dengan baik, niscaya akan masuk pernikahan kudus dengan sukses dan berhasil. Puji Tuhan!

Ikuti terus kelanjutannya dalam Dating INSIGHT!

Mazmur 119: 9 Dengan apakah seorang muda menjaga kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai firman-Mu.

Chang Khui Fa & Liana.

GOOD NEWS! Teman-teman, buku Dating INSIGHT season 1 akan dilaunching minggu ini. You are invited! Launching akan diadakan di TB VISI Istana Plaza lantai 3. Hari Minggu 9 Nov 2014. Mulai jam 11.00- 15.00. Kami (Chang Khui Fa dan Liana) akan hadir juga. Yuk ketemuan. Bisa foto bareng dan tanda tangan buku juga CDnya… Cu there my friends. God Bless you.

Menjadi Sepadan dengan Pasangan

Equally Yokes Relationship 5

Kiat  Nyambung dengan Pasangan

Nasum: Bp. Ichwan Chahyadi

Saksikan dating INSIGHT di YouTube Klik di sini

Puji Tuhan jika bisa merasakan jatuh cinta! But, tidak mesti orang yang bikin kamu jatuh cinta itu jadi pacar kamu! Tuhan memberikan panduan yaitu harus yang seiman dan sepadan. Sebaiknya, carilah yang bisa nyambung atau corresponding to himself (tersambung dalam berbagai aspek). Misalnya: ngobrolnya asyik, latar belakangnya tidak terlalu berbeda jauh, kebiasaan-kebiasaan yang mirip, tingkat ekonomi setara, selevel dalam pendidikan… idealnya begitu.

Masalahnya, walau sudah mencari yang tidak beda jauh, toh yang namanya perbedaan di sana-sini masih ada. Kembar sekalipun pasti berlainan. Apalagi dua pribadi dari keluarga yang tidak saling kenal, pastinya menghadapi kesulitan-kesulitan buat nyambung. Ada power struggles yang harus dihadapi supaya pria dan wanita akhirnya konek satu sama lain.

Dalam proses mencari pasangan, anehnya, perbedaan seringkali justru menjadi daya tarik. Kita tertarik dengan seseorang, bukan karena hal-hal yang mirip saja, tapi karena  perbedaannya. Bagaikan dua kutub magnet yang berlawanan, saling tarik-menarik.

Berbeda, mulanya menarik; namun jika kekuatan cinta romantis mulai pudar, perbedaan bisa jadi konflik. “Cara dia membereskan masalah wah…BEDA banget sama saya! Mestinya yang benar, dia ikuti cara saya!” ungkap seorang pria pada satu sesi konseling. Langsung dibantah sang kekasih, ”Itu kan caraku. Aku sudah biasa begini. Apanya yang salah? Kan ga harus melulu ikut cara kamu!” Inilah yang disebut power struggles.

Padahal, masing-masing mempunyai keunikan. Berbicara mengenai perbedaan, bukan soal salah atau benar. Masa-masa power struggles adalah masa krisis yang harus dilewati. Jika berhasil lewat, maka hubungan akan tersambung dengan baik (co-operation). Sebaliknya, jika tidak di-manage, perbedaan-perbedaan akan berakibat pada perpisahan (separation). Sayang kan?!

Seyogyanya, perbedaan jangan sampai memisahkan, tetapi menyatukan. Saling memperlengkapi dan saling memperkaya satu dengan yang lain. Apa yang perlu kita perhatikan, agar proses ini berjalan dengan baik?

Firman Tuhan mengatakan: Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh dipisahkan manusia. Bagaimana kita memandang perbedaan-perbedaan yang ada? Bagaimana mengelola respon kita terhadap perbedaan tersebut? Bagaimana jika seorang isteri berkata, “Waduh! Saya dengan suami mah sudah kayak langit dan bumi! Sudah ga bisa nyambung lagi rasanya!”

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang rindu menaati Firman Tuhan. Dalam konteks dating atau pacaran, jika perbedaan terlampau jauh, ada baiknya meninjau ulang hubungan itu. Hubungan dua insan seyogyanya menumbuhkan dan bukan membebani. Jika terlalu beda, kamu akan banyak bergulat untuk perkara-perkara yang tidak seharusnya ada. Bukankah lebih baik memilih seseorang yang bersamanya, kamu bisa menjadi rekan sekerja Allah di dunia? Cari tahu, apakah dia merupakan kehendak Allah untukmu. Silahkan baca lebih jelasnya dalam serial God’s Will in Dating.

Jika sudah menikah, pastinya tidak ada lagi tinjauan ulang! Yang harus dilakukan bersama adalah berjuang mempertahankan pernikahan seumur hidup. Demi cinta kita pada Tuhan, terus berusaha mentaati perintah-Nya. Tidak ada jalan lain. Nah…kiat-kiat apa saja supaya sepasang kekasih senantiasa nyambung?

Melihat Positifnya

Pada umumnya, perbedaan menjadi keributan karena ada pihak yang merasa dirinya benar; otomatis pihak lainnya jadi pihak yang salah, jadinya memandang negatif orang-orang yang berbeda dengannya.

Misalkan ada pasangan dengan dua kepribadian yang berbeda. Yang cewek, senang di rumah berinteraksi dengan keluarga; sedang cowoknya begitu energik, senang ketemu orang, suka berpetualang, sosialisasinya tinggi.

Si Cowok jika melihatnya negatif, maka dia akan mencap pasangannya sebagai orang yang tidak gaul, ”Ah, kamu mah kuper, maunya di rumah terus.” Di sisi lain, ceweknya dengan kesal berkata,”Apa? Kamu tuh orangnya tidak pedulian, maunya main terus, jalan-jalan, sama teman mulu.”

Sebenarnya, tidak perlu dicari siapa yang salah, siapa yang benar. Ini adalah perbedaan personality.

Untuk mengatasi perbedaan, kita harus mencoba melihat sisi positif dari tiap personality.

Orang yang senang di rumah, positifnya memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga dan memperhatikan anggota keluarga. Orang yang senang di luar, memiliki pandangan/ wawasan yang luas juga kemampuan adaptasi yang tinggi.

Pak Ichwan sudah berkeluarga selama 18 tahun. Isterinya seseorang yang sangat terorganisir. Jika menyimpan baju dalam lemari, ditata sedemikian hingga tiap barisnya rapi sekali. Sebaliknya, Pak Ichwan orang yang sangat fleksibel, boleh dikata cenderung berantakan.

Pada awal pernikahan, hal ini selalu jadi masalah. Kalau melihat dari sisi negatif, maka sang isteri akan memandang Pak Ichwan, suaminya adalah orang yang berantakan, sembrono.  Sedangkan, Pak Ichwan melihat isterinya sebagai seseorang yang kaku dan terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil.

Namun, seiring lewatnya tahun-tahun pernikahan, masing-masing belajar melihat perbedaan secara lebih positif.  “Oh, ternyata orang yang berantakan itu orang yang fleksible, mudah beradaptasi, juga gampang gaul” demikian sang isteri memahami dan menerima suaminya. Pak Ichwan pun di sisi lain belajar untuk menghargai pribadi isteri dengan mencoba menyimpan lebih rapi dan terstruktur.

Dalam buku GARAM & TERANG bagi Keluarga, ada satu bab khusus yang membahas “Adaptability dan Flexibility”.  Kenapa saya (Chang Khui Fa) menuliskan bab ini?

Ketika pacaran, tahun demi tahun yang dilalui, tidak terlalu terasa beda. Lain dengan  pernikahan. Tahun demi tahun, perbedaan terasa signifikan. Hidup kian kompleks. Tahun pertama berusaha mengadaptasikan diri dengan pasangan, lingkungan dan situasi. Belum juga nyaman, tahu-tahu anak lahir di tahun kedua. Memasuki tahun ketiga, anak ke dua hadir. Belum lagi ditambah konteks karir yang meningkat, pekerjaan makin banyak, kebutuhan keuangan bertambah dan lain-lain. Butuh sekali keahlian beradaptasi dan fleksibel, supaya hidup kita tidak mudah patah atau hancur. Hanya orang-orang yang memiliki daya adaptasi, yang dapat memenangkan perjalanan hidup ini.

Tuhan Allah sangat adil. Tidak mungkin Dia menciptakan seseorang yang semuanya baik, dan yang lain semuanya buruk.  Setiap orang mempunyai kekuatan dan kelemahan. Yang lemah yang dimiliki pasangan, harus dipandang positif. Kelemahannya, ditopang dengan kekuatan kita. Sungguh indah jika dua insan yang saling mencinta terus mengkombinasikan kekuatan dan saling melengkapi.

Kita harus belajar mengenali dan mengerti seperti apa kepribadian kita, juga pasangan. Apa kelebihan dan kekurangan diri, dan pasangan. Tuntutan yang melampaui kemampuan, akan membuat hubungan menjadi teramat berat untuk diteruskan.

Mari kita lihat contoh lain: Robbie, orangnya sangat berhati-hati dalam bicara. Dia merasa perlu menjaga perasaan lawan bicara. Ketika ditanya,”Bagaimana penampilanku, bagus atau tidak?” Robbie akan menjawab,”Lumayan!” Jawabannya tidak menyakiti hati, tapi membuat kita lumayan bingung pula untuk mengerti apa maksudnya.

Ada lagi Lisa. Dia tipe orang yang blak-blakan. Ceplas-ceplos. Cablak istilahnya. Kalau jelek, langsung aja, komentarnya, “Ih…jelek amat. Asli gua nggak suka!”

Ketika dua orang dengan kepribadian yang berbeda seperti ini bersatu, pasti akan timbul konflik. Robbie, sebagai orang yang halus, merasa hatinya terus teriris dengan perkataan pasangannya yang dinilai terlalu kasar, terlalu gamblang, tidak mikirin perasaan orang. Sementara Lisa, sulit sekali mengerti keinginan pasangannya. “Robbie bicaranya ga jelas apa maunya, dan gampang tersinggung.” Lisa bingung bagaimana cara berkomunikasi yang tidak menyakitkan pasangannya.

Bagaimana melihat positifnya pasangan?

Mengubah paradigma negatif menjadi positif. Kelebihan orang dengan tipe seperti Robbie adalah lebih mudah menjaga hubungan baik/ relasi dengan sesamanya. Tipe Lisa, adalah orang yang apa adanya. Mudah dikenali karena jelas, apa keinginannya, seperti apa maunya, apa yang dia suka atau tidak: jujur, terus-terang, tidak bermuka dua dan terbuka.

Dalam suatu hubungan, kita harus bijak. Ada kalanya, harus bicara terang-terangan; namun juga kadang kala perlu menjaga perasaan seseorang.

Pasangan yang dapat menghargai dan menerima keberadaannya masing-masing, berpotensi menjadi partner yang kuat. Orang yang pandai bicaranya, menjalin dan membina relasi; yang ceplas-ceplos, sangat baik jika harus membuat suatu keputusan dengan cepat.

Kebudayaan atau culture di mana seseorang tinggal pun akan mempengaruhi gaya bicara seseorang. Orang Jakarta biasanya kalau bicara lebih ceplas-ceplos/ jebrat-jebret (straight to the point), sementara orang Bandung biasa saat bicara lebih menjaga perasan, lebih santun. Jadi, jika kita berelasi dengan seseorang yang kebudayaannya berbeda jauh, pasti usaha-usaha adaptasi yang harus diperjuangkan semakin besar.

Langkah-langkah Nyambung dengan Pasangan:

  1. To Know (Mengetahui) Saat kami hendak memasuki penikahan, saya dan Liana menyempatkan diri ikut konseling. Kami menemui konselor penikahan yang ahli dan dapat dipercaya, memiliki kerohanian dan pandangan teologis yang benar. Beliau dapat mengungkapkan hal-hal yang kami tidak lihat, menyingkapkan potensi-potensi konflik yang mungkin timbul dalam pernikahan kami. Lalu bertanya, apakah kami siap menghadapinya?  Namanya cinta, ya…siap saja! Apapun bisa kami hadapi! Konseling membukakan kami banyak hal, supaya kami memasuki menikah tidak dengan mata tertutup. Kami mengerti bahwa pernikahan bukan seperti film-film dongeng yang always happy ending! Pernikahan is the beginning to the very hard process. Makanya ada yang bilang: Marriage is a never ending school. Mengetahui bahwa kita berlainan. Mengenali apa saja perbedaannya. Kita perlu melihat perbedaan, bukan sebagai salah atau benar. Belajar menggali hal positif dari perbedaan yang dimiliki masing-masing pribadi.
  2. To Understand (Mengerti)Tujuan dari mengerti adalah dapat menerimanya dengan sepenuh hati. Seringkali proses ini dilewati (di-skip)  dari tahap “to know”,  langsung “to accept. Inilah penyebab terjadinya “helplessness” atau ketidak berdayaan dalam pernikahan. Seorang ibu berkata, ”Dia bebal, ngak akan pernah bisa berubah. Udah dari sononya seperti itu. Capek aku. Udah dikasih tau berkali-kali, selalu gagal. Ya sudahlah!”  Pernikahan jadi berat sekali, karena kita terus berusaha menerima, tanpa mengerti dan berusaha memahami.Tidak cukup berhenti hanya tahu saja: Owh, saya tahu: Saya dan kamu beda. Saya begini, Kamu begitu. Tidak berhenti di sana, kita harus belajar untuk mengerti. Mengapa dia berpikir, berlaku, berbicara, merespon seperti itu? Mencoba memahami pasangan jelas proses yang cukup lama, dan memerlukan keterbukaan dari kedua pasangan.
  3. To Accept (Menerima) Setelah mengerti, barulah menerima. Mencoba menerima dirinya seutuhnya, termasuk kelemahannya. Cinta sejati menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
  4. To Appreciate (Menghargai) Setelah tahapan ke satu sampai ke tiga dijalani, barulah bisa memasuki tahapan ke empat. Saling menghargai. Tidak meremehkan ataupun menghina akan perbedaan-perbedaan yang hadir.
  5. To Celebrate (Merayakan) Merayakan perbedaan-perbedaan yang ada. Jika sudah tahap ini, pastilah perjalanan dua insan menjadi sangat menyenangkan! Ku tak bisa hidup tanpamu! Ada mutuality, kesalingan yang tak terpisahkan.

Nyambung dengan pasangan merupakan hal yang sangat menyenangkan. Pernikahan hanya sekali seumur hidup. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia (Pengkotbah 9: 9)

Ev. Chang Khui Fa & Liana

Rahasia Mencintai Wanita

True Love 3

Rahasia Mencintai Wanita

Saksikan Dating INSIGHT melalui YouTube  KLIK di sini

“I love you” ucap seorang pria kepada sang gadis kekasihnya.

Bicara ya… gampang. Buktikan dong! Hmm…Apa ya…bukti cinta yang sejati?

Mari kita lihat dulu, apa kata Firman Tuhan tentang “cinta”:

1 Korintus 13:4-7

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Cinta sejati tidak sama dengan jatuh cinta. Jatuh cinta jelas perasaan; cinta sejati bukan cuma perasaan. Maksudnya apa?

Jatuh cinta menghadirkan euphoria, tidak riil. Cinta yang sejati baru bisa muncul, ketika euphoria pergi.  Waktu jatuh cinta, rasanya seperti terbang ke angkasa, terbang melayang-layang melintasi lapisan-lapisan awan, menuju langit ke tujuh. Toh tidak selamanya terbang, pelan-pelan, turun kembali ke daratan. Di darat, baru sadar, berhubungan dengan orang lain ternyata tidak selalu manis. Melihat kelemahan kekasih, berbeda pendapat dengannya, ditambah ribut besar, baekan, kesel lagi, sebel lagi, baekan lagi… justru di sinilah, benih cinta bertumbuh.

 love seeds benih cinta

Menanam pohon, perlu usaha. Mulanya sebuah bibit, disiram, dipupuk, disinari matahari. Beberapa waktu kemudian, terlihat tunas mungil, lalu muncul daun-daun muda. Demikian pula cinta, saat benih itu tumbuh, ada tindakan yang tampak dan bisa dirasakan.

Continue reading

Jatuh Cinta, Keintiman, Komitmen

True Love 2
Jatuh Cinta, Keintiman, dan Komitmen

Nonton Dating INSIGHT via YouTube Klik di sini ya

Cinta mempunyai tiga unsur. Biasanya disebut The Triangle of Love. Bentuknya segitiga sama sisi. Sisi kanan adalah Passion, sisi kiri Intimacy, sisi bawah yang mendatar adalah Commitment.

PASSION
Apa sih Passion? Passion adalah perasaan yang sangat kuat. Perasaan kuat seperti apa?

Dalam arti umum, misalnya: Seseorang yang mencintai lukisan, maka perasaan yang kuat itu akan mendorongnya untuk mencari dan mengejar lukisan kemana pun. Jika uangnya banyak, pasti lukisan itu dibeli. Dipajang di rumah, supaya dapat ditatap setiap hari.
Passion lainnya, passion menolong sesama. Banyak orang mendirikan lembaga supaya lembaga tersebut dapat bergerak untuk menyalurkan passionnya itu. Lembaga untuk lingkungan hidup, lembaga menolong orang-orang yang marginal, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, lembaga bantuan hukum dll.
Saya pribadi punya passion: Memberikan edukasi, mengadakan ceramah, melakukan bimbingan kepada banyak orang, supaya mereka dapat mempertahankan dan menikmati pernikahan seumur hidup.
Pernikahan yang kuat dimulai dari pemilihan pasangan yang tepat dan kemampuan membina relasi. Dibentuknya sejak masa pacaran. Karena itu, saya dan isteri tercinta, Liana, secara khusus mendalami topik-topik penting dalam dating. Passion kami, Siaran Dating INSIGHT menjadi referensi jawaban buat pergumulan muda-mudi di masa pacaran dan pranikah.
Secara khusus, passion berarti perasaan yang kuat terhadap lawan jenis. Bahasa Yunaninya “Eros”. Maksudnya, seksual desire/ketertarikan seksual. Ada ketertarikan fisikal. Waktu melihat seseorang, tiba-tiba muncul getaran dalam hati. Dag dig dug dueeer! Telapak tangan jadi dingin, ada debaran jantung yang tak beraturan karena adrenalin yang berpacu. Seperti lagu jadulnya Titik Puspa “Jatuh Cinta…. berjuta rasanya….!” (silahkan nyanyi rame-rame)

Alkitab menuliskan dalam Kidung Agung 8:6b-7a,“Karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.”
Passion ini sangat menggebu-gebu, boombastis, dahsyat, hebat, dan kuat! Namun, walau perasaannya begitu dahsyat, belum berarti cinta sejati. Ko gitu? Ya Iyalah…yang namanya perasaan kan gampang berubah dan sifatnya sebentar saja.

Seorang cowok yang jatuh cinta banget pada seorang gadis. Saking cintanya, dia mau melakukan apapun demi menyenangkan sang kekasih hati. Demikian pula sebaliknya. Tapi, seiring berjalannya waktu, perasaan kan pasti jadi biasa-biasa saja. Masak ketemu kekasih girang selalu? Setelah sekian lamanya melayang di awan, ada waktunya kembali berpijak di bumi!
Saat berpijak di bumi, getaran-getaran dalam hati mulai stabil, hormon adrenalinpun tidak terpicu seperti semula, ga ada kegirangan yang melonjak-lonjak. Saat perasaan cinta hilang, cinta yang sejati sesungguhnya baru dimulai…jatuhcinta Continue reading