Pasangan Sepadan menuju Mutuality

Equally Yokes Relationship 2

Kerjasama dalam Kesepadanan

Pasangan sepadan seperti apa sih? Nonton via Youtube KLik aja di sini.

Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Sepadan adalah Corresponding to Himself atau simplenya kita sebut aja ‘nyambung’. Hawa tersambung pada Adam, toh Hawa berasal dari tulang rusuk Adam. Apa tujuan yang direncanakan Tuhan buat sejoli ini? Kala manusia pertama diciptakan, Allah berfirman: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala bintang yang merayap di bumi.”

Mandat yang diberikan Allah ini, jelas tidak bisa dilakukan seorang diri oleh manusia. Allah tahu, karenanya Tuhan Allah berkata, “Tidak baik manusia itu seorang diri saja…”, dan Dia bertindak! Diciptakan-Nya penolong yang sepadan, Hawa. “Ini baru PAS! COCOK! Sepadan! Nyambung!” seru Adam saat dia bertemu Hawa. Sebelumnya, Adam hanya ditemani binatang hutan, ternak, burung… ndak ada yang cocok. Ga equall. Ga nyambung. Adam ngomong apa, di situ nyahutnya cuit cuit, aum-aum, mooo….

‘Nyambung’ buat apa? Buat bekerja sama untuk mengerjakan tugas yang telah dirancangkan Allah. Menjadi Partner-nya sang Pencipta.

Sebelum jatuh dalam dosa, nyambungnya mudah. Langsung Adam berkata kepada Hawa, “Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku”. Namun, tatkala mereka sudah jatuh dalam dosa, langsung terpisah. Dosa memisahkan. Pertama, memisahkan hubungan manusia dengan Allah (Penciptanya). Kedua, memisahkan manusia dengan sesama. Ketiga, memisahkan manusia dengan ciptaan lainnya. Adam Hawa yang tadinya love-love-an, sekarang jadi salah-salahan. Tuding-tudingan. Sudah tidak nyambung. (Lihat Kej 3).

Dosa membuat keterpisahan. Mementingkan diri sendiri. Maunya menang sendiri. “Aku yang berkuasa. Aku harus menang.” Satu orang aja yang bicara seperti ini, dunia udah pusing. Apalagi kalau ada dua dan keduanya berebutan mau menang sendiri.

Jadi, ketersambungan antara pria dan wanita bukan perkara gampang. Ini harus diusahakan dan diusahakan bersama. Butuh kerja sama. Cooperation. Jika ada pria dan wanita, diikat oleh Tuhan dalam mahligai pernikahan, nyambung, lalu bersama-sama melayani Tuhan. W.O.W! Ini Luar Biasa! Ini adalah pekerjaan Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat membentuk sejoli ini melalui pernikahan mereka, menjadi co-Partner-nya Tuhan Allah. Sejatinya, ini bukan proses yang gampang. Kami sudah mengalami hal itu. Saya dan Liana, dulunya juga pernah jatuh bangun. Berusaha nyambung, tapi ndak nyambung. Konflik. Berdoa. Selesaikan masalah. Jalin kembali sambungan yang retak. Bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil.  Tuhan telah memimpin kami berdua untuk nyambung dan sekarang bisa bersama-sama bersiaran Dating INSIGHT, menjadi saluratn berkat bagi banyak muda-mudi.

Prosesnya mulai dari mana?

It begins from romance. Cieee, seperti judul novel aja ya.

Sebuah relasi yang sehat harus diawali dengan saling ketertarikan. Ada daya tarik seperti magnet. Kutub yang berbeda, saling menempel. Maunya berdekatan terus. Terbuai seperti dalam cerita-cerita dongeng. Ya, baca deh Equally Yokes 1: Romance To Power Struggle.

Setelah romance-romance-an usai, prosesnya belum berakhir, justru baru mulai seru. Lebih real. Aslinya watak pasangan (The Real I) muncul, banyak konflik terjadi.

Nah, penting untuk diketahui, jikalau selama berpacaran, kerjaannya konflik mulu, itu namanya tidak sepadan. Ga nyambung. Memang konflik harus ada, dan biasa terjadi karena penyatuan dua insan yang berbeda; tapi kalau terus-terusan ribut, kan cape dong. Pastinya akan menghambat bahkan menggagalkan proses menuju cooperation. Bukannya cooperation, malah separation atau perpisahan.

Lebih baik hentikan hubungan, saat menyadari hal ini di masa pacaran, daripada memaksakan lanjut ke dalam pernikahan. Tidak ada loh kata “Putus” atau “Cerai” bila sudah menikah. Sayang sekali, banyak pasutri (pasangan suami isteri) yang masih serumah tapi sudah bercerai secara hati. Tidak lagi tersambung. “Saya ngomong juga percuma, dia tidak mau dengar, tidak pernah berubah!” ini perkataan seorang suami dalam sebuah sesi konseling. Dia sudah kecewa berat pada isterinya. Dia “gave up”, angkat tangan, tanda tidak mau lagi berurusan dengan sang isteri. Dari luar terlihat masih bersama-sama, namun sebenarnya sudah terjadi separation dalam hubungan mereka.

Power Struggle dalam pernikahan, dipicu oleh hal-hal kecil. Dulu sewaktu pacaran, tidak masalah. Misalnya: Ketika pembantu pulang kampung, pekerjaan rumah tangga jadi tugas siapa? Isteri, biasa melihat ayahnya membantu ibu membereskan piring-piring sehabis makan malam, menuntut suaminya melakukan hal yang serupa. Padahal suami, dalam tradisi keluarganya, pria adalah raja. Tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti itu. So, tradisi keluarga siapa yang paling benar? Menurut sang isteri, harusnya suamiku itu melakukan tugas itu seperti papaku. Menurut sang suami, sudah sewajarnya isteri sebagai ibu rumah tangga yang mengerjakannya. Walhasil, siapa yang memenangkan power struggle ini?

Isteri berharap suami tanpa diminta, bisa ringan tangan membantu. Suami santai-santai, tidak ada dorongan menolong. Dia pikir, sang isteri bisa lah membereskan itu sendiri, seperti ibunya dulu.

Isteri kecewa, merasa tidak diperhatikan, kurang dicintai; di sisi lain suaminya bingung, kenapa si isteri marah-marah. Harapan yang tidak terpenuhi, mengakibatkan kekecewaan. Pernyataan ini berlaku umum. Baik pria maupun wanita, berlatihlah berkomunikasi dengan benar. Buat yang lagi pacaran, sebelum lanjut memasuki level pernikahan, baca dulu Able to Communicate dan Resolving Conflict dalam buku GARAM & TERANG bagi Keluarga, karya Chang Khui Fa.

Dari semenjak pacaran, harus berlatih menyelesaikan masalah-masalah yang timbul. Cara yang berhasil, terus diterapkan sebagai modal pernikahan. Keberhasilan menyelesaikan masalah, dinilai dari kelanggengan hubungan. Konflik bukan untuk memisahkan, tapi menyatukan.

Tak kenal, tak sayang; makin kenal, makin mengerti dan makin lengket. Setelah melalui power struggle, dan berhasil. Relasi akan masuk dalam tahap cooperation.

COOPERATION

Mampu bekerjasama antar pria dan wanita di masa dating, sebenarnya gampang ketahuan. Hints-nya adalah teachable heart. Jikalau ada kesadaran akan masalah, mau mengakui ada sesuatu yang salah, ada niatan untuk mempertahankan hubungan, keinginan mencari solusi, kemauan ditolong, punya keaktifan mencari jalan keluar. PASTI ADA HARAPAN!

Saat kami sudah jalan (pacaran) tiga bulan, saya menyampaikan pergumulan dan kerinduanku menjadi Hamba Tuhan pada Liana. Panggilan ini sebenarnya sudah saya gumulkan selama empat tahun. Sejujurnya, saya belum berani melangkah. Setelah saya beritahu, Lianapun akhirnya ikut menggumulkan hal ini. Dia harus tau, jika terus bersama saya, dia akan menjadi isteri seorang Hamba Tuhan.

Saya tahu panggilan ini sangat jelas, namun saya bingung memutuskan kapan sebaiknya berhenti bekerja dan menyerahkan diri sepenuhnya, untuk masuk Sekolah Teologi dan melayani Tuhan full time. Saat itu, saya benar-benar merasakan sikap Liana yang cooperation. “Kalau memang dipanggil untuk melayani Tuhan full time, sekarang atau tahun depan, apa bedanya? Lebih baik sekarang aja,” ujarnya dengan polos.

Cooperation/Kerja sama, ada yang real, juga ada yang superficial. Superficial artinya hanya kelihatannya saja cooperation tapi aslinya tidak. Sebenarnya, mereka masih di level Power struggle dan belum berhasil lewat, tapi terlihat sepertinya sudah bisa kerja sama. Ke gereja, melayani bersama ikut paduan suara; berdagang di toko bareng; kemana-mana terlihat berdua; isterinya nunut aja apa kata suami, atau sebaliknya.

Cara-cara yang biasa dipakai pasangan untuk memenangkan power struggle:

1. Kalau dibilangin, dia lebih galak. Untuk menghindari keributan yang lebih besar, jadinya salah satu pasangan cenderung nurut walau perasaannya tertekan.

2. “Ya udah deh, terserah kamu aja.”cetus seorang gadis pada pacarnya. Setuju, tapi… ada tapinya, KZL (kesel). Sikap maksa-nya subtle (tersembunyi). Kalau tidak diturutin, ngambek. Silence… bukannya golden tapi ngajak perang dingin. Tidak mau bicara. Mau memenangkan power struggle dengan sikap diamnya itu.

3. Pakai kekerasan. Membuat takut pasangan. Kalau pasangan sudah takut, tidak bisa mengeluarkan pendapat lagi. Betul-betul di-press. Tertekan.

Pasangan seperti ini masih belum lulus power struggle. Diluar,”Iya…Iya…” Dalam hati, TIDAK setuju. Gawat, ini seperti gunung es yang kelihatan puncaknya saja. Padahal, di bagian bawahnya, menyimpan kebahayaan sangat besar.

Ke tiga cara di atas adalah cara-cara untuk memenangkan masalah dengan melukai pasangan.

Sejatinya dalam kerja sama yang real, faktor relasi jelas adalah yang terutama.

Dalam cooperation yang sejati, bisa jadi ketika mendengarkan permintaan pasangan, awalnya dongkol. Namun dengan jujur, kita bebas menyatakan bagaimana perasaan dan pemikiran kita kepadanya. Ungkapkan, “Memang hal ini tidak mudah saya terima, namun saya ingin belajar mendengarkan kamu dengan baik, mengenal benar-benar apa yang kamu butuhkan dan mencoba mengerti jalan pikiranmu.”

Tujuannya adalah memenangkan relasi. Menyetujui sesuatu yang sebenarnya kita tidak setuju untuk menolong pasangan bertumbuh. Dalam hati ada KZL, ya…harus diungkapkan, namun tidak diperdebatkan. Setuju, bukan terpaksa yang superfisial. Setuju karena memang ingin pasangan bertumbuh. Terkadang, kesalahan bisa terjadi dengan pertimbangan, konsekuensi lebih kecil dari hikmat/hasil yang diperoleh.

Tuhan dapat memakai pasangan atau anak-anak untuk berbicara pada kita. Kita tidak boleh meremehkan perkataan mereka.

Tanda-tanda Cooperation yang real:

  • Ada kemauan untuk menyelesaikan masalah.
  • Ada keinginan untuk terbuka.
  • Ada dorongan untuk berbicara.
  • Ada niatan menjaga relasi tetap baik.

Inilah yang disebut dengan cooperation. Jika semua tanda ini ada dalam hubungan, maka kebersamaan menjadi indah sekali.

Mengutip Gery Thomas, “Saya ingin Anda memiliki pernikahan yang membuahkan hidup, semangat, keintiman, memori sebagai sahabat terdekat, sukacita melimpah dalam membangun bersama, persahabatan menghadapi semua musim, merawat anak bersama, melayani Tuhan bersama, bersenang-senang bersama, pusing dan berjuang bersama, bertumbuh melewati setiap konteks kehidupan, menciptakan ikatan yang melebihi daya tarik apa pun. Ini adalah pernikahan dengan misi yang sama.”

Inilah pasangan yang sepadan. Nyambung. Siap dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang lebih besar. Ready untuk the next level?

MUTUALITY

Ini adalah tahapan selanjutnya. Tahapan yang lebih tinggi dari cooperation. Cooperation adalah usaha bergandengan tangan bersama-sama, menghadapi setiap tantangan dan halangan yang hadir di hadapan dua insan. Mutuality adalah sebuah kesalingan. Mutuality menetap walaupun situasi tidak berpihak, ada perasaan saling membutuhkan.

Ada 3 tergila-gila yang muncul dalam tahapan relasi:

1. Saat masih Pacaran: Saya tergila-gila padamu. Waktu makan, tiba-tiba bayangmu melintas, membuatku rindu setengah mati. Mau tidur, ingat kamu, senyam-senyum sendiri sebelum tidur, sampai berjumpa di dalam mimpi. Kemana-mana, ada kamu… siapakah kamu? (makhluk halus kali) Tegila-gila banget kan!

2. Waktu sudah menikah: Saya tergila-gila padamu. Pada masa romantic love lewat, mulai masuk real love. Menghadapi power struggles, konflik, lalu berteriak, “Kamu gila! Maunya menang sendiri! ”Dijawab pasangan, “Enak aja aku gila! Kamu yang gila!” Terjadilah tergila-gila tahap dua.

3. Waktu sudah lewat power struggle, masuk ke cooperation dan berhasil masuk tahapan mutuality. Saya tergila-gila padamu. Artinya: benar-benar bisa gila, kalau hidup tanpa dirimu. Pria dan Wanita membangun hubungan saling membutuhkan. Keberduaannya saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme. Menghasilkan hal-hal yang positif dari kebersamaan mereka. Dua bukan lagi dua, melainkan satu.

Tahap ini hanya bisa dimasuki oleh pasangan yang sudah melewati tahapan cooperation. Jika masih dalam masa pacaran bahkan baru di masa pengejaran, sudah menyatakan ‘tidak bisa hidup tanpamu’, JANGAN PERCAYA! Itu pasti rayuan gombal!

Karena ketersalingan belum terbentuk. Aslinya belum terlihat. Lewati dulu power struggle, smooth dalam cooperation, baru mutuality akan terjadi.

Selanjutnya dalam Equally Yokes 3: Memahami Mutuality lebih dalam.

Ev. Chang Khui Fa & Liana

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s