Deadly D yang bikin Relasi gak Lancar

Dating INSIGHT

Asking Someone Out 5 -Three Deadly D bikin relasi gak lancar

Simak juga via YouTube KLIK di sini

1 Petrus 5: 7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

 

Aneh deh… kenapa ya abis nge-date, koq si dia berubah? kalo diajakin lagi selalu nolak bahkan sepertinya menghindar gak mau ketemu.

Saya selalu gagal di tengah jalan dalam membangun hubungan. Diputusin pernah; mutusin juga sering. Akhirnya…ga ada yang jadi deh…

Pernah ngalamin masalah-masalah kayak gini?

Hati-hati! Jangan-jangan kamu terkena salah satu dari tiga Deadly D (3DD) ini.

Tentu, semua orang yang normal mengharapkan dapat membangun relasi jangka panjang. Mulai dari bertemu…jatuh cinta…jadian…terus married and happily ever after. Dongeng kali? But… tidaklah mustahil loh kalo tahu rahasianya.

Apa sih rahasianya? Nah…ikuti terus serial Dating INSIGHT: GARAM & TERANG dan kalau udah mau menikah baca dulu GARAM & TERANG bagi Keluarga karya Ev. Chang Khui Fa.

Balik lagi deh ke topic Deadly D. Mahkluk apa ini?

Death itu artinya kematian. So artinya adalah D yang dapat menyebabkan kematian relasi. Dia sangat substle (terselubung) namun nyata ada dan kerjaannya merusak relasi yang sedang terbangun. Dia bisa muncul dalam 3 macam bentuk: Desperate, Dependent, Detachment.

Wow…sepertinya mengerikan juga ya. Yuk, kita bahas satu per satu, supaya kalau kamu temukan salah satu bentuk itu ada dalam dirimu, cepat usir dan buang jauh-jauh.

konflik

1. Desperate

Seseorang yang tujuan hidupnya hanya satu yaitu mendapatkan pasangan hidup. Tujuan hidupnya hanyalah mencari pacar. Tanpa pacar, rasanya galau. Hidupku kok hampa dan kosong!

Mengapa desperate mencari pacar? Karena dia berpikir dengan mencari seseorang maka si dia akan mengisi kekosongan hidupnya.

Orang seperti ini tidak memiliki hidup. Apa maksudnya?

Seseorang yang tidak memiliki hidup, waktu ditanya,“Apa hobbymu?” Jawabannya,”Tidak ada.” “Apa tujuan hidupmu?” “Tidak tahu!” “Siapa teman baikmu?” “Tidak punya.” “Gimana di rumah…betah tidak?” “Tidak!” Jadi dia adalah seseorang yang tidak memiliki teman baik, tidak punya hobby, di rumah juga tidak betah. Mungkin, dia memiliki segalanya, kaya raya and good looking, tapi hidupnya tidak dia nikmati dan tidak tahu bagaimana mengisinya.

Apa maksud hidup di sini?

Rasa puas atau “contentment”. Hidup yang memiliki content (isi). Dalam diri manusia, tidak ada seorangpun atau apapun yang dapat memberikan hidup. Hanya Tuhanlah yang dapat mengisi kekosongan dalam jiwa manusia.

Tuhan pula yang memberikan content ke dalam kehidupan manusia, sehingga manusia dapat mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang berharga dan bernilai kekal. Tuhan yang memberikan tujuan hidup, Tuhan yang menanugerahkan teman-teman baik, Tuhan yang menempatkan kita dalam sebuah keluarga yang hangat dan saling mengasihi, Tuhan yang sangat kreatif yang memberikan kita suatu minat/hobby tertentu yang membuat hidup kita berwarna-warni. Sumber kehidupan adalah Tuhan dan karya-Nya yang agung dalam hidupmu!

Jika tidak memiliki hidup dan berpikir hanya pacar yang bikin kita hidup. Jelas akan membuat desperate!

Satu ketika dapat pacar, tapi tak berapa kemudian dia merasa pacarnya tidak membuat dia bahagia. Bosan, lalu diputusin. Cari yang lain lagi…merasa cocok… seorang yang sangat baik, bisa mengerti dirinya, selalu membuatnya tertawa, tapi…loh kok tiba-tiba dia mutusin?

Orang yang tujuan hidupnya hanya mencari pasangan hidup dinamakan “Desperate Dater”. Desperate dater akan membuat “desperate partner”. Pasangannya terus dituntut untuk membahagiakan dia, mengisi kekosongan jiwanya, mengerti dirinya. Tentu saja pasangannya lama-kelamaan akan habis dan lelah secara emosi.

Namanya juga human, pastiterbatas, mana bisa memenuhi semua tuntutan.Mungkin diawal masa dating, pasangan masih memberikan apa yang diminta dengan sukacita karena cinta; tapi ada titik dimana semua itu akan hilang. Dia mulai merasa tidak mampu dan frustasi sehingga akhirnya angkat bendera putih menyerah.

Yang dapat memenuhi kekosongan dalam jiwa, bukan pasangan kita. “Desperate dater” akan menyebabkan “Desperate partner”, dan kalau hubungan itu terus berlangsung sampai ke pernikahan akan menyebabkan “Desperate Marriage” dan juga melahirkan “Desperate Children”.

Mencari pacar bukan untuk mengisi hidup. Pacar bukan untuk membahagiakan hidup. Kamu harus sudah memiliki hidup sebelum mencari pacar. Content dengan diri dan pencapaianmu. Memiliki tujuan hidup yang jelas, ada hobby, punya teman-teman untuk berbagi, berada dalam keluarga yang sehat. Dalam relasi harus ada memberi dan menerima. Bagikan hidupmu juga untuk kekasih hati. Kalau tidak memiliki hidup, apa yang kamu mau berikan selain tuntutan ini dan itu?

Desperate dater biasanya akan jatuh pada beberapa Syndrome:

  • “First Available Syndrome”

Kita tidak akan bertanya apa makanan khas yang di-recommended di resto tersebut. Pokoknya apa saja yang ada, yang cepat, yang bisa menutupi rasa lapar sesegera mungkin. Desperate dater akan mengorbankan segala sesuatu yang ideal, yang penting kebutuhan akan memiliki pacar/pasangan hidup terpenuhi.

Siapa saja! Pokoknya yang sekarang lagi dekat. Gak perlu pake kriteria. Yang penting cepat. Illustrasinya seperti saat seseorang kelaparan datang ke restoran. Begitu dapat meja, buru-buru panggil waitress. “Mau pesan apa?” tanya sang waitress. “Yang sudah ada apa? Keluarkan yang paling cepat. Saya sudah lapar!”

  • “Changing Partner Syndrome”

Bahasa Indonesianya “suka gonta-ganti pacar”. Konsepnya: Pacar adalah untuk mengisi kekosongan dalam hidup dan memenuhi kebutuhannya. Maka pada satu titik, waktu dia menemukan pasangannya sudah tidak asyik lagi, dengan gampang dia memutuskan dan mulai mencari lagi yang lain. Atau memiliki pasangan lebih dari satu. Atau malah sebaliknya, “desperate partner”nya yang sudah begitu exhausted akan meminta hubungan diakhiri saja.

Seorang teman saya bercerita, dia senang banget saat ada seorang pria mengajaknya kencan. Dia sangat bahagia, cowok ini sepertinya cocok. Orangnya baik dan perhatian. Gak cakep-cakep amat, tapi cukup OK-lah. “Aduh…dia ngajakin lagi gak ya? Gua seneng banget ama dia…,”ceritanya sambil berharap.

Pucuk dicinta ulam tiba, jadian! Singkat cerita, betapa terkejutnya temanku ini, ketika hubungan baru berjalan 3 bulan, eh tau-tau diajak married. Jadian sih senang banget, tapi kok tahu-tahu mesti kawin? Memang sih, usia mereka terpaut 12 tahun. Keluarga sang pria juga bolak-balik desak terus, “Ayo dong, kenalin siapa pasanganmu, kalau sudah ada, langsung nikah saja!”

Si cowok desperate didesak keluarga. Udah nikah aja, daripada nunggu-nunggu lagi nanti malah batal. Teman saya jadi bingung, “Gimana nih terima atau tidak ya? “Kelihatannya sih baik, tapi rasanya terlalu cepat untuk memutuskan menikah sekarang”

Jangan sampai kamu menikah karena desperate! Kenali pasanganmu baik-baik, apakah benar dia untukmu dan kamu untuknya?

2. Dependent

Orang yang dependent adalah kebalikan dari independent. Dependent artinya bergantung, independent mandiri. Biasanya orang dependent yah depend total, termasuk emosi, pemikiran, keputusan, tindakan, kehidupan. Tergantung emosi maksudnya emosinya sangat tergantung pada pasangannya. Jika pasangannya senang, dia senang; kalo mood pasangannya lagi down, dia juga. Bahkan lebih parah lagi dia selalu menuntut pasangannya untuk selalu menyenangkannya. ”Kamu harus membahagiakan saya! Kamu harus memelihara saya! Kamu harus membuat saya senang! Kamu harus bertanggung jawab atas hidup saya!” Tangannya terus menunjuk orang lain untuk memuaskan dia.

Kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidupnya, dengan cepat dia berkata, “Kamu sih…bikin aku kesal! Kamu sih … Ini gara-gara kamu! Dan kamu dan kamu!” Paradigmanya hanyalah K A M U!

Dalam hal keputusan, ga mau bertanggung jawab. Dia peragu dan tidak bisa mengambil keputusan. “Mau makan dimana nih?”“Terserah kamu deh.” Nanti kalo ternyata ndak enak, dia pasti bilang, “Kamu sih, kok pilih tempat kayak gini?”

Kalau dia lagi pengen makan soto, cara bertanyanya begini, “Kamu mau ga makan soto?” Kalau pasangan bilang,”Ga mau,” dia ngambek karena sebetulnya mau, tapi tidak berani mengutarakan pemikiran dan keinginannya.

Biasanya si dependent mencari seorang yang dominan, independen, dan dapat diandalkan. Berusaha mendapatkan yang lebih superior dan bisa dibanggakan. Mengapa? Karena ia mau “nebeng” harga diri, tidak perlu mengambil tanggung jawab dan numpang perasaan.

Ibaratnya seperti parasit yang menempel pada pohon. Dinamakan parasit karena dia hanya bisa mengambil terus, tanpa bisa memberi sumbangsih apa-apa ke dalam sebuah hubungan. Dalam hubungan yang sehatada prinsip kesalingan. Saling mengisi, saling membangun,saling memberi kontribusi. Dengan demikian ada pertumbuhan bagi masing-masing pihak. Kalau salah satu pihak tidak bertumbuh/stagnan, atau malah turun ke jurang, nah itu tanda adanya si ‘D’ dalam relasi Anda.

Cilakanya, orang dependent sering kali tidak mampu keluar dari hubungan, walaupun hubungan tersebut buruk. Apapun yang terjadi, bagaimanapun ia diperlakukan, tetap menempel. Ini bukan setia, tapi karena dia Deathly D: Dependent.

Ini cerita di masa kuliah (kisah Liana), ada seorang sahabat saya, wanita, bercerita: Dia punya pacar. Suatu hari, dia pergi ke Mal bersama pacar dan ibu pacarnya. Biasa cewek kan di Mal lihat-lihat baju di berbagai toko. Celingak celinguk, ngelirik sana sini. Eh, tiba-tiba pacarnya menampar dia. Lantas dengan kaget, marah sekaligus bingung, ia berkata, “Kamu kenapa mukul?” Pacarnya bilang, “Mata jangan liar! Jangan lirik-lirik cowok lain.” Padahal, dia lagi liat-liat baju! Ya…ampun!

Mendengar ceritanya, saya sebagai sahabat yang mengasihi dia langsung bereaksi,”Wah kurang ajar banget tuh cowok, baru pacaran saja sudah berani begitu, apalagi nanti kalo nikah, sudah putusin saja!” Tapi sahabat saya ini, kemungkinan besar seorang dependent, tidak mampu keluar dari hubungan itu.

Beberapa lama kemudian, saya melihat memar lagi di bawah matanya. “Kenapa kamu?” tanya saya penasaran. Ternyata dia dipukul lagi. Kali ini malah di rumah pacarnya. Orang tua si cowok hanya melihat tanpa menahan anaknya. Ternyata ayah si cowok mempunyai pola yang sama, sering pukulin isteri. Mendengar hal itu, saya memaksa dia untuk putusin. Dia hanya berkata, “Kalau Tuhan berkehendak, biar tunggu pacar gue yang mutusin aja deh.”

Seorang Dependent, biarpun diperlakukan buruk oleh pasangannya, tetap tidak berani dan tidak mampu melepaskan diri dari hubungan yang menyakitkan. Benar…. Setelah lama tak bersua, sahabatku ini tiba-tiba berkunjung ke rumah. Memakai kaca mata hitam untuk menyembunyikan bekas memar pada wajahnya yang cantik. Matanya lebam akibat menangis semalam-malaman. Rupanya setelah lulus S-1, dia menikah dengan pria itu. Dia mengeluarkan foto anaknya, bocah laki lucu yang masih berusia kira-kira 1 tahun. Dengan menangis, dia bercerita bahwa suaminya terus menjadi-jadi. Tambah sering memukul dan sekarang sudah meninggalkan dia. Waktu itu, dia sedang berpikir-pikir buat bercerai.

Kita harus peka, jika kita berada dalam suatu hubungan yang salah, cepatlah sadar dan segeralah keluar dari hubungan itu. Jangan sampai terlambat. Makin dalam terlibat dalam hubungan yang salah, harga yang harus dibayar mahal. Hidup stressfull, takut tiap hari, sukacita kabur, intimasi dengan Tuhan bubar, bahkan membuat kita tidak berfungsi maksimal dalam hidup.

Seharusnya dependent berkembang menjadi independent, tapi tidak berhenti di situ juga, yang harus dikejar adalah mutual dependent. Maksudnya, sebagai suami istri bagaimana suami bergantung kepada istri dan istri bergantung pada suami, dalam kebergantungan itu suami dan istri bergantung kepada Tuhan. Dalam kebergantungan suami isteri juga saling memberi. Apa yang Liana inginkan, saya wujudkan. Apa yang saya rindukan, Liana penuhi dan demikian juga sebaliknya. Ada pertumbuhan di kedua belah pihak.

3. Detachment

Detachment lawan dari attachment.

Saat berkirim surat, biasanya ada lampiran yang disebut attachment. Attachment bisa berupa Excel/Power Point/Photo/word/etc. Semua itu menjadi bagian sebuah surat yang berkaitan dengan surat tersebut. Attach adalah penyatuan.

Detachment adalah pemisahan. Terpisah dari apa? Seorang disebut Detachment jika memisahkan diri dari suatu relasi atau lingkungan sosial yang seharusnya menjadi bagian dalam hidup orang itu. Misalnya seorang suami seharusnya attach dengan istrinya, namun dia malah sengaja detach dari hubungan itu.

Ini bahaya. Kenapa? Karena biasanya kalo seseorang diajak nge-date, kan tujuannya buat membina relasi, saling mengasihi, saling mengenal. Orang yang detachment tidak! Dating bukan untuk membina relasi. Orang tersebut hanya mengajak jadi pacar atau bahkan buru-buru menikah bukan karena cinta, tapi lebih karena target oriented! Siapa yang bikin target? Mungkin dirinya, so dia bilang,” Tahun depan saya mesti sudah merried!”

Jadi, jika targetnya untuk dapat pacar ya pasti akan dia perjuangkan mati-matian. Jika perlu status sosial menikah, ya dia akan menikah. Orang ini akan menggunakan segala cara untuk mencapai target atau tujuannya. Jika sudah mendapat, dia akan pindah ke next target dan membiarkan hubungan itu.

Dengan kata lain, polanya adalah “Doing without being” Sangat goal oriented, sering kali terjatuh pada workaholic. Hidup hanya mengejar target untuk bisa mencapai sesuatu. Dia tidak memiliki kemampuan untuk merasakan. Contohnya Gamer, kalo lagi dikejar target dari gamenya, bahkan lapar pun ga bisa merasakan, ibunya panggil pun tak didengar. Dia tidak being…tidak hadir untuk merasakan dan menjadi human.

Orang-orang seperti ini cenderung attach dengan benda-benda atau objek karena bisa dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Objek apa aja? Ya… gadget, komputer, mobil, mainan koleksi, media ….dan segala benda mati lainnya. Jika dia berelasi dengan orang lain, juga sama seperti dia berelasi dengan benda. Hanya untuk dipergunakan demi kesenangan diri dan pencapaiannya saja.

Situasi yang sering menjadi pemandangan di resto-resto adalah keluarga duduk mengelilingi satu meja makan, namun mereka tidak berinteraksi, masing-masing sibuk dengan gadgetnya.

Ada istilah: dekat dengan yang jauh, namun jauh dengan yang dekat. Gak asyik dekat orang model gini.

Seorang yang detachment, tidak bisa menjalin hubungan dengan orang lain, sehingga dia mencari kepuasannya melalui benda-benda. Dia bisa setiap hari menge-lap benda kesayangannya. Begitu pulang, yang dicari bukan suami/istri/anak-anaknya, melainkan barang koleksinya.

Sebuah kisah nyata nih, teman saya (wanita) cerita: Suatu hari anaknya sakit, dia minta suaminya untuk mengantar ke dokter. Suaminya menjawab,”Waduh, hujan! Mobilnya baru dicuci. Naik taxi aja gih…” Isterinya dongkol abis! isteri dan anaknya yang sedang sakit tidak lebih penting daripada mobilnya yang baru dicuci. Benar-benar tidak memiliki ability to feel.

 

3 Deadly D menjadi sebuah kebahayaan…bahaya yang mengancam relasi cinta kasih. Bagaimana menyembuhkannya? Seyogyanya sebuah hubungan dapat didasarkan pada sesuatu yang indah. Baca Dating INSIGHT: God’s Will in Dating. Inilah rencana Allah dalam dating. 3 Deadly D merupakan pekerjaan Demon/Devil yang destructive, perlu God’s work untuk me-reconstructive relasi cinta kasih Anda.

Bagaimana kelanjutan kisah ini?

Mari lanjut ke Serial berikutnya: Mr./Ms. Wrong.

Jangan sampai membina relasi bertahun-tahun…eh tahu-tahu si dia WRONG!!!

 

Ev. Chang Khui Fa & Liana.

 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s