Dating Me Out

Dating Insight

Asking Someone Out 4 – Dating Me Out

23 Juni 2014

Nonton Dating Insight via Youtube yuk, KLIK aja di sini

Efesus 2: 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Bicara asking someone out, biasanya secara aktif dilakukan para pria. Bagaimana jika seorang wanita yang bergumul tentang tema ini? Pastinya, ada tahapan-tahapan di mana Tuhan ikut campur tangan di dalamnya.

Kali ini, Ibu Ev. Lily Efferin membagikan kisahnya. Sampai saat ini, beliau telah 29 tahun mengarungi mahligai pernikahan. Sudah melewati pernikahan perak. Bersama suaminya Bapak Pdt. Henry Efferin, mereka dipakai Tuhan luar biasa melayani dan memberkati banyak orang dan keluarga. Tentunya hal yang dinikmati hari ini tidak lepas dari pergumulan masa lalu. Bagaimana menemukan orang yang tepat dan menjadi pasangan yang sepadan? Yuk kita ikuti kisah Ibu gembala dalam pergumulannya menemukan “si dia.”

Begini kisahnya:

Seperti yang ditulis dalam Efesus 2:10, saya percaya dan memiliki kesadaran bahwa tangan Tuhan ikut bekerja menyiapkan pekerjaan baik dalam hidup saya. Tuhan mau kita hidup di dalamnya, termasuk perjalanan mencari dan menentukan pasangan hidup. Sejak muda, saya sudah merasakan begitu besar kasih dan anugrah Tuhan. Saya dapat mendengar kebenaran Firman Tuhan dan mengenal Tuhan. Saya yakin Tuhan memiliki rancangan indah atas hidup saya.

Sebagai wanita, saya percaya Tuhan menciptakan saya untuk seseorang. Walau demikian saya harus menyimpannya dalam hati. Kenapa? Karena setelah lulus SMA, saya masuk sekolah Alkitab. Saya masih ingat Pendeta berpesan, ”Ingat ya, kamu harus fokus pada sekolah, tidak boleh pacaran!” Dalam sekolah seminari, peraturan sangat ketat. Apalagi kalau ketahuan pacaran, pasti langsung dilayangkan Surat Peringatan (SP) 1, SP 2, terakhir SP 3, dan langsung dikeluarkan dari sekolah. Tiap kali liburan dan pulang ke rumah, orang tua suka bertanya, ”Sudah punya pacar belum?” Sebaliknya, pendeta terus mengingatkan, ”Tidak pacaran kan?”

my one

Dalam perjalanan itu, saya menyadari beberapa hal penting yang berkaitan dengan dating. Saya singkat jadi 5 K:

1. Kesadaran akan rencana Allah, rancangan (Desain) Allah terhadap diri saya.

Seperti Socrates katakan,”Kenalilah dirimu!” Maksudnya, kenali kelebihan dan kekurangan serta segala keunikan pribadi. Kalau tidak mengenal diri, bisa-bisa kita sembarangan bergaul, terus coba-coba kira-kira siapa yang cocok. Waktu itu saya bergumul di hadapan Tuhan, sungguh-sungguh ingin mengetahui keunikan diri, kepribadian dan karakter saya. Hal ini penting dalam menentukan pilihan: seperti apa karakter orang yang akan cocok bagiku.

Saya ini orangnya cerewet, suka ngomong, punya kepemimpinan yang kuat, berarti tidak boleh cari yang terlalu kagum pada saya, yang tahu-tahu manut saja. Nanti saya berdosa, dia berdosa, karena bisa-bisa saya kepet dia (suami tunduk pada isteri).

Setelah mengenal diri, maka sadari bahwa, design Tuhan bagi kaum wanita sebagai isteri haruslah tunduk kepada suaminya. Saya sadar, aplikasi Firman ini akan sulit, karena saya dibesarkan sebagai anak tunggal. Saya harus mencari seseorang yang memiliki kepemimpinan yang lebih kuat dari saya. Dengan pemikiran, mungkin akan lebih mudah bagiku untuk tunduk.

Wanita juga diciptakan sebagai penolong. Apa peran dan panggilanmu dalam dunia? Saya menyadari, panggilan saya sebagai hamba Tuhan. Saya berpikir: Saya harus mencari orang yang memiliki panggilan sama yaitu sebagai hamba Tuhan. Pernah ada situasi dimana keluarga sudah terbuka, cocok dengan seseorang. Tidak ada masalah dengan kepribadiannya. Dia seorang yang menarik, namun karena panggilannya beda, maka saya putuskan lebih baik berteman saja. Memang hal ini tidak mutlak bagi semua orang, tapi bagiku, itulah kerinduan saya. Saya harus dapat fit in dengan pendamping hidupku.

2. Kriteria realistis yang harus didoakan.

Doakan sesuatu yang lebih spesifik, bukan abstrak. Banyak orang berdoa tidak spesifik, ”Tuhan beri saya seorang kekasih yang baik”. Baik apanya? Seperti apa yang baik itu?

Kriteria yang didoakan memiliki iman yang sama (satu panggilan), sepadan juga secara kepribadian, seseorang yang memiliki kepemimpinan kuat, yang cukup berani untuk meng-hold saya dan berkata, ”No… ini tidak boleh begini!” Sehingga saya lebih mudah untuk hormat dan mengambil sikap tunduk kepadanya.

Sering kali anak-anak muda sekarang berpikir terlalu pendek,”Yang penting saya punya pacar dulu deh,” tidak ada kriteria yang jelas. Masa pacaran itu masa yang pendek, masalah akan timbul saat memasuki pernikahan yang berlangsung berpuluh-puluh tahun bahkan seumur hidup. Pernahkah kamu bertanya: “Jika saya menikah dengannya, apakah saya akan menderita sepanjang kehidupan pernikahan, atau malah membuat dia menderita sepanjang hidupnya?” Hal ini jelas tanggung jawab kita juga di hadapan Tuhan. Bukan soal orang lain melihat kita senang atau tidak sekarang, yang lebih penting adalah bagaimana menjalani hidup dalam tahun-tahun ke depan. Penuh sukacita atau dukacita?

Saya berdoa agar pasanganku nantinya juga memiliki kepribadian yang positif, jangan sampai leadershipnya kuat tapi ternyata diktator. Saya senangnya: seorang pemimpin yang dapat mengayomi. Karakter-karakter lain yang saya doakan adalah orang yang mau bekerja dan bisa bertanggung jawab. Tentunya juga rajin dan mau terus belajar.

Juga tidak kalah penting, seorang pria yang memiliki kemandirian. Kenapa? Karena suatu saat pria harus menjadi kepala keluarga, kalau dia adalah mommy’s boy, wah bisa repot nantinya. Mandiri termasuk dalam membuat keputusan yang jelas/tegas. Saya juga menyodorkan permintaan pribadi kepada Tuhan, kalau boleh dapat pasangan yang tubuhnya lebih tinggi dari saya. Untuk memperbaiki keturunan. He he he

Jadi, tidak apa bagi anak-anak muda untuk memikirkan serta mendoakan kriteria-kriteria calon pasangan secara mendetail. Tetapi buatlah kriteria itu realistis. Jangan berdoa: “Saya pingin dapat pasangan yang setampan bintang Hollywood Brad Pitt!”

Sambil mengenali diri, memikirkan kriteria dan membawa dalam doa, kita harus tetap membuka suatu ruang untuk menerima kehendak Tuhan. Karena mungkin, Tuhan menganugerahkan seseorang yang berbeda dengan apa yang kita pikirkan.

3. Keterbukaan selektif untuk mendekati ataupun didekati.

Jangan hanya pasif, berdoa terus di chapel, melamun di kamar, menunggu disodorin, atau tunggu seseorang jatuh dari langit. TIDAK! Tahap selanjutnya adalah kita harus terbuka terhadap friendship. Bukan pula friendship yang membabi buta, semua diterima atau semua dianggap cocok. Pastinya, harus ada sikap terbuka untuk mendekati atau didekati secara sopan dan terhormat. Sebagai wanita, kita punya dignity untuk menghargai dan dihargai.

Tenang, karena memahami ada Tuhan. Dia tahu apa yang terbaik. Dalam masa-masa pencarian, jangan panik atau takut tidak laku. Bila menjalani masa sendirian ini dengan tenang, maka penilaian dan pertimbangan akan lebih baik, sehingga dapat menentukan yang tepat.

Ada kalanya dalam masa-masa pencarian, mungkin bertemu seorang yang sepertinya sesuai dengan kriteria yang sudah didoakan, tetapi ternyata ada hal yang mengganjal. Saya pernah dengar satu kisah. Segalanya sudah OK bagi si wanita, but saat baru kenalan, si pria mengekspresikan ketertarikannya melalui sentuhan. Karena sudah sering dengar pembinaan di gereja, maka buru-buru si wanita memutuskan, “Ini bukan orang yang tepat bagiku.”

Padahal seyogyanya harus mencermati, apakah karena ketidaktahuannya? Toh, setiap orang dibesarkan dengan cara berbeda, karena standard value dalam setiap keluarga berlainan. Mungkin di keluarga sang pria, saling mengekspresikan kasih dalam bentuk sentuhan adalah hal yang lumrah. Karenanya, coba beritahukan dulu tentang batasan yang diharapkan. Lalu lihat, apakah dia memiliki hati yang mau belajar.

4. Keberanian melangkah dan membuat keputusan (setelah menggumuli bersama Allah).

Saat menentukan siapa si “dia” terkadang ada perasaan,“Jangan-jangan, orang ini yang Tuhan sediakan.” Wanita ibarat bunga yang dikelilingi oleh kumbang, namun pada akhirnya hanya ada satu kumbang yang dapat menikmati madunya. Maksudnya, menjalani hubungan sampai ke dalam pernikahan.

Saat itu, banyak orang yang kasih rekomendasi pada saya tentang pria-pria tertentu, ”Wah dia itu orangnya pintar, baik, dll.” Tapi hati saya tidak bergeming. Kenapa? Karena pada waktu itu, ada seseorang di seminari yang sepertinya cocok dengan profil/kriteria yang saya doakan, tapi tidak jelas apakah dia tertarik pada saya atau tidak. Terlebih, banyak juga gadis yang naksir dia, makanya saya juga tidak terlalu berharap.

Namun, saya bawa dalam doa. Jujur yang saya doakan saat itu bukan meminta pria tersebut buat saya, melainkan,“Tuhan, saya lihat pria ini baik, mau dipakai Tuhan melayani-Mu. Saya juga tahu, dia punya kekurangan dan masalah dengan latar belakang keluarganya. Oh Tuhan, biar Engkau memberikan dia pendamping yang terbaik. Dapat membantu dia, memperlengkapinya dalam melayani-Mu” Ternyata…doa itu akhirnya Tuhan jawab dengan menjadikan saya sebagai pendamping hidupnya.

Setelah didoakan dan digumulkan cukup lama. Suatu malam, dalam doa, saya seperti berbicara dan ngobrol-ngobrol dengan Tuhan. Tuhan seperti berkata, ”Gimana nih, kamu sudah doakan lama-lama, orang yang kamu doain sepertinya belum ada titik temunya. Yang kamu tunggu-tunggu belum memberikan signal yang jelas. Bagaimana kalau Saya membukakan pintu itu, kamu mau pilih yang mana?”

Tuhan bertanya pada saya yang saat itu ada dua pilihan,”Kamu cenderung pilih yang mana?” Saya berujar dalam hati,”Pada dasarnya saya ingin menjadi penolong yang sepadan, maka saya akan pilih yang ini.” “Lalu jika Aku kasih, nyesel ga kamu?” Saya jawab, “Tuhan kalau memang yang ini, saya siap bayar harga. Saya sadar, mungkin perjalanannya susah karena ada masalah-masalahnya yang sudah saya ketahui. Namun jika memang boleh, saya ingin menjadi penolongnya, menjadi partner dalam hidupnya.”

Walau saya berdoa seperti ini, saya juga ingin mengingatkan anak-anak muda untuk hati-hati dalam hal ini, jangan suka membawa keinginan menjadi hero (Messianic Syndrom) ke dalam suatu hubungan. Misalnya, seorang gadis yang tertarik untuk menikah dengan pria yang berlatar belakang pergumulan narkoba. Hubungan ini, ketika dijalani akan sangat berat, mahal sekali harga yang harus dibayar, banyak air mata yang harus dicurahkan. Kecuali ada intervensi Allah yang begitu jelas, bahwa memang hubungan ini harus diambil, barulah boleh berkomitmen dalam hubungan seperti ini.

Setelah semalam mengalami perbincangan dengan Tuhan, yang seperti diberi kisi-kisi ujian, kalau Tuhan tanya begini, kamu akan jawab apa. Entah bagaimana, keesokan harinya saya bertemu dengan si dia yang saya doakan. Perbincangan yang terjadi diantara kami aneh sekali! Karena terjadi persis seperti gambaran yang semalam Tuhan bukakan kepada saya.

Saya merasakan intervensi “Invisible hand of God”, campur tangan Allah yang begitu jelas. Setelah diawali percakapan tentang sesuatu…dia tahu-tahu langsung “menembak”, “Bagaimana kalau saya mau menjalin hubungan lebih serius denganmu, kamu mau ga?”. Saya kaget sekali! Tapi, saya tidak langsung menjawab, tapi berkata, ”Mari kita doakan sama-sama, kalau ini adalah kehendak Tuhan, pasti akan tambah jelas akan kemana relasi kita selanjutnya.” Setelah itu sih sambil pulang mikir-mikir, saya terkaget-kaget sampai tidak bisa tidur.

5. Koneksi hati (Chemistry). Perasaan satu sama lain terus bertumbuh.

Uji apakah ada? Memasuki hubungan perlu ada chemistry dan penting pula restu dari orang tua dan keluarga kita. Kalau kita sudah cocok, tapi ortu tidak merestui bagaimana? Dalam kasus-kasus tertentu hal itu terjadi karena tingkat kerohanian orang tua juga berbeda-beda. Mungkin ada harapan/nilai value orang tua yang tidak biblical juga.

Perlu doakan agar Tuhan membukakan perkara yang prinsipil dan tidak, bagi orang tua kita. Tetapi tetap harus ingat orang tua adalah orang tua. Mereka tidak pernah berniat jahat atas hidup anaknya. Kita tetap harus respect pada mereka. Jika menikah dengan orang yang tepat, tentunya akan menjadi kesaksian dan berkat juga bagi mereka. Mereka akan bersyukur dan memuliakan Allah.

Kelima tahapan ini penting, agar kita tidak mudah dibelokkan oleh suara-suara di sekeliling kita. Jangan terkesima oleh daya tarik atau tampang seseorang, janji-janji manis, status, rayuan dan sebagainya. Pilihlah yang tepat, dengan pertolongan Tuhan!

Sungguh indah kisah dari Ibu Ev. Lily Efferin yang telah mensharingkan kisahnya buat kita semua. Dating Me Out, kiranya boleh menjadi satu gambaran bagi insan muda, khususnya bagi para gadis untuk melangkah dalam pimpinan Tuhan untuk mencari pasangan hidup yang tepat.

To be continued to Asking Me Out 5: Relasi ga lancar? Ini Penyebabnya: 3 Deadly D

One thought on “Dating Me Out

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s