Sempurnalah Kamu seperti Bapa Sempurna, dalam hal apa?

Am I the Perfect Candidate?

7 April 2014

Silahkan nonton Youtubenya disini

Kita telah membahas Dating dari sudut pandang Allah dalam God’s Will in Dating:

God’s Will in Dating 1: Apa sih kehendak Allah dalam masa pacaran?

G2: Apakah tujuan pacaran Kristen?

G3: Seperti apa pacar yang sesuai dengan kehendak Allah? Apa kriteria seiman?

G4: Mengapa tidak baik manusia seorang diri saja?

Nah, sekarang saya mengajak Anda mencoba menilai diri. Kita harus dapat mengukur diri dengan ukuran yang tepat. Tema-nya: Am I The Perfect Candidate? Sudahkah saya menjadi calon pasangan yang sempurna?

Bahasan ini penting bagi Anda yang belum memiliki pasangan hidup ataupun bagi Anda yang sudah menikah karena akan menjadi modal untuk membangun hubungan jangka panjang.

Mari kita mulai…Based of Timeless Word of GOD,  inilah Firman Tuhan yang mendasari tema kita: 2 Korintus 13: 11,”Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! “

Alkitab NIV: “Finally brothers, good by. Aim for perfection, listen to my appeal, be of one mind, live in peace and God of love and peace will be with you.”

Kata Aim berarti: membidik, menargetkan, memfokuskan. Nah, apa yang kita aim? Kesempurnaan (perfection).

aim perfection

Tuhan Yesus menegaskan pula dalam Matius 5:48, “Karena itu haruslah kamu sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Be Perfect, therefore as your heavenly Father is perfect.)

Perfect? Sempurna?

Ya Tepat! Kita harus memakai waktu-waktu hidup ini untuk mengejar kesempurnaan.

Pertanyaannya, sempurna dalam hal apa?

Perfection harus terjadi dalam beberapa dimensi, paling tidak ada empat yaitu:

 

1. Dimensi Karakter

Karena manusia sudah jatuh dalam dosa, maka kecenderungannya adalah melakukan sesuatu yang tidak baik dan akhirnya membentuk karakter yang buruk. Contoh-contoh karakter buruk yang sering kita temui sehari-hari seperti: suka marah, bersungut-sungut, malas atau yang mungkin paling simple tapi bisa bikin pasangan sakit hati:  kurang peduli.

Dalam buku berjudul “Vita Suamimu Bukan Malaikat” (Chang Khui Fa  memberikan Kata Pengantar dan menjadi final editor dalam buku ini) yang berisi 30 Bab, menceritakan suka duka & jatuh bangunnya kehidupan pernikahan pasutri Agus dan Vita  selama 24 tahun.

Dalam salah satu babnya, dengan jujur dituturkan Bp. Daniel Agus sebagai suami acap kali suka cuek beibe. Suatu ketika saat Vita istrinya berulang tahun, Vita berharap agar suaminya berinisiatif untuk tetap tinggal di rumah menemani (tentu tanpa perlu diberitahu). Eh… tahu-tahu pagi itu sang suami malah pergi berolah raga bersama teman-temannya. Jelas Vita jadi sedih dan keki. (Bagaimana kelanjutan ceritanya? Silahkan anda menikmati kisah mereka, pergumulan dan keberhasilannya  dalam memperjuangkan pernikahan seumur hidup di Buku “Vita, Suamimu Bukan Malaikat” karya Daniel Agus Setianto).

Memang banyak pria bersikap tidak peduli keluarga, mereka lebih asyik dengan teman, hobi, pekerjaan atau gadget. Karena sudah jatuh ke dalam dosa, karakterpun ikut rusak dan berdampak buruk pada pasangan dan orang-orang terdekat.

Melalui proses pembentukan Tuhan, anak-anak Tuhan dipoles menjadi perfect candidate. Karakter buruk dengan kecenderungannya yang berdosa akan dikikis dan dibentuk menjadi indah sempurna.

Dalam pembahasan yang lalu, kami pernah mengupas: “Menjadi serupa dengan Kristus,” melalui orang-orang yang paling dekat dengan kita (suami-istri). Mereka dapat memberi masukkan, teguran dan nasehat. Tuhan yang berkata,”Haruslah kamu sempurna, seperti Aku sempurna” pastinya Dia juga menolong Anda untuk menggenapi perintah-Nya. Kejarlah kesempurnaan, Aim for Perfection! Kala suami-istri, keduanya takut akan Tuhan, Tuhan akan menyertai supaya saling menyempurnakan satu sama lain.

Aim to be more like Him!

2. Dimensi kekudusan

Apa maksudnya disempurnakan dalam “kekudusan”? Kudus berarti: ditarik keluar, dipisahkan, dikhususkan.  How? Kita kan masih hidup di dunia, berinteraksi dengan orang-orang yang ada di bumi, maka segala pemikiran dunia pasti masih memengaruhi pemikiran kita. Jadi apa maksud dikuduskan? Walau masih hidup di dunia, firman Tuhan berkuasa mengubah pikiran kita. Pikiran yang dipimpin firman akan memimpin emosi yang akhirnya mempengaruhi tingkah laku dan sikap. Jadi, ketika firman Tuhan menguduskan pikiran Anda maka tingkah laku pun niscaya berubah.

Justin Lookado dalam buku “Dateable” mengkisahkan hidup yang berbeda sebelum dan sesudah pikirannya ditundukkan pada Firman. Dulu, dia dan teman-teman se-gengnya suka membicarakan gadis yang menarik dan tenar di sekolah. Mereka suka bersaing demi mendapatkan si cantik itu. Eh, diapun ikut-ikutan dalam kompetisi tersebut.

Memperebutkan seorang gadis menjadi sesuatu yang fun, apalagi kalau dapat!  Mulailah Justin mengeluarkan jurus-jurus dan strategi untuk menaklukkan hati sang gadis. Segala usaha dikerahkan walau sebenarnya tidak ada rasa cinta ataupun suka. Ternyata Justin berhasil! Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Bangga-bangga sebentar sampai tahu-tahu ada gadis lain lagi yang menjadi topik hangat perbincangan teman-temannya, maka berganti jugalah target berikutnya.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Ini berasal dari hawa nafsu kedagingan yaitu dorongan “hormon laki-laki” yang secara natural memang ada dalam diri pria sebagai conqueror. Pria dicipta untuk menaklukkan dunia dan segala isinya, berjuang untuk mendapat makanannya. Dorongan pria seperti ini, juga harus dikuduskan dalam terang firman Tuhan!

Jangan sampai Anda berpacaran hanya buat kompetisi menunjukkan kelaki-lakian anda! Atau pacaran karena semua teman sudah punya pacar. Ini tidak tepat! Pacaran akhirnya cuma buat iseng-iseng saja, tanpa ada tujuan untuk menikah. Seharusnya saat berani memasuki masa dating,  sudah  berani berpikir, “Si dia itu adalah pasanganku seumur hidup dimana kami akan disatukan dalam pernikahan kudus.”

So, ketika muncul masalah, ada keinginan sungguh-sungguh untuk menyelesaikan konflik yang terjadi, bukannya dengan gampang berkata “LOE – GUE– END!”

Pikiran yang ditaklukkan di bawah Firman, akan mempengaruhi perbuatan. Firman Tuhan mengatakan: “Kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Kristus, …menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu diperbaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” ( Efesus 4:22-24)

Kejarlah Kekudusan seumur hidupmu! Aim for Holiness!

3. Dimensi Maturity

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13: 11 berkata, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Jelas ada perbedaan antara orang dewasa dengan anak-anak. Misalnya, bagaimana meresponi masalah. Anak kecil kalau menghadapi masalah, reaksinya teriak-teriak panggil papa mama, atau menangis sejadi-jadinya. Beda orang dewasa, pasti tidak akan bereaksi begitu. Memang ada kalanya kita menangis saat menghadapi masalah yang sangat berat, tapi sebagai orang dewasa, telah memiliki pemikiran yang matang, toh akhirnya mencoba mencari solusi dari problematika yang menghadang.

Dalam buku GARAM & TERANG bagi Keluarga, Bab 7 Emotional Maturity, Anda dapat menilai diri: Apakah Anda Getting Old atau Growing up? Bertambahnya usia tidak menjamin bertambah dewasanya seseorang dalam pemikiran dan sikapnya.

Life is the series of problems, masalah dalam kehidupan tidak ada tamatnya. Setiap perubahan fase dalam hidup merupakan problem jika tidak diselesaikan dengan cepat. Jangan jadi problem maker, tetapi dengan pertolongan-Nya jadilah  problem solver.

Aim to be mature!

4. Dimensi LOVE

Bagaimana membedakan cinta yang sempurna dengan yang tidak?

Cinta yang tidak sempurna, hanya bertahan ketika sang kekasih masih memberi keuntungan baginya. Kalau dirasa rugi, langsung kabur. Inilah cinta sementara atau temporer sifatnya.

Cinta yang sempurna, saya percaya berasal dari Tuhan yang berkata,“Walau gunung-gunung beranjak, dan bukit-bukit pun bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak darimu.” Yesaya 54: 10

Kasih Tuhan yang sempurna memampukan kita melaksanakan: “Apa yang dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” Artinya seumur hidup tetap mencintai! Sejak awal ketika berdua masih muda, ganteng-cantik, sampai masa tua, become kakek nenek yang lemah dan peot sampai maut memisahkan.

Cinta yang sempurna bertahan melewati berbagai musim kehidupan, bahkan menjadi semakin kuat.

Seperti kasih Allah yang Unconditionally, Dia bahkan mengasihi kita walau tidak ada sesuatu yang baik di dalam diri kita. Dia tetap mengasihi walau mengetahui begitu banyak keburukan kita.

Aim for Perfect love!

 

Nah, ini adalah 4 dimensi perfection yang harus kita kejar. Menuju kesempurnaan pastinya bukan urusan sehari beres! Perfection adalah proses yang panjang. Bagaimana masuk ke dalam proses perfection ini? Dari mana kita memulainya?

Sadar bahwa diri tidak sempurna adalah start awal proses ini dapat dimulai. Saat Anda menyadari bahwa diri tidak sempurna, jangan lantas jadi minder, dan macet bertumbuh. Sadar diri tidak sempurna justru menjadi kesempatan besar bagi Tuhan untuk datang menyempurnakan kita.

Sumber kesempurnaan adalah Tuhan. Dia yang sempurna akan menyempurnakan kita. Mari perhatikan firman Tuhan di bawah ini:

Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” Yesaya 57:15

Tuhan yang sempurna hadir dalam hidup untuk menyempurnakan kita.

Dalam buku “GARAM & TERANG for Youth” karya KF.Chang, Bab pertama dibuka dengan huruf G: God’s Presence in My Life. Sudah dituliskan di sana: Tanda-tanda orang Kristen yang disertai Tuhan, tanda sejati kehadiran Tuhan dalam hidup.

Tuhan yang sempurna berada di tempat tinggi dan tempat kudus tetapi Dia juga mau bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk apa? Untuk menghidupkan hati orang yang remuk.

Allah yang sempurna, yang tidak terbatas – mau hidup dalam diri manusia berdosa yang tidak sempurna. Sepeti apakah konteks kehadiran Tuhan ini? Tuhan bisa menghadirkan segala situasi dalam hidup kita, entah itu sakit-penyakit, PHK, putus pacar dan apa saja yang membuat kita merasa begitu sedih, remuk hati dan berkata, “Oh…Tuhan, begitu berat hidup ini!”

Pada saat-saat seperti ini, ada satu jaminan, bahwa kita boleh datang kepada Tuhan. Dia mengundang, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11: 28)

Saya pun pernah menghadapi situasi yang meremukkan hati. Kala SMA, saya bersekolah di sekolah Kristen. Beberapa teman berusaha menyampaikan Injil, karena saat itu saya belum percaya pada Kristus. Seorang teman yang setia, selalu menemani saya pulang jalan kaki sambil men-share-kan Firman Tuhan.

Dikabarkan Injil, saya pasti menolak. Tidak mau percaya!!!

Sampai suatu kali mama saya sakit, matanya kabur…pergi ke dokter mata di sana-sini ndak ketemu sakitnya, sampai akhirnya pergi ke dokter syaraf eh…tahu-tahu ada tumor yang tumbuh di belakang bola mata sehingga menjepit saraf-saraf mata. Saat itu, saya terus bolak-baik menemani mama berobat, karena ayahpun sudah tiada. Saat hari ini melihat ke masa-masa itu, saya percaya masa itu, adalah masa saya sedang diremukkan Tuhan.

Satu firman Tuhan yang pernah kudengar, terngiang-ngiang terus, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 16:25). Hal ini membuat saya berpikir, “Apakah selama ini jalan yang saya tempuh lurus atau menuju kebinasaan?”

Itulah moment dalam hidup saya. Saya dipaksa tangan-Nya yg penuh kasih untuk berlutut dengan sungguh-sungguh di hadapan-Nya dan berdoa,”Tuhan, aku tidak berdaya, tidak bisa menghadapi hidup ini sendirian, dan mengundang Engkau Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam hidupku, memimpin hidupku mulai hari ini sampai selamanya.”

Kehadiran Tuhan dalam hidup yang remuk adalah sesuatu yang indah. Jika tidak remuk, mana mau membuka pintu bagi Tuhan?

Di waktu Anda sedang merasa dihancurkan, semua pintu tertutup, tidak ada jalan terbuka, pemandangan terasa gelap, undanglah Tuhan masuk dalam hidupmu. Saat itulah proses penyempurnaan dimulai.

Masa itu, keadaan mama saya semakin hari semakin buruk, tapi aneh tapi nyata, dalam keadaan yang gelap, tetap ada sukacita dan damai dalam hatiku, ada kekuatan untuk mendampingi mama sampai akhirnya beliau dipanggil pulang ke surga.

Proses penyempurnaan(perfection) dimulai dari sadar akan ketidakberdayaan diri dan berseru meminta Tuhan hadir dalam hidup!

Pertobatan menerima Kristus terjadi hanya satu kali dalam hidup, tetapi setelah itu ada proses pengudusan yang berlangsung terus menerus, berulang-ulang sepanjang hidup kita.

Bagaimana supaya masuk dalam proses tersebut, kita lanjutkan dalam serial berikutnya: Am I The Perfect Candidate 2?

To be continued…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s